A SIDE MEN

Be the Light

Judul : A Side Men

Author : JL @mestrowbey

Casts : Kim Namjoon BTS, Kim Taehyung BTS, Jung Hoseok BTS

Genre : Misteri, Psikolog

Rating : PG 15

Note: FF ini author ikutin buat lomba giveaway Juli lalu, karena sudah berakhir, author post di sini dengan sedikit perubahan cerita ^^

Summary :

Jangan bilang kalau kau tak kenal dirimu

-O-

Waktu terasa berputar sangat lambat. Dentuman jam dinding menggema ke setiap sisi ruangan seakan – akan mengalihkan fokusku. Tentu saja, aku masih perlu waktu untuk menyesuaikan diri. Siapa, dimana, dan apa yang ku lakukan.

“Ya! kau mengabaikanku eoh?” teriak seorang pria yang saat ini menampakkan dirinya dihadapanku. Pria ini berpenampilan dengan baju bergaris biru putih sama sepertiku. Nafasnya terengah di setiap penghujung kalimat, seolah ia bicara dengan satu tarikan napas. Terburu – buru dan terdengar tak sabar. Aku hanya menatapnya dengan perasaan linglung. Berusaha mencerna semua kalimat tuduhan lima menit lalu, sejak kakinya menapaki lantai ruangan ini.

“kau pembunuh Kim Taehyung!” ia kembali berteriak, dengan napas menggebu – gebu. Mengucapkan kalimat yang sama.

Dituduh sebagai pembunuh membuat pelipisku banjir keringat. Secara langsung kalimatnya membuat tubuhku menggigil ketakutan.

“kau bisu? kenapa tak bersuara?” Ia membentak, lalu meraih kerah bajuku dengan kasar.

Ingin sekali aku berkata ‘bukan, bukan aku!’ jelas suaraku langsung tercekat saat ingin melontarkan kalimat – kalimat pembelaan itu.

Tolonglah! Aku benar – benar tidak tahu! Kepalaku rasanya ingin meledak, memaksa untuk memanggil memori lama yang tersimpan. Setidaknya ada celah yang mampu membantah tuduhan bahwa diriku bukanlah pembunuh seperti yang ia patenkan.

Jangankan untuk menjawab tuduhan tanpa bukti itu. Masih banyak hal yang belum ku pahami. Eksistensiku. Ya! saat sadar, diriku berada di dalam ruangan dengan bau khas obat – obatan. Lalu di samping kami telihat tubuh yang terbaring dilengkapi dengan alat – alat medis. Diriku sibuk mempertanyakan hal – hal nyata di sekeliling sedangkan pria ini –yang pastinya tidak ku kenal, tak berhenti bertanya, berteriak, membentak seolah mengintrogasi tanpa peduli dengan posisi yang semakin membuatku bingung.

Tak hanya itu, untuk menjawab apapun pertanyaan konyol itu, bibir ini tak kuasa bicara. Lebih jelasnya akupun tak tahu nama dan darimana diriku berasal. Lalu melihat tubuh manusia yang terbaring di sana, siapakah dia? apakah aku mengenalnya?

Ia mendorong tubuhku lalu menunjuk manusia yang tak sadarkan diri itu. “Kau Kim Taehyung! Kau harus mempertanggung jawabkan semua yang telah kau lakukan!”

Ia berbicara pada manusia itu. Dan tunggu, Kim Taehyung? Dia memanggil pria itu dengan nama Kim Taehyung? Bukankah tadi dia memanggilku dengan sebutan itu?

“kau!” Pria itu kini menunjukku, tatapannya penuh amarah. “tubuhmu ini! Akan ku lempar ke penjara!”

Tubuh ini? Maksudmu manusia itu adalah aku? Begitukah wujud asliku? Lalu siapakah sosok yang kau anggap sebagai lawan bicaramu ini?

Mungkin, aku berharap ini mungkin, aku dengan wujud ini berada di dunia yang berbeda. Aku mungkin orang yang sama dengan tubuh kaku yang terbujur di sana. Kesimpulan yang bisa kupahami sekarang.

Dan mungkin saja, pria yang berdiri berseberangan dengan wujudku ini adalah sosok yang kalian sebut sebagai malaikat pencabut nyawa? Apakah mungkin seperti itu?

 “kau tidak ingat kejadian seminggu lalu?” satu pertanyaan terlontar. “Ya! Jawablah!” ia memaksaku bersuara. Tak hanya dia, emosikupun turut bergelonjak.

“aku tidak ingat apa apa!” alih alih melawan dengan nada tinggi suaraku hanya memelan dan terselip keputusasaan.

“jangan coba coba mengelabuiku!” bentaknya semakin keras, kembali menyudutkan emosiku.

“aku tidak mengelabuimu!” aku membentak, memberanikan diri untuk membalas. Ungkapan yang terdengar putus asa, kesal, dan marah, bercampur aduk. Aku bingung dan merasa kesal pada diriku sendiri. Otakku sangat susah diajak kompromi.

“brengsek kau!” pria itu lantas melayangkan tinjunya ke arah daguku sebelum seorang dokter memasuki ruangan.

Dia tak sendiri. Pria berkumis, mengenakan kemeja ikut menampakkan diri dari balik pintu. Tatapan kami tak lagi saling adu. Kehadiran mereka mengalihkan perhatian kami.

detective Jung!” teriaknya. Pria itu mendorong tubuhku menghantam kursi. Ia mengenal pria itu?

Tak ada respon. Pria yang ia panggil dengan sebutan detective Jung itu tak bergeming, mengabaikan teriakannya. Lebih tepatnya -mungkin mengabaikan keberadaan kami.

“bagaimana kondisinya? Apakah ada kemajuan?” detective Jung bertanya pada dokter. Mereka masih mengabaikan keberadaan kami.

“sudah lima hari semenjak ia koma, tak ada yang perlu dikhawatirkan, kondisi tubuhnya baik – baik saja” ucap dokter setelah memeriksa keadaan tubuh itu.

“apakah dia dan Ketua Kim akan siuman secepatnya?”

“semoga saja, selama mereka berada di bawah pengawasan kami” pembicaraan mereka berakhir. Dokter dan detective Jung segera meninggalkan ruangan. Mereka sama sekali tak terusik oleh keributan kami.

Semua yang terjadi pada diriku dan dirinya terlihat aneh dan  semakin membingungkan.

“Lihat apa yang sudah kau lakukan!” pria ini kembali menarik kerah bajuku dengan kasar, mendorong tubuhku hingga terduduk di kursi “kau membuatnya semakin rumit Taehyung!”

Nama itu lagi – lagi tertuju padaku. Seolah olah aku adalah pria yang bernama Taehyung. “ini tak masuk akal!” ia gusar, mengacak rambutnya.

Kata – kata, ekspresi, dan tindakannya membuatku semakin bingung. Pikiran – pikiran yang mengisi benakku buntu akan jawaban. Aku bersumpah! Aku tak tahu apa – apa!

“Taehyung? Kenapa kau terus saja memanggilku Taehyung?” aku berkata, menatapnya pasrah, berharap ada titik kejelasan dari semua kebingungan ini. “haruskah aku menjelaskannya padamu secara detail seperti salesman? kau pikir aku siapa hah?” ia tak terima, mungkin pertanyaanku membuatnya kesal.

“bukankah kau…” kalimatku terhenti lalu “malaikat pencabut nyawa?” aku berkata dengan hati – hati seperti orang bodoh, takut jika salah menebak.

Pria ini menendang ujung kursi yang kududuki membuatnya bergeser. Ia semakin bersikap brutal padaku. Tidak waras.

“YA! brengsek! Apakah kecelakaan maut itu membuat otakmu semakin geser? Apa kau tak cukup puas menyeretku hingga ikut terbujur koma seperti dirimu? Kau pikir aku senang eoh?”

Koma? Aku dan dia?

“YA! Jangan coba – coba mempermainkan seorang detective!”

“kau… detective?” suaraku tercekat. Dugaanku salah. Ya memang terdengar konyol dan tak masuk akal jika aku menganggap pria ini adalah malaikat pencabut nyawa.

Dia tertawa kesetanan “Jangan bilang kau tak tahu aku dan profesiku”

Aku rasa aku semakin paham dengan situasi ini.

“kau tahu apa pekerjaan detective? Menangkap orang – orang sepertinya” ia menunjuk tubuh yang terbaring koma di sana. Ya mungkin sudah sepantasnya berkata bahwa tubuh itu adalah refleksi dari tubuhku yang mungkin transparan ini.

“menangkapku?” ku tatap tubuh itu, berharap ia bangun dan melakukan pembelaan. Tak mungkin pria sepertinya membunuh orang bukan?

“Aku akan segera memenjarakanmu seumur hidup Kim Taehyung!” ia tak main – main. Ungkapan itu tentu tertuju padaku.

“kenapa? Siapa yang ku bunuh?” tanyaku kembali meminta penjelasan.

“YA! kau benar – benar tak ingat apa yang sudah kau lakukan? Brengsek!” Ia memukul wajahku namun anehnya aku tak merasakan sakit dimanapun.

“kalau begitu biarkan aku mati!” aku berteriak, menghukum diriku sendiri.

“Tidak! Mati tak akan cukup membayar semuanya!” suaranya memelan, tak lagi berteriak.

“Kim Namjoon! Kim Taehyung! Sudah waktunya kalian kembali!”

Terdengar gema suara. Seorang pria bertubuh jangkung, berpakaian serba hitam berjalan menghampiri kami. Lalu menulis sesuatu di buku catatannya. Ia terlihat menyeramkan.

Pria itu, Namjoon kembali menatapku “kita selesaikan secara nyata!” ujarnya lalu menghilang dari hadapanku bersama pria si jubah hitam.

Ya, misteri ini harus segera terselesaikan.

-O-

Aku sadar, mendapati tubuh dengan posisi terbaring di atas ranjang, masih di ruangan yang sama. Kurasakan kondisi tubuh yang belum sepenuhnya pulih. Perlu penyesuaian karena ruh dan tubuhku sempat terpisah untuk waktu yang lama kurasa.

Penglihatanku mencoba fokus ke depan. Pria yang tadi berteriak, mengintrogasi, bersikap kasar, sekaligus menuduhku sebagai pembunuh menjadi pemandangan pertama yang kutangkap. Ia berdiri di depanku dengan tatapan penuh tekanan. Aku salut terhadap dedikasinya sebagai seorang detective. Ia mungkin tak akan membiarkan musuhnya hilang ditengah penyelidikan. Dan sangat tak mungkin melepaskanku begitu saja.

“Ya! kau pikir waktu tidurmu perlu diperpanjang eoh? Bangunlah brengsek! ini sudah minggu ketiga semenjak kau koma!”

Minggu ketiga katanya? Sudah selama itu?

Aku memaksakan tubuh ini agar terbangun. Seorang pria juga terlihat di ruangan ini. Ia adalah detective Jung waktu itu.

Sekarang apa yang akan mereka lakukan padaku, mengintrogasi lagi? Atau malah langsung menangkapku?

“Kim Taehyung! Kau ditangkap atas kasus pembunuhan”

Dugaanku 100% tak meleset. Sebentar lagi mungkin tubuh ini akan menggigil di balik jeruji besi. Tapi apakah harus secepat ini? Bukankah tubuhku masih perlu istirahat untuk masa pemulihan? Sangat tak manusiawi.

Namjoon, detective itupun menahan kedua tanganku dengan borgol. Sedangkan detective Jung menarik tubuhku agar berdiri “jangan coba – coba melarikan diri!” ucapnya di depan wajahku.

Mereka hendak membawaku ke kantor polisi, menyelesaikan kasus ini yang sudah pasti tak akan bisa kujelaskan.

“apa kalian yakin aku pembunuh? Pertanyaan itu spontan keluar dari bibirku.

Langkah kami terhenti. Namjoon tertawa. “kau memang brengsek Kim Taehyung!” Namjoon menyentuh wajahku dengan satu pukulan.

“puluhan bukti akan melemparmu ke penjara! akupun siap menjadi saksi!” teriak Namjoon marah.

“aku tidak mengerti dengan situasi saat ini! Seharusnya kau memperjelas apa yang sudah kulakukan!” aku semakin putus asa. Dituduh melakukan hal yang tidak mungkin kau lakukan, itu sangat menyakitkan.

“apa otakmu benar – benar tak berfungsi Kim Taehyung?” wajahnya memerah, sangat jelas emosinya memuncak.

“ketua Kim! Sadarlah!” detective Jung menahan tubuh Namjoon agar tak memukulku lagi.

“Apakah kejadian itu harus terulang eoh? Apa aku harus kembali membiarkan istriku yang tengah hamil enam bulan bersamamu? Membiarkan dia kembali terbunuh di tanganmu, begitu?” Kedua mata Namjoon berkaca – kaca. Lalu air bening mengalir di kedua pipinya.

Istri? Membunuh istri dan calon bayinya?

“kau, manusia brengsek! Aku tidak lagi menganggapmu sebagai adikku, kau bukan lah bagian dari keluarga Kim! Kau gila!” ia berteriak lagi, menarik tubuhku, memukulnya bertubi – tubi.

Adik? Oh tidak otakku benar – benar tak berfungsi.

“tenanglah ketua!” Detective Jung menahan dan menarik Namjoon ke luar.

“kau gila Taehyung! Kau gila!” teriaknya kembali menyadarkanku.

Aku tertegun seperti orang bodoh, memikirkan kalimatnya yang terdengar jelas bahwa…

Aku memanglah pembunuh gila.

-O-

Fin

©mestrowbey

Note:

Kim Taehyung mengalami demensia yaitu penyakit kejiwaan dimana menurunnya fungsi otak yang menyebabkan lupa dan kelainan berperilaku pada penderita. A Side Men adalah anagram dari Demensia. Yang juga memiliki arti ‘sisi yang tersembunyi’ dari sosok Kim Taehyung.

***

Sudah lama author ga publish ff di sini huhuhu T^T maaf ya, bukan ga punya waktu buat nulis, tapi aku ngerasa kemampuan menulisku hilang huhuhuhu, sekarang mau mulai lagi, dan lanjutin ff yang ketumpuk di draft, semoga author bisa post ff secepatnya, terutama ff venus and mars, please waiting me, dan aku sangat menunggu komennya readers ^^ terimakasih

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s