Venus and Mars Chapter 5

Rating : PG 17

Genre : Romance, Action

Cast

Jungkook as Jen >> Pria berumur 21 tahun, penyuka sesama, karena itu ia mengubah statusnya menjadi seorang wanita dan bekerja sebagai wanita penghibur (as Jen). Dia memiliki seorang adik yang telah lama disandra oleh seorang mafia, yang dulunya menghancurkan keluarganya.

Sera as Kim >> Wanita normal yang suka berpenampilan dan berkarakter seperti pria, berumur 19 tahun, seorang yatim piatu. Ia berprofesi sebagai seorang kriminal. Dan tidak mengetahui kalau Jen adalah seorang pria.

Suga as Yoongi >> Berumur 25 tahun, dulunya memiliki hubungan dekat dengan Kim. Dan sampai saat ini ia masih memendam rasa suka pada wanita itu. Yoongi adalah seorang mafia sama seperti Jin. Yoongilah dalang dibalik semua kejahatan Jin. Yoongi mengganti namanya menjadi Suga.

Seokjin as Jin >> Pria berumur 26 tahun, seorang mafia dan dulunya menyandra Janey (adik tiri Jungkook). Jin menyukai Sera dan dia adalah cinta pertama Sera. Jin adalah pengikut Yoongi. Yoongi yang membunuhnya.

Rapmon as Namjoon >> Pria berumur 24 tahun. Pengawal setia Jin. Dan sebenarnya ia adalah kakak kandung Kim. Ia mati ditembak Suga.

Janey >> Gadis yang berumur 20 tahun, adik angkat Jungkook. Dia menyukai Jin, mafia yang menyekapnya.

New Cast

Jung Hoseok as Jhope (Hope) >> Pria berumur 24 tahun. Seorang buronan. Ia mantan polisi dan menyebut dirinya sebagai healer.

Park Jimin as Jimin >> Pria berumur 23 tahun. Seorang polisi dan detektif yang mengincar keberadaan Suga (belum terlalu terlihat dicerita).

Kim Taehyung as V >> Pria berumur 23 tahun. Rekan Jimin. Ia berprofesi sebagai polisi dan detektif. Ia memiliki misi yang sama dengan Jimin, mengincar keberadaan Suga (ada dicerita tapi sebagai pemeran pendamping)

Note : Sebelum kecerita, dimohon untuk memperhatikan cast, supaya ga bingung bacanya ^^

Terimakasih telah menunggu ^^

***Venus and Mars***

-Opening song Lee Hi – Passing by-

-Last Chapter-

“apa yang kau inginkan darinya?” Yoongi berhenti sesaat lalu “…Jeon Jungkook?” Yoongi tersenyum datar. Kedua matanya melawan tatapan Jungkook. Kemudian Yoongi mengeluarkan pisau dari balik jaketnya dan menusuk tubuh Jungkook dengan senjata tajam itu. Kim berteriak, berusaha melepas genggaman Yoongi dengan paksa. “Tidak! Jen! Jen!” Kim berteriak memanggil nama samaran Jungkook. Gadis itu belum menyadari Jen adalah Jeon Jungkook. Bocah yang dulu memberinya kalung Venus dan Mars.

“berterimakasihlah karena aku tidak membunuhmu Jeon Jungkook” Yoongi berbicara datar. Lalu menarik Sera yang semakin terisak dengan paksa.

Penglihatan Jungkook semakin pudar. Tusukan yang membekas di perut kirinya membuat Jungkook lemas. Tubuhnya seketika jatuh. Kedua tangan Jungkook menutupi luka itu agar tidak kehilangan banyak darah. Melihat kepergian Sera membuat luka dihatinya bertambah dalam. Dengan kondisi Jungkook seperti ini sangat sulit baginya untuk mengejar Sera.

Venus, Jangan pergi!

­-Last Chapter End~

***Venus and Mars***

Venus, Jangan pergi!

Pandangan Jungkook memudar. Deru napasnya memburu dan tubuhnya melemah. Jungkok mengangkat jemarinya dan terlihat gumpalan darah pekat. Ia meringis masih berusaha menahan rasa sakit. Tusukan itu membuat dirinya hilang kesadaran. Namun ia tidak menyerah, ia percaya sebentar lagi rasa sakit itu akan hilang. Ia sangat yakin Tuhan tidak akan mengambil tubuhnya secepat ini. Tidak akan. Karena ada satu hal yang harus dia lakukan sebelum menghilang.

“… anggap saja aku…Mars dan…kau…Venus, kapanpun dan dimanapun aku pasti menemukanmu karena kau yang paling terang diantara semuanya…”

Kalimat itu adalah sebuah janji yang ia ungkapkan pada Kim Sera. Gadis yang seharusnya ia lindungi.

Jungkook memaksa tubuhnya berdiri. Semakin ia paksa semakin bertambah rasa sakit itu bahkan denyut nadinya seakan berhenti. Tubuhnya terasa berat. Pandangannya semakin kabur, sedetik objek yang berada di depannya terlihat jelas dan sedetik kemudian objek itu terlihat seperti kertas putih yang perlahan menghitam. Terakhir, sebelum kesadaran Jungkook menghilang sempurna, ia bergumam.

“Sera, aku akan menemukanmu secepatnya…”

Lalu matanya tertutup bersamaan dengan deru napas yang berhenti.

***Venus and Mars***

Flashback

Di sebuah ruangan gelap, Yoongi atau sebut saja Suga duduk tertegun dari kursi kayunya. Seorang pengawal juga menemaninya di ruangan itu. Suga memberikan beberapa foto pada pengawal tersebut. “kau harus mencari tau keberadaan pria ini…” Suga berkata pelan. Sejenak ia menikmati bau tembakau yang masuk ke indera penciumannya. Pengawal yang sedang berdiri di depannya masih menunggu lanjutan dari arah pembicaraan tersebut. Suga kemudian melanjutkan “aku akan membayarmu berkali-kali lipat jika kau berhasil membawanya padaku!” perintahnya.

Suga tersenyum tipis lalu memberikan sebuah foto lagi pada pengawalnya. “untuk wanita ini, kau hanya perlu mengawasinya saja…” Suga melempar foto itu hingga jatuh ke lantai. Suga memandangi foto itu dengan ekspresi yang datar. “akan sangat kesulitan mencari seseorang yang telah merubah jati dirinya…” ujarnya pelan. Pengawal itu memungut foto tersebut lalu memandanginya sebentar. Foto pertama adalah Kim Sera yang berwujud pria. Dan foto kedua adalah Jeon Jungkook yang berwujud wanita.

Ya, selama ini Suga tau siapa Kim Sera dan Jeon Jungkook. Dia selalu mencari tau keberadaan mereka. Suga menyewa penguntit bayaran hanya untuk memastikan keberadaan Sera dan Jungkook. Suga juga tau bahwa Sera telah tumbuh dewasa dan berpenampilan seperti pria. Ia juga tau bahwa Jungkook merubah jati dirinya menjadi seorang wanita. Namun satu hal yang belum ia tau adalah wujud asli Jungkook sebagai pria dewasa.

“baik tuan…” seru pengawal itu.

“kau tidak akan mengecewakanku? aku tidak suka dikecewakan. Itu akan sama dengan…membuang satu peluru” Suga mengangkat jemarinya membentuk moncong pistol dan diarahkan ke kepalanya.

Membuang satu peluru artinya sama saja dengan menghabisi satu nyawa.

“satu hal yang perlu anda tau tuan, aku akan melakukan apapun demi uang, termasuk membunuh orang” ungkap pengawal itu seraya mengangkat dua foto yang tadi ia terima.

“hm, sepertinya kau sangat berpengalaman” Suga mengangkat kedua kakinya ke atas meja lalu menatap pengawal itu lekat.

Pengawal itu terkekeh pelan mendengar perkataan Suga yang seperti meremehkan keahliannya. “seharusnya ruangan ini dilengkapi dengan televisi, bukan begitu?” pengawal tersebut memperhatikan sekeliling. Memang, yang hanya terlihat di ruangan ini adalah satu meja besar di tengah dan sebuah kursi kayu yang diduduki Suga. Di atas meja terdapat satu buah telepon, secangkir kopi yang masih hangat, dan putung rokok yang masih menyala. “boleh ditebak berita di televisi bukanlah siaran favorit anda? Sebagai informasi ‘si kepala anjing’ tidak akan bisa menemukan buronan yang selama ini mereka cari…anda dan… saya…apakah tuan tahu?”

“cih, aku sudah tau sebelum kau beritahu…” Suga tersenyum kecut.

“haha, baguslah…” Pengawal itu melirik foto tersebut lalu berkata lagi “tsk, jika saya boleh bertanya, apakah orang – orang ini berkaitan dengan hidup anda?”

Suga meliriknya tajam seperti memberi tahu bahwa kalimat itu adalah sesuatu yang tidak perlu ia tanyakan. Seperti paham dengan tatapan Suga pengawal itu berkata lagi “anda tidak perlu menunggu tuan, besok malam saya akan membawa kabar baik pada anda…” Pengawal itu pamit dan meninggalkan Suga sendirian.

‘aku hanya ingin tahu seperti apa hubungan Jungkook dan Sera…’ batin Suga.

Suga kembali mengingat masa lalu. Saat dimana dirinya dan Sera akan berpisah. Ia tidak dapat memungkiri perasaannya pada Sera. Suga sangat menyayangi Sera, tapi balas dendam yang telah ia perbuat merusak hubungannya dengan gadis itu. Kesempatan untuk selalu berada di samping Sera menjadi longgar. Di hari Suga akan meninggalkan pantiasuhan dan tinggal dengan keluarga barunya, di saat itu ia menyadari hubungan Jungkook dengan Sera.

Suga melihat Jungkook dan Sera bersama. Jungkook memberikan kalung pada Sera dan memasang benda itu di leher Sera. Suga yang saat itu juga memendam suka pada Sera dan menyayangi Sera merasa Jungkook berhasil merebut Sera darinya. Mulai saat itu Suga mulai berhati-hati, karena ia tahu Jungkook pasti tidak akan melepas Sera seperti yang ia lakukan. Suga yakin suatu saat Jungkook dan Sera akan bertemu kembali.

Seketika Suga menutup ke dua matanya. Ia berusaha untuk melupakan rasa cemburu pada dirinya. Sebentar lagi ia akan merebut kembali Kim Sera.

“tuan apakah anda di dalam?” seseorang bersuara dari balik pintu.

Suga kembali membuka mata. Suara ketukan pintu membuat istirahatnya terusik. “masuklah…” sautnya.

Seorang pria perlahan masuk ke dalam ruangan ditemani seorang gadis yang mengikutinya dari belakang. Suga melihat mereka dan menutup kembali kedua matanya. Satu lagi orang yang perlu Suga habisi. Pria yang juga memendam rasa suka pada Kim Sera. Seokjin. Sayangnya Jin tidak pernah tau bahwa Suga adalah Yoongi yang dulu ia kenal. Dan Suga juga mengetahui bahwa Jin selama ini diam – diam mencari tahu keberadaan Sera tanpa sepengetahuannya. Bodohnya Jin tidak pernah mengira bahwa nasibnya akan berujung mati di tangan tuannya sendiri.

“perlu apa kau kemari?” Suga bertanya.

Jin menaruh dua koper berbentuk segiempat di atas meja membuat Suga kembali membuka mata.

“seperti yang anda minta, saya sudah menjual semua barang itu” Jin membuka koper  – koper tersebut lalu terlihat lipatan kertas dan ratusan cek berharga yang memenuhi isi koper. Jumlah nominalnya dapat membeli satu pulau di Hawai bahkan sanggup meraup perusahaan minyak di Cina dan Arab Saudi.

Suga tersenyum Serang dan mengambil beberapa helai. “hmm kau memang bisa diandalkan, pantas saja kau membawa ‘hiburan’ lagi. Sepertinya kali ini wanita yang jauh lebih muda darimu?” Suga melirik gadis yang berdiri di belakang Jin. Seketika gadis itu memperlihatkan raut wajah yang tersindir.

Jin menyambut tawa Suga. “aku bahkan ‘mendapatkannya’ secara gratis…”

“ya! Kau pikir aku tidak tau maksud dari ucapanmu eoh? Kau pikir aku wanita yang setiap malam menghabiskan waktu dengan beberapa pria?” Gadis itu berteriak marah pada Jin karena merasa direndahkan.

Suga bangkit dan mengahampiri gadis itu. “hey nona manis, sepertinya anda sangat sensitif…” Suga lagi – lagi tertawa dan diikuti Jin.

“kami hanya bergurau…” Suga membelai rambut panjang gadis itu. “tapi saya tidak suka” balas gadis itu dan menepis jemari Suga yang menyentuh rambutnya. “kau…” Suga menahan emosinya “gadis yang sangat berani”

“tuan, dia Janey, sikapnya memang sangat sensitif. Haha ah ya! dia juga membantu ku menjual barang”  ungkap Jin

“eo, kau bekerja untuknya? Berapa bayaranmu?” Suga bertanya pada Janey. “yang kubutuhkan hanyalah tempat di sisinya…” jawab Janey. Jin menatap Janey seketika mendengar pengakuan gadis itu.

“wah…tampaknya dia bukan sekedar hadiah bagimu Jin?” Suga menatap Jin.

Janey membalas tatapan Jin “keluarlah, aku perlu bicara dengan atasanku, empat mata” Jin berbicara pada Janey. Gadis itu menurut lalu meninggalkan ruangan.

Ruangan seketika sunyi. Suga kembali menatap Jin “sepertinya kau membawa berita lain”

“saya belum menemukan pria itu tuan” Jin bersuara. Namun raut wajahnya seperti menyembunyikan sesuatu dari Suga.

Tak perlu diberitahu Suga mengerti akan ekspresi wajah Jin. Jin pasti mengetahui sesuatu tentang pria yang ia maksud, Kim Sera, namun ia tetap merahasiakannya dari Suga. Suga adalah tipikal orang yang sangat berhati – hati, apalagi terhadap masalah yang berkaitan dengan masa lalunya.

“begitukah? Apa kau yakin?” Suga memberikan tatapan selidiknya.

“ya saya belum berhasil menemukan pria itu tuan” jawab Jin namun ia memalingkan wajah dari tatapan Suga.

“ada lagi yang ingin kau sampaikan? Kalau tidak keluarlah, aku ingin beristirahat”

“ba…baik tuan…” Suga memperhatikan tubuh Jin yang menghilang dibalik pintu. Ia lalu meraih pistol berjenis heckler dari dalam jaket hitam yang ia kenakan. Senjata berapi itu seukuran genggaman tangannya, berwarna hitam, dan terdapat enam belas peluru yang masih utuh di dalamnya. Suga mengangkat pistolnya dan mengarah ke pintu. Ia tersenyum seraya bergumam “satu dari enam belas peluru ini akan kuhadiahkan untukmu Jin”

***Venus and Mars***

Pengawal bayaran Suga kembali membawa kabar baik seperti yang ia janjikan. Pengawal itu menaruh secarik kertas dan foto yang Suga titipkan padanya “itu adalah alamat dimana dia bekerja, sebuah motel yang terletak di pinggir kota. Wanita itu bekerja sebagai pelayan dan ‘sesuatu yang menghasilkan uang secara cepat’ atau bisa dikatakan menipu orang? Untuk pria ini” pengawal itu melempar foto yang lain. “tsk saya tidak yakin dia memang seorang pria atau wanita, tapi yang jelas dia sama seperti saya, seorang buronan. Jika boleh diperjelas, buronan abal – abal. Saya sudah mencari tahu tentangnya. Pria ini bernama Kim, dan wanita itu bernama Jen” pengawal itu menjelaskan yang sebenarnya tidak dijelaskanpun Suga sudah tahu.

Suga bukannya membuang – buang uang dan waktu hanya untuk mencari tau apa yang sudah ia tau, tapi Suga hanya ingin memastikan bahwa pencariannya selama ini adalah benar. Namun mencari tau tentang dua orang yang berbeda dalam satu hari adalah kehebatan yang luar biasa.

“kau mencarinya semalaman?”

“ya tentu saja, apa yang tidak bisa kulakukan? Hahaha” pengawal itu besar hati, memamerkan kehebatannya.

“namamu?” Suga menatap pengawal itu.

“Hope” jawabnya cepat

“Hope? Nama yang unik…” Suga menaruh sebuah amplop tebal di atas meja. “ini bayaranmu…” Pengawal yang bernama Hope itu segera meraih bayarannya.

“bayaranmu bisa kugandakan jika kau bisa melakukan tugas terakhir…”

Hope kembali menatap pria yang berada di depannya. “dengan Serang hati saya akan melakukan apapun demi uang” ia tersenyum dan membayangkan besarnya nominal yang akan ia gandakan.

Suga menarik napas “bergabunglah bersamaku” ujarnya. Hope terdiam.

“kau tidak akan menyesal, berapapun nominal yang kau butuhkan aku bisa memenuhinya, apapun, kendaraan, rumah, bahkan wanita, aku bisa menyediakannya untukmu, cuma – cuma. Bagaimana?” Suga meyakinkan tawarannya.

Hope tersenyum “wow, tawaran yang sungguh menggiurkan. Tsk, tuan, saya memang membutuhkan uang, uang adalah materil berharga bagi saya. Mungkin tujuan hidup saya adalah mendapatkan uang sebanyaknya. Tapi…sepertinya anda belum tau satu hal. Saya bekerja untuk diri sendiri, tanpa teman, tanpa pengawal, dan tanpa atasan. Ya seperti inilah hidup saya, hanya orang bayaran. Saya tidak memihak siapapun, saya tidak memihak mafia – mafia di luar sana, saya juga tidak pernah memihak pada anda. Saya bekerja demi uang. Tapi untuk bergabung dengan komplotan anda, saya ucapkan terimakasih. Sepertinya kerjasama kita sudah selesai. Saya pergi.” Hope pamit dari hadapan Suga. Ia menolak tawaran itu bukan karena menyia-nyiakan uang, tetapi karena Hope memiliki prinsip yang berbeda dengan Suga.

Dia tidak akan pernah membeli wanita dengan uang. Itu sama saja membuat dirinya hina.    

Flashback End

***Venus and Mars***

Seminggu berlalu semenjak Sera mengurung diri di kamar. Gadis itu tidak pernah bicara. Ia hanya berdiam diri, mengabaikan semua makanan yang terhidang di kamar. Tubuhnya semakin kurus. Wajahnya pucat sedangkan pakaiannya masih seperti minggu lalu. Pakaian terakhir yang menjadi saksi terbunuhnya Jin, kakaknya Namjoon, dan seseorang yang berharga baginya, Jen.

Seminggu berlalu. Tak satupun kabar yang ia terima tentang Jen. Sampai detik ini Sera tidak tau bahwa Jen adalah seorang pria yang bernama Jungkook. Dia bahkan tidak tau apakah Jungkook masih hidup atau sudah pergi selamanya.  Dan seminggu pula Sera tinggal bersama orang yang ia benci, Suga.

Tok…tok…

Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Sera tidak merespon, ia mengabaikan ketukan itu dan kembali berbaring di ranjang. Seorang pelayan memasuki kamarnya seraya membawa nampan dengan menu sarapan di atasnya. Pelayan itu menaruh nampan tersebut di atas meja dan melirik nampan lain di meja yang sama. Masih seperti hari – hari kemarin, Sera tetap mengabaikan semua makanan itu.

“nona, saya mohon makanlah sedikit saja…” bujuk pelayan. Sera tidak menjawab.

“dia tidak makan lagi?” sebuah suara berat mengagetkan pelayan.

“tidak tuan…” jawab pelayan itu dan segera keluar kamar. Siapapun sangat ketakutan jika melihat Suga. Dia adalah pria dingin yang siap mengeluarkan senjata berapinya untuk siapapun yang mengganggu hidupnya.

Suga mendekati ranjang dan duduk di atasnya. Sementara posisi Sera membelakanginya. “kau tidak makan lagi?”

Tidak ada jawaban. “lihatlah tubuhmu semakin kurus, apa perlu ku suapi?”

Tetap tidak ada jawaban. Suga bangkit dan menghadap ke posisi Sera. Gadis itu tertidur.

Tertidur atau pura – pura tidur?

“bangunlah…” Sera tetap diam. Suga tau bahwa Sera pasti mendengar ucapannya. Namun gadis itu berpura – pura tidak tau. “ya! bangunlah, jangan membuatku marah” Suga menaikkan nada bicaranya.

Sera tetap diam dan memutar tubuhnya membelakangi Suga. Suga merasa tak sabar lalu menarik Sera secara paksa agar terbangun.

“ya! kau sangat pandai membuatku semakin jatuh cinta padamu Kim Sera!” teriak Suga. Pria itu mencengkram kedua lengan Sera membuat gadis itu meringis. Suga menatap kedua bola mata Sera yang berair. “makanlah…” Suga melonggarkan cengkramannya lalu mengambil makanan yang akan ia suapi pada Sera.

Sera terduduk, memperhatikan gerakan Suga dengan tatapan benci. Ketika Suga beralih menatapnya Sera segera memalingkan wajah. “ya! beraninya kau mengabaikan tatapanku?”

Suga meraih semangkok bubur hangat dan menyuapinya pada Sera. “buka mulutmu…”

Sera diam masih mengabaikan Suga. “kau tidak suka?”

Sera tetap diam, mengabaikan Suga yang sudah siap dengan semangkuk bubur hangat. Baginya wujud seorang Suga seolah – olah tak ada di kamar itu. “kau suka sekali membuatku marah Sera!” Suga berteriak lalu membanting makanan itu ke lantai. Seketika lantai kamar itu dipenuhi oleh bubur dan pecahan mangkok yang berserakan.

Sera terkejut dan mengeratkan genggaman selimut di tubuhnya. Tak hanya pelayan, dia juga sangat ketakutan pada Suga.

Seorang pelayan yang mendengar pecahan itu segera berlari ke kamar.

“bersihkan tempat ini, dan…” Suga melirik Sera. “…mulai hari ini, berhenti menghidangkannya makanan” Suga berlalu dengan emosi yang masih menggebu – gebu.

Suga membanting pintu kamar. Ia menuruni tangga dengan langkah yang cepat. Wajah dan telinganya memanas sedangkan deru nafasnya semakin bergemuruh. Sera berhasil membuatnya naik pitam.

“tuan…ada panggilan untuk anda…” seorang pelayan memberikan telepon genggam pada Suga. Seketika ia berhenti dan meraih telepon genggam tersebut.

“halo?” sautnya.

“tuan…wanita yang bernama Jen itu sudah mati, kami menemukan mayatnya di gudang…”

Senyuman tipis tergurat di wajah Suga. Emosinya seketika menurun mendengar kabar tersebut.

“cepat kau bereskan, aku tidak ingin melihat pengacau‘berkeliaran’ lagi…” Suga memutuskan panggilan. “aku belum merencanakan kematianmu Jen, tapi sepertinya nasib baik berpihak padaku…” Suga tertawa pelan. Kemudian ia mendongak karena merasa seseorang memperhatikannya. Sera menatap Suga yang tersenyum dengan berurai air mata. Sera seakan tau apa yang direncanakan Suga dari percakapan telepon genggam.

Semua yang Sera takuti menjadi nyata. Jen tidak akan pernah kembali. ‘Wanita’ itu sudah pergi ke kehidupannya yang kekal. Selamanya.

***Venus and Mars***

Tujuh Tahun Kemudian.

Tujuh tahun tanpa menjalani kehidupan yang ‘normal’. Biasanya setiap pagi Sera menyantap menu sarapan yang ia dapat dari orekan sampah. Itupun hanya sisa – sisa roti yang sudah expired. Bahkan ia masih bisa menahan lapar empat hari lamanya. Biasanya Sera tidur dimanapun tempat yang ia singgahi. Subway, terminal, halte, taman kota, ataupun gudang – gudang yang tidak terpakai. Biasanya Sera selalu berpenampilan seperti pria. Wajahnya tidak pernah tersentuh oleh makeupmakeup mahal yang digilai para wanita. Pakaiannya tidak pernah baru. Hanya beberapa helai pakaian usang yang ia dapatkan di pembuangan. Biasanya setiap malam Sera selalu mencari uang haram untuk menghidupi dirinya. Bukan untuk membeli barang – barang mewah, namun untuk mendapatkan semangkuk ramen kesukaannya, itu sudah cukup. Masih ingat warung ramen yang sering ia singgahi? Disitulah tempat kedua ia bertemu dengan Jen. Sayangnya Sera tidak mengingat lagi semua tentang Jen. Ia sudah melupakan semua kenangan itu.

Bagi Sera wanita yang bernama Jen tidak akan pernah ada. 

Sekarang kehidupan lama itu bagaikan memori asing. Selama tujuh tahun, Sera tidak pernah sarapan dengan menu expired dari pembuangan. Bahkan salah satu menu makan malamnya adalah beluga caviar dan tiram. Sayangnya, makanan mahal itu selalu membuat Sera mual, ia sangat membenci seafood.

Pakaiannya selalu baru. Pakaian layak untuk seorang wanita cantik sepertinya. Sera tidak perlu lagi repot – repot mencari uang haram, Suga memberikan segalanya. Rumah mewah bagai istana. Puluhan pelayan siap mendandani dan melayaninya. Kendaraan mahal yang selalu membawanya pergi. Tujuh tahun hidup seperti boneka simpanan Suga, mengikuti kemanapun pria itu pergi, menyaksikan kehidupan malam dan perjudian legal. Selama tujuh tahun pula ia tak pernah bicara, kepada siapapun, termasuk Suga.

Sera menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Semuanya terlihat sempurna. Wajahnya yang cantik menawan dipoles dengan makeup yang natural. Rambutnya yang lurus, tumbuh panjang, dan berwarna hitam, dibiarkan terurai. Bibirnya yang merah menambah kecantikannya. Namun raut wajahnya selalu saja datar, tidak pernah tersenyum.

Malam itu seperti biasa, ia akan menemani Suga, mengunjungi kasino pribadinya.

Suga berjalan, menelusuri lorong seraya sesekali menoleh padanya. Tak dipungkiri bahwa penampilan Sera dapat menarik perhatian Suga. Pria itu berhenti, diikuti Sera dan empat pengawalnya.

“kalian berjalanlah dahulu” perintah Suga pada pengawalnya. Suga menatap Sera lalu meraih dagu wanita itu. Jemarinya menyentuh bibir Sera yang merona merah. “aku tidak ingin penampilanmu menarik perhatian mereka, akan sangat merepotkan jika mereka merebutmu dariku” ujarnya pelan. Suga memandangi Sera lekat. Wajahnya yang tirus, matanya yang belo, hidungnya yang mancung, pipinya yang putih, dan bibirnya yang tipis terlihat sempurna dimata Suga “kenapa setiap hari kau membuatku jantungan eoh?”

Suga menyampirkan rambut Sera yang terurai. Pria itu lalu meraih jemari Sera dan menggenggamnya. “bisakah kau tersenyum untuk hari ini?”

***Venus and Mars***

Suasana malam di kasino ramai oleh mafia – mafia. Ratusan pejudi rela mempertaruhkan harta mereka. Tak jarang ada yang membuat kekacauan karena kalah dalam bertaruh. Tapi berbeda dengan Suga. Pria itu sangat mahir ‘mempermainkan’ lawan. Ia tidak pernah kalah. Itulah kenapa ia mampu membeli resort mewah, bahkan membangun sebuah kasino mahal di pulau pribadinya.

Suga menghampiri kursi yang memang disediakan untuknya. Tiga pejudi lain sudah duduk menanti kedatangannya. Dua pejudi dari Macau, dan satu pejudi dari Las Vegas. Suga mengenal mereka. Ketiga pejudi tersebut juga memiliki kasino di negara asalnya. Keempat pejudi tersebut disuguhi vodka mewah.

Seperti biasa, Sera akan duduk di belakang memperhatikan permainan mereka. Dealer mulai membagikan koin kepada para pemain. Keempat pejudi tersebut bersiap kalah dan menang, menaruhkan harta mereka. Dealer memutar roulette, sebuah bola putih bergerak berlawanan. Pejudi siap menebak – nebak diangka berapa bola itu akan berhenti. Tiga puluh menit berlalu. Suga memenangkan permainan. Tiga pejudi lainnya dibuat kewalahan. Dua diantaranya menyerah dan memberikan harta yang mereka bawa.  Untung saja mereka tidak membuat kegaduhan.

Tidak ditempat mereka.

Suga berdiri pertanda permainan berakhir. Ia menarik Sera agar bangkit. Empat pengawalnya sigap memasukkan ratusan lembar uang ke dalam koper. Mereka siap – siap kembali kekediaman namun beberapa saat kemudian terdengar keributan. Seorang pria tua membanting meja poker. Ratusan domino berserakan di lantai. Jeritan para wanita terdengar. Suasana kasino menjadi riuh karena ulah pria tua itu.

Suga menghampiri asal kegaduhan itu. Pria tua tadi masih mengamuk lalu berteriak “kau bermain curang! aku mempertaruhkan semua hartaku, dan tak sedikitpun kembali! Trik apa yang kau gunakan eoh?! Aku tau kau pasti menipuku!”  pria tua tersebut menarik kerah dan mencengkram lawan mainnya. Sementara itu lawan mainnya hanya tertawa, tidak melakukan perlawanan apapun. Semua di ruangan itu memperhatikan mereka, tak terkecuali Suga dan Sera.

“apa yang terjadi?” Suga mengambil perhatian. Suaranya menggema hingga ke ujung ruangan. Tak hanya pria tua itu yang emosi, ia juga tampak demikian karena ulah pria itu membuat tamu – tamu Suga tak nyaman.

Pria tua itu melepas cengkramannya lalu berteriak lagi “dia bermain curang!”

“kau!” Suga mengeluarkan senjata apinya lalu mengarahkan pada pria tua itu. Seketika senjata api itu mengundang jeritan para wanita. “…. keluar, sebelum satu peluru menembus jantungmu!”

Pria tua itu tidak bergeming. Beberapa pengawal mengusirnya dengan paksa. Suasana kembali normal.

Suga melirik pria yang tadinya berurusan dengan pria tua itu. Pria itu juga membalas tatapannya. “ingin mencoba bermain dengan saya tuan?” pria itu menawarkan. “ah… pejudi profesional seperti anda sungguh tidak pantas jika bertaruh dengan saya, di sana…” pria itu menunjuk seseorang yang sedang bermain baccarat. “dia sepertinya pantas bertaruh dengan anda…”

Suga memperhatikan pria tersebut dari jauh. Pira itu mengenakan jas rompi berwarna hitam dan kemeja putih. Rambutnya dipotong mengikuti mode high bald fade dan sedikit dark. Dimata para wanita dia terlihat sangat tampan, tak heran jika banyak sekali wanita yang melirik ke arahnya.

Orang itu terlihat asing dimata Suga. Ini pertama kali Suga melihat pria itu mengunjungi kasinonya. Suga menghampiri pria itu dan memperhatikan caranya bermain. Terlihat tumpukan kertas bermata uang pondsterling didekatnya. Sepertinya pria ini cukup pandai bermain.

Bandar menyadari kehadiran Suga. Wanita Bandar itu menawarkan Suga “anda ingin bermain tuan?”

Suga tidak menolak. Ia kemudian duduk dan memanggil pengawalnya untuk membawa barang taruhannya. Sementara pemain judi yang lain spontan beranjak dan membiarkan petaruh menjadi satu lawan satu.

Pria itu menatap Suga. Suga juga ikut menatapnya. “aku bertaruh untuk seratus ribu dolar…”

Pria itu membalas “aku bertaruh untuk semuanya…”

Suga tersenyum dengan raut wajah yang meremehkan “kau sungguh berani, tidak menyesal?”

“aku tidak menyesal semenjak hidup kembali ke dunia ini!” pria itu melirik Suga dengan tatapan yang tajam.

Permainan sengit dimulai. Satu, dua, hingga tiga ronde. Suga tidak bisa menarik kembali barang taruhannya. Pria itu berhasil mengalahkan raja judi.  Kemampuan judinya tidak bisa diremehkan.

Wajah dan telinga Suga memerah. Ia sakit hati luar biasa dikalahkan oleh pendatang baru di kasinonya.

“apa hanya ini?” Pria itu menatap Suga lagi. “apakah tidak ada barang berharga selain uang?” Pria itu tersenyum. Kini gilirannya yang memandang Suga dengan tatapan merendahkan.

“sepertinya wanita cantik itu memperhatikanmu, apa kau mengenalnya?” pria itu melirik Sera. Suga juga mengikuti arah pandang pria itu “jujur saja aku mengincarnya dari tadi…” pria itu berdiri lalu mengampiri Sera yang duduk beberapa meter di depan mereka.

Pria itu berjalan, kemudian menarik Sera agar berdiri. Tarikannya begitu cepat, sampai – sampai Sera tidak sempat menolak tubuhnya. Sesaat, kejadian yang tidak pernah Sera bayangkan terjadi begitu saja. Suasana mendadak berubah romantis, puluhan mata menyaksikan mereka, tak terkecuali Suga.

Hanya beberapa detik.

Satu…dua…tiga…empat…lima…

Pria itu kemudian berbisik di telinga Sera “aku sangat merindukanmu Venus…” ia tersenyum dan pergi, sebelum pengawal menangkapnya.

Suga melirik tajam ke arah pengawal. Emosinya memuncak. Tanpa dikomandoipun pengawal – pengawal itu sudah tau apa yang harus mereka lakukan. Tangkap dia dan bunuh.

Suga menghampiri Sera yang masih tertegun. Ia kemudian menarik Sera dengan kasar. Rasa cemburu menghantui perasaannya. Ia berkata pelan “bahkan selama tujuh tahun aku belum pernah melakukannya denganmu!” Suga melirik lipstick yang sudah terhapus di bibir Sera. Sungguh, pria itu mempunyai nyali yang besar.

Suga masih dibaluti rasa cemburu. Emosi Suga bertambah memikirkan kekalahannya. Dalam satu hari ia kehilangan harta dan juga kesempatan. Jika bertemu lagi dengan pria itu, Suga tak akan membiarkannya lolos.

Bagaimana dengan Sera?

Jantungnya masih berdetak kencang. Tubuh Sera seperti diserang listrik ratusan volt. Dari raut wajahnya tergambar bahwa pikirannya tak tenang. Jika mengingat kejadian tadi membuat perasaannya semakin campur aduk. Begitu banyak pertanyaan yang terlintas dipikiran Sera.

Apa yang terjadi? Apa yang harus ia pikirkan? Apakah dirinya mengenal pria itu? Apakah mereka pernah bertemu? Dimana? Kapan? Mungkinkah dia tau siapa laki – laki itu?

Tarikan Suga membuat Sera kembali meringis. Mereka berjalan terburu – buru, membuat Sera tak nyaman. Sera menarik tangannya dari genggaman Suga.

“berhenti…” itu kata pertama yang ia ucapkan pada Suga. Kata pertama setelah tujuh tahun.

Suga menatap Sera dengan tatapan tak percaya.

“siapa?” Sera bertanya. Pandangannya masih mengarah ke lantai.

“apa aku mengenalnya?” ia bertanya lagi. Kini suaranya seperti tercekat. Sera mengangkat wajahnya. Matanya terlihat berkaca – kaca.

Suga hanya diam tak tau harus menjawab apa. Setetes air mengalir di pipi Sera. Gadis itu menangis.

Sera tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan. Ia hanya ingin menangis, tanpa alasan yang jelas.

Sera menutup kedua matanya. Seketika air bening itu jatuh lagi dipipinya.

Satu detik…

Bisikan tadi kembali terngiang.

“aku sangat merindukanmu Venus…”

–To be Continued–

siapakah lelaki misterius itu?

-Closing Song BTS-Boy In Luv (Instrumental version)-

***Venus and Mars***

Terimakasih untuk readers yang setia menunggu >.<. Author mohon maaf yang sebesar – besarnya T^T. Author tidak menepati janji dua tahun yang lalu. Padahal aku udah janji buat ngepost lanjutan fanfic abal – abal ini sebelum akhir tahun 2014. Tapi nyatanya, fanfic ini ditunda sampe dua tahun lamanya. Ini hampir dipertengahan tahun 2016 dan aku ngepostnya baru sekarang. Aku benar – benar minta maaf.

Sebelumnya aku mau kasih alasan kenapa fanfic ini aku tunda. Pertama karena selama dua tahun ini, aku lagi sibuk sama sekolah. Sempet sih buka draft fanfic yang udah dibikin, tapi aku ngerasa tulisannya masih berantakan dan alurnya biasa aja. Alasan kedua, bagiku bikin cerita atau alur yang bagus itu ga gampang. Bikin cerita yang bener – bener bagus buat dibaca dan bisa menyentuh pembaca itu ga gampang. Cerita ditulis ga hanya untuk si penulis tapi untuk pembaca juga. Intinya feel yang dituangkan penulis ke cerita itu harus nyampe ke pembaca, dan kalo bisa pembaca bisa berimajinasi dan menyatu dengan ceritanya.

Nah selama dua tahun ini, ga tau kenapa, aku merasa kehilangan feel itu di cerita Venus dan Mars. Karena ga dapet feel, aku malah mikir dan malah nulis ide lain buat dijadiin fanfic, meskipun fanfic itu juga termasuk abal – abal. Sedangkan fanfic Venus dan Mars ini, ternomor duakan. Dan kalo aku ngepost fanfic yang baru, aku ngerasa bersalah sama semua chasts yang ada di dalam cerita ini T^T. Alasan itu yang bikin aku buat ngelanjutin ff ini sampe akhir dulu baru ngepost ff yang baru. T^T. Dua tahun ga dapet feel buat nulis tuh rasanya lebih sakit dari diphpin gebetan ato ga diputusin pacar. Perrrrrrrrihhhhhhh… T^T

Selama dua tahun, aku juga mikirin gimana perasaan readers yang menunggu lanjutan dari fanfic ini. Sampe sebelum tidurpun aku selalu mikirin gimana alur yang bagus buat lanjutan ff ini sampe tamat. Tapi ga dapet – dapet. T^T

Akhirnya, ga tau kenapa, sehabis ngeliat teaser comeback BTS di album baru mereka dengan judul Fire. Feels buat nulis lanjutan Venus dan Mars itu dapet >.<. Alhamdulillah. Finaaaaaaaaaallllllllllyyyyyyy… Aku ngerasa kayak dikasih ilham dari atas. Dan tadaaa…ffnya jadi. Aku nyelesaiin fanfic ini selama dua hari (termasuk ngedit – ngeditnya lagi). Berharap lanjutannya ga ngaret lagi, semoga secepatnyaaaa… >.<.

Maaf kalo ceritanya diluar ekspektasi readers semua. Maaf kalo ternyata tulisannya masih berantakan. Maaf kalo ceritanya bikin bingung. Maaf, maaf, maaf…

Terimakasih…

Komennya aku tunggu ^^

Oya selamat buat Army karena bentar lagi BTS mau comeback kkkk *\^O^/*

***Venus and Mars***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s