Venus and Mars Chapter 4

Rating : PG 17

Genre : Romance, Action

Cast :

Jungkook as Jen >> Pria berumur 21 tahun, penyuka sesama, karena itu ia mengubah statusnya menjadi seorang wanita dan bekerja sebagai wanita penghibur (as Jen). Dia memiliki seorang adik yang telah lama disandra oleh seorang mafia, yang dulunya menghancurkan keluarganya.

Sera as Kim >> Wanita normal yang suka berpenampilan dan berkarakter seperti pria, berumur 19 tahun, seorang yatim piatu. Ia berprofesi sebagai seorang kriminal. Dan tidak mengetahui kalau Jen adalah seorang pria.

Seokjin as Jin >> Pria berumur 26 tahun, seorang mafia dan menyandra Janey (adik tiri Jungkook). Jin menyukai Sera dan dia adalah cinta pertama Sera. Jin adalah pengikut Yoongi.

Suga as Yoongi >> Berumur 25 tahun, dulunya memiliki hubungan dekat dengan Kim. Dan sampai saat ini ia masih memendam rasa suka pada wanita itu. Yoongi adalah seorang mafia sama seperti Jin. Yoongilah dalang dibalik semua kejahatan Jin.

Rapmon as Namjoon >> Pria berumur 24 tahun. Pengawal setia Jin. Dan sebenarnya ia adalah kakak kandung Kim.

Janey >> Gadis yang berumur 20 tahun, adik angkat Jungkook. Dia menyukai Jin, mafia yang menyekapnya.

Note : Sebelum kecerita, dimohon untuk memperhatikan cast, supaya ga bingung bacanya ^^

Terimakasih telah menunggu ^^

***Venus and Mars***

-Last Chapter

“Sera-ssi…waktumu hanya terbatas, cepat katakan semua yang ingin kau katakan untuk oppamu yang tersayang…” Jin bersuara lagi. Ia tersenyum puas, melihat reaksi Namjoon dan Kim. “set…tul…” Jin menghitung mundur. Lalu…

“hana…” Jin menarik pematik.

DOR

-Last Chapter End

***Venus and Mars***

DOR

Ruangan pengap itu seketika menggema. Sebuah peluru menembus dinding tebal yang berada tepat di belakang Namjoon. Jika meleset sepersekian centi saja, mungkin peluru itu akan menembus kepala Namjoon. Namun, tampaknya Jin mengulur waktu kematian Namjoon. Pria itu kemudian mengarahkan senjata berapinya ke arah Kim yang masih terlihat shock.

Jin tersenyum menatap Kim dengan masih mengarahkan pistol “atau, kau saja yang harus ku bunuh?”

Namjoon seketika berteriak “Ya! Bunuh saja aku!”

Jin berbalik “begitukah? Aku akan memenuhi permintaanmu!”

“hentikan!” Kini Kim yang berteriak. Wajahnya semakin memerah “apa yang kau inginkan?”

“kau!” Jin berjalan lalu mengangkat wajah Kim dengan moncong pistolnya yang masih terasa panas. “ku harap kau tidak melupakan cinta pertamamu Sena…” ujar Jin. Pria itu menarik Kim agar berdiri lalu melingkarkan tangannya di leher gadis itu. “jika kau menurut, kakakmu akan baik-baik saja…jika tidak, kau akan tahu akibatnya…” bisik Jin.

Kim bersuara pelan. “jika kau tidak membodohiku, aku akan menuruti semua keinginanmu…”

“gadis pintar…” Jin mengambil sebuah borgol dan mengunci tangan Kim dan tangannya dengan benda itu. “kau milikku…”

DOR

Bahu Jin menesteskan banyak darah. Jin terlihat kesakitan menahan peluru yang menembus tubuhnya. Seketika, Jin berbalik melihat pelaku yang berani menyerangnya dengan satu tembakan. Jin membalik badan, terkejut dengan kehadiran pria itu.

“tu…tuan…” nafas Jin tertahan. Ia mulai kehilangan keseimbangan. Pertahanan tubuhnya seakan runtuh disaat peluru itu menancap di bahu kirinya. Peluru itu membuat tubuhnya terasa panas dan hampir hilang kesadaran. “tu…tuan…apa yang anda lakukan?” ia terlihat kesulitan berbicara. Jin mengangkat senjata di tangan kanannya, hendak menembakkan peluru. “ tu…tuan…a..anda…menghianati…sa…ya..”

DOR

Jin berusaha untuk membalas dengan tembakan yang bertubi-tubi. Namun pria itu lebih cepat mengangkat pistol dan menembakkannya ke kepala Jin. Cipratan darah mengenai wajah Kim. Kim terlihat shock melihat kondisi Jin yang sudah tak bernyawa itu. Kedua matanya terbuka lebar dan wajahnya perlahan memucat. Janey jatuh pingsan melihat kematian Jin yang tidak wajar. Dan seketika Jungkook menarik tubuh Janey ke dalam dekapannya. Dari tadi Jungkook diam di posisinya seraya mengingat-ngingat orang-orang yang ada di sekitarnya itu. Jungkook merasa ia mengenal mereka tak terkecuali Kim Sena. Jungkook yakin masa lalunya berhubungan dengan Namjoon, Jin, Sena dan pria yang menembak mati Jin, orang yang bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Pria yang bernama Yoongi.

“heh, kau pikir, aku akan merelakan Kim bersama pengikut bodoh sepertimu? cih!”

DOR

Yoongi menembak benda yang memborgol Kim dan Jin. “ayo pergi…” ujarnya seraya menarik Kim berniat untuk meninggalkan tempat itu. Belasan pengawal yang berada di ruangan itu seketika bergerak hendak menghajar Namjoon.

“hentikan! Aku tidak punya urusan dengan pria itu!” ujar Yoongi dingin. Dia benar-benar terlihat berbeda saat bertemu dengan Kim di gereja waktu itu. Yoongi yang polos kini terlihat lebih menakutkan dengan penuh rasa dendam dan kebencian.

“ya!” Namjoon berteriak. “lepaskan dia, kau juga tidak berhak untuk merebut adikku!” Namjoon terlihat marah.

Yoongi tersenyum, namun senyumannya itu terlihat dibuat-buat dan penuh dengan tekanan “jika kau melangkah mendekat, pistol ini tak akan segan-segan membunuhmu Kim Namjoon!” Yoongi mengangkat moncong pistolnya, mengarah pada jantung Namjoon.

Kim berdiri dengan segera melihat Yoongi yang menyodorkan pistol. “Ya!hentikan!” Kim mendorong tangan Yoongi, seketika pistol itu melepas satu tembakan, tidak mengenai tubuh Namjoon. “Yoongi!” teriak Kim. Kim benar-benar terlihat marah setelah melihat Yoongi yang tidak bisa mengontrol amarahnya.

“setelah kau pergi dari pantiasuhan itu, bertahun-tahun aku masih menganggap dirimu teman terbaikku, tapi…kenapa? kenapa kau melakukan semua ini?”

“tarik ucapanmu itu Kim Sena!” Yoongi menatap tajam ke arah Kim. “apa kau masih menganggapku sebagai teman terbaikmu jika kau tahu semua kebenarannya?”

“aku percaya, kau adalah orang yang baik!” jawab Kim dengan nada yang tinggi.

“meskipun aku sudah melakukan hal yang buruk? Kau tidak tahu apa-apa Sena, bahkan kau tidak tahu pelaku yang membakar pantiasuhan itu. Aku! Aku lah pelakunya!” ucap Yoongi lantang.

“kau membohongiku!” Kim kembali berteriak. Ia sama sekali tidak yakin bahwa Yoongi lah dalang dibalik itu semua.

“aku berkata benar! Akulah satu-satunya yang dapat melakukan itu Sena!” balas Yoongi. Tidak ada rasa bersalah yang muncul di wajahnya. Malah, Yoongi terlihat bahagia.

“kau! Kenapa kau melakukannya?”

Yoongi meraih wajah Kim “untuk balas dendam Sena! Setelah apa yang mereka lakukan pada kakakku!”

Pikiran Jungkook seakan berjalan mundur. Merasa tak asing dengan kejadian-kejadian yang ia dengar dari percakapan Yoongi dan Kim Sena. Memori lamanya kembali muncul setelah bertahun-tahun tersimpan. Masa lalu Jungkook kembali diputar dalam benaknya. Kenangan indah yang ia lalui bersama kedua orangtuanya, kecelakaan yang menimpa ayah dan ibunya. Gelar sebagai anak yatim piatu yang tidak dapat ia elak. Lalu menjadi salah satu penghuni panti asuhan. Itulah perjalanan awal Jungkook bertemu dengan gadis yang bernama Kim Sena.

‘Gadis Venus’ batin Jungkook. Sepertinya ia mulai mengenal siapa Kim Sena.

12 tahun yang lalu

Jungkook berdiri dimulut pintu sebuah kamar dengan ditemani seorang wanita yang seumuran mendiang ibunya. Wanita itu membawa tas yang berisi semua pakaian milik Jungkook. Seorang bocah dari dalam kamar itu memandangi Jungkook dari atas kasur. Ia terlihat melipat kedua lutut dan memeluknya dengan erat. Raut wajahnya sangat murung, seperti ditimpa berita buruk. Bocah itu tidak menyambut kedatangan Jungkook sebagai keluarga barunya dengan baik. Sepertinya kedatangan Jungkook di waktu yang kurang tepat.

“ini kamarmu Jungkook, dan dia adalah Yoongi, teman sekamarmu” ujar bibi pengasuh itu pelan. Jungkook mengangkat kepalanya, memperhatikan kondisi ruangan sempit itu. Dua buah kasur ukuran mini ditambah dengan satu buah lemari besar yang terletak di dekat jendela kamar. Ruangan ini memang pantas untuk ditempati bocah dengan tubuh kecil seperti dirinya dan juga Yoongi. Jungkook mengangguk pelan kemudian bibi pengasuh meletakkan tas yang ia bawa di lantai lalu meninggalkan ruangan itu. Suasana menjadi hening selepas kepergian bibi pengasuh. Jungkook melangkah pelan memasuki kamar barunya, tempat yang akan membuat ia melupakan semua kepahitan hidup yang ia terima. Tempat inilah yang akan memudarkan kenangan indahnya bersama ayah dan ibu. Jungkook sempat menangisi kepergian ayah dan ibu yang telah mengahadap Tuhan. Dan ia sama sekali tidak protes.

Jungkook duduk di atas kasur lainnya. Kedua mata Jungkook tak lepas memandangi Yoongi yang dari tadi tidak menganggap kehadirannya di ruangan itu. Wajah Yoongi tidak lepas memandang ke arah luar jendela. Tatapan bocah itu kosong, seperti melihat objek yang tak tampak. “berhenti memperhatikanku seperti itu…” ujar Yoongi dingin. Yoongi mulai menyadari kehadiran Jungkook di kamar itu. Wajahnya terangkat, membalas tatapan Jungkook. Jungkook bergidik, mendengar kalimat pertama Yoongi. Ia kembali teringat pesan bibi pengasuh. ‘Teman sekamarmu, Yoongi moodnya saat ini sungguh buruk, tiga hari yang lalu kakaknya meninggal. Yoongi butuh waktu untuk menenangkan diri, jadi jangan pernah membuat moodnya semakin buruk!’

Jungkook menelan ludah. Membayangkan raut wajah Yoongi yang suram membuat perutnya melilit apalagi mendengar ucapan Yoongi barusan. “ti…tidak…” jawab Jungkook tergagap. Jungkook beralih mengangkat tas miliknya ke atas kasur dan mulai membongkar isinya. Jungkook menaruh foto ayah, ibu dan dirinya yang dibingkai di samping bantal. Foto itu adalah satu-satunya barang berharga yang ia punya. Jungkook kemudian menaruh pakaiannya di dalam lemari. Hanya beberapa menit, Jungkook selesai membereskan barang-barangnya. Tak lupa Jungkook mengeluarkan mainan miliknya yang mengundang ketertarikan Yoongi.

“apa itu? bolehkah aku melihatnya? ” suara Yoongi mengagetkan Jungkook. Itu lah kalimat kedua yang Yoongi ucapkan padanya. Jungkook mengangkat mainan itu. “ ini game boy, kau boleh meminjamnya, mau coba?” Jungkook menaiki kasur Yoongi dan duduk di sebelah bocah itu dengan memperlihatkan game boy miliknya. Sebuah mainan bertombol dan terdapat layar kecil di tengahnya. Mainan itu membuat Yoongi memusatkan perhatian padanya. “bagaimana cara memainkannya? Aku belum pernah melihat mainan sekeren ini…” Yoongi mulai kagum dengan benda berwarna hitam itu. Kedua tangannya mulai menyentuh game boy dan memperhatikan setiap tombol yang ada lalu menekannya.

“tunggu, benda ini tidak akan berfungsi jika kau tidak menekan tombol on…” Jungkook membantu Yoongi menyalakan game boy. Yoongi tertawa senang melihat mainan itu berfungsi. Jungkook membuang jauh-jauh prasangka buruknya pada Yoongi setelah melihat bocah itu tersenyum. Yoongi yang mengerikan bisa juga tersenyum, syukurlah. Pikirnya.

Seminggu berlalu semenjak Jungkook berada di panti asuhan. Tak sedikit teman yang bermain dengannya. Jungkook menjadi bagian dari keluarga panti asuhan dan disenangi oleh teman-temannya. Pagi itu Yoongi mengajak Jungkook bermain bola bersama teman-teman lainnya. Di tengah permainan Yoongi menghilang. Jungkook mencari-cari keberadaannya. Dan ia menemukan Yoongi tengah bersama seorang gadis yang tidak ia kenal sebelumnya. Jungkook belum pernah melihat kehadiran gadis itu di pantiasuhan atau mungkin Jungkooklah yang tidak menyadari kehadirannya. Yoongi menarik gadis itu menjauhi lapangan dengan bersenda gurau lalu mereka menghilang di semak-semak. Jungkook merasakan sesuatu yang berbeda dengan hatinya. Bocah berusia 10 tahun mana yang mengerti dengan rasa ketertarikan dengan lawan jenis. Tapi berbeda dengan Jungkook. Ketertarikan itu muncul di saat pandangan pertama. Jungkook memendam rasa suka padanya.

Beberapa menit kemudian. Jungkook menyadari kehadiran Yoongi di tengah lapangan. Jungkook dari tadi hanya menghabiskan waktu menyaksikan teman-temannya bermain sepak bola, yang dia lakukan duduk di tepi lapangan seraya memikirkan gadis itu. Pikiran Jungkook dari tadi tak lepas membayangkan wajahnya.

BUK

Sebuah benda mengenai kaki Jungkook. Bola sepak itu tak sengaja menggelinding dan menyentuh kakinya. “apa yang kau lakukan di sana? Tidak ikut bermain dengan kami?” tanya Yoongi yang kemudian meraih bola sepak dan menyundulnya. Jungkook membalas dengan gelengan pelan. Yoongi menghela napas kemudian kembali melanjutkan permainan. Yoongi menyundul bola dengan tinggi lalu menendangnya ke sana kemari. Tendangan Yoongi yang terlalu kuat membuat bola itu menggelinding ke dalam semak-semak. Yoongi melirik Jungkook yang masih berada diposisinya, duduk bersila di atas pasir.

“Ya kau! Bisakah kau membantuku mengambil bolanya?” Yoongi berteriak, meminta bantuan Jungkook.

“Aku?” Jungkook menunjuk dirinya

“Ya, kau!”

Jungkook berdiri dengan segera lalu mengejar bola yang sudah menjauh dan masuk ke dalam semak-semak. Jungkook berhasil menemukannya, namun teriakan seseorang membuatnya terusik. Tak jauh dari posisinya berdiri, Jungkook melihat seseorang hanyut dibawa arus sungai. Orang itu berteriak meminta tolong. Sesuai dorongan hati nuraninya Jungkook berlari, berniat untuk menolong orang itu. Jungkook berhenti di tepi sungai, kedua kakinya berpijak di atas batu besar. Jungkook tak sendiri, ada seorang bocah yang juga berada di tempat yang sama. Bocah itu terlihat pucat dan gemetar. Jungkook bertanya pada bocah itu apa yang terjadi. Dia hanya menjawab dengan ‘Aku tidak bisa berenang’

“cepat panggil bantuan!”

Entah apa yang dipikirkan Jungkook, bocah itu nekat melompat ke dalam sungai. Yang ada dipikirannya kini adalah menyelamatkan gadis itu. Gadis yang berhasil memikat hatinya.

***Venus and Mars***

Jungkook menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu. Tatapannya tak lepas memperhatikan gadis yang saat ini terbaring di atas kasur. Seorang bocah bertubuh kurus terlihat duduk di samping ranjang. Wajahnya terlihat lesu melihat kondisi gadis itu. Ia sangat beruntung masih dapat bernapas setelah diselamatkan Jungkook. Kemudian Jungkook dikagetkan dengan kehadiran bocah yang tadi berada di tepi sungai. Bocah itu merasa bersalah dengan tindakan barusan yang ia lakukan yang hampir mencelakai gadis itu. Bocah yang tadinya duduk di samping ranjang, bangkit berdiri setelah mengetahui kehadiran bocah itu. Jungkook belum mengenal mereka, namun Yoongi dan teman-teman lainnya biasa memanggil ke dua bocah itu dengan Namjoon dan Seokjin. Namjoon adalah kakak gadis itu, sementara Seokjin adalah teman sekamarnya.

Namjoon angkat bicara setelah mengalihkan tatapan matanya melihat kondisi sang adik. “hyung, aku mohon jangan dekati Sena lagi”

Jin, bocah itu membalas permintaan Namjoon “aku tidak melakukan kesalahan Namjoon” Jin memprotes. Sepertinya bocah itu tidak terima dengan ucapan Namjoon.

“justru karena keberadaanmu lah yang membuat Sena seperti ini. Memang hyung tidak pernah melakukan kesalahan padanya, tapi tanpa sadar hyung sendirilah yang selalu membuat Sena terancam, ku mohon” Namjoon menundukkan kepalanya, merasa bersalah pada Seokjin. Satu sisi ia tidak ingin kehilangan teman baiknya dan disisi lain ia tidak ingin membuat Sena menderita. Ini sudah ketiga kalinya Sena ditimpa musibah jika ia berada di dekat Seokjin. Tidak dipungkiri Sena selalu hilang kendali saat bersama Seokjin, hanya karena gadis itu menyukai dia.

Jadi, namanya Sena. Batin Jungkook, yang masih berdiri di ambang pintu. Jungkook menguping pembicaraan Namjoon dan Seokjin dari tadi. Kemudian Seokjin meninggalkan kamar itu tanpa berkata apa-apa. Wajahnya tertunduk dan terlihat sedih karena ini adalah kesempatan terakhir baginya melihat dan bertemu Sena, gadis yang ia suka.

“kau yang dipintu! Apa yang kau lakukan di situ?” Namjoon bertanya pada Jungkook. Jungkook menelan ludah, takut jika Namjoon akan memarahinya karena menguping pembicaraan sembarang orang.

“a…a…aku…maaf…” Jungkook tergagap dan memutar badan. “terimakasih karena telah menyelamatkan adikku….” Namjoon bersuara lagi dan membuat langkah Jungkook terhenti. Jungkook membalik dan tersenyum pada Namjoon. “syukurlah, dia baik-baik saja…” balasnya. “namamu?” Jungkook terdiam sesaat lalu “Jeon Jungkook…”jawabnya sumringah.

***Venus and Mars***

Seminggu kemudian

Jungkook terbangun lalu mengucek kedua matanya. Yoongi, teman sekamarnya tak ada di ruangan itu. Kemanapun matanya bergerak liar mencari keberadaan Yoongi di kamar itu tetap saja Yoongi tak menampakkan batang hidungnya. Bocah itu menghilang dari atas kasurnya. Jungkook melihat pintu kamar yang sedikit terbuka. Ia pun turun dari ranjang dan ke luar kamar.

Jungkook melangkah dengan sangat pelan, ia tak mau membangunkan teman-teman yang berada di setiap kamar yang ia lewati. Jungkook kemudian menuruni tangga, menuju lantai dasar. Ia masih mencari-cari Yoongi. Jungkook berpikir Yoongi mungkin saja ke kamar mandi untuk buang air kecil. Tapi pikiran aneh terlintas dibenaknya. Jungkook takut jika Yoongi diculik monster, hantu atau sejenisnya. Ia menggeleng, menangkis pikiran aneh yang mengada-ngada itu. Tidak mungkin monster ataupun hantu ingin menculik Yoongi, bukankah mereka yang akan takut pada bocah itu, melihat wajah Yoongi mereka akan lari terbirit-birit. Batin Jungkook ngawur. Di saat seperti ini Jungkook masih saja bisa bercanda.

Langkah Jungkook terhenti. Ada sesuatu yang mencurigakan dari arah dapur. Ia melihat bayangan seseorang di sana. Dengan perasaan was-was Jungkook menghampiri tempat itu. Pintu dapur yang sedikit terbuka, memberikan peluang bagi Jungkook untuk melihat keadaan di dalam. Kedua mata Jungkook melebar setelah melihat orang yang berada di dalam dapur. Orang itu terlihat menggenggam sebuah pematik. Dan Jungkook sangat mengenal orang itu. Dia Yoongi, bocah yang sedang ia cari.

Jungkook membuat pintu dapur terbuka lebar. Ruangan itu memang gelap, tapi Jungkook masih bisa melihat sekelilingnya. Jungkook bergerak maju, sengaja menampakkan diri hendak membuat Yoongi menyadari keberadaannya. Kedua telapak kaki Jungkook terasa berair. Sedangkan hidungnya menciumi bau menyengat. Minyak tanah. Jungkook mengedarkan pandangannya ke bawah. Lantai dapur banjir dengan minyak tanah. Apa yang mau dia lakukan dengan pematik itu. Batin Jungkook.

“hyung…” Jungkook memelankan suaranya. Yoongi berbalik dan terkejut dengan kehadiran Jungkook. Yoongi maju dengan langkah yang cepat lalu mendorong tubuh Jungkook hingga ke luar dapur. Sedangkan Jungkook memasang wajah bingung dengan tindakan yang Yoongi lakukan. Ia tidak merasa melakukan kesalahan, tetapi Yoongi kembali bersikap dingin padanya, seperti pertemuan mereka pertama kali.

“hyung, apa yang kau lakukan di sini? Aku mencarimu…bukankah seharusnya kau berada di dalam kamar? Lagipula ini sudah waktunya untuk tidur”

Mendengar kalimat Jungkook, Yoongi semakin mendorong tubuh bocah itu ke lantai. “hyung…” Jungkook masih memelankan suaranya meskipun Yoongi membuat tubuhnya terluka.

“aku ingin mereka membayar semuanya! Mereka harus merasakan seperti yang kurasakan setelah apa yang mereka lakukan terhadap kakakku!” suara Yoongi tertahan berusaha untuk menahan teriakannya

“justru itu tidak akan menyelesaikan masalahnya hyung” Jungkook berkata pelan, berusaha untuk menghilangkan rasa dendam di diri Yoongi. Jungkook tahu kalau kakak Yoongi meninggal karena pihak pantiasuhan yang tidak mampu membiayai pengobatan kakaknya.

Yoongi malah semakin mendorong tubuh Jungkook hingga tertidur di lantai. “kau tak tahu apa-apa Jungkook!” deru nafas Yoongi yang penuh dengan tekanan menerpa wajah Jungkook. Tak ada lagi senyuman yang merekah di wajah Yoongi. Melihat dirinya dicambuk amarah, Yoongi lebih terlihat seperti monster bahkan lebih menakutkan dari itu. Jungkook merasa tak kuat dengan tubuh Yoongi yang menimpa tubuhnya. Jungkook kemudian mendorong tubuh Yoongi hingga menjauh. Ia berhasil namun Yoongi malah berdiri dan melempar pematik itu ke dalam dapur. Seketika api menjalar hebat. Tak butuh waktu banyak untuk menghanguskan ruangan itu dengan sebuah pematik berukuran kecil.

“hyung!” Jungkook berteriak marah, lalu menarik baju Yoongi dengan kasar. “kau!” Jungkook kembali berteriak. “tak ada gunanya meneriaki ku Jungkook, hanya butuh beberapa menit untuk menghancurkan bangunan ini beserta penghuninya!” ucap Yoongi datar. Ia benar-benar terlihat seperti monster. Raut wajahnya tenang, tidak merasa bersalah. Bibir tipisnya tersungging, memberikan senyuman pada Jungkook. “ku beri dua pilihan, bungkam atau akan kuberi tahu mereka kalau kau dan aku pelakunya?”

“kau punya bukti apa? jangan mencoba mengancamku!” Jungkook semakin emosi melihat Yoongi yang sudah kelewatan batas. “bodoh! aku sudah melumuri tubuhmu dengan minyak! Tidak ada yang bisa percaya jika kau bukanlah pelakunya!”

Jungkook terdiam. Nafasnya melambat, menyadari kebodohannya. Sial. Batinnya.

***Venus and Mars***

Berhari-hari Jungkook bungkam. Bocah itu tidak pernah lagi berbicara ataupun bermain dengan Yoongi. Yoongi terlihat jauh berbeda. Bocah itu sama sekali tidak bersikap baik seperti yang ia pikirkan dulu. Tindakan tak berprikemanusiaan yang Yoongi lakukan, mencap dirinya menjadi orang yang buruk dimata Jungkook. Yoongi bukanlah teman baiknya lagi. Pantiasuhan dipindahtangankan. Seorang pengusaha kaya raya mengambil alih pantiasuhan itu.

Jungkook terus memperhatikan Sena dari kejauhan. Kebakaran itu membuat Sena kehilangan kakaknya, Namjoon. Ditambah lagi dengan kepergian Yoongi yang diadopsi yang semakin membuat Sena merasa sedih. Jungkook berpikir jika Sena tahu kebenarannya, maka gadis itu tidak akan pernah respect pada Yoongi, mungkin dia akan membenci Yoongi.

Jungkook berdiri, memberanikan diri untuk menghampiri Sena. Di genggamannya terdapat dua buah kalung milik mendiang ayah dan ibunya, yang hendak ia berikan pada Sena. Jungkook berhenti tepat di belakang Sena. Sena masih terlihat murung. Jungkook kemudian berdehem pelan dan duduk di samping Sena. Jungkook mulai mencuri pandang melihat-lihat ke arah Sena. Sementara itu jantungnya semakin berdebar-debar. Bocah itu sempat kewalahan menahan jantungnya seperti ingin meledak.

“seseorang pernah mengatakan, jika kau merasa kesepian bayangkan saja memori indah yang kau punya, tapi jika masih belum cukup, carilah seseorang yang bisa membuat kebahagiaan itu…”

Sena mengangkat wajahnya lalu menatap Jungkook yang tengah menghadap lurus ke depan. Jungkook tersenyum lalu menyodorkan tangannya pada Sena “ini adalah kebahagiaan yang kupunya…” Jungkook memperlihatkan dua buah kalung. Bentuk mainannya yang sama, bulat dengan warna yang berbeda, satu berwarna merah dan yang satunya berwarna keemasan, sangat terang. “cantik bukan?”

Sena mengangguk kagum melihat kedua kalung tersebut. “sangat cantik” ujarnya.

Jungkook memasang kedua kalung itu di leher Sena. Sementara itu Sena merasa heran pada Jungkook yang tiba-tiba bersikap baik padanya. Padahal Sena dan Jungkook tidak mengenal satu sama lain. “ini adalah jimat yang akan membuatmu merasa bahagia…” Jungkook memberikan senyuman terbaiknya. Sedangkan Sena semakin bingung. “simpan dan jagalah benda itu dengan baik…”

“apa ini?”

Jungkook mengangkat kalung yang masih melingkar dileher Sena “mainan yang berwarna merah adalah Mars dan berwarna keemasan adalah Venus, dewa dan dewi akan selalu melindungimu…” Jungkook menjelaskan

“bolehkah aku bertanya? Sebenarnya kau siapa? Dan kenapa kau melakukan ini padaku?”

“aku? Anggap saja aku…Mars dan…kau…Venus, kapanpun dan dimanapun aku pasti menemukanmu karena kau yang paling terang diantara semuanya…” ujar Jungkook. “aku melakukan ini karena hati nurani” Jungkook menepuk dadanya pelan dan mengelus kepala Sena dengan lembut. Jungkook kemudian berdiri dan pergi meninggalkan Sena.

Sungguh percakapan yang terbilang singkat. Itu adalah pertemuan pertama dan terakhir bagi Jungkook dan Sena. Jungkook tidak menyadari bahwa dirinya akan diadopsi oleh keluarga kaya. Keinginan Jungkook untuk melindungi Sena berakhir saat itu juga.

Flashback End

***Venus and Mars***

“Yoongi…siapa kau sebenarnya?” Kim menahan wajahnya dari cengkraman tangan Yoongi. Kim menatap Yoongi dengan nanar. Yoongi melepas genggamannya itu dari wajah Kim Sena.

“Yoongi Yoongi Yoongi! Jangan lagi memanggilku dengan nama itu Sena! Yoongi sudah tidak ada di dunia ini!” Yoongi berteriak, memberi tahu Sena. “Suga! Panggil aku Suga!”

BUK

Tiba-tiba Namjoon memukul wajah Yoongi dengan satu serangan. Yoongi terjatuh dan setetes darah mengalir dari hidungnya. Yoongi tersenyum datar dan memberikan tatapan yang mengerikan pada Namjoon. Yoongi meraih pistolnya lagi. Satu tembakan berhasil mengenai jantung Namjoon. Pria itu tidak bisa berbuat banyak. Tubuhnya seketika jatuh ke lantai dan berlumuran darah. Namjoon meninggal ditempat.

“tidak!” Kim terlihat shock, matanya berair. “aku tidak akan membunuhmu jika kau patuh Namjoon! ayo pergi…” Yoongi menarik Sena dengan paksa. Namun tiba-tiba tarikannya tertahan karena seseorang berusaha untuk menahan Kim.

“Venus, kau ingat nama itu?” Jungkook menahan tangan Kim

“apa yang kau lakukan? Lepaskan dia!” Yoongi melepas genggaman Jungkook dan menarik Kim pergi menjauh

Jangan pergi

Jungkook mengambil langkah cepat. Lalu menarik lengan Yoongi dengan kasar. “aku berbicara padanya!” Jungkook sedikit berteriak di depan wajah Yoongi.

“jangan macam-macam denganku nona!” ujar Yoongi. Tentu Jungkook mengira ia adalah seorang wanita bagi Yoongi karena penampilannya yang tidak mencirikan dirinya seorang pria. Bahkan Kim Senapun belum tahu apa-apa tentang jati diri Jungkook yang sesungguhnya. “aku masih punya urusan dengannya” Jungkook tak lepas menatap kedua mata Yoongi yang sangar. Yoongi menarik napas.

“apa yang kau inginkan darinya?” Yoongi berhenti sesaat lalu “…Jeon Jungkook?” Yoongi tersenyum datar. Kedua matanya melawan tatapan Jungkook. Kemudian Yoongi mengeluarkan pisau dari balik jaketnya dan menusuk tubuh Jungkook dengan senjata tajam itu. Kim berteriak, berusaha melepas genggaman Yoongi dengan paksa. “Tidak! Jen! Jen!” Kim berteriak memanggil nama samaran Jungkook. Gadis itu belum menyadari Jen adalah Jeon Jungkook. Bocah yang dulu memberinya kalung Venus dan Mars.

“berterimakasihlah karena aku tidak membunuhmu Jeon Jungkook” Yoongi berbicara datar. Lalu menarik Sena yang semakin terisak dengan paksa.

Penglihatan Jungkook semakin pudar. Tusukan yang membekas di perut kirinya membuat Jungkook lemas. Tubuhnya seketika jatuh. Kedua tangan Jungkook menutupi luka itu agar tidak kehilangan banyak darah. Melihat kepergian Sena membuat luka dihatinya bertambah dalam. Dengan kondisi Jungkook seperti ini sangat sulit baginya untuk mengejar Sena.

Venus, Jangan pergi!

-to be continued-

Closing song – Infinite Back

***Venus and Mars***

Advertisements

12 thoughts on “Venus and Mars Chapter 4

  1. waaah keren..
    ternyata masa lalu mereka saling berkaitan

    next chapternya secepat mungkin ya thor. fighting! xD

  2. Finally! FF yang ditunggu tunggu akhirnyaaa Update juga ><
    Kok bisa yoongi langsung keinget si jungkook xD diliat darimananya xD
    Ditunggu chapter selanjutnya. Ngetiknya ngebut ya thor biar cepet update lagi hahaha \(//∇//)/
    Fighting!

  3. keren huhu :’D itu yoongi udah tau lama ya kalo jen itu jungkook/? pokoknya next chapter secepatnya ya thor hehe XD

  4. Aiisshhh setelah sekian lama nunggu sampe lumutan,, akhirnya keluar juga next chap nya ^^
    Seru banget jalan cerita flashback nya…. Itu gimana kelanjutannya… Gimana dengan jungkook??
    Ahhh next chapter jangan lama lama thor updatenya ~ ditunggu yah :))

  5. Owh mayygahhddddd ini dia ff yang gue tunggu2 thor ampe lumutanzzz u.u akhirnya diapdett juga ini yampon udah blg kan aku sblmnya kalo ff ini tuh ceritanya anti mainstream pokonya keren parahhh. Itu btw jin sama namjoon nya mati????huhu trs si janey apa kabarnya?.____. Dan ternyata yoongi yg skrng pengen dipanggil suga itu ko jahat beuddd duuhhhh jungkook teruslah kejar venus mu!!!!aaahhhh pokonya speechless dehahahaha next nya atulah thor jangan lama2 cobaaa u.u akhirulkalam keep writing authornim!!^^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s