HAJIMA

TITTLE : HAJIMA

AUTHOR : Me aka Linn

CAST :

YURA PARK (readers)

JEON JUNGKOOK (BTS)

RATING : PG17

NB : Fanfic ini author persembahkan buat comebacknya BTS SKOOL LUV AFFAIR dan sebagai perayaan anniversary wordpress author tanggal 15 February ^^ sudah tiga tahun author berkecimpung didunia fanfic, semoga ke depannya author bisa memberikan karya yang lebih baik lagi. Terimakasih kepada readers yang mampir ke wordpress ini dan komen-komen nya juga. ^^ Selalu dukung author ya ^^ Gomawo *bow

***

HAPPY READING

***

Peristiwa ini terjadi tepat 3 tahun yang lalu. Saat aku berusia 18 tahun. Berstatus sebagai anak yatim bukanlah masalah bagiku diusia saat itu. Eomma bekerja keras menafkahiku seorang diri. Semenjak kematian appa karena penyakit kanker usus yang dideritanya kami pindah dari Seoul menuju desa Jangho yang terletak di provinsi Gangwon, 4 jam ke arah timur dari Seoul. Bukan karena tuntutan pekerjaan eomma, tapi karena penyakit asma yang ku derita ini lah penyebabnya. Aku tidak bisa hidup berlama-lama di tempat yang penuh dengan asap,debu dan sejenisnya. Melihat kondisi kesehatanku yang memburuk karena itu lah eomma membeli rumah di desa Jangho yang sangat jauh dari pusat kota.

Desa Jangho tidak begitu buruk. Daerah ini dikelilingi oleh pantai yang sangat bersih. Rumah baru kami terletak 300 meter dari tepi pantai. Beberapa rumah yang terdapat di desa Jangho masih kental tradisional, tak terkecuali rumah baruku yang merupakan campuran dekorasi tradisional ditambah dengan arsitektur modern. Meskipun terlihat tua tapi struktur bangunannya tampak kokoh dengan halaman yang luas. Eomma membeli rumah ini dengan harga yang sangat murah,cukup mengherankan membeli rumah dengan luas setengah dari seperempat Istana Changgyeong. Ditambah lagi, dibangun dengan 3 tingkat dan hanya dihuni oleh Eomma, aku, 1 pembantu dan Tuan, anjing bulldog peliharaanku.

Eomma memilih tempat ini karena menginginkan aku sembuh total dan dapat bersekolah lagi. Ya, sudah 3 tahun aku berhenti bersekolah. Waktu luangku hanya diisi dengan membaca novel dan menulis lagu. Membosankan? Terkadang aku berpikir seperti itu. Mungkin karena aku juga tidak memiliki teman. Hanya Tuan yang selalu menemaniku.

Ini adalah awal dari malapetaka itu. Eomma tidak pernah berpikir hal-hal buruk yang akan terjadi jika kami menempati rumah ini. Yang eomma pikirkan hanyalah kesehatan dan kesembuhanku. Hanya itu.

***

– THE STORY BEGIN –

***

“Yura…Yura…”

Yura, gadis berusia 18 tahun itu perlahan membuka kedua mata, mendengar panggilan eommanya.

“Hmm…” Yura menyaut dengan mata yang masih setengah tertutup.

“Ppalli…” Teriak eomma Yura yang kini sudah berada di luar mobil dengan membawa sekardus barang.

Yurapun memaksa membuka matanya lebar-lebar. Perjalanan yang memakan 4 jam itu membuat Yura mengantuk dan menghabiskan waktu di perjalanan dengan tidur. “Guk…guk…” Tuan yang dari tadi sudah berada di luar mobil ikut membangunkan Yura.

Yura melangkah malas ke luar dari mobil. Hal pertama yang ia lihat adalah pantai yang sangat indah dengan jarak beberapa meter dari tempat ia berdiri. Setelah itu Yurapun menoleh ke samping kanannya, terlihat bangunan 3 tingkat yang telah sah menjadi rumah barunya.

“Guk…guk…” Tuan kembali menggonggong, berseru pada majikannya. Yurapun tersenyum dari balik masker, melihat tingkah lucu Tuan yang sedang merebahkan badan di atas rumput.

Yura menghampiri Tuan yang sedang memasang wajah memelas membuat Yura semakin gemas. “Tuan-ah…” Yura mengelus-ngelus badan Tuan yang sangat besar itu. Tuan membalas dengan gonggongan lalu berlari memasuki rumah. Anjing itu terlihat ingin mengajak Yura bermain.

“Ya!!” Yura berteriak lalu mengejar Tuan yang sudah menghilang dari hadapannya.

Yura melangkah memasuki rumah besar itu. Sebuah tangga yang menghubungkan ke lantai dua langsung terlihat dari ruang tamu. Kedua mata Yura terbuka lebar melihat seisi rumah yang sudah tertata rapi. Iapun lanjut melangkah melihat-lihat keadaan di ruangan itu. Keramik-keramik besar tersusun di setiap sudut. Mulai dari ukuran yang paling kecil, sedang hingga ukuran yang lumayan besar. Rumah ini tidak terlihat seperti rumah sederhana baginya, namun lebih dari itu.

“Eomma…” seru Yura melihat eomma yang sibuk bolak-balik di depannya.

“Ne?”

“Apa sebelumnya eomma sudah menata semua barang-barang ini? ” Tanya Yura seraya melihat-lihat

“Eoh? Ne…” Jawab eomma singkat. Yura mengangguk lalu kembali melangkah mendekati tangga. Ia berhenti tepat di bawah lampu hias. Yura kemudian mendongak, melihat seberapa tinggi tangga yang ada di hadapannya itu. “Kamarmu di lantai 2…” Ujar eomma seraya meletakkan koper milik Yura disamping gadis itu. Yura berhenti memandangi langit-langit rumahnya dan beralih mengangkat koper.

“Guk…guk…” Tuan kembali berseru dari lantai dua. Yura tersenyum lagi dari balik maskernya dan berjalan menaiki tangga.

“Biar ku bantu nona…”ujar seorang bibi yang melihat Yura kewalahan membawa koper. “Aku tidak apa-apa, lagipula kopernya tidak terlalu berat…” Bantah Yura merasa keberatan. Mengetahui keadaan bibi yang pasti kelelahan membantu eomma mengangkat barang.

“Ini sudah menjadi kewajibanku nona…” Ujar bibi seraya tersenyum lalu berjalan mendahului Yura dengan membawa koper.

“Terimakasih bibi…” Yura mengikuti bibi dari belakang.

“Ini kamar anda nona…” Ujar bibi saat mereka sampai di dalam kamar yang akan ditempati Yura. Kemudian menaruh koper di lantai. “jika anda perlu bantuan, panggil saya saja…”

Bibipun meninggalkan Yura diruangan itu. Kamar yang tidak begitu luas tapi sangat nyaman untuk ditempati. Yura kemudian sibuk mengeluarkan barang-barang dari dalam koper.

PRANG!

Yura menghentikan aktivitasnya. Ia bangkit berdiri dan segera berlari ke luar kamar setelah mendengar pecahan keramik yang cukup mengagetkannya.

“Eomma…” Teriak Yura panik melihat tubuh nyonya Park terbaring lemas di lantai. Disamping tubuh eommanya terdapat pecahan keramik yang bertebaran. “Bibi…” Yura kembali berteriak memanggil bantuan. Bibi segera datang dan membantu nyonya Park untuk bangun.

Yura berlari menghampiri eommanya. Namun tidak sengaja ia menginjak pecahan keramik. “Aw…” Yura merintih pelan.

“Nona…”

“Aku tidak apa-apa, tolong bawa eomma ke kamarnya…”

Bibi mulai membantu eomma berdiri dan membopong tubuh nyonya Park ke dalam kamarnya yang terletak di depan kamar Yura.

Setelah berbaring, Yurapun memijat pergelangan kaki dan tangan eommanya. “Bibi, tolong ambilkan air minum…” pinta Yura. Dengan segera bibi menuju dapur yang berada di lantai bawah.

“Eomma pasti sangat kelelahan…” Batin Yura khawatir melihat kondisi eommanya.

***

Setelah memberi minum pada eommanya. Yura kembali ke lantai bawah melihat lantai yang tadi penuh dengan pecahan keramik, berencana untuk membersihkannya. Namun, pandangan Yura beralih menatap lantai yang penuh dengan noda darah dari kakinya yang terluka. Namun Yura memperhatikan sedikit ada keanehan dengan noda-noda itu. Bibipun menghampiri Yura seraya membawa kotak P3K dan memberikannya pada Yura.

“Biar saya yang membersihkannya nona, nona istirahat saja…saya yang akan membereskan barang-barang yang masih di mobil…” Ujar bibi dan melanjutkan tugasnya.

Yura kembali menuju kamar. Ia pun duduk di atas kasur seraya melihat luka yang dalam di kakinya. Terasa perih, namun Yura berusaha untuk menahan sakitnya luka itu.

***

Plak

Laki-laki berparas tua itu terlihat marah. Gigi gerahamnya terkatup rapat menahan kekesalan yang bisa saja membuat tamparan untuk yang ke dua kalinya. Sementara itu laki-laki yang ditamparnya hanya diam, tidak mencoba untuk melawan.

“Apa yang kau lakukan dengan semua benda-benda ini hah?” Teriak laki-laki tua seraya menendang kepingan gitar yang mengotori lantai rumah besar itu.

Di sudut ruangan, terdengar isakan pelan seorang wanita yang berstatus sebagai istri si laki-laki tua. Ia merasa sedih melihat sang suami menampar anak laki-laki itu. Anak satu-satunya yang menjadi harapan mereka.

“Mulai sekarang, aku tidak mau lagi melihat barang-barang ini! Kau akan ku kuliahkan di jurusan hukum! Ingat itu!” Perintah laki-laki tua dan berlalu dari hadapan anaknya masih dengan wajah memerah.

Wanita tadi menghampiri anaknya dan memeluknya. Anak laki-laki itu menolak pelukan ibunya dan pergi begitu saja menuju kamar.

BRAK

Ia menghantam pintu kamarnya. Rasa kesal dan marah terpancar dari wajahnya. Laki-laki itu bersandar dari balik pintu, lalu menunduk. Air matanyapun jatuh perlahan, ia menangis dalam diam. Tak ada satupun yang mengerti dengan keinginannya. Tak satupun yang berusaha mengerti dan tak satupun yang memberinya kekuatan.

Laki-laki itu membenturkan kepala ke pintu yang berada di belakangnya, mengacak-ngacak rambutnya. Lalu bangkit berdiri dan membuat semua barang-barang di dalam kamar itu semakin berantakan.

Tangannya membentuk kepalan. Semua tercampur aduk di dalam hatinya. Tubuhnya perlahan terduduk di lantai, masih dalam keadaan menangis. Meskipun banyak air mata yang ia keluarkan, appa tidak akan pernah mengubah ucapannya.

Hingga esok, isakan tangis yang hanya terdengar di rumah itu.

***

“Yura…”nyonya Park berbisik pelan ke dalam telinga Yura. Ia berusaha membangunkan anak kesayangannya itu. Yura menggeliat pelan dari balik selimut. “Bagaimana tidurmu? Nyenyak?” Tanya eomma seraya menciumi pipi Yura. “Kakimu? Masih sakit?”

Yura menggeleng pelan “tidak sesakit kemarin…”. eommanya pun mencium Yura lagi. Tapi ia merasa sedikit risih dengan perlakuan eomma yang tiba-tiba. “Eomma!” protes Yura dengan suara yang terdengar parau akibat baru bangun.

“Wae?” Eomma Yura kembali menciumi Yura.

“Eomma!” Yura kemudian bangkit dari tidurnya.

“Kau tidak akan pernah bangun jika eomma tidak mencium mu tau” ucap eomma jahil seraya menyentil dahi Yura.

“Eomma sudah menyiapkan sarapan…” Ucap eomma lagi seraya ke luar dari kamar Yura.

Yurapun ke luar kamar dengan rambut yang masih acak-acakan. Lalu menghampiri eomma di dapur. Beberapa makanan telah terhidang di atas meja makan. Yura mengucek matanya pelan, kemudian ia merasakan sebuah tangan mengelus kepalanya.

“Eomma…” Ujar Yura terlihat tersenyum kemudian menoleh ke belakang, namun tidak ada siapa-siapa di sana. Seketika hawa dingin menjalar hingga tengkuk Yura.

“Wae?” Eomma menampakkan tubuhnya dari balik pintu menuju dapur. Yura memasang wajah kaget.

“Kenapa? Kau tidak suka makanannya?” Tanya eomma Yura melihat ekspresi wajah Yura.

Yura terkekeh pelan “tidak…” jawabnya kemudian. “Aku pasti berhalusinasi….” Batin Yura yakin.

“Eomma akan ke Seoul selama 4 hari…bibi akan menemanimu, dan jika kau kangen eomma, telfon saja, ok?” Ujar eomma panjang lebar sambil mengunyah potongan roti

“Eomma berangkat pagi ini?”

“ne…oya jangan lupa minum obatmu…”

Yura mengangguk seraya mengambil beberapa menu sarapannnya.

Eomma menghampiri kulkas seperti mencek persediaan bahan makanan untuk Yura selama 2 hari. “satu lagi…” Eomma menoleh ke arah Yura yang sedang menyantap sarapannya. “Jangan sekali-sekali ke lantai 3…”

Yura berhenti mengunyah. Kepalanya mendongak lalu memandang ke arah eomma. Kalimat yang baru saja eomma ucapkan itu membuat Yura penasaran dan entah kenapa debaran jantungnya seketika bergerak kencang.

***

Wae nae mameul heundeuneun ge…

Laki-laki itu sedang menulis sesuatu di bukunya. Namun  belum sempat ia menyelesaikan tulisannya. Seseorang merebut buku itu darinya. Iapun mendongak, menatap ekspresi eommanya yang terlihat tidak menyukai kebiasaannya itu.

“berhentilah menulis…” ujar eomma seraya mengangkat buku itu dihadapan wajahnya.
“eomma…” laki-laki itu membantah, dan membuang wajah. Ia sangat malas berurusan dengan eomma bila menyangkut dengan hobinya ini.

“sampai kapan kau akan melakukan semua ini heh? Appa akan segera membawamu ke Seoul, semoga kau cepat belajar di sana…” ujar eommanya lalu melempar buku itu ke arah kasur. Dari raut wajahnya, jelas terpampang kalau ia benar-benar kesal.

Langkahnya terhenti. Laki-laki itu bersuara lagi “aku tidak akan menuruti apa yang eomma katakan, itu semua tidak berguna bagiku…”

Wanita itu menoleh, merasa kesal akan ucapan dari anak lelakinya itu. Darah dagingnya. “kau!!” teriaknya tertahan. Lelaki itu perlahan melangkah melewati eommanya seraya membawa sebuah alat musik, gitar beserta buku musik miliknya tadi.

“ya!” wanita itu kembali berteriak,  tapi laki-laki itu tetap saja menghiraukannya. “kau akan menyesal!” sambungnya dan terselip kekecewaan di kalimat itu.

Laki-laki itu berhenti, mengurungkan niat untuk menggeser pintu kamarnya. Tak ada suara bantahan, pembelaan ataupun teriakan diantara mereka. Keadaan kembali sunyi, seperti tak ada siapa-siapa di ruangan itu.

***

“Wae?” Tanya Yura seraya perlahan menaruh sumpit di samping mangkuknya.

Eomma mendekati Yura “karena….” Wanita ini mulai manakut-nakuti Yura dengan gerak-geriknya. Seperti memperlihatkan sesuatu yang berbau horror. Jelas-jelas ia tahu bahwa Yura sangat takut dengan…

‘HANTU’

“Eomma…” ucap Yura agar eommanya berhenti untuk menakut-nakuti.

Eomma mencubit pipi Yura “bagaimana bisa aku meninggalkan kau sendirian di rumah sebesar ini sedangkan kau masih saja gadis yang penakut! Aissh jinja!”

Yura tampak cemberut mendengar kata-kata eommanya. “Eomma belum sempat membersihkan lantai paling atas, bisa-bisa asmamu bangkit dan eomma yang pasti semakin repot” nyonya Park kembali mencubit pipi Yura. “Untuk itu jangan pernah menginjakkan kakimu ke lantai 3,okey?”

Eomma menepuk puncak kepala Yura. “Aku akan merindukanmu…Yura-ya…” Eommapun mencium kening Yura.

“hmm….cepatlah pulang…”

“Ne…” jawab eomma seraya melambai, meninggalkan Yura di ruang makan. Dan bergegas menuju Seoul.

***

Yura kembali menuju kamar dengan langkah pelan. Bibi yang tadi berada di dapur menghampiri Yura yang terlihat kesulitan berjalan.

“nona, biar ku bantu…”

Yura menyunggingkan senyum terbaiknya. Ia memperhatikan bibi yang juga ikutan kewalahan membopong tubuhnya. Melihat hal itu Yura merasa tak tega. “bibi, aku tidak apa-apa, sebaiknya bibi membersihkan dapur saja…”

Bibi merasa tidak enak, karena ini memang tugas nya sebagai pembantu. Tapi melihat wajah Yura yang seperti memohon untuk tidak dibantu, membuat bibi menganggukkan kepalanya, menurut patuh. “baiklah, saya akan melanjutkan tugas saya nona…” bibipun berbalik menuju kembali ke dapur.

Yura berhasil kembali ke kamar. Iapun menuju balkon sekedar melihat langit di pagi hari. Yura menghirup udara segar, desa Jangho memang daerah yang tepat sebagai tempat rehabilitasi kesehatannya. Dari balkon kamarnya, Yura dapat melihat pantai yang indah serta sebuah danau kecil yang terletak di sebelah timur dari rumahnya. Yura menyenderkan tubuh ke arah pagar balkon. Ia menutup mata dan merasakan tiupan angin pagi yang sejuk.

“Guk…guk…”

Yura membuka mata. Lalu melihat ke arah kakinya. Terlihat Tuan yang sedang menjulurkan lidah, ingin membawa Yura bermain. Yura berjongkok di hadapan anjing yang bertubuh tegap itu. Iapun mengelus kepala Tuan dengan gemas. Sedangkan Tuan kembali menggonggong. “Tuan-ah,kondisiku tidak terlalu baik, jadi mung…”

Yura belum menyelesaikan kalimatnya, namun tiba-tiba saja Tuan langsung berlari dan kemudian berhenti di depan pintu, menggoda Yura untuk bermain dengannya.

“baiklah, aku akan menurut…” balas Yura dengan helaan napas. Lalu mengekor dari belakang.
Tuan terlihat siap-siap untuk berlari lagi. Yura yang berada beberapa meter darinya sibuk berkacak pinggang. “aku letih, kita istirahat sebentar, ok?”

Tuan tetap berada di posisinya. Namun tiba-tiba ia berbalik menuju lantai tiga. Tempat terlarang bagi Yura.

Yura yang tadinya terduduk di lantai, kembali bangkit melihat Tuan yang tiba-tiba berlari meninggalkannya. “hah…Tuan-ah, aku tidak akan mencarimu, eomma berpesan agar aku tidak ke sana, jadi turun lah…Tuan-ah…” Yura bersuara seperti kehilangan napas, karena terlalu lelah mengejar Tuan. Anjing itu terkenal sangat lincah dan pintar dalam bermain. Apalagi jika permainan yang mereka lakukan adalah hide and seek.

Yura terlalu malas untuk menyusul Tuan. Lagi pula ia harus mematuhi nasehat eomma, dan tidak melakukan hal-hal yang mencelakai kesehatannya. Jadi, Yura mengurungkan niat untuk mencari Tuan.

***

Laki-laki itu menarik napas, mencoba untuk menikmati udara sejuk. Kedua matanya kembali terbuka lebar. Pemandangan sebuah danau terlihat dari sudut matanya. Ia kembali membuka buku, hendak melanjutkan bait berikutnya.

Wae nae mameul heundeuneun geonde

Satu bait untuk satu petikan gitar. Ia kembali menarik napas, memikirkan nada-nada yang cocok dengan syairnya. Kemudian ia melanjutkan lagi.

Wae nae mameul heundeuneun geonde

Wajahnya memaparkan keseriusan. Ia terus memainkan gitar, tak bosan-bosan hingga bait terakhir. Ia sangat tergila-gila dengan musik. Itulah alasan kenapa ia memilih menjadi seorang penyair lagu dibanding menjadi seorang lawyer seperti permintaan kedua orangtuanya. Musik telah melekat di dunianya, tidak ada yang dapat memisahkan mereka.

kkwak jaba nal deopchigi jeone
nae mami neol nochigi jeone

Laki-laki itu berhenti memainkan gitar lalu menaruh alat musik tersebut di sampingnya. Iapun memperhatikan danau itu lagi. Sejenak menghilangkan rasa kesal akibat beradu argument dengan eommanya tadi.

Laki-laki itu merasakan sesuatu mengganggu pikirannya. Iapun menoleh, menatap balkon sebuah kamar di lantai dua.

***

Yura membuka mata. Ia menguap lebar-lebar. Selama berjam-jam Yura menghabiskan waktu dengan terlelap setelah lelah bermain bersama Tuan. Yura melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 6. Langit terlihat oren dari kamarnya. Tampaknya langit biru yang ia lihat tadi pagi telah berubah senja. Yura turun dari ranjang dengan rambut yang masih acak-acakan. Iapun berjalan menuju balkon menikmati mentari sore. Namun, sesuatu mengganggu penglihatan Yura. Dari sudut matanya, ia dapat menangkap sosok yang tengah memperhatikannya.

Yura menoleh. Ia terlihat sedikit kaget melihat seorang laki-laki yang tengah menatap ke arahnya. Yura merasa sedikit resah dengan tatapan laki-laki itu. Yurapun kembali masuk ke kamar dan menutup pintu balkon.

“kenapa dia?” Yura bergumam pelan seraya duduk di atas kasur. Dan memandangi pantulannya di cermin. Seketika Yura menyentuh pipinya yang terasa panas. Yura merasa aneh jika dipandang seperti itu, apalagi dipandangi oleh seorang laki-laki. Karena selama ini, tidak ada laki-laki yang pernah memandangi ataupun memperhatikan Yura segitu lamanya. Pasti ada sesuatu yang aneh dengan laki-laki itu. Pikir Yura.

“Tuan…Tuan-ah…” Yura berteriak memanggil Tuan. Ia menuruni tangga mencari- cari Tuan. Karena sejak tadi ia belum melihat Tuan di kamarnya. Biasanya, Tuan akan selalu berada di samping Yura.

“bibi, apakah bibi melihat Tuan? Aku sudah mencarinya kemana-mana…tapi…” Yura menghentikan ucapannya. Ia teringat sesuatu. Apakah Tuan masih di tempat itu? Batin Yura seraya mendongak memandangi lantai 3.

“aku melihat Tuan berlari ke arah taman nona…” jawab bibi. Tanpa berpikir lagi,dengan segera Yura berlari ke luar rumah. Mencari-cari Tuan ke setiap tempat.

Langit semakin gelap. Matahari semakin hilang di ufuk. Yura terus mencari Tuan, hingga akhirnya ia mendengar sebuah gonggongan, yang tak lain adalah Tuan. Yurapun berjalan menuju ke tepi danau. Sesampainya di sana, ia melihat Tuan tengah duduk membelakanginya. Ia berjalan mendekat, dan melihat seseorang di samping Tuan. Orang itu adalah laki-laki yang tadi memperhatikannya saat di balkon.

Laki-laki itu menyadari kehadiran Yura. Ia bangkit berdiri dan menatap Yura dengan wajah yang sangat datar. Yura tidak berani membalas tatapan lelaki itu. Ia hanya menunduk dan menunggu laki-laki itu hingga beranjak dari sana.

“Ya! Kau tidak boleh terlalu dekat dengan orang asing ne?” Yura menasehati Tuan, meskipun Yura sangat yakin bahwa Tuan tidak mengerti akan bahasa yang ia ucapkan.

Sebelum Yura berbalik, ia melihat sesuatu yang tergeletak di atas rumput. Sebuah buku tebal tanpa sampul dan sebuah kata ber-italic-yang tidak begitu jelas tercetak besar di bagian depannya . Yura meraih buku itu. Apakah laki-laki itu pemilik buku ini? Batinnya.

Yura menaruh buku tebal yang ia temukan di atas meja rias. Ia kembali memandangi pantulan dirinya di cermin. Terlihat penampilan dirinya yang sangat acak-acakan. Yura menyentuh rambutnya, lalu menghela napas berat.

“babo! Aku belum menginkat rambut, dan berpenampilan seperti ini, ah..laki-laki itu….hah…” Yura memaki dirinya. Iapun membayangkan seberapa bodohnya ia saat bertemu dengan laki-laki asing tadi. Apalagi melihat penampilannya yang amburadul. Pasti sangat memalukan.

“bagaimana ini? Arghhh…” Yura mengacak rambutnya hingga benar-benar kusut, tak tahu apa yang harus ia lakukan jika bertemu dengan laki-laki itu lagi.

Yura kembali fokus dengan pikirannya. Ia tidak mau lagi memikirkan hal-hal aneh. Yurapun melirik buku tebal itu dan berniat untuk membukanya. Namun, seperti ada sesuatu hal yang menahan Yura untuk tidak membuka buku itu.

“ini bukan urusanku…” gumam Yura dan menaruh buku itu ke tempat semula. Yura berbalik kemudian dan mendengar suara yang lumayan keras di lantai. Buku itu terjatuh dengan menampakkan beberapa halaman dari isinya.

Yura berjongkok dan meraih buku tersebut. Halaman yang ia lihat penuh dengan tulisan tangan yang sangat rapih. Tulisan itu berlanjut hingga halaman berikutnya. Yura membuka halaman demi halaman. Ia juga melihat beberapa not balok di halaman yang berbeda.

“apakah dia suka menulis lagu?” tebak Yura.

Yura kembali tersadar bahwa ia harus segera menutup buku itu. Ia tidak mau dicap sebagai orang yang tidak sopan, membuka barang pribadi milik orang lain. Dengan segera Yura menaruh buku itu dan bergegas menuju kamar mandi.

***

Tiga hari berlalu, masih belum ada tanda-tanda keanehan yang kualami di rumah itu. Aku, bibi dan Tuan melakukan aktivitas kami masing-masing. Tuan masih saja bertingkah manja, jika aku mengelus-ngelus perutnya. Laki-laki yang bertemu denganku di tepi danau waktu itu juga tidak pernah lagi menampakkan dirinya. Aku bahkan masih menunggu laki-laki itu di tepi danau, berniat untuk mengembalikkan buku miliknya.

Malam ini entah kenapa aku merasakan waktu berjalan begitu lambat. Bahkan dentuman jam dinding di kamar terasa malas untuk bergerak. Satu detik seperti satu jam bagiku. Aku turun dari ranjang dengan langkah yang sangat pelan.  Takut membangunkan Tuan yang sedang terlelap di bawah ranjang. Ku hidupkan lampu tidur sebagai penerang. Sedikit remang-remang, namun aku masih mampu melihat keadaan di sekeliling.

Jam menunjukkan kira-kira pukul 11 malam lewat 12 menit. Kedua mataku masih saja terasa berat, tapi sulit untuk tertidur. Akupun menuju meja rias, melakukan hal-hal yang mungkin bisa menghilangkan rasa bosan di malam hari. Mencari sesuatu untuk dikerjakan. Akupun melirik buku tebal itu lagi. Benda yang selalu membuatku penasaran dan ingin tahu untuk melihat setiap detail isinya.

Aku menggeleng pelan, menangkis rasa penasaran dan ingin tahu itu. Aku tidak akan membukanya lagi. Batinku berusaha untuk berjanji pada diri sendiri.

Akupun memutar badan menuju balkon. Membuka pintu dan melangkah ke luar kamar. Bintang-bintang terlihat sangat jelas. Deru ombak terdengar dari kejauhan. Suara jangkrikpun merasuk ke dalam indra pendengaran. Aku mengusap lengan, merasa kedinginan karena angin bertiup kencang hingga membuat rambut panjangku ikut berayun.

Aku berhenti mengusap-ngusap lengan saat merasakan sesuatu di bawah sana. Pandanganku yang awalnya melihat ke arah langit berganti haluan. Kepalaku berputar melihat ke bawah.

Laki-laki itu-orang- yang bertemu denganku seacara tidak sengaja di tepi danau waktu itu. Saat ini ia berdiri di bawah sana dengan memberikan tatapan yang sama padaku seperti tiga hari yang lalu.

Napasku seperti tertahan. Aku ingin berteriak memanggilnya, namun suaraku seperti tercekat. Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi. Aku segera bergegas meraih buku-yang aku sangat yakin laki-laki itulah pemiliknya- lalu berlari ke luar kamar menuju halaman rumah.

Aku mengatur napas, mencari sosok laki-laki itu. Tapi tidak ada yang kutemukan di sana. Laki-laki itu menghilang dalam sekejap.

***

Berita pagi ini, tidak membuatku terlalu bersemangat. Mengetahui jadwal pekerjaan eomma ditambah menjadi 7 hari, membuat nafsu makanku menurun. Eomma lebih mementingkan urusan pekerjaannya dibanding mengurus diriku. Dan kalau dipikir-pikir lagi, tidak selamanya aku terus bermanjaan dengan eomma. Aku sudah tumbuh menjadi gadis dewasa sekarang. Tidak perlu lagi terlalu tergantung pada eomma kan?

“jangan lupa minum obat ne?” suara eomma terdengar dari seberang telepon. Aku hanya bisa mengangguk dengan ponsel yang masih menempel di telinga. Setiap kali eomma menelpon pasti kalimat itu yang tidak pernah ia lupakan.

“eomma akan menutup telponnya, annyeong Yura, saranghaeyo…”

Aku tersenyum datar seraya menutup ponsel.

Senja datang begitu cepat. Aku kembali merebahkan tubuh di atas ranjang. Saat mataku tertutup, bayangan wajah laki-laki itu terlintas di benakku. Akupun membuka mata, dan entah kenapa aku berjalan menuju balkon. Aku berharap laki-laki itu berada di bawah sana, memeperhatikan balkon ini lagi.

Aku menyender di pagar, menunggu kedatangan laki-laki misterius itu. Beberapa menit menghabiskan waktu menanti sosoknya. Akupun menutup ke dua mata berharap ketika mata ini terbuka, laki-laki itu berada di tempat yang sama.

***

Laki-laki itu terdiam seribu bahasa. Semua alat-alat musik yang ia gunakan untuk membuat lagu rusak dan tidak lagi berada di tempat biasanya. Laki-laki itu mengepalkan ke dua tangan. Ia sangat tidak menyangka, eomma dan appa akan bertindak sejauh ini. Mereka benar-benar sangat menentang keinginannya.

“Kau lihat? Appa akan melakukan apapun demi kebaikan masa depanmu!” bentak sang appa. Kedua matanya memancarkan aura kemarahan.

“Terserah…” Ujar laki-laki itu datar dan beranjak ke luar kamar dengan membawa sebuah gitar yang belum sempat dirusak oleh appa.

“Ya!” Appa kembali berteriak lalu menyusul laki-laki itu hingga menuruni tangga.

“Ya! Berhenti kataku!” Appa berteriak untuk kesekian kalinya. Laki-laki itu tetap tidak peduli dan terus melangkah menuruni tangga.

“Ya! Jeon Jungkook!”

Appa menyusul Jungkook yang berhenti diposisinya. Begitulah cara agar membuat anak laki-laki nya ini berhenti.

“Kembali ke kamar! Besok kau akan ke Seoul mengurus semua kepentinganmu, untuk itu bersiap-siaplah…”

“Tidak! Aku tidak akan menuruti apa yang kalian inginkan!”

PLAK

Satu tamparan mendarat di wajah Jungkook. Ia menunduk dan terdiam.

Appa merebut gitar yang ada padanya lalu membantingnya.

“Apa yang kau lakukan dengan semua benda-benda ini hah?” Teriak appa seraya menendang kepingan-kepingan gitar yang mengotori lantai.

“Mulai sekarang, aku tidak mau lagi melihat barang-barang ini! Kau akan ku kuliahkan di jurusan hukum! Ingat itu!” Perintah appa dan berlalu dari hadapan Jungkook, masih dengan wajah memerah.

***

Yura berlari menuruni tangga. Ia terlihat membawa sebuah buku tebal di genggamannya. Sesampainya di halaman, Yura kehilangan laki-laki itu lagi. “Kenapa dia suka sekali membuat orang penasaran?” pikir Yura. la menoleh ke belakang, memperhatikan balkon kamarnya dari tempat ia berdiri. Yura menunduk, merasa kesal dengan tindakan yang ia lakukan, seperti orang bodoh.

Ketika hendak berbalik Yura terpikir akan sesuatu dan menuju danau yang hanya terletak beberapa meter dari rumahnya.

Pandangannya tertuju pada danau tersebut. Indah dan sangat bersih. Riak danau terhempas pelan namun ia masih mampu merasakan getarannya. Cukup lama Yura terhipnotis dengan suasana sekitar. Langit senja yang berwarna oren pekat itu membuat pemandangan semakin indah. Yura berusaha menghirup udara dari balik maskernya.

Pandangannya kemudian menangkap seseorang yang sedang menyender ke salah satu pohon besar di tepi danau. Orang itu menutup kedua matanya seperti terlelap. Yura sedikit kaget karena laki-laki yang ia cari sekarang berada di depannya. Yura berjalan pelan mendekati orang itu berencana untuk membangunkannya.

Yura tertegun, menatap wajah laki-laki itu, membuat jantungnya berdebar tak karuan. Wajahnya yang tampan membuat Yura sulit untuk memalingkan wajahnya. Ia masih ingin menatap wajah itu untuk waktu yang lama.

Laki-laki itu membuka matanya dan membuat Yura kaget untuk yang kedua kali. Tanpa sengaja Yura menjatuhkan buku milik laki-laki itu. Lalu berjongkok untuk memungutnya.

Yura semakin kikuk. Ia tidak menyangka laki-laki itu memergoki Yura di saat waktu yang tidak tepat. Yura menoleh ke belakang, laki-laki tampan itu masih menatapnya dengan wajah yang datar.

Yura terpaksa bertindak seolah-olah tidak ada yang terjadi diantara mereka.

“Bu..buku ini pasti milikmu kan?” Ucap Yura terbata. Ia kesulitan mengatur debaran jantungnya.

“Aku yakin, ini pasti milikmu kan?” Tanya Yura seraya menyodorkan buku itu ke hadapannya.

Mereka terdiam, suasana senja yang tenang semakin menyelimuti atmosfir keduanya. Yura merasa laki-laki itu tidak akan merespon ucapannya. Iapun menaruh buku tebal itu di atas rumput dan beranjak dari sana.

Namun di luar dugaan, laki-laki itu menahan tangan Yura dan mendorong tubuh gadis itu hingga menabrak batang pohon. Bola mata laki-laki itu menatap ke dalam bola mata Yura. Yura semakin tidak bisa menahan debaran jantungnya. Paru-parunya terasa sesak. Ia butuh oksigen.

Laki-laki itu perlahan melepas masker yang Yura kenakan lalu menempelkan tangannya ke arah pohon yang berada di belakang mereka. Yura semakin sesak. Laki-laki yang ada di hadapannya perlahan mendekatkan wajahnya pada Yura. Yura tidak mampu berpikir normal lagi. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia merasa sangat pusing, dan mungkin saja asmanya akan kambuh.

Kedua mata laki-laki itu beralih menatap bibir Yura. Sepertinya ia akan melakukan sesuatu terhadap Yura. Namun teriakan bibi yang menyebut-nyebut nama Yura membuat laki-laki itu berhenti dan menatap kedua mata Yura lagi.

“Bi…bi…” Yura berbicara pelan, hanya laki-laki itu yang mampu mendengar gumamannya. Yura menekan dadanya yang semakin sesak.

Bibi semakin mendekat ke arah mereka. Laki-laki itu melangkah mundur dan segera meninggalkan Yura dalam kondisi sesak napas. Kepala Yura semakin pusing. Ia tidak mampu lagi menahan tubuhnya dan kemudian terjatuh.

***

Beberapa hari setelah kejadian di danau. Aku baru merasakan hal-hal aneh. Tuan tidak lagi hyper seperti dulu. Setiap malam anjing itu akan duduk di balkon kamarku dan mengaung keras seperti menangis. Kadang aku mendengar langkah kaki dari lantai tiga. Setiap aku membuka mata, langkah itu berhenti dan jika aku menutup kedua mataku lagi, langkah itu akan terdengar dan semakin jelas.

Bibi selalu menasehatiku agar tidak pergi ke danau di waktu senja. Ketika aku menanyakan alasannya, bibi pasti selalu menghindar dan mencari topik pembicaraan yang lain. Bodohnya, aku tidak pernah memberi tahu eomma tentang keanehan rumah ini.

Terakhir, bibi menemukanku tertidur di tepi danau pukul 4 dini hari. Aku juga pernah tidak sadarkan diri dan ditemukan pingsan di kamar mandi.

***

Aku mendengar sesuatu yang aneh dari lantai bawah. Suara itu terdengar seperti langkah kaki seseorang serta suara barang yang dibongkar. Aku segera bangun dan menyingkirkan selimut tebal yang menyelimuti tubuhku. Ku lirik jam dinding. Pukul 2 dini hari. Aku beralih mengambil kayu yang berukuran sedang yang sudah ku persiapkan untuk berjaga-jaga. Siapa yang tidak akan tertarik mengunjungi rumah besar ini di malam hari.

Dengan langkah yang sangat pelan aku berjalan turun ke lantai bawah hingga berhenti di anak tangga paling akhir. Aku menghembuskan napas berusaha untuk membuatnya normal. Suara yang tadi ku dengar dari arah kamar tidak lagi terdengar. Suara itu hilang dan keadaan menjadi lebih sunyi. Bahkan aku bisa mendengar debaran jantungku sendiri. Aku semakin mengeratkan kayu ini digenggamanku. Lalu melangkah nekat menuju dapur.

Tidak ada siapa-siapa di sana. Namun aku mendengar bunyi mesin dari arah kamar mandi. Aku menelan ludah, menghampiri tempat itu dengan cucuran keringat dingin.

Kayu yang ku genggam terjatuh. Mataku membulat dan mulutku terbuka lebar. Aku ingin berteriak tapi tenagaku seakan lemah. Kakiku seolah-olah terasa berat, melihat objek yang sangat mengerikan di depan sana.

Aku berusaha untuk menutup ke dua mataku tapi aku tidak bisa melakukannya. Air matakupun sudah menggenang di pelupuk mata, melihat tubuh bibi yang sudah tidak berbentuk di dalam mesin cuci. Kepalanya dibiarkan mencuat ke luar, sedangkan tubuhnya berputar di dalam mesin itu. Darah segar dan pekat terlihat jelas. Kedua mata bibi tercongkel hingga menjulur ke pipinya.

Aku berputar, membalik badan dan mengumpulkan segenap tenaga untuk kembali menuju kamar, mencari bantuan. Sesampainya di kamar aku melihat Tuan berbaring tak bernyawa di atas ranjang dengan tusukan pisau di bagian dadanya. Bau darah menyengat hingga penciumanku. Air mataku semakin berjatuhan.

“Arghhhhh!” Aku menjerit ketakutan dan berlari mencari ponsel.

Eomma tidak mengangkat panggilanku. Ku ulangi lagi dan hasilnya tetap sama. Nafasku semakin menggebu, sedangkan jantungku seperti hendak melompat ke luar.

Aku semakin panik. Eomma tak kunjung mengangkat ponselnya. Berkali-kali ku ulangi.

Tuutt Tuutt

“Hallo?”

Aku menghela nafas lega. Suara eomma terdengar jelas di seberang sana. “eomma….eom…”

Tuutt tuutt

Sambungan terputus. Ku ulangi lagi.

Dan akupun mendengar deringan ponsel dari arah yang berlawanan. Aku terdiam dan mematikan panggilan itu. Aku menoleh menatap kamar yang berada di depan kamarku-yang tak lain adalah kamar eomma.

Aku menekan tombol call lagi, mencoba menghubungi eomma. Dan yang terdengar adalah deringan ponsel dari kamar itu.

Aku berjalan memasuki ruangan itu. Aku melihat ponsel yang berdering di atas ranjang, lalu kepalaku berputar ke arah ruangan sempit yang dijadikan sebagai kamar mandi. Karena mendengar suara tetesan air. Aku melangkah pelan, melihat apa yang terjadi.

Aku terjatuh ke lantai seraya menjerit dalam tangis. Tanganku bergetar melihat tubuh eomma yang membiru di lantai kamar mandi. Di lehernya terdapat lilitan shower. Mata dan mulutnya terbuka lebar sedangkan tubuhnya membengkak dan terdapat cakaran di sekujurnya.

Tubuhku beringsut mundur. Lalu berdiri perlahan meskipun kedua kakiku bergetar hebat. Aku berjalan mundur, seraya menekan 119 di tombol contact. Tubuhku berbalik, dan yang kulihat adalah….

Laki-laki di danau waktu itu. Sosok misterius yang suka memperhatikan balkon kamarku.

Sial. Kita bertemu lagi.

***

Malam itu, 10 tahun yang lalu ditemukan sepasang suami istri mati terbunuh. Tersangka adalah anak kandung korban, sangat disayangkan anak itu juga ditemukan mati terapung di danau. Alasan kematian keluarga ini belum ditelusuri lebih lanjut.

Begitulah informasi mengerikan yang ku ketahui mengenai rumah itu. Itulah alasan mengapa bangunan ini dijual dengan harga yang sangat murah.

Paginya, setelah incident itu, polisi menemukanku pingsan di tepi danau.

“Anda sekarang aman bersama kami…” Ujar salah satu petugas yang saat ini membawaku ke kantor polisi untuk memberikan keterangan lebih lanjut

Aku tersenyum datar dari kursi penumpang, berharap yang ia katakan itu benar.

Petugas itu kembali berkonsentrasi mengendarai mobil.

Aku terdiam. Kemudian merasakan aura yang aneh di dalam mobil ini. Kepalaku menoleh ke samping.

Laki-laki itu duduk di sampingku, masih dengan wajahnya yang datar.

Dia… mengikutiku.

Mulutku bergumam, sama sekali tidak bersuara. Berucap pelan pada sosok yang tidak terlihat itu.

Hajima…

***

RCL PLEASE ^^ THANKS *bow

Advertisements

16 thoughts on “HAJIMA

  1. Seruu banger..bisa buat org kepansan dan degdegan…apalgi bacanya dini hari kyk gini….daebakkkkk…kurang panjang sihh thor

  2. Oh my god! Deminya ini ff keren sumpah
    pas baca akhirnya, pertama belum ngeh pas dipikir lagi
    oh my god! Cool!
    aaaa sumpah keren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s