VENUS and Mars Chapter 2

VENUS and MARS chapter 2

Author : @miawswa9

Cast :

Jungkook as Jen >> Pria berumur 21 tahun, penyuka sesama, karena itu ia mengubah statusnya menjadi seorang wanita dan bekerja sebagai wanita penghibur (as Jen). Dia memiliki seorang adik yang telah lama disandra oleh seorang mafia, yang dulunya menghancurkan keluarganya. Dan ia harus memberikan uang sebesar 500 juta won untuk menebus adiknya.

Sera as Kim >> Wanita normal yang suka berpenampilan dan berkarakter seperti pria, berumur 19 tahun, seorang yatim piatu. Ia berprofesi sebagai seorang kriminal. Dan tidak mengetahui kalau Jen adalah seorang pria.

Jin >> Pria berumur 26 tahun, seorang mafia dan menyandra Janey (adik tiri Jungkook). Jin menyukai Sera dan dia adalah cinta pertama Sera

Suga as Yoongi >> Berumur 25 tahun, dulunya memiliki hubungan dekat dengan Kim. Dan sampai saat ini ia masih memendam rasa suka pada wanita itu.

Rapmon as Namjoon >> Pria berumur 24 tahun. Pengawal setia Jin. Dan sebenarnya ia adalah kakak kandung Kim, tapi dia belum mengetahuinya (on next chapter)

Janey >> Gadis yang berumur 20 tahun, adik angkat Jungkook. Dia menyukai Jin, mafia yang menyekapnya ( Next Chapter )

Rating : PG17

Genre : Romance

Note : Sorry, Aku post nya baru sekarang, semoga readernya semakin suka sama cerita ini

Happy Reading ^^

Opening Song >> Block B – U hoo hoo

*** Venus and Mars ***

Kim menyeka air yang tersisa di pelupuk matanya. Sudah sejam lamanya,ia duduk tertegun,mengingat peristiwa yang baru saja terjadi, sangat jelas membekas di dalam ingatannya. Sungguh, dunia terasa kejam membiarkan dia untuk memiliki rasa yang lebih pada Jen. Jelas-jelas Kim dan Jen memiliki wujud yang sama,itu pikirnya.

Wajah Kim diterpa oleh semilir angin. Hawanya begitu dingin,membuat badannya sedikit menggigil. Pakaiannya sangat basah,mulai dari ujung kepala hingga kaki. Namun, itu semua tak masalah baginya. Hanya perasaannya terhadap Jen lah yang memicu masalah dirinya. Perasaan untuk mencintai seorang wanita,itu tanggapnya yakin. Kim memandangi langit gerbong kereta, seperti berpikir. Selama sejam ia duduk, menjadi salah satu penumpang,menunggu lajunya kereta malam itu. Setelah berlari,meninggalkan Jen di tengah derasnya hujan, saat itu ia mulai menyadari kalau Jen memang sosok yang akan selalu ia pikirkan. Lihat saja, setiap Kim melempar arah pandangnya dimanapun akan terbayang wajah Jen. Jen kini menjadi penghalang bagi indra penglihatannya.

Kereta mulai melaju pelan, bergerak meninggalkan kota Busan. Ini adalah sebagai awal yang akan memisahkan Kim dengan cintanya. Kim mulai merasakan gerakan pelan kereta yang semakin menjauhi stasiun. Ia melempar arah pandang tepat ke luar jendela, kedua matanya memandangi langit malam yang kembali meneteskan berkah Tuhan. Tetesan air hujan itu perlahan membasahi jendela kereta. Hujan lebat tak bosan-bosannya membasahi kota Busan malam itu. Kim menatap langit semakin dalam. Mata sayunya tertutup rapat beserta nafas yang berhembus pelan dari penciumannya. Lagi-lagi wajah itu kembali terlintas di benaknya. Dan itulah alasan mengapa dia akan bertindak nekat lagi, dan lagi.

***Venus and Mars***

Flashback

Seorang gadis tengah duduk di depan jendela kamarnya. Kedua mata gadis itu tidak lepas menatap bocah-bocah yang sedang bermain sepakbola di halaman panti asuhan. Halaman itu tepat berada di depan bangunan yang memang dikhusukan untuk kamar anak-anak penghuni panti asuhan. Sehingga dengan leluasa gadis ini dapat melihat semua aktivitas bocah-bocah itu dari lantai atas kamarnya. Tatapannya tidak pernah lepas, tertuju pada salah satu anak. Jujur saja, gadis ini sangat mengagumi bocah itu. Ia menilai bocah itu sebagai anak yang nakal, suka melanggar aturan, tidak suka dikekang, dan sedikit hyperactive. Dia menilai bahwa bocah itu berbeda dari bocah lainnya.

Sangat lama ia melamun, tatapannya terlepas dari memantau bocah itu. Pandangannya terlihat mencari-cari keberadaan bocah itu . Akhirnya ia menyerah mengetahui bocah itu lolos dari pantauannya. Ia tertegun sebentar. Hingga akhirnya, teriakan seseorang mengagetkannya.

“Sera…!! aku punya sesuatu yang harus ku perlihatkan padamu…”

Seru seorang bocah dari ambang pintu kamar Sera. Sera membalik lalu tersenyum melihat kehadiran bocah itu. “Jangan bilang, kalau kau akan menunjukkan hal gila lagi padaku…” Tebak Sera

Bocah itu tersenyum lebar “binggo…” sautnya seraya menarik Sera ke luar dari kamar itu. “Ini akan benar-benar membuatmu gila Sera…” Ujar bocah itu mantap, masih menarik Sera, berlari di sepanjang koridor. Ia berhasil membuat gadis ini penasaran dengan hal ‘gila’ seperti yang ia katakan.

Setelah beberapa menit berlari. Mereka menuju halaman belakang asrama panti asuhan. Memasuki semak-semak belukar, yang ukurannya melebihi tinggi tubuh mereka. Akhirnya Sera dan bocah itu berhenti dengan deru nafas yang kelelahan sehabis berlarian. Mereka menaiki sebuah batu besar yang langsung mengahadap ke arah sungai dengan aliran air yang sangat deras. Sera terpukau sesaat melihat sungai yang indah itu.

“Ini pertama kalinya kau kemari?”

Sera mengangguk senang dengan masih menatap pemandangan yang indah itu.

“Baguslah…apa kau suka?”

Sera mengangguk lagi dan menoleh “aku sang…at su…ka…” Suara Sera melambat, mengetahui bahwa yang berdiri di belakangnya ini bukanlah bocah yang tadi berlarian dengannya. Ia melihat sekeliling, mencari bocah yang berani-beraninya meninggalkan Sera bersama bocah yang selalu membuatnya kehilangan akal. “Yoongi…Yoongi-ya…ya!!” seru Sera dengan suara paraunya. Namun yang ia temukan di sana tetaplah sama.

“Kenapa kau terlihat ketakutan Sera! Aku bukan monster…haha…” Tawa bocah itu, melihat wajah Sera yang seperti melihat monster atau sejenisnya.

“Aku yang meminta Yoongi untuk membawamu ke sini…”

Sera menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merona. Bocah yang ia kagumi ini benar-benar membuatnya semakin salah tingkah. Mungkin ini yang Yoongi maksud dengan hal ‘gila’ itu.

“Hmm…Sera-ya….” Panggil bocah itu seraya berdiri di samping Sera. Sera menoleh ke arahnya, lalu menunduk kembali saat bocah itu membalas tatapannya. Sera sama sekali tidak pintar dalam menyembunyikan perasaan.
“Apa kau tidak lelah seharian memandangiku dari kamarmu eoh?”

Sera mendongak seraya menahan malu. Ia ingin sekali membantah, tapi yang bocah itu katakan benar adanya. Sera pasti tahu apapun yang bocah itu lakukan. Karena setiap detik Sera selalu memperhatikan bocah ini kapan dan dimanapun dia berada. Lalu pertanyaannya, darimana bocah ini mengetahui hal itu? Apakah Yoongi? Kemungkinan begitu karena Sera pernah menceritakan orang yang ia kagumi padanya.

“Wae? Kau menyukaiku?” Tanya bocah itu seraya mendekatkan wajahnya di hadapan wajah Sera yang sudah semakin memerah. Sera semakin gugup ditatap oleh orang yang ia sukai dan tidak bisa menyeimbangi tubuhnya. Bodohnya, tatapan itu membuat Sera…

…terjatuh…

BYUUR!!

Flashback End

*** Venus and Mars ***

Angin bertiup pelan, merayap disekitar tubuh jangkung pria itu. Napasnya tertahan bagai menahan maut yang hendak meregang nyawa. Kedua kakinya bergetar. Sama halnya dengan degup jantungnya yang semenjak tadi membuatnya sesak. Ingin sekali pria ini menyudahi pertemuan mereka. Ia benar-benar merasa takut bukan main. Di depannya,sang ketua menatap bringas ke arahnya, seperti banteng yang siap menyerang lawan. Tak kenal teman ataupun lawan. Siapapun itu, sang ketua akan selalu bersikap bagai binatang jika berurusan dengan pemuda itu, oh tidak lebih baik sebut saja dia Kim.

Memang mereka tidak atau belum tahu mengenai status Kim. Ataupun mereka tidak akan peduli jika itu benar. Yang hanya dan akan selalu ada di dalam benak mereka adalah ‘Habisi pemuda yang bernama Kim’. Namun, berbeda dengan sang ketua yang mengetahui Kim lebih dari itu.

Namjoon, menarik pelipis. Tak sabar menunggu respon sang ketua. Ia sangat tahu, pria yang duduk di hadapannya itu akan terdiam cukup lama jika mendengar nama Kim disebut,apalagi jika mendengar anak buahnya lagi-lagi gagal menangkap ‘anak ingusan’ yang berumur 19 tahun itu.

Brak!

Sang ketua terlihat berdiri dengan posisi ke dua tangan tertahan di atas meja, menimbulkan suara dentuman keras di dalam ruangan pengap itu. Getaran meja kayu itu sampai-sampai menjatuhkan sebuah asbak sehingga sisa dan abu rokoknya berserakan di lantai. Namjoon yang melihat itu kembali menarik pelipis, mengambil napas, sangat dalam. Ini akan menjadi malam yang sangat panjang,pikirnya.

“Cepat temukan dia!” Perintah sang ketua, suaranya terdengar tertahan. Namjoon mendongak,beberapa menit berlalu,suara itu akhirnya berseru. Namjoon memang pengawal yang patuh, tak banyak protes. Ia selalu melakukan perintah sang ketua namun ia sangat lelah jika berurusan dengan pria berumur 26 tahun ini jika sedang di luar kendali. Namjoon tahu persis seluk beluk sifat pemuda ini semenjak 4 tahun bekerja dengannya. Itulah mengapa Namjoon menganggap ia sebagai tangan kanan sang ketua.

“Tunggu apa lagi? Cepat lakukan!” Seru sang ketua,namun kali ini terdengar seperti teriakan. Namjoon berdiri tegap. Siap melaksanakan perintah sang ketua.

“Jika kalian tidak bisa membawanya hidup-hidup…” Namjoon yang tadinya baru akan melangkah,balik badan, tiba-tiba sang ketua kembali bersuara. Nadanya terdengar pelan dan berat. Namjoon berhenti,mendengar saksama lanjutan kalimat itu.

“….lebih baik serahkan saja jasadmu padaku!” Namjoon menelan ludah. Itu tandanya pria ini tidak main-main. Satu hal yang membuat Namjoon seakan menggigil, ‘Aku yang mati atau Kim yang akan mati?’

Sepeninggal Namjoon, sang ketua kembali duduk, menaikan kedua kaki panjangnya ke atas meja. Tersenyum seperti iblis yang tak peduli akan dosa. “Aku akan mendapatkanmu segera…” gumamnya pelan, seraya meraih foto yang menampakkan sosok Kim di dalamnya.

“Jauhi Sera, dan jangan pernah mengganggunya lagi…”

Kalimat menyakitkan itu kembali terbayang di benaknya. Sang ketua memandangi foto yang lain,secercah rasa dendam kembali menyelimuti raganya. Iapun melempar foto itu ke atas meja lalu mematikan rokok yang masih berapi di atasnya. “Kau akan mati…”gumamnya lagi. Angin malam berhembus kencang, seolah menjadi saksi ucapan kematian itu. Pertanda pembawa berita buruk. Bagi Kim, atau Pria itu ataupun bagi dirinya, Jin.

*** Venus and Mars ***

Jen menatap Bunda Mariya yang juga membalas tatapan sendunya. Sudah sejam berlalu, namun Kim tak kunjung kembali. Di luar sana,hujan kembali turun dengan deras disertai kilatan dan petir.

Jen terlihat melamun. Iapun memutar kepalannya saat mendengar pintu gereja terbuka. Satu hal yang ia harapkan adalah kehadiran Kim di sana. Ia sangat butuh wanita itu.

Namun, yang muncul dari balik pintu bukanlah wanita yang ia harapkan, melainkan orang lain,tidak, mungkin Jen akan menganggap pria ini sebagai orang asing. Tepatnya pria asing yang tidak akan membuatnya merasa tertarik dan tergila-gila karena hati Jen telah memiliki kekasih hati bernama Kim. Wanita yang telah merusak nalurinya sebagai pelanggar kodrat Tuhan. Jen benar-benar mulai menyukai seorang wanita,sekarang dan mungkin akan berlanjut. Entah sampai kapan,tapi dia benar-benar telah jatuh hati pada perempuan tampan itu.

Laki-laki itu melepas jaketnya yang basah, lalu menyadari keberadaan Jen yang duduk di salah satu kursi kayu di tempat ibadah itu. Ia membalas tatapan Jen. Laki-laki itu berjalan pelan mendekati kursi yang sama “Apa aku terlihat seperti pengganggu?” Tanyanya yang kini sudah berada tepat di sebelah Jen. Jen hanya diam, tak menjawab pertanyaan itu. Entah apa yang membuatnya merasa aneh saat berbicara dengan pria ini. Jen sama sekali tidak tertarik lagi pada seorang pria. Sama sekali tidak.

“Hm…baiklah,tak apa-apa jika kau tidak menjawab…hujannya sangat deras dan aku memilih tempat ini untuk berteduh…bagaimana denganmu nona? Apa kau juga melakukan hal yang sama?” tanya pria asing ini. Menatap Jen seraya tersenyum, menunggu respon. Namun Jen mengabaikan semua pertanyaan-pertanyaan itu. Sudah jelas bukan,bahwa Jen tidak lagi seperti dulu. Ia berbeda, semenjak bertemu dengan Kim. Jen yang dulunya adalah seorang gay,kini ia tidak akan terlihat seperti itu. Ia yang dulunya sangat terobsesi dengan seorang pria,tapi tak akan lagi. Semua perasaan cinta terlarang itu hilang, terhapus bersamaan kehadiran Kim. Sosok yang memutuskan tautan benang dirinya dengan semua kebohongan cinta yang dulu. Mulai saat ini Jen akan mencintai perempuan. Itu sumpahnya.

*** Venus and Mars ***

Flashback

Yoongi diam-diam meninggalkan Sera di tepi sungai bersama bocah yang Sera sukai itu. Ia pun kembali berbaur dengan teman-temannya yang sedang bermain sepakbola. Yoongi menendang bola terlalu jauh dan terlempar ke dalam semak yang tadinya ia masuki.

“Ya kau! Bisakah kau membantuku mengambil bolanya?” Yoongi berteriak ke salah satu bocah yang dari tadi memperhatikan anak-anak bermain.

“Aku?” tanyanya

“Ya, kau!”

Bocah itupun berlari memasuki semak-semak, mencari bola yang Yoongi maksud.

BYUUR!

Bocah itu mendengar sesuatu yang sangat keras. Iapun penasaran dan mencari sumber suara itu.

“Tolong…to…looong…” Ia mendengar dengan jelas teriakan itu. Ia juga melihat seseorang yang tengah dibawa arus sungai. Bocah itu berlari, menuju sumber teriakan itu. Semakin lama teriakan itu menghilang dan kemudian yang hanya terdengar adalah deru aliran sungai yang sangat deras.

“Ya! Apa yang terjadi?” teriaknya pada bocah yang berada di tepi sungai. Dengan segera bocah itu menoleh padanya. “Aku tidak bisa berenang” teriaknya kalut.

“Cepat, panggil bantuan!” teriaknya dan dengan nekat iapun melompat ke dalam sungai.

Flashback End

*** Venus and Mars ***

Jen/ Jungkook POV

“Kau baik-baik saja nona?” suara berat pria ini terngiang. Mengatakan satu kalimat yang ku rasa itu terlalu berlebihan bagi seorang pria berpenampilan seperti wanita ini. Tak seharusnya ‘lagi’ ia memanggilku dengan sebutan nona bukan?

“Apa kau menunggu seseorang?” Pria ini kembali bertanya.

“Jawab saja sesukamu!” Balasku, merasa tak peduli dengan tanggapannya setelah itu. Aku benar-benar sedikit terganggu dengan pertanyaannya.

KREK

Serempak, kami, aku dan pria asing ini menoleh ke sumber suara. Tepatnya mengarah ke pintu masuk gereja. Seseorang, dengan berpenampilan seperti pria berdiri di sana, memandangiku. Ia menatapku, mengabaikan keberadaan pria asing ini yang padahal juga berada di tempat yang sama. Orang itu terlihat kelelahan. Iapun berjalan pelan,mendekat ke arah kami. Merasa tak tahan karena ditinggalkan, akupun juga berjalan ke arahnya. Masih tak percaya dengan segala kemungkinan ini. Wanita itu,benar-benar nyata di depanku. Kim kembali.

Kim menarik tanganku saat aku sampai dihadapannya. Nafasnya tersengal-sengal. Kim memelukku erat,begitupun denganku,memeluknya dengan sangat erat,tak ingin kehilangan sosoknya lagi. “Aku kembali untukmu…” Ini lah kalimat yang membuat jantungku berdegup seperti Aku tersenyum, seraya melepas pelukannya. “Aku menunggu untukmu…” Balasku. Kim menatapku lagi “tak apa-apa jika mulai saat ini aku menyukai seorang wanita”. Aku balas tersenyum. Maaf Kim, jika aku belum memberi tahu. Lebih baik begini, hanya untuk sementara. Sementara Kim.

“Kita harus ke Seoul, mendapatkan adikmu kembali…” Kim menarikku. Tangannya yang hangat dapat kurasakan dari tautan jemari kami. Dia benar-benar gadis yang penuh kehangatan. Tiba-tiba langkah kami berhenti. Tak hanya berhenti,tapi membuat kami saling membisu.

“Sera? Kau kah itu?”

Ku tatap punggung Kim. Sedetik berlalu,memikirkan keanehan kalimat itu. Akupun berbalik, merasa ingin tahu, kenapa pria asing tadi membuat Kim berhenti sekaligus membuat gadis ini terdiam. Apakah dia mengenal Kim? Pertanyaanku terjawab. Pria itu melangkah cepat ke arah kami,tepatnya ke arah Kim. Ia menarik lengan Kim hingga membuat gadis itu berbalik ke arahnya. Tanpa meminta izin dariku, dengan lancangnya ia memeluk Kim. Dan itu persis di depanku.

“Aku tau itu kau! Bagaimanapun juga aku pasti selalu mengenalimu, karena itulah mengapa aku masih mencintaimu Sera….”

Deg! Jantungku terasa sesak saat mendengar ucapan pria ini.

Kim melepas pelukan itu secara paksa. “Maaf, aku bukanlah orang yang kau maksud…” lalu Kim menarik ku dari hadapan pria asing ini.

“Apa secepat itu kau melupakanku? Aku kesini untuk mencarimu Sera! Kau tidak merindukanku?”

Kim mengabaikan ucapannya. Ia menarikku pergi dari tempat itu. Namun, selanjutnya, kalimat inilah yang membuat Kim menghentikan langkahnya lagi.

“Aku…Yoongi…apa kau juga melupakan nama itu?” Pria itu bersuara, merasa sangat yakin dengan wanita yang dia maksud benarlah Kim. Kim Sera.

Kim berhenti. Terdiam untuk yang kedua kalinya. Sedangkan aku, menunggu kalimat-kalimat yang mungkin saja memberikan penjelasan lebih lanjut bahwa benar pria asing ini sebelumnya memiliki hubungan yang dekat dengan Kim.

Ku tatap Kim. Wanita itu masih bertahan dengan posisinya. Membisu dengan segala pikiran yang mungkin mengingatkannya pada pria yang bernama Yoongi ini. “Kau, sama sekali tidak mengingatku?”

Kim berbalik “Yoongi? Bohong! Laki-laki itu tidak akan pernah meninggalkanku….” Setelah kalimat itu terucapkan sempurna, dengan segera Kim membawaku pergi dari hadapan pria asing yang bernama Yoongi itu serta meninggalkan sejuta pertanyaanku yang masih belum terjawab.

-To be continued-

Closing Song >> Topp Dogg – Cute Girl

*** Venus and Mars ***

Don’t Forget to Comment ^^

Advertisements

5 thoughts on “VENUS and Mars Chapter 2

  1. lagi search ff BTS dan nemu ff ini..
    baca dari part 1 nya… sumpah keren… terbalik2 gtu… keren ceritanya… harus lanjut ini pokoknya….

  2. Terlambatkah kaalo aku baru comment skrg ñ?semoga engga deh . Suka banget sama jalaan ceritanya . Kreatif abis daah . Lanjutannya aku tunggu ya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s