VENUS and MARS chapter 1

VENUS and MARS chapter 1

Rating : PG 17 (Not for age under 15)

Genre : Romance

Recommend to listening all songs while reading :

Heart Attack by EXO, Coffee by BTS, Love Skool by BTS, All Day I Think Of You by 2pm

—–

Opening Song – Heart Attack by EXO

—–Please don’t be Silent Riders—–

—– JLinn Present —–

Di tengah ramainya stasiun Gangnam malam itu,tampak seorang pemuda sibuk mengamati penumpang subway yang berjalan atau sekedar berdiri di sekitarnya. Bola matanya tak lepas menatap satu persatu manusia itu. Penampilannya yang lusuh membuatnya terlihat seperti pengemis. Jaket coklat yang tersampir dibiarkan tak berkancing,terlihat beberapa sobekan dibagian lengan begitu pula dengan jeans murah yang ia kenakan, penuh dengan lubang kecil serta tampak lusuh.Hanya sneaker biru yang terlihat utuh,meski warnanya sudah memudar tapi masih layak pakai tidak seperti jaket,kaos oblong serta jeans. Ditambah dengan topi hitam, yang dipasang separuh menutupi wajah agar tak seorangpun mengenalnya.

Tatapannya seperti merencanakan sesuatu. Ia pasti dan akan selalu punya ‘rencana’ yang akan dilakukan. Rencana yang kalau gagal bisa-bisa membawanya ke jeruji besi.

Matanya mengerling tajam saat seorang wanita muda melewati dirinya. Ia tersenyum miring saat wanita yang berumur kira-kira 27 tahun berhenti di depannya. Penglihatannya tak lepas dari handbag yang terselempang di bagian belakang tubuh si wanita karir. Ini akan lebih mudah daripada melakukannya di dalam bank,bis ataupun halte. Pikirnya mantap.

Dengan hati-hati pemuda itu memperhatikan keadaan stasiun yang ramai dan sedikit bising. Memperhatikan pria-pria berseragam biru yang jika ia lengah sedetikpun akan mendatangkan bencana padanya. Ia terus mengamati jika ada diantara mereka yang juga ikut mengamatinya.

Ia berusaha untuk bertindak santai agar petugas keamanan tak terlalu curiga. Pemuda itu beralih merogoh saku jaket lalu mengambil sebatang rokok utuh dan mematiknya. Ini adalah salah satu cara agar orang-orang tak memandangnya aneh karena suka mengamati sesuatu.

—–Venus and Mars—–

Pemuda itu tertawa puas saat menatap barang curiannya. Tak ada seorangpun yang sadar akan kelakuan kriminal yang ia lakukan saat di stasiun beberapa menit yang lalu. Bahkan wanita spemilik barangpun tak sadar kalau handbagnya sudah berada di tangan pemuda itu. Tangannya beralih mengeluarkan isi dompet yang ada di dalam handbag dan menemukan banyak uang,atm,kartu nama serta dua buah handphone. Karena tak merasa terlalu penting, ia membuang handbag dan dompet, mengambil isinya lalu melangkah pergi tak tahu tujuan.

Selama ini pemuda itu memang tidak punya tempat tinggal tetap, keluargapun tak punya. Ia hidup sebatang kara tanpa orangtua ataupun saudara. Dulunya ia adalah seorang anak yatim piatu yang dibesarkan di panti asuhan. Namun karena masalah financial, panti asuhan yang dulu mengasuhnya bangkrut saat ia berumur 9 tahun. Dan itu yang menyebabkan dirinya hidup dibawah tekanan tanpa kasih sayang dan harus ‘mencuri’ untuk bertahan hidup. Selama 9 tahun ia hidup sebagai seorang kriminal dan selama itu pula polisi tak pernah berhasil menangkapnya.

Malampun semakin larut dan angin terasa amat dingin. Langkahnya masih enggan untuk berhenti. Ia membiarkan langkah besarnya itu menuntunnya. Memasuki gang demi gang dan sampailah ia di perempatan gang sempit yang hanya sedikit diterangi cahaya. Penglihatan pemuda itu terganggu sesaat karena butuh penyesuaian dengan keadaan sekitarnya yang kelam. Berbeda dengan gang-gang sempit yang tadinya ia lalui. Kali ini ia harus memicingkan ke dua matanya agar melihat jalan dengan sangat jelas.

Tak Tak Tak–

Ia berhenti saat langkah ke empat. Matanya semakin menyipit memastikan sosok yang berada tak jauh dari tempat ia berdiri. Kira-kira sejauh lima meter,di bawah remang-remang lampu jalan,tampak bayangan seorang gadis memakai dress pendek berwarna merah darah. Di bagian lengan dan punggungnya terbuka mengeksplor tubuh mulus gadis itu. Gadis dengan rambut lurus sepinggang, terlihat sedikit panik saat langkah seseorang mendekatinya. Beberapa detik kemudian munculah sesosok pria berbadan kekar mencoba untuk menyentuh tubuhnya.

“lepaskan aku! kau mau apa?” Terdengar teriakan lantang dari arah gang yang kelam itu. Masih di bawah remang-remang lampu jalan, bayangan mereka terlihat sangat jelas. Pemuda berbadan atletis itu sedang memaksa si gadis untuk ikut dengannya sedangkan si gadis menolak dan berusaha untuk meloloskan diri.

Pemuda yang berprofesi sebagai pencopet itu berhenti melangkah, menyaksikan mereka tanpa mencoba untuk ikut campur. Iapun kembali menghisap putung rokok yang tadinya masih bersisa saat di stasiun.

PLAK

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi gadis itu. Ia tampak memegangi pipinya lalu meraih krah milik pemuda yang menamparnya tadi.

“Kau mau apa heh?Jika kau berani padaku,aku tak akan segan-segan menghabisimu!” ujar pemuda itu dengan nada mengancam. Lalu tangan kekarnya bergerak memeluk tubuh gadis itu secara paksa. Tampaknya pemuda ini sangat tertarik dengan penampilan gadis yang ditamparnya tadi. Pemuda itu menarik napasnya, merasakan parfum yang mulai masuk ke indra penciumannya. “Hei…” Ucapnya seraya menyentuh wajah gadis di dekapannya ini dengan perlahan. Sedangkan gadis itu bersikeras untuk menjauh. “Aku sudah membayarmu 3 kali lipat…kau tidak akan menyia-nyiakannya kan? Bukannya ini sudah menjadi tugasmu untuk menghiburku?” Ujar pemuda itu pelan namun tetap terdengar jelas bagi si pencopet.

“Aku tidak suka berhubungan dengan laki-laki jahat sepertimu!”

PLAK

Lagi-lagi terdengar tamparan,namun kali ini cukup keras hingga terdengar sangat jelas bagi si pencopet. Mata pencopet itu kembali menyipit. Lalu menghembuskan gumpalan asap rokok dari mulutnya. Sebuah senyuman tipis terpampang di wajah yang tirus. Iapun membuang puntung rokok yang ia hisap lalu menginjak sisa rokok itu. Ini bukan urusanku. Batinnya seraya berbalik meninggalkan gang kelam itu.

“Hei…mana ada laki-laki yang baik kalau mereka melakukan hubungan dengan perempuan malam sepertimu…ayolah…” rayu si pemuda seraya menciumi pipi gadis itu.

“Andwe! Tolong!” Teriak gadis itu. Seseorang tolong aku!

—–Venus and Mars—–

Sebuah nampan berisikan sebotol soju dan teh hangat serta dua mangkuk ramyeon siap dihidangkan. Dengan langkah perlahan seorang pelayan berjalan menuju meja pengunjung yang terletak di sudut restaurant tradisional itu.

“Selamat menikmati…” Basa-basi pelayan yang biasa ia ucapkan ke setiap pengunjung saat menghidangkan pesanan. “Panggil saya jika ada yang ingin dipesan lagi…” Tambahnya dengan nada yang sopan dan ramah. Pelayan itu tersenyum lalu kembali melanjutkan tugasnya yang sedang menanti.

Sret

“Kenapa melamun? Kau tidak suka ramyeon?” Tanya pemuda pencopet ke gadis yang ditolongnya sambil mulai menyantap ramyeon. Gadis itu hanya diam menatap semangkuk ramyeon yang berada di hadapannya. Ramyeon itu terlihat nikmat dan wanginyapun menggugah selera. Namun gadis itu sama sekali terlihat tak tertarik. Pemuda itu melirik gadis berponi itu dan ramyeon bergantian. “Kalau kau tak mau,untuk ku saja…” Ucapnya seraya mengambil botol soju lalu menuangkannya ke dalam gelas berukuran kecil. Ramyeon yang tadinya ia lahap kini terlihat tak bersisa di dalam mangkuk. Ia melahap habis ramyeon itu hanya beberapa menit dan beralih menghabiskan soju,minuman yang rutin ia pesan di restaurant kelas menengah ke bawah itu.

Sret

Setelah meneguk segelas soju,pemuda itu meraih ramyeon milik sang gadis. Tiba-tiba jemari gadis itu menyentuh tangannya agar tidak mengambil ramyeon miliknya. “Aku juga lapar…” Ucap si gadis pelan.

“Oh…baiklah…ini punyamu…” Respon pemuda itu seraya menggeser ramyeon ke hadapan si gadis berwajah putih pucat itu.

Satu Dua Tiga…

“Apa yang kau tunggu? Cepat habiskan…!” Ucap pemuda ini dengan dialek khas Busan. Nadanya memang terdengar sedikit kasar namun gadis itu tak mempermasalahkannya. Yang ada di dalam benaknya kini adalah apa motif yang membuat pria di hadapannya ini repot-repot menolongnya.

Gadis itu meraih sumpit lalu asik mengaduk-ngaduk ramyeon tanpa mencoba untuk mencicipi ramyeon terse ut. Otaknya kini penuh dengan sejuta pertanyaan yang hendak ia lontarkan pada pria ini. “Terimakasih karena telah menolongku…” Ujarnya pelan “tapi….” Gadis ini berhenti sejenak,mengatur nafas seraya menatap pemuda itu yang sedang meneguk soju. Iapun merangkai kalimat yang akan diucapkan “Kenapa kau menolongku? Waktumu terbuang percuma karena menolongku,dan ditambah lagi kau juga ikut terluka kan?”

Pemuda ini berhenti meminum sojunya yang tinggal setengah botol. Tersenyum tipis menatap gadis ini. “Siapa namamu?” Tanyanya tanpa mengindahkan ucapan panjang lebar gadis ini.

“Eoh? Aku? Namaku…Jen…”

“Ok…dengar Jen…aku menolongmu karena hati nurani…”

DEG

Hati Nurani?
Aku pernah mendengar dua kata itu,tapi kapan dan dimana?

“Tapi…”bantah gadis itu merasa tak yakin dengan ucapan pemuda ini.

“Sstt…tak ada yang harus kuperjelas lagi…habiskan ramyeonmu dan pulanglah…” balas si pencopet dengan nada pelan. Pria ini berdiri seraya meneguk habis sojunya lalu meraih jaket yang tadinya ia sampirkan di sandaran kursi.

“Kau mau kemana?”

Pria itu berhenti sebentar,menatap kedua mata Jen. “Tenanglah,aku yang akan membayar semuanya…kau hanya perlu menghabiskan ramyeon itu lalu pergi dari sini…” Ujar pria ini dan melangkah pergi dari hadapan Jen. Jen tak tinggal diam,ia berdiri dengan gerakan cepat,lalu meraih bagian belakang jaket yang dikenakan pria itu. “Tunggu…aku belum tahu namamu”

Pria ini menoleh ke belakang, mengangkat alis kirinya. “Eoh…aku…” Ia berhenti sebentar lalu “panggil aku dengan nama yang kau suka…” Ucapnya datar “hmm…sepertinya aku melupakan sesuatu…” sambungnya seraya melepas jaket yang ia kenakan “pakailah ini agar tak ada yang mengganggumu lagi…” pria itu menyampirkan jaketnya di bahu Jen karena melihat pakaian yang dikenakan Jen terlalu fulgar. Jen dapat merasakan aroma rokok disekitar jaket itu. Pemuda misterius itupun berbalik menuju pintu keluar restaurant tersebut.

“Eoh?” Jen heran dengan sikap pria ini. Mulutnya terkunci rapat,kesulitan untuk berbicara sesaat. Ketika ia hendak bertanya untuk kedua kalinya,pria itu sudah menghilang dari balik pintu restaurant.

—–Venus and Mars—–

Alunan musik terdengar sangat keras. Banyak para pemuda-pemudi tengah asik bergoyang di bawah lampu disko. Mereka saling tertawa untuk sementara menghilangkan rasa stres akan semua masalah. Seakan-akan masalah itu dapat mereka lupakan dengan bermalam di diskotik. Mabuk-mabukan, peredaran obat terlarang bahkan sampai freesex. Itulah kerasnya kota Seoul,kota metropolitan yang penuh kekerasan serta kebebasan.

Ini yang menyebabkan Jen terpaksa hidup sebagai seorang PSK untuk mencukupi hidup. Tinggal dan menjadi warga kota ini sungguh terasa berat. Mau tak mau Jen harus melakukannya,karena tak ada yang dapat ia andalkan kecuali menempuh jalan haram ini. Dengan menyandang pekerjaan seperti ini Jen akan mendapatkan hasil 3 bahkan sampai 5 kali lipat untuk membiayai penghidupannya. Di tambah lagi ada alasan kuat yang mendorongnya untuk nekat menjual diri.

Seperti biasa,Jen mendapat klien seorang pengusaha kaya raya,pemilik salah satu perusahaan swasta di Seoul saat ini. Pemuda itu berusia 25 tahun dan telah memiliki keluarga. Jen sangat tahu seluk beluk klien yang selalu berhubungan dengannya namun ia harus melakukan ini demi satu tujuan itu.

Jen berjalan mendekati bartender lalu menghampiri pemuda yang akan menjadi kliennya malam ini. “Hi…” Sapa Jen berbisik di telinga pemuda itu. “Selamat malam tuan Namjoon…” Ujar Jen seraya mengelus pipi pria yang disapa Namjoon itu.

Namjoon bergidik lalu menoleh ke samping kiri. Ia melihat seorang gadis berpakaian minim tengah duduk di atas pahanya. Jen memutar posisi,memeluk leher Namjoon lalu mendekatkan wajahnya ke arah wajah pria itu sehingga hidung mereka bersentuhan “Aku sudah siap merebut uangmu” kata Jen dengan nada merayu.

Namjoon tertawa sebentar,tawa beratnya itu memecahkan rayuan Jen. Gadis ini menautkan ke dua alisnya merasa heran. “Aku memanggilmu bukan untukku tapi untuk sebuah misi…”

Jen perlahan turun dari paha Namjoon dan berdiri di depan pengusaha itu. “Maksudmu?”

Namjoon tersenyum tipis lalu mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya. Tampak sebuah kartu identitas,terbuat dari plastik yang membuat ke dua mata Jen terbelalak. Mulut gadis itu melebar ke atas membentuk huruf O. Jen mundur beberapa langkah hendak melarikan diri. “Andwe! Dia seorang polisi!” batin Jen,menggigit ujung bibirnya. Hukum di Korea Selatan, seorang PSK akan dikenakan sanksi.

“Kami akan meringankan hukumanmu jika kau mau dan berhasil melakukan misi ini…” Namjoon berbicara sambil menatap ke dua mata Jen dengan tampang serius. Jen menutup mulut,ia bingung harus berbuat apa. Namjoon kembali mengeluarkan sebuah benda dari balik jaketnya dan kali ini adalah sebuah foto berukuran 10×5 cm. Jen kembali melebarkan mulutnya ke atas ketika melihat orang yang berada di dalam foto itu.

“kami sangat kesulitan melacak pemuda ini. Selama 9 tahun ia merampok,mencopet,mencuri dan sebagainya,tapi selama itu kami tidak pernah berhasil menangkapnya ataupun mengetahui identitasnya. Dan kebetulan sekali,aku melihatmu bersamanya kemarin…jika kau berhasil menangkap pria ini,kami akan memberikan keringanan padamu…jika kau tidak bersedia,kau akan tanggung resikonya…bagaimana?”

Jen terlihat mengatup mulut,bingung dengan tawaran Namjoon. “Ani….aku tidak bisa melakukan ini…pemuda itu telah menolongku…aku tidak bisa melakukannya…”batin Jen beserta perasaan linglung. Jika ia tidak melakukan tawaran itu,bisa-bisa ia yang masuk penjara dan tentu itu sama saja menghancurkan impiannya selama 3 tahun ini.

Namjoon menatap Jen,menunggu jawaban dari gadis itu. “Bagaimana eoh?”

“A….aku….”

Namjoon melipat tangannya di dada masih menunggu ucapan Jen selanjutnya. “a…aku….” Jen mengulangi kata yang sama lalu menarik nafas “aku menerima tawaranmu…”

Namjoon,polisi muda ini mengangguk “baiklah…terimakasih atas kerjasamanya Jen…” Namjoon mengulurkan tangannya di hadapan gadis ini.

“Tapi dengan satu syarat…” ujar Jen dengan nafas naik turun. Kedua matanyapun terlihat berkaca-kaca. Sementara itu Namjoon mengerutkan dahinya. “Syarat?”

“Ya,berhasil atau tidak berhasil nya aku melakukan misi ini,kalian harus tetap melakukan syarat itu”

“Ok…menarik….sebelumnya kau harus menandatangani perjanjian ini lalu tulis apa syaratmu…” ucap Namjoon seraya mengeluarkan selembar ketikan kertas lalu menaruhnya di atas meja. Tentu tak satupun pengunjung diskotik yang mengetahui percakapan mereka ini karena terlalu sibuk dengan urusan duniawi mereka.

Jen terlihat menelan ludah,otaknya berusaha meyakinkan dirinya untuk melakukan misi ini meskipun hati nuraninya mengatakan tidak. “Maafkan aku…aku tidak punya pilihan lagi..”batin Jen seraya menandatangani perjanjian selembar kertas itu.

—–Venus and Mars—–

Langkah Jen berhenti di depan restaurant traditional yang tidak terlalu besar. Ada satu hal yang membuatnya bergerak untuk mengunjungi tempat ini. Kedua mata Jen memperhatikan kondisi restaurant tersebut yang sepertinya sudah tak layak untuk dihuni. Jenpun teringat sesuatu. Ya, sebelumnya ia pernah mengunjungi tempat makan ini bersama pencopet yang menolongnya. Dari pintu masuk Jen melihat beberapa pengunjung dan pelayan yang sibuk memesan makanan. Perlahan gadis ini masuk ke dalam restaurant yang hampir ambruk itu lalu memilih duduk di salah satu lesehan. Iapun melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 9 malam. Menurut informasi yang diterima Namjoon, pemuda pencopet itu adalah pelanggan tetap restaurant ini dan akan berkunjung saat jam 9-10 malam.

“Kau harus berhasil melakukannya..” Kalimat Namjoon terasa memenuhi otak Jen. Ia menarik rambut panjangnya merasa terbebani dengan misi ini. “silahkan ini menu pesanannya…” Seorang pelayan mengagetkan Jen. Pelayan itu menaruh menu di atas meja lalu menunggu Jen memesan sesuatu. “Maaf,aku sedang menunggu seseorang dan kami akan memesannya nanti…” Ucap Jen dan pelayan itupun mengangguk pelan tanda mengerti.

Tak lama menunggu,seorang pemuda menampakkan diri dari balik pintu restaurant. Ia mengenakan jeans dan kaos oblong berwarna coklat,pakaian yang sama seperti kemarin. Pemuda itu terlihat mengunyah sesuatu seraya mencari-cari tempat. Jen dapat mengenali pemuda ini dengan jelas dari balik topi yang ia kenakan. “Ahjumma…pesananku seperti biasa…”teriak pemuda ini. Suara beratnya terdengar jelas bagi Jen. Pemuda itupun memilih tempat yang sama saat ia bersama Jen dua hari yang lalu. Setelah sampai di lesehan itu,pemuda ini beralih menjulurkan ke dua kakinya dan menutup separuh wajahnya dengan topi. Ia terlihat kelelahan,ya mungkin karena selesai mencopet lagi.

Jen bangkit dari duduknya dan menghampiri lesehan itu. “Permisi…apa kau masih ingat aku?” tanya Jen pelan,ia takut jika mengganggu istirahat pemuda ini. Karena mendengar suara Jen,iapun mengangkat topi. Kedua matanya memperhatikan gadis yang sedang berdiri di hadapannya itu. “Eoh…bukankah kau…” pemuda ini mencoba untuk mengingat “gadis yang waktu itu?” Sambungnya.

Jen balas mengangguk “Ne…aku Jen….”

“Aaa…ya aku ingat…kau juga mau makan di sini?”

“kebetulan sekali,aku bertemu denganmu…ini milikmu dan aku harus mengembalikannya…”

“Jangan bilang kau kemari untuk mencariku….” tebak pemuda itu. Sesaat ada yang menyita penglihatan Jen, benda-benda yang melingkar di leher pemuda itu. Terlihat beberapa kalung yang menguntai panjang di dadanya. Sebuah kalung salib berwarna perak seukuran ibu jari,kalung berwarna coklat dan satunya lagi sebuah kalung yang juga berwarna perak seperti kalung salib namun mainannya berbentuk bulatan seperti bumi. Jen lebih tertarik memandangi kalung berwarna coklat dibandingkan dua kalung yang lain. Kalung ini memiliki mainan berbentuk ukiran sebuah nama.

Jen tersenyum lalu menjawab tebakan pemuda ini “Seperti yang kau katakan…aku kemari untuk menemuimu tuan Kim…”

Pemuda yang bernama Kim ini tampak menatap Jen lama. “Kenapa kau menatapku seperti itu? Hmm…ya memang aku tertarik dengan kalungmu Kim…”

Kim terhenyak,memandangi kalung-kalungnya. Iapun mengacak rambut seperti orang bodoh dan tersenyum lebar pada Jen. “Hahaha…akhirnya aku gagal menutupi identitasku…”

“Kim…terimakasih atas jaket yang kau pinjamkan…dan…sebagai balasannya aku ingin mengajakmu ke suatu tempat…kau mau?”

Kim menaikan alis kirinya seraya terus mengunyah permen karet. “Ke suatu tempat?”

“Jika kau tidak punya waktu ya tidak masalah,aku akan mentraktirmu di lain waktu…”

“Eoh…tunggu…baiklah….tapi kita akan kemana?”

“Nanti kau juga akan tahu…”

Dengan segera Kim berdiri lalu memasang jaketnya,siap untuk memenuhi keinginan gadis cantik ini. “Ahjumma….aku tidak jadi memesan makanan…karena gadis ini memaksaku untuk pergi bersamanya..” Teriakan Kim dapat didengar jelas oleh semua pengunjung bahkan pelayan di restaurant tersebut. Kim tak berhenti mengunyah permen karetnya seraya menatap Jen yang sedang melebarkan ke dua mata. “Kenapa?” tanya Kim melihat ekspresi kaget Jen.

“oh apa kalian pergi berkencan?” teriak ahjumma si pemilik restaurant. Teriakan ini membuat Kim dan Jen kaget.

“Aish…ani…”sanggah Kim cepat lalu menarik Jen dari tempat itu.

“Jangan berlama-lama lagi…kita akan kemana?” Tanya Kim saat mereka berdua telah berada di luar restaurant.

“Eoh…kita akan kesana…tapi lepaskan dulu genggaman tanganmu…” ujar Jen pelan. Kim melirik tangan mereka yang saling bertaut dan segera melepas genggaman itu. “Jadi kita akan kemana?” tanya Kim pura-pura bersikap tak ada yang terjadi diantara mereka. “Ikuti aku…” jawab Jen seraya berjalan mendahului Kim.

 —–Venus and Mars—–

Setelah beberapa menit berjalan mereka sampai di sebuah gang yang hanya diterangi beberapa lampu jalan,dengan penerangan yang sedikit redup. Kim menghentikan langkahnya. Ia merasa sesuatu yang janggal. “Hey…sebenarnya kita mau kemana?”

Jen berhenti mendadak mendengar pertanyaan Kim. Ia mengabaikan pertanyaan itu dan melanjutkan berjalan. “Hey nona…kita sudah berjalan selama 20 menit dan aku belum tahu kemana kita akan pergi”

Begitu panjang ucapan Kim namun Jen tetap berjalan di depannya. Gadis ini berpura-pura tuli dan terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. “Hey nona…” Nada suara Kim meninggi. Ia pun mengejar Jen dan menarik tubuh gadis itu agar menoleh menghadapnya. Kim menatap kedua bola mata Jen yang berkaca-kaca. “Mianhae…” Satu kata dari ucapan Jen membuat Kim melepas tarikannya dari bahu gadis ini.

Kim kembali menatap bola mata Jen. Tatapan itu seperti mengisyaratkan bahwa ia sedang berada di sebuah perangkap. Benar, segerombolan pria muncul di hadapan mereka. Dari arah gerombolan pria berbadan kekar itu munculah seorang pria yang merencanakan misi ini bersama Jen.

“Lama tak bertemu Kim…” suara berat Namjoon membuat Kim membelalakan kedua matanya. Dengan gerakan cepat , jemari Kim menggenggam lengan Jen dengan kuat, membuat gadis itu menghadap ke arahnya. “Kau menjebakku?” tanya Kim tak percaya dengan semua tipuan Jen. “Mianhae…” ucap Jen sekali lagi.

“Tangkap dia…” perintah Namjoon pada pengawalnya.

“Ya! Apa yang telah dia lakukan untuk membuatmu menjebakku?!!” Teriak Kim marah. Jen tak menjawab pertanyaan Kim. “Ya! Kau mengenalnya eoh? Apa kau tau siapa dia?” Teriak Kim namun kali ini membuat Jen membuka mulut. “Dia…polisi….”

“Heh?baboya!” Kim membuang permen karet yang ia kunyah lalu menarik Jen. “Ya! Kau tertipu nona…” bisik Kim.

“Ya Kau! menangkapku dengan memanfaatkan gadis ini lalu berpura-pura menjadi polisi heh ini sungguh menarik. Lalu apa lagi yang kau lakukan untuk menghasutnya? Apa kau membayarnya?” tanya Kim seraya tersenyum miring. Kalimat demi kalimat yang Kim ucapkan membuat Jen kaget. Di satu sisi ia telah menjebak Kim dan sisi lain ia telah menipu dirinya sendiri. “Baboya!” batin Jen dalam hati.

“Heh…kau penghianat dan telah mencuri semua uangku…dan aku harus mendapatkan uangku kembali…”jawab Namjoon, pria berambut gimbal itu berjalan mendekati Kim dan Jen. “adikmu saat ini berada di suatu tempat dan aku tidak akan memberitahukannya…”

Jen menarik baju Namjoon “katakan! Dimana kau menyembunyikan adikku!” Teriak Jen dengan nafas turun naik.

“Adikmu sedang berada di tempat yang sangat nyaman bersama…..bos kami…”

Jen meregangkan tarikannya pada baju Namjoon. “Apa?”

“kenyataan ini membuatku tertawa,ternyata bertahun-tahun adikmu bersama kami. Ya! Tunggu apa lagi,tangkap mereka.” Perintah Namjoon pada pengawal-pengawalnya.

“Heh kau terjebak di perangkapmu sendiri nona…babo yeoja!” Bisik Kim lalu menarik Jen lari dari gang itu.

—–Venus and Mars—–

Kim dan Jen menarik nafas,mereka lelah setelah berkejar-kejaran dengan Namjoon bersama pengawalnya. Beruntung karena mereka berhasil lolos dari kejaran maut itu. Saat ini mereka berdua tengah berdiri di gerbong kereta api. Keduanya kembali mengatur nafas secara bersamaan lalu saling tatap satu sama lain. Tinggi Kim yang tidak terlalu jauh dari Jen membuat gadis ini dapat merasakan hembusan nafas Kim. Sangat teratur dan perlahan stabil. Jenpun merasakan sesuatu yang bergerak dengan tempo cepat di bagian dadanya. Jantung itu berdegup semakin cepat saat kedua mata mereka kembali bertemu. Jen salah tingkah dan merasakan atmosfer yang tiba-tiba membuat suasana menjadi canggung.

“Jangan terlalu lama menyender di lenganku…” ujar Kim pelan seraya membenarkan letak topi di atas kepalanya. Lagi-lagi topi itu menutupi separuh wajah Kim. Sementara itu pipi Jen merona merah dan segera menjaga jarak dari Kim. “Hey…aku sangat kecewa padamu…aku tidak mengerti kenapa aku menarikmu sampai ke sini,padahal aku bisa saja meninggalkanmu disana…tapi aku tidak melakukannya…berterimakasihlah karena aku masih mengasihanimu… dan mulai saat ini…anggap kita tidak pernah bertemu dan jangan pernah mengenalku,arraseo?” Jelas Kim panjang lebar yang merasa tertipu oleh Jen.

“Mianhae…” Balas Jen, namun ucapannya ini tak didengar oleh Kim. Ia berjalan meninggalkan Jen di tepi gerbong,mencari kursi untuk ia duduki.

“Kim!” Teriak Jen lalu menyusul pria itu. Gadis ini melihat Kim yang telah duduk di salah satu kursi kereta api. Mereka saling menatap,namun Kim dengan cepat menoleh ke luar jendela,pura-pura tak mengenal Jen. Jen terus menatap Kim dan menemui pria itu. “Kim..” Ucap Jen,namun Kim tetap melihat ke arah jendela tanpa menyaut.

“Kau marah padaku?” Tanya Jen,lalu karena kursi di sebelah Kim kosong langsung saja gadis itu duduk di sana. “Kim…kau pasti kesal…” Tambah Jen lagi.

Kim menoleh dengan wajah ketus lalu menjawab “iya aku memang kesal dan marah padamu…tapi satu yang tidak ku mengerti…kenapa aku membawamu bersamaku…hah aku benar-benar bodoh…”

“Aku memang…”

“Sstt….” Kim menaruh telunjuknya di bibir Jen. “Jangan berbicara lagi! Aku tidak mau mendengar penjelasanmu…” Kesal Kim seraya menyender lalu menutup seluruh wajahnya dengan topi. Tampaknya dia ingin beristirahat karena lelah berlari. Sedangkan Jen hanya menatap Kim dengan tampang menyesal. Dia merasa bodoh dengan hal yang ia lakukan. Dia benar-benar bodoh.

—–Venus and Mars—–

Kim membuka lebar kedua matanya. Iapun menguap,masih merasa ngantuk. Namun sesuatu yang berat menahan bahu kanannya. Iapun menoleh ternyata Jen juga ikut tertidur dan menyenderkan kepalanya di bahu Kim. Kim menghela nafas,lalu menatap Jen yang tertidur pulas. “Kau pasti terpaksa melakukan itu sama sepertiku yang terpaksa berprofesi seperti ini” batin Kim.

Kereta api bergerak semakin pelan. Kim menoleh ke luar jendela. Tampak langit berwarna hitam. Hari telah berganti menjadi malam. Dan Kim tak tahu kemana kereta ini membawa mereka. Keretapun berhenti,Kim menggerakan bahu kanannya agar Jen terbangun. “Hey,bangunlah…kita sudah sampai…” Bisik Kim pelan. Jen terbangun dan butuh sedikit waktu untuk menyesuaikan penglihatannya. “Eoh? Kita sampai dimana?” Tanya Jen masih setengah sadar. “Ayo pergi…sebelum seseorang menyadari keberadaan kita karena naik kereta tanpa tiket” bisik Kim lalu berjalan meninggalkan Jen. Jen tersadar dari alam mimpi dan langsung berlari mengikuti Kim.

“Kim…tunggu aku! Kiiim…”teriak Jen dengan berjalan kewalahan karena mencari-cari Kim yang berjalan cepat di depannya. Tampaknya pria itu ingin meninggalkan Jen. “Kim…!” Jen berhasil menarik jaket Kim dari belakang. Pria itu membalik dan memasang wajah kesal. “Kenapa kau mengikutiku heh?” Tanya Kim ketus.

“Aku tidak tahu ini dimana…”

“Ini Busan…sudah? Ada lagi pertanyaan yang ingin kau ajukan sebelum aku pergi?”

“Hmm…apa boleh aku ikut bersamamu?”

Kim tampak menghela nafas “T.I.D.A.K!” Balas Kim dengan mengeja kata tidak. Kim kembali berbalik. “Tunggu…ayolah…apa kau masih marah?”

“M.A.S.I.H” jawabnya dengan mengeja. “Jadi ku mohon dengan sangat,jangan mengikutiku!” ucap Kim dan berjalan meninggalkan Jen sendirian di stasiun.

“Nona,kau sendirian?” Tanya seorang pria yang terus menatap Jen. “Kau pasti butuh tempat menginap kan? Ikut denganku saja..”tawar pria itu seraya menarik tangan Jen.

“Berhenti…”sebuah tangan mencegah tarikan pria tak dikenal itu. Kim menatap pria itu seraya berkata “sebentar,ada yang perlu ku bicarakan dengan wanita ini,setelah itu aku akan mengembalikannya padamu…” Kim menarik Jen dari sana. Dan merekapun berjalan sampai ke luar stasiun.

“Kau menolongku lagi?” Tanya Jen setelah mereka sampai di depan gerbang stasiun. Kim melepas genggaman tangan mereka lalu beralih memasukan ke dua tangannya ke dalam saku jaket. “Aku tidak menolongmu,tapi merasa kasihan…” Bantah Kim.

“Tidak…aku rasa ada alasan kuat dibalik itu…” Jen kembali menatap kedua mata Kim,lalu…

CUP

<backsound — coffee by BTS>

Jen mencium pipi kiri Kim “gomawo…”

“Ya!” Teriak Kim seraya mengelus pipinya. “Apa yang kau lakukan heh?”

“Kau pantas mendapatkan itu…”jawab Jen seraya tersenyum lebar lalu meraih jemari Kim. “Kita akan kemana?”

“Kita?” Kim mengulang satu kata yang Jen ucapkan. Jen balas mengangguk senang. “Aku akan mengikuti kemanapun kau pergi…” Ucap Jen kemudian. “Heh…jangan pernah bermimpi lagi kalau aku mau menolongmu…” Jen menjulurkan lidahnya dan kembali menggenggam tangan Kim. “Aissh…lepaskan tanganku!”

“Memangnya kenapa? Kita kan chingu…”

“Chingu?babo!” Balas Kim seraya menjitak kepala Jen. “Ngomong-ngomong kau satu-satunya perempuan yang mengalahkan tinggiku,hahaha…”

Jen malah memandang Kim dengan tatapan melongo. “Hmm…ya dilihat-lihat tubuhmu lebih pendek dariku…hahaha” ledek Jen sembari mehrong. “Aishh..jinja!” Kesal Kim.

“Lalu kita akan kemana Kim?”

“Hmm…karena ini Busan, bagaimana kalau kita ke rumah lamaku…”

“Rumah? Kau punya rumah?hahahaha…”

“Aissh…sebenarnya rumah milik bersama…tapi sebelumnya kita mencari makanan dulu…aku lapar…”

“Hmm…baiklah…”

—–Venus and Mars—–

Kim dan Jen berhenti di depan gereja tua. Di sebelah timur gereja itu berdirilah bangunan luas berlantai tiga. Ya itu bangunan yang Kim maksud sebagai ‘Rumah Lamanya’,sebuah panti asuhan yang berdiri di tahun 1979 dan tutup pada tahun 2006 karena bangkrut. Dan tempat itu dibiarkan tak berpenghuni sekaligus tak diurus selama 11 tahun ini.  Bangunan itu memang tampak menyeramkan namun berbeda dari sudut pandang Kim. Bangunan itu masih sama indah dan nyamannya saat ia menjadi salah satu penghuni tempat itu.

“Apa bangunan ini yang kau maksud sebagai rumah lamamu?”

Kim menoleh menatap Jen seraya tersenyum. “Ya memang terlihat seram,tapi sampai saat ini aku masih mencintai bangunan ini…semua kenangan hidup masa kecilku terlukis di panti asuhan ini. Namun saat aku berusia 9 tahun mimpiku perlahan memudar,kami terpaksa meninggalkan tempat ini tanpa ada yang mau menghidupi anak yatim piatu seperti kami. Tak ada keluarga yang mau mengadopsi kami sebagai anak mereka. Dan itu lah mengapa setiap hari aku harus mencuri…hingga aku menginjak usia 19 tahun…sampai saat ini aku masih melakukannya…”

Jen berjalan pelan mendekati Kim lalu memeluk tubuh pria itu dengan erat “aku juga merasakan hal yang sama denganmu Kim…kita sama-sama diposisi yang tak jauh berbeda…tapi aku mempunyai seorang adik yang tidak ku ketahui keberadaannya. Aku harus menebus dengan uang agar adikku kembali padaku,karena itu aku terpaksa berprofesi sebagai perempuan penghibur…” jelas Jen mencurahkan semua beban pikirannya pada Kim. Jen mengelus punggung Kim pelan sedangkan Kim mengelus kepala Jen. Keduanya saling tatap dan saling tersenyum.

<backsound — love skool by BTS>

Tes Tes Tes

Setetes demi setetes air membasahi kepala mereka. Kim dan Jen menengadahkan kepala serentak,memandangi langit yang kelam dengan suara gemuruh petir. Semakin lama tetesan itu beralih menjadi hujan deras. Jen melindungi kepalanya dari hujan sedangkan Kim masih berada di posisinya merasakan terpaan air hujan yang jatuh ke wajahnya. “Kim…” Panggil Jen seraya menarik Kim untuk berteduh di teras gereja.

“Kau mau sakit apa?”

“Sakitpun tak ada yang peduli…”

“Kau gila! Aku yang akan peduli padamu!” Balas Jen yang membuat Kim terdiam. “Kita berteduh di dalam saja,sepertinya tidak dikunci…”ujar Jen lalu berjalan memasuki gereja tua itu. Sedangkan Kim mengekor di belakangnya. “Permisi…” Ucap Jen seraya menyatukan kedua telapak tangannya,tersenyum ke arah Bunda Maria. Jen berjalan menuju kursi di barisan paling depan lalu berdoa sejenak.

“Apa doamu?” Tanya Kim yang dari tadi sibuk memperhatikan Jen yang sedang berdoa dalam hati.

“Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosaku,bagaimana denganmu?”

“Aku berdoa agar aku bisa jauh darimu…hahaha”

PLAK

Sebuah tamparan mendarat di kepala Kim. Kim mengelus kepalanya yang terasa amat sakit lalu bergumam “siapa yang menam–par–ku?” Ujar Kim kesal seraya menoleh ke samping kanannya. Tampak seorang bapak memakai baju serba hitam tengah tersenyum ke arah Jen. “Roma…” Sapa Jen seraya balas tersenyum.

“Hei,anak muda,jangan pernah berkata seperti itu. Apa kau tau kenapa kalian selalu bersama? Karena kalian ditakdirkan Tuhan…” Jelas Roma sembari tersenyum lagi. Sementara itu Jen dan Kim saling menatap.

“Heh…yang benar saja…”balas Kim seraya tertawa,menganggap ucapan Roma sebagai bahan lelucon.

PLAK

Roma kembali menampar kepala Kim. “Kau belum tahu apa-apa akan takdir Tuhan anak muda…”

“Roma,apa kami boleh menginap disini untuk semalam?”

“Tentu saja gadis kecil,kalian bisa menginap sampai kapanpun di rumah Tuhan…”

“Gamsahamnida…” Ucap Jen seraya membungkuk hormat.

“Istirahatlah…jika kalian perlu sesuatu temui aku di ruang belakang…”ucap Roma lalu pergi meninggalkan mereka di tempat ibadah itu.

“Aishh kenapa dia menampar kepalaku heh? Sakit tahu!” Kesal Kim lalu menggembungkan ke dua pipinya,membuat Jen tertawa.

“Tapi…jika kita ditakdirkan bagaimana?”

“ANIYO!” Teriak Kim kencang,sekaligus membuat Jen tercengang. “Ehh…itu tidak akan terjadi…” Bantah Kim.

“Tapi…kau harus tahu,kalau aku…mulai menyukaimu Kim…” ucap Jen pelan. Kim terdiam, derasan hujan yang terdengar lebih terasa seperti tembakan peluru diantara mereka. Waktu terasa berhenti sejenak. Mereka saling menatap. Jen meraih dagu Kim lalu menyentuh bibir Kim dengan bibirnya. Jen perlahan menutup matanya,merasakan ciuman itu. Sedangkan Kim masih merasa shock dengan tindakan yang tidak sepantasnya Jen lakukan.

Jen melepas ciuman itu. Kembali menatap Kim yang masih memasang wajah tegang. Jen beralih memeluk Kim “aku sangat mencintaimu Kim” ucapnya.

“Aku….aku juga mencintaimu…” Saat Kim mengucapkan itu,lonceng gereja berbunyi menandakan tepat jam 12 malam. Jen memandangi Kim. “Benarkah?” tanya Jen seraya menatap kedua mata Kim lalu gadis itu mencium pipi Kim.

“ANDWAE!! ANDWAE!!” Teriak Kim seraya bangkit dari duduknya.

“Kau kenapa?”

“Tidak! Aku tidak boleh menyukaimu dan kau juga tidak boleh menyukaiku!”

Jen berjalan mendekati Kim,namun Kim berusaha untuk menghindar “jangan! Jangan mendekatiku!”

“Kenapa kau berbicara seperti itu Kim?”

“Arghhh….” Teriak Kim seraya berlari keluar gereja. “Kim! Tunggu!”

Jen berusaha mengejar Kim yang semakin menjauh. Mereka berlari di bawah hujan yang semakin deras. “Kim…” Jen berhasil meraih pergelangan tangan Kim. Ia memaksa Kim agar menoleh padanya. “Kim,kenapa kau lari? Kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini,apa ada yang salah denganku?” Tanya Jen dengan sedikit berteriak karena suaranya yang ditimpa derasan hujan. Jen manatap Kim sekaligus membuatnya tercengang. Kim yang ia anggap sebagai pemuda yang kuat itu menangis ditengah-tengah hujan yang semakin deras.

“Kau…kenapa menangis?” Tanya Jen melihat Kim yang makin sesegukan.

“Aku normal kan?”

“Hah? Mak—sudmu?”

“Aku wanita normalkan? Katakan semua yang baru saja terjadi sama sekali tidak terjadi! Katakan itu!” Teriak Kim disela-sela tangisnya seraya mengguncang ke dua bahu Jen.

“Apa? Jangan bilang kau…”

“Kau ingat saat kau memanggilku dengan tuan Kim? Lalu kenapa aku merasa heran karena kau memanggilku seperti itu? Seharusnya yang kau ucapkan itu nona Kim! Aku dan kau memiliki wujud yang sama. Aku adalah seorang perempuan Jen! Sama sepertimu!”

DER!

Petir semakin mengguncang langit. Hujan semakin lama melebat. Pakaian yang mereka kenakan semakin basah. Dan saat itu Jen baru menyadari kalau Kim juga memiliki dada seperti gadis lainnya.

“Maafkan aku Jen…” Ucap Kim dengan berlinang air mata.

“Andwae! Aku tidak bisa melupakanmu…aku….masih menyukaimu…”

Kim menggeleng kuat “jangan! Jangan pernah mengatakan itu lagi! Aku normal dan aku mencintai seorang pria! Maafkan aku! Maafkan aku!” Ujar Kim seraya menutup mulutnya,menahan agar tangisnya tak kembali. “Maafkan aku…” Kimpun kembali berlari meninggalkan Jen. Sementara itu Jen hanya terdiam di bawah derasnya hujan.

“Jadi…apakah aku akan kembali menjadi pria normal seperti dulu?” batin Jen.

-To Be Continued-

Closing Song – All Day I Think Of You by 2pm

—–Venus and Mars—–

All Cast

Jeon Jungkook (BTS) a.k.a Jen

Kim Sera (You/Readers) a.k.a Kim

Min Yoongi/Suga (BTS) à on next chapter

Seok Jin Ah/Jin (BTS) à on next chapter

Kim Namjoon/Rapmon (BTS) a.k.a Namjoon

Byun Seung Mi/Janey (GP Basic) à on next chapter

Character of all cast

Jungkook as Jen à Pria berumur 21 tahun, penyuka sesama, karena itu ia mengubah statusnya menjadi seorang wanita dan bekerja sebagai wanita penghibur (as Jen). Dia memiliki seorang adik yang telah lama disandra oleh seorang mafia, yang dulunya menghancurkan keluarganya. Dan ia harus memberikan uang sebesar 500 juta won untuk menebus adiknya.

Sera as Kim à Wanita normal yang suka berpenampilan dan berkarakter seperti pria, berumur 19 tahun, seorang yatim piatu. Ia berprofesi sebagai seorang kriminal. Dan tidak mengetahui kalau Jen adalah seorang pria.

Suga as Yoongi à Berumur 25 tahun, dulunya memiliki hubungan dekat dengan Kim. Dan sampai saat ini ia masih memendam rasa suka pada wanita itu.

Jin à Pria berumur 26 tahun, seorang mafia dan menyandra Janey (adik tiri Jungkook) Pria ini juga menyukai Kim (on next chapter)

Rapmon as Namjoon à Pria berumur 24 tahun. Pengawal setia Jin. Dan sebenarnya ia adalah kakak kandung Kim, tapi dia belum mengetahuinya (on next chapter)

Janey à Gadis yang berumur 20 tahun, adik angkat Jungkook. Dia menyukai Jin, mafia yang menyekapnya.

—–Thanks For Reading and Comment—–

 

Advertisements

6 thoughts on “VENUS and MARS chapter 1

  1. o.O
    O MAI GAD
    ini sungguh menakjubkan thorrrr…
    aku shock waktu Kim bilang dia itu cewe, dan tambah shock waktu tau kalo jen itu cowo .
    hadehhhhh dunia emang sudah terbalik ya ya amplop
    gmn ceritanya nih thor thor kudu lanjut
    duh T O P deh
    ditunggu ya part selanjutnya
    salam buat yg ganteng *plak

  2. FF satu ini anti mainstream banget, udah keliatan dari Pengenalan Cast di Akhir. Hahahaha suka banget ceritanya walaupun berkategori Dewasa tapi Cara Pembawaannya Ringan. Lanjut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s