LOLLYPOP LOVE

loli-love2

Author : Jey Linn ( @llingllin09 )

Cast :

Shin Yura ( readers )

Jo Jonghwan ( 100% )

Park Jimin ( Bangtan Boys )

Tia ( Chocolat )

Genre : romance, happy ending

Rating : PG16

Cover by : chioneartposter.wordpress.com thanks ya saeng ^^

Note : Setelah baca jangan lupa ngomen ya ^O^ atas kesediaannya diucapkan terimakasih *bow*

Dan author beserta stuf mengucapkan Minal Aidin WalFaidzin Mohon Maaf Lahir dan Batin ^^

-Happy Reading-

Opening Song  > EXO – Baby

Yura’s POV

Teriakan keras terdengar dari lantai bawah. Celotehan hangat dan membosankan terlontar dari satu mulut dan balasan dari mulut yang berbeda. Seperti hari-hari sebelumnya,mereka bertengkar, meributkan hal sepele dan kekanakan. Pertengkaran yang akan menjadi kebiasaan yang kudapat di pagi hari. Aku melangkah dengan malas menuju dapur untuk mengambil beberapa potong roti di atas meja makan sebagai menu sarapan. Kupasang tampang tidak peduli melewati mereka yang sedang mencapai klimaks. Akupun segera menuju pintu depan, memasang sneaker hitam dan langsung melangkah menuju perkarangan.

“Aku pergi…” teriakku berpamitan. Meski yang aku tahu mereka tidak akan menyahut atau sekedar memberi pesan padaku, seperti hal-hal yang biasa dilakukan oleh orang tua ‘normal’. ”hati-hati di jalan” atau “jangan bermain-main sepulang sekolah”.  Kenyataannya aku tidak mendengar kalimat itu lagi semenjak dua minggu yang lalu.

Akupun berjalan seorang diri ke sekolah tanpa appa di sampingku. Biasanya, aku berangkat bersama appa, karena ia bekerja di kantor pos dekat dengan sekolah. Sedangkan eomma bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta.

“Heh….begitu teganya kah mereka membiarkan bocah berusia 9 tahun berjalan sendirian di gang yang sepi?” batinku kesal. Kuketup mulutku rapat, kerutan kecil tergurat di dahiku. Aku mencoba memikirkan kemungkinan yang akan terjadi. Ucapan kasar, tangis dan angkat kaki.

Kemungkinan pertama, eomma bisa saja merasa sedih ataupun menangis mendengar kata-kata kasar dari appa, itu hal yang biasa terjadi jika kau seorang wanita kan? Hem, tapi kurasa pradugaku ini terlalu berlebihan. Yang seharusnya menangis itu appa bukanlah eomma. Kemungkinan kedua,eomma bisa saja kabur dari rumah. Hem, alasan ini terlalu menduga, buktinya jika bertengkar yang selalu kabur adalah appa. Yah, ini terdengar aneh, tapi itulah orang tuaku.

Selain bekerja sebagai sekretaris, eomma  adalah seorang pelatih judo dan karate. Mungkin itu sebabnya appa merasa sedikit takut berbuat kasar padanya. Karena eommalah,aku terlahir sebagai seorang gadis yang kuat. Satu prinsip eomma yang selalu kuingat “wanita tidak akan pernah terkalahkan oleh pria” heh…konyol bukan?. Dan mungkin ini salah satu penyebab yang sedikit membuat diriku tidak menyukai pria.

Setelah sekian lama berjalan, akhirnya aku sampai di halte dan menunggu bis yang ku tahu selalu melewati sekolah. Kulihat sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di dekat halte dengan seorang pria berparas muda tengah mencek mesin mobil yang sepertinya bermasalah karena tampak asap yang mengepung mobil itu.

“maaf nyonya, sepertinya ada mesin yang rusak…”ucap pemuda itu pada seorang wanita yang duduk di halte.

“oh..tak masalah, aku akan menelfon paman Kim untuk menjemputku di sekolah Min-ah”

“baiklah nyonya…”

Sekedar melepas rasa letih, aku duduk di sebelah wanita itu, yang kutebak seusia dengan eommaku. Hmm..seperti pembicaraan yang kudengar sebelumnya, ahjumma ini pasti si pemilik mobil mewah. Iapun memperhatikan penampilanku dan memberikan senyum setelahnya.

“kau juga bersekolah di Seongjam? Dan….kau pergi seorang diri?”tanyanya ramah, tapi bagiku ini seperti pertanyaan introgasi. Jujur, aku tidak suka dengan orang yang terlalu akrab,menanyai ini itu tentang diriku. Tapi karena baru pertama kali bertemu dengannya, ku buat pengecualian.

ne….wae?”jawabku singkat disertai wajah datar. Ahjumma itu kembali tersenyum mendengar jawabanku. Namun dari pancaran matanya,aku tahu kalau dia sedikit terkejut dengan kata-kata yang kulontarkan. Begitulah aku, selalu bersikap dingin dengan orang-orang. Karena sikapku itu, aku selalu kesulitan mendapat teman di sekolah. Namun tidak untuk namja chingu. Mereka selalu ingin dekat denganku, tapi aku lebih memilih sendiri ketimbang mengobrol dengan mereka,karena namja itu berisik dan aku kurang suka mereka.

Hem, jika ingatanku tak salah, bukankah tadi wanita ini bertanya “kau juga bersekolah di Seongjam?” pertanyaan ini menyita perhatianku. Kenapa dia memakai kata ‘juga’?.Bukankah itu berarti….

“kalau begitu kau satu sekolah dengan putraku….”ujar ahjumma seraya menoleh ke sebelah kirinya. Aku mengikuti arah pandang ahjumma itu. Dan kulihat seorang bocah, memakai seragam yang sama tengah memperhatikan jalan yang tidak memberikan pemandangan indah baginya. Terlalu biasa.

“Min-ah…gadis ini juga satu sekolah denganmu….” Ujar ahjumma itu lalu tersenyum lagi ke arahku. Kelihatannya dia wanita kaya raya yang tidak sombong. Dari tadi ekspresi itu yang ia berikan. Tersenyum seolah ingin membuatku nyaman berada di dekatnya.

Min-ah?Haha panggilan yang lucu. Bukankah dia Jimin, murid pindahan dua minggu yang lalu? Dan dia satu-satunya namja yang selalu membuatku kesal. Menyembunyikan tugas sekolahku, menjahiliku dan yang selalu mengejekku. Menyebalkan!

eomma…jangan terlalu dekat dengan orang asing….”komentar bocah itu lalu menatapku sekilas. Terlihat dari tatapannya, kalau ia seperti meremehkanku. Ini salah satu alasan kenapa aku kurang suka dengan namja.

“tuan muda….kau tidak boleh seperti itu…..”balas ahjumma memperingatkan.  Tuan muda? Berarti benar kalau Jimin memang berasal dari orang yang kaya raya seperti yang teman-teman bicarakan.

“maaf ya…akhir-akhir ini dia selalu bersikap seperti itu….ngomong-ngomong… namamu siapa?” tanya ahjumma lagi seperti ingin mengetahui lebih banyak tentangku.

“Yura imnida….”jawabku bersamaan dengan bis yang berhenti di depan kami.

eomma…kau tak perlu mengantarku…”ucap bocah itu seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Iapun memasuki bis mendahuluiku. Huh…sungguh bocah yang menyebalkan. Aku benar-benar tidak menyukai dia.

andwee, eomma akan mengantarmu sampai gerbang sekolah…Ah sebaiknya tadi kau berangkat bersama sepupumu…yah tapi sudahlah…Yura kkajja!”

Mau tak mau aku harus satu bis dengan bocah ‘sialan’ itu.

Aku mengambil tempat yang sepi diduduki, berjalan menuju bagian belakang bis dan menemukan kursi yang siap kutempati. Aku lebih memilih tempat duduk yang jauh dari desakan orang-orang. Andai saja appa tidak bertengkar dengan eomma, mungkin aku akan pergi dengan kendaraan pribadi tanpa mendapat kesulitan seperti ini. Ya…harus bagaimana lagi, ini adalah alternative terakhir, jika aku tidak ingin terlambat ke sekolah. Dan mungkin saja aku harus terbiasa dengan situasi ini.

Ahjumma itu mengikutiku dan duduk di sebelahku. Aku melempar pandangan heran. “sungguh menjengkelkan duduk di samping bocah itu…”kritik ahjumma melihat tingkah laku anaknya. “bolehkan aku duduk di sampingmu?”

Aku hanya membalas dengan anggukan. Setelah semua penumpang duduk, bispun melaju dengan kecepatan normal.

“Yura-ya…jika tidak keberatan, mau kah kau membantu putraku? Dia pasti butuh penyesuaian dengan lingkungan baru…yah meskipun sudah hampir 2 minggu, tapi Min-ah sangat sulit untuk beradaptasi… ”

Apanya yang sulit beradaptasi? Baru beberapa hari saja, dia sudah mempunyai banyak teman dan juga fans.

“Yura-ya ini hanya untuk sementara kok, kau mau kan?”

“sementara?”

“ne…kami akan pindah lagi setelah aku selesai membereskan urusanku di Ulsan…”

“hem…baiklah kalau begitu…” ini terlihat memberatkan, tapi karena melihat ahjumma yang sudah bersikap baik,aku tidak bisa menolaknya.

“ah…kau sungguh gadis manis dan juga baik…”

Baik? Ini tidak seperti yang ahjumma pikirkan.

“Dua tahun yang lalu suamiku meninggal akibat kecelakaan. Jimin, anak kami satu-satunya, dia sangat akrab dengan suamiku. Setelah mendengar kecelakaan itu, dia merasa terpukul,  mungkin kematian appanyalah yang menyebabkannya bersikap seperti ini…”papar ahjumma. Terlihat sesuatu mengganggu penglihatannya.

Aku hanya mendengarkan setiap cerita yang ia tuangkan. Berusaha menjadi pendengar yang baik tanpa harus ikut campur memberikan pendapat. Aku hanya ingin melakukan pembicaraan ringan di pagi hari. Mengingat otakku yang semakin suntuk memikirkan masalah pertengkaran appa  dan eomma. Meskipun berulang kali berusaha untuk tidak peduli, tapi pikiran bersalah itu seolah menghantui batin.

“Yura-ya kita sudah sampai…kkajja…” ahjumma itu menggenggam tanganku dan kamipun turun dari bis. Sekolah bertingkat dengan perkarangan yang luas adalah pemandangan yang langsung terlihat.

“Min-ah…Seongjam is not bad, isn’t it?”

“but I like to stay in Ottawa…ya! Berhenti memanggilku Min-ah!!”

Seperti tamparan yang sangat keras, mendengar pengakuan dari anaknya, ahjumma kembali memasang wajah pasrah “haha…nanti paman Kim akan menjemputmu…cobalah akrab dengan Yura, dia gadis yang baik…”

“heh…annoying…!!” balas Jimin, iapun berjalan memasuki gerbang besar yang berada di depan kami.

“Yura-ya…kau pasti memikirkan hal yang sama denganku kan? Dia bocah yang menyebalkan…”

Haha…ahjumma yang lucu.

“ku titip Jimin padamu ya Yura….terimakasih, belajar yang rajin ya…”pamit ahjumma.

Aku mengangguk dan menyusul bocah ‘sialan’ itu. Jimin menghentikan langkah dan berbalik menatapku dengan mata sipitnya “ya Yura! Jangan bilang siapa-siapa tentang status keluargaku arra?”

“heh…ku beri tahu ya, semua yang berada di sekolah ini tahu kok, kalau kau itu berasal dari orang kaya! Huh dasar anak manja!!” teriakku geram.

“ya apa yang kau katakan? Anak manja? Heh sini…” Jimin melangkah lalu menyentil dahiku dan langsung melarikan diri.

“aishh…ya!” teriakku marah.

Huh! Aku benar-benar tidak suka laki-laki!

Tiba-tiba dari ekor mataku, aku melihat seorang namja bertubuh kurus berjalan di belakang dan terus mengikutiku. Spontan ku tatap dirinya yang juga menatapku di waktu yang sama. Aku memang sering melihat bocah itu bermain bersama Jimin.

“apa urusanmu heh?kau mau ini huh?” tanyaku mengancamnya seraya memperlihatkan tinjuku yang sebesar biji jagung. Bocah itu dengan segera menurunkan tinju yang kuangkat. Pancaran wajahnya seperti berbinar sesaat. Bocah berkacamata itu menggenggam tanganku dan seketika sebuah lollipop berada di atas telapak tanganku.

“kau sepertinya butuh ini untuk menaikan mood setelah berurusan dengan bocah tengik yang menyebalkan itu…” ujarnya lalu berlalu dari hadapanku.  Aku pun memasang wajah heran dan memperhatikan lollipop yang tergenggam. Lalu melanjutkan berjalan hingga sampai di depan kelas berlebel 4C. Dan akupun disambut dengan pemandangan yang sedikit risih. Semua siswi  berdesak-desakkan di dekat pintu masuk. Mereka berbisik-bisik seraya memperhatikan objek yang sedang duduk menghadap jendela. Bocah berpramental kasar yang akan menjadi sasaran hangat bagiku sepulang sekolah nanti.

-O-

BUK

Sebuah pukulan mendarat tepat di perut bocah itu. Akupun juga memberikan tamparan di pipinya. Semua rasa kesal semenjak dua minggu yang lalu, ku luapkan dengan menghajar bocah berambut hitam pekat itu. Jimin terkapar dengan wajah penuh lebam. Aku tersenyum nakal memperhatikan tubuhnya yang melemah. Dan aku tertawa puas seketika, menyaksikan dirinya menderita akibat pukulan yang kuberikan.

Jimin berusaha berdiri dengan sekuat tenaga. Sedangkan aku berdiri angkuh di depannya. Melipat tangan di dada seperti seorang bos dan tersenyum penuh kemenangan. Sungguh tindakan yang berani menyeret tubuh namja ke taman belakang sekolah. Jimin yang seharusnya merintih menahan sakit namun ekspresi wajahnya terlihat biasa saja.

“heh…jadi hanya segini kekuatanmu?” tanya Jimin meremehkan kekuatanku. Dia berdiri dengan tangan yang terlipat di bagian perut. Aku melangkah mendekat sehingga tubuh Jimin membentur pohon besar di belakangnya. Tapi kali ini dia seperti menahan sesuatu di perutnya.

“kau mau lagi heh?” tawarku dengan memperlihatkan lagi kepalan tanganku padanya. Kemudian Jimin mendadak menarik tanganku dan sebuah kecupan singkat mendarat di pipiku. Refleks, ku tampar wajahnya yang tadinya membiru. Kemudian menyentuh kedua pipiku yang mungkin merona merah. Aku langsung terdiam membisu.

“heh…kau memang lemah…bodoh! ya.. .karena kita masih di bawah umur,jadi aku belum bisa merasakan ini dengan bibirku…” ujar Jimin seraya menyentuh bibirku dengan jari telunjuknya. Lalu menyender ke pohon seraya menyentuh pipinya yang terkena tamparan.

“YA! APA YANG KAU BICARAKAN HEH?” teriakku tak sabaran mengarah ke wajah Jimin. Lalu dengan secepat kilat Jimin memeluk tubuhku dan menyenderkan kepalanya di bahuku. “tunggu sampai kita dewasa dan aku, pria pertama yang akan mencobanya…”

“YA!!!!” Aku berteriak kencang dan sial, aku mendengar langkah kaki mendekat ke arah taman. Tampak seorang bocah, setinggi lima jengkal dari tubuhku, berdiri mematung, memperhatikanku dan Jimin yang berpelukan. Dia adalah bocah yang memberiku lollipop tadi pagi. Bahkan sampai saat ini aku belum menikmati barang yang dia berikan. Dengan sekuat tenaga ku dorong tubuh Jimin menjauh agar tidak terjadi kesalahpahaman.

“ya…!”

Aku harus lari dari sini! Sial! Jimin malah menggenggam tanganku! Apa dia akan menjebakku?

Bocah itu berlari menghampiri Jimin yang bersandar di pohon. “kau kenapa?”tanya bocah itu lalu menatapku yang berdiri menunduk. Seolah-olah, dia tahu sesuatu yang terjadi diantara Jimin dan aku.

“aku…aku menolong gadis bodoh ini…” ujar Jimin dengan nafas tersengal.

Menolong? Dia bohong! Bodoh!Kenapa dia tidak memberi tahu kebenarannya?

“benarkah begitu?” tanya bocah berkacamata padaku.

Aku terdiam sesaat. “a…ani…”

“Ya! Kenapa kau tidak balas menghajar mereka heh? Untuk apa kau berlatih judo kalau kau tidak bisa melindungi dirimu sendiri, bodoh!” ujar bocah berkacamata.

“aku tidak akan membuang tenagaku untuk hal bodoh seperti itu!”bantah Jimin.

“heh?”

“kau…pulanglah…sebelum mereka mengganggumu lagi…” ujar Jimin tanpa membalas sanggahan si bocah berkacamata.

Dan dia berbohong lagi. Kenapa?

Jimin perlahan melepaskan genggamannya dari tanganku. “ku bilang…pulanglah!!” teriaknya.

Aku menatap Jimin lalu bergantian menatap bocah berkacamata. Bocah itu mengangguk menandakan setuju dengan usul Jimin. “tapi…” aku berusaha untuk membantah.

“sebaiknya kau pulang, biar aku yang mengurus dia…”ucap bocah itu lagi dan mulai membopong Jimin. Tanpa berpikir panjang, akupun bergegas berlari menjauhi taman.

Bodoh! Bodoh! Bodoh! Sudah berapa kali kubilang, aku tidak suka dengan namja!

-O-

Seperti biasa, aku pergi ke sekolah seorang diri. Aku menaiki bis yang sama dan tiba di sekolah 5 menit sebelum pelajaran pertama dimulai. Aku berjalan melewati ruangan kepala sekolah. Dan tak sengaja melihat bocah berkacamata keluar dari ruangan itu. Tetapi sesuatu yang aneh terpantau dari penglihatanku. Dia sama sekali tidak memakai seragam yang seharusnya ia pakai untuk hari ini.

“ah…kau Yura kan?”

Aku mengangguk pelan.

“ah…aku belum sempat memperkenalkan diri…aku Jonghwan…”ucapnya seraya mengulurkan tangan. Aku membalas dengan sedikit ragu. Lalu pria yang bernama Jonghwan itu tersenyum dan menjabat tanganku dengan hangat.

“aku sepupunya Jimin dan mulai hari ini kami tidak akan bersekolah di sini lagi…”

“apa urusannya denganku?” tanyaku seraya memalingkan wajah.

Pindah? Secepat ini?

“yah…ku pikir kau harus tahu…hahaha…oh ya aku punya sesuatu untukmu…”

“heh?”

Pria berkacamata itu, ah maksudku Jonghwan menggenggam tanganku dan sedetik kemudian sebuah benda melingkar di pergelangan tanganku. Benda itu terbuat dari kulit, berwarna merah muda dan dihiasi manik ber- glitter putih berbentuk love. Sangat indah.

“jangan terlalu terharu melihatnya…itu akan membuatmu terlihat seperti orang bodoh..hahaha!” ujar Jonghwan memperingatkan seraya mengelus kepalaku.

“kau bukannya mau ke kelas kan? Sebentar lagi jam pertama akan dimulai…ayo cepat!”

“ini…?” tanyaku seraya memperlihatkan gelang yang melingkar manis di pergelangan tanganku.

“sudah bawa saja!hahaha…” ujar Jonghwan lalu mendorong tubuhku agar begegas menuju kelas.

“tunggu…apa kau gemar sekali bermain sulap?”

“eoh…hahaha…appa yang mengajarinya padaku…sudah sana pelajaran pertama akan dimulai…” ucap Jonghwan seraya mengelus rambutku.

 Kenapa dengan degup jantung ini? Apa yang terjadi? Mungkinkah aku?Dan bisakah untuk saat ini aku melupakan kata-kata “tidak menyukai namja” ?

-O-

Jonghwan’s POV

“sudah sana pelajaran pertama akan dimulai…” ujarku lalu mendorong tubuh Yura agar begegas menuju kelas.

Aku terus memperhatikan Yura hingga ia menghilang di balik lorong yang menuju lantai atas. “Jonghwan-ah…kajja…pesawat sebentar lagi akan berangkat…” suara lembut seorang wanita mengagetkanku. Dia adalah eomma Jimin yang saat ini menjadi wali sahku. Orangtuaku dan Appa Jimin menjadi korban kecelakaan pesawat 2 tahun yang lalu.  Jimin beruntung dibandingkan aku. Dia masih punya eomma yang akan selalu mendampinginya. Mungkin karena hubungan keluarga, eomma Jimin mau mengangkatku menjadi anaknya.

Ahjumma memandangiku lalu tersenyum. “kau tadi bertemu dengan siapa?”tanya ahjumma.

“bertemu dengan…”

“hem…? Dengan pacarmu ya?hahaha…” canda Ahjumma membuat jantungku berdetak dengan keras sesaat.

“eh…hehehe…hanya teman…hehehehe…” jawabku berusaha untuk membohongi ahjumma dan membohongi perasaanku sendiri.

“jangan pernah membohongiku ya…”balas ahjumma tak setuju dengan ucapanku.

“be-benar kok…” ujarku dengan membuat peace sign.

“benar kalau kau bohong kan? Lalu ditanganmu itu apa heh?”

Aku juga ikut memperhatikan pandangan ahjumma yang sangat jelas melotot kearah tanganku. Seuntai tali panjang dengan mainan berbentuk cincin seukuran jari orang dewasa menggulung di tanganku. Benda coklat yang tidak dapat disetarakan dengan gelang bermanik putih yang tadi ku berikan ke Yura. Benda ini terlalu sederhana. Ku pandangi kalung itu dengan nanar.

Ahjumma menggenggam tanganku “kau pasti sedih berpisah dengan dia ya?”tebak ahjumma. Aku menggangguk pelan dan kemudian kamipun melangkah menuju sedan hitam yang dari tadi menunggu.

Bukan hanya itu, aku juga sedih karena terlalu takut untuk mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya.

-O-

Seoul – 8 tahun kemudian

Author’s POV

Seperti biasa Yura menghabiskan waktu dengan bersantai di halte bis sepulang sekolah. Merenungi nasib seraya memikirkan persoalan hidup yang selama ini ia lalui. Yah kenyataan pahit yang harus diterima karena orangtuanya yang berpisah 4 tahun yang lalu. Yura kini tinggal bersama appanya di Seoul. Sedangkan eommanya tetap tinggal di Ulsan. Meski status orangtuanya yang belum sah dikatakan bercerai tetapi teman-teman sekolahnya selalu mengejek bahkan memperolok-olokkan status orangtua Yura. Berbagai macam hinaan untuknya, tapi Yura tetap tegar dengan semua itu. Toh tak ada yang harus ia salahkan, karena kenyataannya memang begitu.

Dan kini Yura tidak lagi menganggap namja itu bersik atau semacamnya. Hatinya saat ini berlabuh pada pria si pemilik gelang bermanik. Yurapun melirik jam tangannya. Tepat pukul 10 malam dan tak satupun bis yang ia naiki. Yura tetap bertahan dengan posisinya, merenung seraya bersandar di kursi halte. Sampai-sampai teguran seseorangpun ia hiraukan.

“nona…tidak baik sendirian di sini…” tegur ahjussi  itu lagi. Pria botak itu mengguncang bahu Yura pelan. Seketika Yura tersadar dari lamunannya yang panjang.

“ah ne…aku akan segera pergi…” jawab Yura dan iapun beranjak dari halte.

Yura berjalan hingga menelusuri gang-gang yang setiap hari ia lewati. Namun ini pertama kalinya Yura melewati gang itu di malam hari. Suasana terasa mengerikan saat ia melewati sebuah rumah mewah bergaya klasik. Rumah berukuran besar dengan perkarangan yang luas. Aungan seekor anjingpun meramaikan perjalanannya. Yura memperhatikan sekeliling lalu mempercepat langkah. Namun sebuah sentuhan mengagetkannya.

“kyaaa….”

“hai nona…sendirian saja?” tanya pria misterius itu seraya tersenyum nakal.

Yura mengabaikan pria itu dan juga ia tidak mau berlama-lama di sana.

“hey nona…kau mau kemana heh? Bisakah kita bersenang-senang dulu?” goda pria itu seraya menggenggam tangan Yura erat. Yura tak segan-segan menghajar pria itu hingga terkapar. Lalu terdengar suara pelan dari sisi gang yang lain.

“berani-beraninya kau menghajar teman kami heh!”orang yang bersuarapun menampakkan diri. Pria jangkung dengan membawa beberapa senjata tajam. Sial, pria itu ternyata tidak sendiri. Dia bersama 4 kawanan lainnya. Yura gelagapan. Enam penjahat tersebut berhasil mengepung Yura. Sehingga tak ada celah baginya untuk kabur.

“ikut dengan kami atau serahkan semua yang kau punya!” paksa salah satu dari mereka seraya mencoba menyentuh Yura.

“aniya!” bantah Yura berani, meski sebenarnya ia takut setengah mati.

“apa salahnya bermain-main sebentar nona!” lengan Yura ditarik secara paksa. Namun dengan cepat ia memberikan pukulan kepada pria yang berhasil membuat lengannya sakit.

“YA! BERANINYA KAU!” Seorang pria berbadan kekar menyergap Yura dari belakang dan hendak menusuk tubuh yeoja itu dengan pisau yang ia genggam. Yura kembali berhasil mengalahkan satu dari 6 penjahat itu.

Brak

Penjahat lainnya berhasil membuat Yura terkapar dan membuat ia pingsan. Saat mereka hendak membawa Yura, tiba-tiba seorang pria menghajar penjahat-penjahat tersebut seorang diri.

“kau tidak apa-apa nona?” pria itu mengguncang tubuh Yura pelan, namun tak ada satupun sautan yang terdengar. Pria itupun membawa Yura ke kediamannya secara sepihak.

-O-

Yura terbangun dari mimpinya. Ia melihat sekeliling dan merasa tempat ini asing baginya. Iapun merasakan sedikit keanehan dengan pakaian yang melekat di tubuhnya, sebuah piyama bermotif garis.  Yurapun memperhatikan lagi setiap sudut ruangan itu. Berbagai macam barang-barang yang berhubungan dengan sepak bola tersusun rapih di setiap meja yang ada di kamar itu. Iapun melirik benda yang menggantung di dinding. Benda itu menunjukkan pukul lima. Yura beralih menatap jendela yang berpapasan di depannya. Terlihat kumpulan awan berwarna orange. “Berarti itu bukan jam 5 pagi melainkan jam 5 sore,aku bolos hari ini” Pikirnya.

Yura mencoba bangkit dari ranjang empuk itu,namun ia merasakan sakit di bagian kepalanya. Yura meraba kepalanya kemudian. Sebuah kain melilit dan membuat Yura terkejut. Ketika Yura mencoba untuk mengingat kejadian yang ia alami,tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Lalu muncul seorang bibi yang berwajah sedikit keriput. Umurnya kira-kira 49 tahun.

“anda sudah bangun nona?syukurlah…” ujar bibi berkacamata itu dan kemudian meninggalkan Yura.

Beberapa saat kemudian bibi itu muncul lagi di hadapan Yura dengan bubur hangat ditambah segelas air putih di sebuah nampan. Bibi itu berjalan mendekati ranjang dan menaruh makanan tadi di samping Yura.

“silahkan dimakan nona…”

“em…bibi aku sekarang ada dimana?”

“malam itu tuan muda membawa nona kemari. Anda pingsan selama dua hari dan pasti kehilangan banyak energi….anda tidak perlu kuatir nona, anda aman di sini…“. Ujar bibi itu ramah lalu beranjak dari kamar tersebut.

***

“Jimin…Jimin…Jimin…kyaaa….!” Teriakan yang sangat keras terdengar dari kursi penonton. Semua yeoja yang hadir dalam memeriahkan pertandingan basket tingkat provinsi itu, terus berteriak memanggil nama idola mereka. Mereka merasa antusias sekaligus memberikan semangat.

Point demi  point tercetak. Pertandinganpun berakhir dengan tercetaknya 3 point oleh Jimin, si pemimpin regu. Dan itu sekaligus membawa Seoul Art High School menjadi pemenang.

“Jimin…kau hebat…kya…”

“Jimin…saranghae…kya…”

“Jimin oppa…you are the best…kya…”

Berbagai macam ungkapan cinta dari fans Jimin terdengar. Dan semua itu membuat Jimin merasa puas. Iapun berjalan menghampiri kursi penonton dengan tampang sok cool. Yah meskipun sebenarnya Jimin adalah namja yang memang cool. Jimin berjalan menghampiri seseorang yang sedang mengangkat air mineral ke arahnya.

“Jimin-ya…ini…”

Jiminpun meraih sebotol air mineral yang ditawarkan. Lalu meneguknya hingga tak bersisa.

“ah…Jimin….neomu-neomu kyeopta!” ungkap orang itu yang kemudian membuat Jimin memandangnya dengan heran.

“ya! Tia! Kau kenapa?”tanya Jimin pada yeoja yang bernama Tia itu.

“huh…kenapa kau tidak pernah peka sih? Kau kan tahu kalau aku…”

Jimin memandangi wajah Tia “kalau kau kenapa heh?”

“ah…tidak jadi…” ujar Tia ditutup dengan ekspresi kesal.

“haha…kalau kau….menyukaiku?” tebak Jimin.

Tia terhenyak lalu mencubit tangan Jimin “babo!” Tia bangkit berdiri hendak meninggalkan Jimin dan tentunya kerumunan yeoja yang entah sejak kapan berada di sekitar Jimin.

“YA!” Jimin menggenggam tangan Tia “kajja…”

Merekapun berjalan tergesa-gesa menuju motor Jimin yang terparkir.

“tidak seharusnya kau bertingkah kekanakkan seperti tadi babo! kalau kau tersesat bagaimana? Kau baru pertama kali ke sini dan berlagak sok ingin kabur…” peringat Jimin setelah mereka berdua berada di atas motor.

“YA! Waeyo? Ottawa jauh lebih keras dibanding Seoul, aku akan baik-baik saja dan bukannya kau juga tidak akan peduli?” Tia kemudian melipat tangannya di dada.

“YA! Nanti aku yang kesulitan tau!”

“waeyo? Kenapa kau merasa cemas heh?”

“memangnya tidak boleh?”

“ya! Apa kau suka padaku?” tanya Tia spontan.

Jimin berpikir sejenak “bisa dibilang begitu…”

Pipi Tia merona sesaat. Jimin memandangnya dengan wajah polos.

“kenapa kau memandangiku heh?” tanya Tia semakin salah tingkah.

“kau terlihat manis…haha…”ungkap Jimin seraya mencubit kedua pipi Tia lalu melajukan motornya.

Yah…meskipun kau lebih manis darinya, tapi aku tetap memilih dia.

“babo!” batin Tia “lalu kita akan kemana sekarang?” tanya Tia.

“terserah aku mau membawamu kemana…”jawab Jimin datar.

“kemanapun itu, yang penting bersama Jimin…” batin Tia dengan malu.

-O-

Yura melahap bubur yang disuguhkan oleh bibi tadi dengan cepat. Ia benar-benar kelaparan dan bubur itu juga sangat enak untuk dinikmati. Saat Yura selesai menikmati hidangan sederhana pelepas laparnya itu,terdengar suara keras dari motor yang memasuki perkarangan rumah tersebut. Yura yang mempunyai rasa penasaran tinggi, ia lalu turun dari ranjang dan melangkah menuju jendela yang berhadapan langsung dengan ranjang.

Dari arah jendela Yura melihat seorang pria berseragam SMA bersama seorang wanita tengah bersenda gurau, lalu merekapun melangkah ke dalam rumah. Bersamaan dengan itu, terdengar suara ketukan dari pintu kamar yang di tempati oleh Yura.

“nona,apakah anda sudah selesai?” tanya bibi seraya menampakkan wajahnya dari balik pintu.

Yura hanya menjawab dengan anggukan pelan.

“kalau begitu saya akan membersihkannya…” balas bibi. Ia melangkah menuju meja yang berada disamping ranjang lalu membersihkannya.

“ah…bibi…laki-laki dan perempuan tadi siapa ya?” tanya Yura seraya menunjuk jendela.

“oh…dia tuan muda Jimin bersama nona Tia…sepertinya tuan muda baru selesai mengikuti pertandingan…nona, jika anda masih merasa pusing, sebaiknya anda jangan banyak bergerak dulu…arraseo?” ujar bibi dengan tersenyum simpul.

“ne…tapi,siapa tadi yang bibi bilang? Tuan muda?”

“tuan muda Jimin….saya permisi nona…”

Jimin? Sepertinya aku mengenal nama itu.Apakah dia?

-O-

Seorang laki-laki dengan mengenakan seragam SMA tengah duduk menghadap lapangan sepak bola. Sejam yang lalu pria itu menghabiskan waktunya dengan melihat enam orang bocah sd sedang bermain sepak bola. Saat tengah asik menonton, tiba-tiba bocah berkepala botak menendang bola keluar lapangan dan mengarah ke laki-laki itu.

Laki-laki itu bangkit dari duduk dan meng-heading bola tersebut. Iapun men-dribbling bola ke tengah lapangan dan men-shooting bola dengan kekuatan penuh, alhasil memberikan sebuah gol. Dengan senyum yang terkembang, siswa itu berjalan ke luar lapangan hendak meraih ranselnya. Seketika bocah-bocah yang berada di lapangan menghampiri laki-laki tersebut dengan rasa kagum yang luar biasa.

hyung…tadi sungguh tendangan yang keren…”

“kau mau tidak mengajari kami beberapa teknik sepak bola?”

“namamu siapa hyung?kau pasti termasuk salah satu pemain tim kesebelasan sekolahmu kan?” pertanyaan bertubi-tubipun mengarah padanya. Siswa SMA itu mengubar senyum dengan rasa bangga.

“haha…aku Jonghwan…dan aku bukan pemain kesebelasan, anak muda!haha…teruslah berlatih dan berikan yang terbaik…arasseo?” ucap Jonghwan seraya mengelus kepala salah satu bocah. “selalu semangat dan jangan menyerah…annyeong…”. Jonghwanpun meninggalkan bocah-bocah itu menuju motor putihnya.

“Jonghwan hyung keren ya…pasti banyak yeoja yang suka padanya…”komentar bocah yang berkepala botak.

“haha…apa yang kau bicarakan heh?” balas bocah yang memakai ikatan kepala. “lagi pula aku tidak suka dengan salah satu kata-katanya..”

“heh? Kata yang mana?”

aku bukanlah pemain kesebelasan, anak muda! Bukannya dia juga masih muda?…seperti yang hyung katakan,kita harus berlatih lagi,ayo semangat…” ke enam bocah tadi melanjutkan latihan mereka.

-O-

Yura kembali berbaring di ranjang. Kepalanya terasa pusing dan dia memutuskan untuk tidur lagi. Namun pintu kamarnya terbuka dan terlihatlah seorang siswa berseragam SMA dengan membawa ransel besar. Spontan Yura terbangun dan menatap laki-laki itu, yang tidak lain adalah Jimin. Jimin terlihat kaget dan balas menatap Yura. Yura dan Jiminpun merasa kenal satu sama lain.

“Ya! Jimin…ini kamarmu?” suara Tia tiba-tiba mengagetkan Jimin dan Yura. Tia yang tadinya berada di belakang Jimin kini melangkah memasuki kamar itu. Dan betapa terkejutnya ia melihat Yura yang terbaring di atas ranjang dengan mengenakan piyama. “Omona! Dia siapa?” kaget Tia seraya menunjuk yeoja asing di depannya. “di dia…pa..pa..pacarmu?” tanya Tia pada Jimin yang langsung menebak. Meski jika benar tebakannya itu akan membuatnya merasa sedih.

“ah…haha…babo…” jawab Jimin seraya memukul kepala Tia pelan. “mana mungkin…” sambung Jimin lagi.

“oh…Tia-ya…”

Jimin  dan Tia dikagetkan oleh kedatangan seseorang.

“oh…Jonghwan?”balas Tia

“sudah lama tidak bertemu…”sapa Jonghwan. “ah ne…” balas Tia.

“ya! Siapa yang kau bawa ke rumah heh?bahkan dia yeoja yang pertama kali tidur di ranjangmu kan?”tanya Jimin seraya melebarkan pintu kamar tersebut. Tampak Yura yang masih memasang ekpresi kagetnya.

“hahaha…kau pikir aku laki-laki seperti apa heh?lihat kalian membuat istirahatnya terganggu tahu…bubar-bubar haha…”ujar Jonghwan seraya tersenyum kepada Yura.

“ah… aku kemari hanya untuk mengambil PRku…sudah kau kerjakan?”

“ya ya, aku belum menyelesaikannya, nanti akan kuantar ke rumahmu…”

“hah…terserah kau sajalah…aku pergi…”pamit Jimin seraya menarik Tia.

“oh iya…sepertinya aku mengenal perempuan itu…” bisik Jimin. Jonghwan hanya membalas dengan senyuman.

-O-

Jonghwan melangkah menuju ranjang. Iapun tersenyum pada Yura dan menaruh ranselnya di atas ranjang. “kau sudah sadar rupanya,bagaimana kondisimu Yura?”

Yura kaget lalu menatap Jonghwan. “kau kenal aku?”

“haha…di dunia ini mana mungkin ada yeoja yang mempunyai gelang yang sama seperti punyamu…”jawab Jonghwan. Yurapun melirik benda yang melingkar di pergelangan tangannya. Kemudian dia teringat sesuatu.

“kau…bocah pesulap berkacamata itu?”tanya Yura sedikit canggung.

“jangan canggung begitu, kita ini kan teman lama….hahaha…tidak ku sangka kau masih memakainya…bukankah ini sudah 8 tahun?oh ya…aku Jonghwan dan sekarang aku bukanlah seorang bocah…kau harus ingat itu!” ujar Jonghwan seraya mengetuk kepala Yura dengan jari telunjuknya.

“jadi…malam itu…kau yang menyelamatkanku?”

“eoh…kau sungguh beruntung…kalau tidak mungkin mereka sudah.. ‘meng-ha-bi-si-mu’…”ucap Jonghwan seraya memperhatikan tubuh Yura dengan tatapan menyelidik.

“bo?”

“hahaha….”

“hem…gomawoyo…” ucap Yura.

“mana telapak tanganmu…”perintah Jonghwan. “heh? Buat apa?”

“sudah mana…”

Yurapun memberikan tangannya. Jonghwan menggenggam tangan Yura dan sedetik kemudian sebuah lollipop berada di dalam genggaman Yura. “kau suka tidak?” tanya Jonghwan.

Yura mengangguk pelan “gomawoyo…hem…itu…laki-laki yang tadi, apakah dia Jimin?”

“eh…ne…kenapa?”

“ah..tidak…”

Berarti dugaanku memang benar karena hanya Jimin yang menatapku seperti itu.

“sekali lagi, terimakasih untuk semuanya. Appa pasti cemas denganku, aku harus cepat-cepat pulang…”ujar Yura seraya turun dari ranjang.

“kau mau pulang? apa tidak apa-apa dengan kondisi seperti ini?”

Yura mengangguk pelan.

“kalau begitu ku antar ya, kau bersiap-siaplah dulu, aku akan menunggumu di bawah, oh ya itu seragam dan ranselmu…” ucap Jonghwan seraya menunjuk meja yang letaknya tidak jauh dari ranjang.

“hem…ne…”

-O-

Jimin hanya memperhatikan eskrim yang berada di tangannya. Ia terlihat tidak bernafsu dengan es krim vanilla itu. Sedangkan Tia sangat tertarik bahkan sudah menghabiskan tiga buah es krim yang tadi mereka beli.

Seperti ada sesuatu yang mengganggu pikiran Jimin. Bayangan wajah Yura terpintas di pikirannya. Seketika Jimin mengerjapkan kedua bola matanya. Ia menjadi salah tingkah dan membuat Tia merasa heran dengan tingkah lakunya.

“ya! Apa yang sedang kau pikirkan Jimin?” tanya Tia dan membuat Jimin sedikit kaget.

“ah…aku tidak memikirkan apa-apa…” jawab Jimn datar.

“tapi kenapa kau belum memakan es krim mu heh? Lihat tuh sudah meleleh…hah…kau pasti memikirkan sesuatu kan?” tanya Tia. Tapi kali ini pertanyaannya seperti memaksa Jimin untuk mengatakan ‘iya’.

“bu..bukan kok…”

“halah…atau jangan-jangan…kau memikirkan perempuan tadi kan?”

“bo? Mana mungkin lah…”

Tia tiba-tiba menunduk lalu berkata “Jimin-ya! Aku bisa membedakan mana yang bohong dan mana yang tidak, aku tahu kau pasti punya hubungan dengannya dulu, karena itu saat kau menatap perempuan itu, aku merasakan sesuatu diantara kalian…”

“ya! Apa yang kau katakan? Babo!”

“aku benar kan?” Tiapun kembali menatap Jimin tapi tatapannya seperti menahan sesuatu. Tangis.

“Tia-ya…”

“apa kau tahu, aku pindah ke Seoul untuk apa heh?” Tia kembali menunduk. “aku ke sini hanya untuk mengejarmu! Aku tidak mau lagi berada jauh darimu! Apa kau tahu yang kurasakan jika aku tidak bersamamu?”

Jiminpun memeluk Tia “babo! kau tidak boleh berkata seperti itu…aku akan selalu berada di sampingmu kok…aku janji…”

Tia hanya diam tidak membalas pelukan itu. Tangannya terasa kaku untuk melakukannya. Karena perasaannya yang mulai terasa jauh dari Jimin. Seperti ada tembok besar yang membatasi dirinya dengan Jimin.

Jimin meraih kepala Tia dan menyenderkan ke bahunya. “ya kau memang selalu di sampingku, tapi hatimu tidak…” ucap Tia dan seketika membuat Jimin terkejut.

“ya! Kau kenapa sih panda?”

Tia terkejut dengan ucapan Jimin. Ya, sudah lama Tia tidak mendengar Jimin memanggil dia dengan sebutan panda.

“hahaha…ternyata aku masih bisa mendengar sebutan itu darimu…” Tia diam sesaat lalu “hah aku mengantuk…kkajja…kita pulang saja…” ujar Tia seraya menarik Jimin. Dan merekapun meninggalkan Sungai Han malam itu.

-O-

-Dua minggu kemudian-

Yura’s POV

Setelah kecelakaan yang menimpaku, luka di kepalaku sudah bisa dikatakan sembuh. Aku dan Jonghwanpun saat ini mulai berteman akrab. Yah meskipun kami tidak satu sekolah, tapi Jonghwan sering mengunjungiku.

Seperti biasa, sepulang sekolah aku akan menghabiskan waktu dengan duduk di halte sambil mendengar lagu dari ipodku. Ini sudah menjadi kebiasan bahkan akan menjadi hobi baru bagiku. Yah, aku akan merasa bosan jika terus-terusan sendirian di apartement. Apa yang akan ku lakukan di sana saat appa ke luar kota?

Saat ini keadaan di halte sangat ramai. Aku lebih memilih duduk menjauhi keramaian dan menikmati duniaku sendiri. Beberapa saat kemudian seorang laki-laki berseragam SMA duduk di sampingku dengan mengambil jarak beberapa centi. Spontan aku menoleh menatap orang itu dengan ekspresi sedikit kaget.

“ya…kau masih ingat aku kan?”

Aku segera melepas earphone yang menggantung di kedua telingaku. Ekspresi wajahku yang tadinya terlihat kaget kini berubah menjadi datar.

“ah…sepertinya aku harus lebih memperjelasnya…” ujar laki-laki itu yang kemudian membuatku heran. “kau masih ingat dengan bocah yang dulunya kau hajar? Oh ya…bahkan kau membuat wajahnya memar” laki-laki itu mengambil napas sesaat lalu melanjutkan ucapannya lagi “entah kenapa kau dipertemukan lagi dengannya… dan apa kau tahu aku tidak pernah melupakan wajahmu Yura…”

Aku kembali memasang earphone di kedua telingaku. Berusaha untuk mengabaikan ucapan dari laki-laki itu. Jimin.

“ya…dan kau harus membayar perbuatan yang telah kau lakukan padaku…”ancam Jimin seraya menarik earphone yang  menggantung di telinga kananku. “kau harus membayarnya dengan ini…” ujar Jimin seraya menyentuh bibirku dengan jari telunjuknya.

Wajahku langsung memanas dan mendorong tubuh Jimin. “apa yang kau lakukan heh?” teriakku lalu berjalan menjauhi halte.

Jimin meraih tanganku dan membuat langkahku terhenti “kau mau kemana?”

“pulang…”jawabku ketus.

Jimin menarik tanganku “pulang denganku saja…”

Aku langsung melepas tangannya. “tidak perlu!” Akupun langsung menyeberangi jalan dengan langkah yang cepat. Dan tidak kusangka Jimin malah mengikutiku hingga aku sampai di apartement, dimana aku tinggal bersama appa. Aku menekan tombol lift menuju lantai 30. Dan sialnya Jimin masih mengikutiku dan masuk ke dalam lift yang sama.

“oh…jadi kau tinggal di apartement ini…”

“bisakah kau tidak mengikutiku lagi?”pintaku dengan nada kesal.

“kalau terjadi sesuatu padamu bagaimana?”

“apa urusannya denganmu heh?”tanyaku dengan sedikit berteriak. Aku benar-benar benci pria ini.

“ya! Ternyata kau masih memakai itu…”ujar Jimin seraya memandangi gelang yang kupakai. Aku lalu menyentuh gelang itu “me..memangnya kenapa heh? Lagipula apa urusanmu dengan benda ini?”

“hah babo! aku menitipkan gelang itu pada Jonghwan untuk diberikan padamu…dan ternyata kau mau memakainya…”

Kedua bola mataku membesar seketika “gelang ini darimu?” tanyaku dengan perasaan tak yakin.

“hahaha…kau pikir dari siapa heh?“

Aku terdiam sejenak. Berarti selama ini, aku salah mengira bahwa yang memberiku gelang ini adalah Jonghwan.

“ya…kau masih ingat dengan kata-kataku yang di halte kan?”

Jimin berjalan mendekatiku. “apa yang mau kaulakukan heh?”teriakku seraya berjalan mundur.

“aku rasa kita sudah cukup dewasa untuk melakukannya…”

“ma…maksudmu?”

Jimin mendorong tubuhku hingga membentur salah satu sisi lift. Telapak tangan kanannya menyentuh sisi lift yang berada di belakangku. Sedangkan tangannya yang satu lagi meraih daguku. Sedetik kemudian Jimin mendekatkan wajahnya ke wajahku dan…

-O-

Jonghwan’s POV

Aku menyempatkan diri untuk menemui Yura. Dengan pakaian casual dan ditambah tampilan gaya rambut yang berbeda dari biasanya, aku melangkah menuju apartement Yura. Untung saat itu aku yang mengantar Yura pulang dan mengetahui di mana apartementnya. Ternyata Yura tinggal, tidak jauh dari rumahku.

Hari ini aku berencana untuk mengajak Yura ke tepi Sungai Han. Aku merasa Yura pasti sangat suka dengan tempat romantis seperti itu. Dan lagi pula aku ingin mengatakan sesuatu padanya. Memang aku tidak bisa membohongi perasaanku bahwa aku masih menyukai Yura dan sampai saat ini belum ada wanita yang bisa menggantikan posisinya di hatiku. Dan aku mulai menyimpulkan kalau aku benar-benar menginginkan Yura, bukan sekedar sebagai teman tapi lebih dari itu. Yura harus tahu perasaaanku meski kemungkinannya dia menyukai pria lain.

Aku menekan bel beberapa kali. Tapi tetap tidak ada yang menyahut. Dan akupun memutuskan untuk membatalkan rencana hari itu. Mungkin ini belum waktunya. Akupun menaruh sebuket mawar putih yang tadinya ku bawa di depan pintu apartement Yura lalu berjalan menuju lift.

Aku sudah berada di depan lift dan menunggu pintu lift terbuka. Dan saat aku ingin melangkah masuk. Tiba-tiba pemandangan yang tidak mengenakan tertangkap oleh kedua bola mataku. Dua orang anak muda yang memakai seragam SMA.  Aku sangat mengenal mereka. Mereka saling menjauhkan wajah lalu menatapku dengan ekspresi kaget. Apa yang barusan mereka lakukan?

“ka…kalian? A…a…apa aku mengganggu?”

Sakit. Dadaku terasa sakit saat itu juga.

-O-

Yura’s POV

Jimin mendekatkan wajahnya, menutup matanya dan…

Ting!

Pintu lift terbuka. Jimin tersadar dan kembali membuka matanya. Aku menghela napas dan mencoba mengatur detak jantungku yang tadinya berdegup kencang sekali. Terimakasih Tuhan, Kau menyelamatkanku.

Tapi saat aku menoleh ke arah pintu lift. Bola mataku membesar, melihat Jonghwan yang berdiri termangu di depan kami. Perasaankupun terasa tidak enak. Deg…di satu sisi, aku merasakan sakit di hatiku dan akupun tidak bisa mendengar dengan jelas kalimat yang Jonghwan katakan setelah itu.

-O-

Jonghwan’s POV

“ka…kalian? A…a…apa aku mengganggu?” tanyaku kemudian memecah kesunyian yang berada di sekitar kami.

Bruk!

Tubuh Yura tiba-tiba jatuh di lantai lift dan tidak sadarkan diri. Spontan aku menggendong Yura ke luar lift seraya memanggil namanya berkali-kali. “Jimin-ya, bisakah kau membeli air minum untuknya?”

“ah…ne…” ujar Jimin lalu berlari menuju lantai bawah.

Akupun membaringkan tubuh Yura di depan pintu apartementnya seraya menepuk pipi Yura beberapa kali agar ia terbangun. Dan entah kenapa bola mataku bergerak memperhatikan bibir Yura yang tipis dan berwarna pink lembut itu. aku menatapnya dengan tatapan nanar. Ternyata aku bukanlah pria pertama yang merasakannya.

“Yura…Yura…Yura…bangunlah…”teriak ku panik.

Perlahan ku lihat Yura membuka matanya. Bersamaan dengan itu Jimin sudah berada di dekatku dengan membawa sebotol air mineral.

“ini…minumlah…” Ku buka tutup botol air mineral itu. Yura kemudian menyeruput air itu. “apa yang kau rasakan?”

“aku sedikit pusing…”

“sebaiknya kau beristirahat di dalam…”

Aku membantu Yura berdiri dan iapun menekan beberapa digit nomor untuk membuka pintu apartementnya.“Jimin-ya, bisakah kau membawa mawar itu ke dalam?”tanyaku seraya melirik sebuket mawar putih yang terletak di depan pintu. Jimin menatapnya sebentar lalu meraih mawar itu. Akupun menggendong Yura dan membaringkannya di atas sofa. Aku melihat sekeliling. Apartement Yura ternyata sangat besar dan terasa nyaman.

“Ya! Apa yang kau lakukan di apartement ini eoh?” tanya Jimin dari arah pintu masuk. Aku menghampiri Jimin lalu tersenyum tipis.

“aku? Aku ingin mengajak Yura berkencan, tapi sepertinya dia sudah memiliki pria lain…” Aku menghela napas “hah…tapi…aku tidak akan menyerah untuk merebutnya darimu…”

Jimin tersenyum lalu berkata “tidak semudah itu merebutnya dariku…aku…” saat Jimin hendak melanjutkan ucapannya, tiba-tiba terdengar ponsel Jimin bordering. Jimin mengangkat panggilan itu yang ternyata dari Tia.

“Ya! Coz this momment, can you save Yura for a while?”

Aku tersenyum dan mengangguk. “and keep mind, Yura is mine ! Arraseo?” Jimin menepuk bahuku lalu melangkah pergi. Sedangkan aku sedikit tertawa mendengar ucapannya.

“Yura…apa kau baik-baik saja jika…” aku menoleh dan melihat Yura yang ternyata tertidur di atas sofa.

Dia pasti sangat kelelahan. Tapi aku harus membaringkannya di tempat tidur.

Akupun menggendong Yura dengan hati-hati dan membuka pintu salah satu kamar. Aku membaringkan tubuh Yura di atas ranjang dan melepas kedua sepatunya. Aku juga menyelimuti Yura. Lalu berjalan keluar seraya menghidupkan lampu kamar itu.

Ku lirik jam yang melingkar di tanganku. Tepat pukul 6 sore. Akupun melangkah ke arah dapur dan mencari beberapa bahan makanan yang bisa ku buat untuk makan malam Yura.

Dua jam berlalu, semua masakan yang kubuat telah terhidang di meja makan. Aku kemudian melepas rasa letih dengan duduk di sofa. Dan setelah itu baru aku akan pergi.

-O-

Yura’s POV

Aku melangkah ke luar kamar appa. Akupun melihat Jonghwan yang tertidur di sofa. Aku melangkah mendekatinya lalu memandanginya yang sedang tertidur pulas. Wajahnya terlihat damai dan tenang. Hembusan nafasnya terdengar teratur dan menentramkan. Dan entah kenapa pandanganku beralih memperhatikan bibir Jonghwan. Akupun menggeleng pelan dan menyentuh wajahku. Panas. Aku merasakan panas di kedua pipiku. Dan untung saja, saat di lift Jimin tidak menciumku. Hah…aku benar-benar lega. Karena namja yang ku suka adalah dia. Aku tersenyum manis memandangi wajah polos Jonghwan.

Tiba-tiba Jonghwan membuka matanya. Aku menjadi salah tingkah dan pura-pura memalingkan wajah.

“Yura…?” ucap Jonghwan, lalu ia bangun dan mengubah posisi menjadi duduk. “kau sudah bangun? Ah..ternyata aku tertidur, oya aku sudah membuatkan masakan untukmu, dimakan ya, aku pergi…annyeong…” ucap Jonghwan seraya melangkah menuju pintu ke luar.

“ Jonghwan-ah…bagaimana kalau kita makan bersama saja?”

-O-

“ya…appamu mana?”

“hari ini appa ke luar kota dan akan pulang lusa…”

“jadi kau tinggal sendiri?”

Aku mengangguk pelan.

“sendiri ya…begitu…” nada bicara Jonghwan merendah lalu “ya! Apa aku tidak apa-apa di sini?” nada bicaranya kemudian berubah sedikit meninggi. Dia terlihat lucu.

Aku tertawa sebentar “hahaha…kau kan tidak melakukan apa-apa…santai saja…sini biar ku bersihkan…”

Akupun mengangkat piringku dan piring Jonghwan, mencucinya dan membersihkan meja makan. Jonghwan lalu duduk di depan tv seraya meluruskan kaki dan bersandar ke sofa. Lalu aku melihat dia memejamkan matanya sebentar.

Setelah selesai membersihkan meja makan. Aku menghampiri Jonghwan lalu duduk di sebelahnya.

“hah…bagaimana kalau kita nonton saja ya…biasannya jam 10 malam ada film horror loh…”

“hah? Benarkah? Kau suka film yang begituan?”

“memangnya kenapa?”

“biasanyakan perempuan suka menonton film yang romantis atau sejenisnya…”papar Jonghwan.

“hem…tidak juga kok…selain film horror aku juga suka film action, sangat keren…”

Jonghwan hanya tertawa mendengar ucapanku.

“supaya menghangatkan suasana, lampunya ku matikan ya?”

“apa tidak apa-apa?” tanya Jonghwan. “kau tidak takut?” sambung Jonghwan lagi.

“haha….aku setiap hari juga nonton film horror sendirian kok…”

Klek

Setelah mematikan lampu. Aku kembali duduk di samping Jonghwan dan menyalakan tv.

-O-

Author’s POV

Betapa terkejutnya Yura dan Jonghwan dengan siaran tv yang sedang terputar. Sepasang orang dewasa yang sedang melakukan adegan kissing. Pastinya adegan itu yang akan membuat kedua pipi mereka memerah dan jantung mereka berdegup kencang.

“omona…kenapa remotnya tidak berfungsi…” ucap Yura panik seraya terus berusaha menukar siaran tv. Yura melirik Jonghwan yang tatapannya masih melihat ke arah tv.

“ya ya…” tegur Yura dan segera menutup mata Jonghwan.

“apa yang kau lakukan?” tanya Jonghwan datar seraya menjauhkan tangan Yura dari wajahnya.

“ya….kau tidak boleh melihatnya…”

“melihatnya?” Jonghwan memandangi Yura. “ Oh begitu…kalau aku yang mempraktekannya?”ujar Jonghwan lalu menarik wajah Yura mendekati wajahnya. Yura panik, namun Jonghwan berhasil membuatnya tidak berkutik. Wajah mereka semakin dekat bahkan Yura dapat melihat dengan jelas tahi lalat yang berada di bawah mata kiri Jonghwan. Jonghwan kemudian menutup matanya lalu…

——-

——-

“aaa…..mianhae….Yura mianhae…” ujar Jonghwan lalu menjauhi wajahnya dari wajah Yura. “aku pasti membuatmu takut ya? mianhae…tidak seharusnya aku melakukan hal bodoh seperti itu…bukankah aku tidak boleh merebut ciuman kalian?” sesal Jonghwan seraya mengacak rambutnya.

Yura yang speechless kembali bertingkah normal “ahahahaha….kau kan tidak melakukan apa-apa….hahahaha…ngomong-ngomong…. ‘aku tidak boleh merebut ciuman kalian?’ maksudmu?”

Yura tersadar sesuatu. Jangan-jangan Jonghwan…

DUAR!!!

Saat Jonghwan akan menjawab pertanyaan Yura, terdengar ledakan dari arah luar apartement. Spontan Yura dan Jonghwan menoleh ke arah jendela dan terlihatlah kerlap-kerlip kembang api yang meletus di langit. Terlihat indah dan meriah. Mereka kemudian naik ke atas sofa dan menyaksikan pesta kembang api itu.

“waaaa…..bagus sekali…” kagum Yura.

“ya…tapi kenapa ada pesta kembang api malam ini…?”tanya Jonghwan heran.

“ya! Ini kan perayaan hari imlek…”jawab Yura dan wajahnya masih terlihat kagum akan keindahan objek yang ditangkap oleh kedua matanya itu.

“oh…begitu….”ucap Jonghwan lalu turun dari sofa.

“loh…kau mau kemana?”tanya Yura seraya memperhatikan tubuh Jonghwan yang berjalan menuju pintu keluar.

“aku mau pulang…jaga dirimu ya….annyeong….”teriak Jonghwan dari balik pintu.

“tu…tunggu…”teriak Yura lalu mengejar Jonghwan. Namun Jonghwan tidak ada lagi di sana, hilang dengan sekejap.

Kau belum menjawab pertanyaanku Jonghwan.

-O-

Hari ini Yura kembali melakukan hal yang sudah menjadi hobinya. Memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di depan halte seraya mendengar musik kesukaannya. Tidak banyak orang yang menunggu bis sore itu. Mereka lebih memilih berjalan kaki ketimbang menaiki bis. Tak ada rasa bosan yang Yura rasakan. Dia terlalu asik menikmati dunia hayalnya. Yura memejamkan mata sejenak, mencoba untuk hanyut dalam lantunan musik itu.

“ya! Apa kau setiap hari melakukan ini heh?”tanya seseorang yang membuat Yura melebarkan matanya. Yura menatap orang itu dengan sedikit kesal. Bagaimana tidak, mood baiknya berubah drastis saat melihat wajah orang itu telah berada di depannya. Sungguh hari yang buruk. Pikir Yura.

“kau lagi…heh…memangnya ini menyangkut urusanmu apa?aish…jinja…” ujar Yura kesal,lalu berjalan meninggalkan halte.

“ya!” orang itu, yang tak lain adalah Jimin menarik Yura kedalam dekapannya. “kenapa kau terus menghindar?apa kau sangat membenciku sampai-sampai kau selalu bersikap seperti ini eoh?” tanya Jimin dengan nada pelan. Ini adalah hal yang tidak wajar dilakukan oleh pria seperti Jimin yang memiliki nada bicara sedikit kasar.

“lepaskan…”teriak Yura lalu menyadari tatapan orang-orang yang mengarah pada mereka.

“aniyo…”jawab Jimin datar. Ia semakin mempererat dekapannya.

“ya! Lepaskan! Apa sih mau mu heh?”

“yang ku mau?…hatimu…”

Deg

Jantung Yura berdetak semakin cepat. Ia tidak menyangka dengan kata-kata yang baru saja Jimin ucapkan.

“bagaimana? Apa kau mau memberikannya?” tanya Jimin lagi.

Yura mendorong tubuh Jimin agar menjauh darinya. “aniya…”jawab Yura lalu berjalan meninggalkan Jimin.

Sementara itu seseorang tengah memperhatikan Yura dan Jimin dari kejauhan.

Tia’s POV

Hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku dan Jiminpun telah berencana untuk pergi ke Amusement Park sepulang sekolah nanti.  Dengan wajah ceria diiringi langkah bersemangat, aku berjalan menuju kelas Jimin. Tidak jauh dari kelasnya, aku melihat Jimin berjalan santai kearah tangga. Akupun mengikuti Jimin hingga ia berjalan ke luar perkarangan sekolah.

“Jimin! Jimin!” aku berteriak memanggilnya, namun Jimin sama sekali tidak berpaling ke arahku.

“apa dia melupakan janjinya?”pikirku. Akupun memutuskan untuk mengikuti Jimin.

Saat aku sampai di halte dekat sekolah. Aku melihat Jimin sedang bersama seorang gadis yang juga memakai seragam. Aku lebih terkejut lagi saat Jimin memeluk gadis itu di depan umum. Hatiku terasa sakit dan ingin meluapkan kemarahanku saat itu juga.

Tidak berapa lama, gadis itu mendorong Jimin lalu berjalan meninggalkannya. Jiminpun juga mengejar gadis itu. Aku tidak tinggal diam, aku mengikuti mereka hingga sampailah kami di sebuah apartement.

-O-

Jonghwan’s POV

Jika koin ini menunjukkan gambar aku tidak akan melakukannya. Tapi jika sebaliknya aku harus melakukannya.

Aku melempar koin dan ternyata yang muncul adalah angka. Aku tersenyum lalu segera bersiap-siap untuk menemui Yura. Karena ini saatnya untuk mengungkapkan perasaanku padanya.

Setelah merapihkan pakaian akupun melangkah dengan mantap menuju bagasi untuk mengambil motor dan segera menuju apartement Yura.

Tia’s POV

Aku terus mengikuti Jimin dan yeoja itu hingga mereka menaiki lift. Saat aku hendak masuk ke dalam lift yang berbeda, tiba-tiba seseorang memanggilku.

“Tia-ya…”

Aku menoleh dan menatap pria yang berteriak memanggilku. “Jo….Jonghwan?” ucapku terbata. Jonghwan berlari kecil menghampiriku yang hampir masuk ke dalam lift. Dia tersenyum lalu berhenti tepat di depanku. “kau mau kemana?”tanyanya yang berhasil membuatku tertegun.

Deg…

Jantungku berdetak keras. Aku bingung untuk menjawab apa. “a….aku….”

“hem…?”

“a…aku ingin mengunjungi temanku….”ucapku berhasil untuk mencari alasan yah meski alasan berbohong. Aku tidak ingin Jonghwan mengetahui kalau aku diam-diam mengikuti Jimin. Aku akan benar-benar malu jika dia tahu.

“oh…kebetulan sekali…aku juga ingin menemui temanku…sepertinya kau ingin ke lantai atas juga kan? kalau begitu…kita sama-sama ke atas saja…” ujar Jonghwan seraya menarikku ke dalam lift.

Omona! Gawat!

Yura’s POV

Jimin menggenggam tanganku saat kami keluar dari dalam lift. Aku mencoba terus untuk melepas genggamannya, tapi Jimin malah menahan tanganku. Aku semakin kesal dan kemudian berteriak “YA!LEPASKAN AKU!” ujarku dengan napas turun naik.  Jimin melepas tanganku lalu menatap mataku dengan ekspresi dingin.

“YA! BISAKAH KAU LEMBUT SEDIKIT?” tanyaku dengan nada membentak. “JANGAN IKUTI AKU LAGI!” teriak ku sambil menatap wajahnya. Jimin hanya diam dan terus menatapku. Saat ini aku ingin sekali memarahi ataupun memukulnya. Aku benar-benar kesal.

“Ya! Sebenarnya apa yang kau inginkan heh? apa mau mu?” lagi-lagi nadaku meninggi. Jimin meraih wajahku. “sudah berapa kali ku bilang, kalau aku menginginkanmu Yura” ujarnya seraya memelukku.

Deg…

“kau hanya mempermainkanku saja kan?” tanyaku seraya melepas pelukan itu dengan paksa.

Jimin menunduk sesaat lalu menatapku lagi “ani…aku sangat mencintaimu…”

Deg…Deg…Deg…

Langit terasa runtuh saat itu juga. Aku benar-benar speechless. Dan aku tidak ingin untuk langsung percaya akan ucapannya itu. Mungkin saja dia ingin membuatku seperti orang bodoh kan?

“bohong…” ucapku datar. Jimin menarik tubuhku lalu….

CUP~

-O-

Jonghwan’s POV

Aku bertemu dengan Tia lalu kamipun sama-sama menuju lantai 30. Aku ingin bertemu dengan Yura sedangkan Tia akan mengunjungi apartement temannya, yang ternyata se-apartement dengan Yura. Yah ini kebetulan sekali bukan?

Aku dan Tia memang tidak seakrab dia dengan Jimin. Tia adalah teman Jimin yang dulunya tinggal di Ottawa. Rumah mereka bersebelahan dan mereka berteman sejak kecil. Jimin yang memperkenalkan aku dengan Tia saat aku ikut dengan Jimin tinggal di Ottawa. Tia adalah anak tunggal. Karena itu dia selalu manja bila di dekat Jimin. Dan aku tahu kalau Tia sangat menyukai Jimin.

Dan mungkin ini alasan dia untuk pindah ke Seoul adalah untuk mengejar orang yang dicintainya.Yah, sama halnya denganku yang sedang berusaha untuk mengejar Yura. Meskipun kenyataannya, Yura dan Jimin sudah bersama. Dan mungkin saja tak ada celah bagiku di hati Yura. Tapi aku harus tetap mengatakan perasaanku yang sebenarnya. Apapun hasilnya aku harus tetap melakukannya. Ya Harus!

Setelah mengobrol sebentar di dalam lift. Aku dan Tiapun sampai di lantai 30. Saat kami berjalan ke luar tiba-tiba pemandangan kami langsung tertuju ke arah lorong apartement.

“Ji….Jimin-ya….!!” Teriak Tia kaget saat melihat objek yang berjarak beberapa meter di depannya. Jimin yang sedang membelakangi kami seraya berdiri di depan seorang wanita, dan dia pasti Yura. Mereka berdiri sangat dekat dan bertahan lama dengan posisi itu. Aku dan Tia sangat tahu apa yang mereka lakukan. Kissing?

Beberapa detik kemudian Jimin malah memeluk Yura dan saat itu juga Yura baru menyadari kehadiran kami.

“JIMIN!!” teriakTia lebih kencang dari sebelumnya.

Tanganku spontan mengepal. Hatiku sakit, terasa disayat oleh sebilah pedang yang tajam. Ku tatap Tia yang mulai menitikkan air matanya. Jika aku seorang perempuan mungkin aku akan menangis saat itu juga.

Aku berjalan cukup cepat menghampiri Yura dan Jimin. Jimin yang baru menyadari kehadiran kamipun ikut membalikkan tubuh ke belakang. Menatapku yang balas menatapnya dengan cambukan amarah.

BRUK!

Satu pukulan mendarat mulus di wajah Jimin. “maaf… tapi aku benar-benar tidak suka melihat wanita yang ku suka berciuman dengan pria, meskipun itu adalah namjachingunya…” ucapku seraya menarik tangan Yura dengan paksa.

Author’s POV

Jonghwan dan Yura berjalan meninggalkan Jimin yang berdiri dengan wajah menunduk lalu berjalan melewati Tia yang sesegukan. Yura menatap Tia dengan perasaan menyesal. Dan batin Yurapun terasa terpukul. Ini semua adalah salah Jimin. Dia harus bertanggung jawab karena sudah membuat Jonghwan dan Tia salah paham. Ya memang Jimin mencium Yura tetapi ciuman itu tepat mengarah ke hidungnya.

“Jo…Jonghwan…sakiiit…” rintih Yura seraya melirik tangannya yang digenggam kuat oleh Jonghwan. Jonghwan hanya diam dan merekapun masuk ke dalam lift.

Lalu dengan gerakan perlahan Jonghwan melepas genggamannya di tangan Yura. Pria itu menyandar ke sisi lift lalu menunduk. Wajahnya tertutup oleh poninya yang terurai.

“Jo…Jonghwan…ini tidak…sep…”Yura mencoba menjelaskan tapi Jonghwan dengan cepat menyela ucapan Yura.

“ini sudah kedua kalinya….bagaimana?” tanya Jonghwan masih dalam keadaan menunduk.

“eoh?” Yura bingung dengan pertanyaan Jonghwan itu.

“Apakah kau merasa tenang setelah berciuman dengannya?” tanya Jonghwan lagi lalu mengangkat wajahnya. Matanya terlihat berkaca-kaca. “bagaimana eoh?” ujar Jonghwan dan setetes air bening jatuh dari mata kirinya.

Bola mata Yura membesar. Ia tidak mengira kalau Jonghwan sangat sedih dan menangis di depannya.

“ya! Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku heh? wae?” tanya Jonghwan dengan suara rendah.

“kau salah paham!” teriak Yura dan tanpa ia sadari,air matanya juga ikut mengalir.

mianhaejeongmal mianhae…karena sikapku yang keterlaluan ini, kau juga ikut sedih. Aku memang pria yang buruk bukan? Dengan beraninya aku membawa kabur wanita orang lain…aku memang pria brengsek kan? Yura-ya….mianhae jika aku terlalu mengganggumu…mianhaemianhaemianhae…” ucap Jonghwan dengan wajah yang menunduk lagi.

“sebenarnya…sudah lama aku ingin mengatakan ini….dari dulu sampai sekarang, perasaanku tetap sama terhadapmu…aku tidak bisa memendam terlalu lama lagi…aku benar-benar mencintaimu Yura…”

Deg…Deg…Deg…

Yura terkejut dengan ungkapan Jonghwan itu. Ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Hatinya benar-benar merasa senang.

“dan aku berharap kau selalu bahagia dengan Jimin… tapi kita tetap teman kan?”

Yura masih tetap terdiam,tercengang dengan perkataan Jonghwan. Lalu Jonghwan meraih tangan Yura lalu menjabatnya “ya…kita tetap akan menjadi teman…annyeong Yura” ujar Jonghwan berusaha tegar dengan ucapannya.    

TING!

Pintu lift terbuka lalu Jonghwan berjalan ke luar lift seraya menghapus air bening yang menumpuk di bola matanya. Berjalan dengan perasaan sedih.

Author’s POV

Jonghwan! Kau Salah paham!!

Saat hendak mengejar Jonghwan, Yura mendengar teriakan seseorang memanggil namanya. Dan orang itu adalah Jimin. Ia sedikit berlari menuruni tangga darurat lalu menghampiri Jonghwan yang menatap kearahnya.

BUK!

Satu pukulan mengarah ke wajah Jonghwan. Pria itu terdiam ditempat seraya merasakan sakit yang menjalar di sekitar wajahnya.

“ya! Apa masalahmu heh? kau bukanlah siapan-siapanya kan? apa hakmu untuk membawanya eoh?” tanya Jimin bertubi-tubi. Pria itu seperti menahan amarahnya. Sementara itu Yura dan Tia menyaksikan sendiri pertengkaran yang terjadi diantara dua pria itu.

Lalu tampak Tia berjalan mendekat kearah mereka berdua. “Jonghwan-ah…aku ingin pulang…hiks…” ucap Tia dengan berlinang air mata lalu menarik tangan Jonghwan,hendak membawa pria itu pergi sekaligus melerai pertengkaran diantara mereka. Tanpa diduga Jonghwan menuruti keinginan Tia. Dan merekapun segera menuju tempat parkir.

Sementara itu Yura terlihat menunduk dengan berlinang air mata. Dan Jiminpun memandangi Yura yang terlihat mulai sesegukan. Ia merasa bahwa telah menyakiti perasaan wanita yang disukainya itu.

“jo…jonghwan! Jonghwan-ah!” teriak Yura seraya berjalan cepat menuju tempat parkir, namun di sana Jonghwan sudah tak ada.

“mereka mungkin belum jauh…” ucap Jimin seraya menarik tangan Yura menuju motornya yang juga terparkir.

-O-

Jonghwan’s POV

Sakit. Benar-benar sakit. Kenapa hatiku harus merasa sakit? Bukankah seharusnya aku juga senang, melihat Yura bersama pria yang ia sukai? Bukankah harus begitu? Tapi kenapa sampai saat ini hatiku tidak bisa menerimanya dengan ikhlas? Aku memang pria bodoh, yang tidak berperasaan. Seharusnya aku rela melepas Yura dengan pria lain. Rela membiarkan cintaku lenyap. Namun sampai saat ini hatiku tetap tak bisa melepas Yura. Apakah aku terlalu egois?

Aku ingat saat pertama mengenal Yura di bangku 4 SD. Dia adalah gadis pertama yang berhasil membuat hatiku memilihnya. Dia adalah gadis tomboy yang berhasil membuatku terlena. Dan ternyata saat itu Jimin juga memendam perasaan suka padanya. Andai saja, andai saja aku tidak pernah memberikan Yura gelang pemberian Jimin, mungkin masalahnya tidak akan seperti ini. Andai saja, kami bukanlah saudara sepupu dan andai saja aku tidak pernah mengenalnya akan lebih baik mungkin, benarkan?

Tia’s POV

Sakit. Benar-benar sakit mengetahui pria yang selama ini ku anggap segalanya, dan ternyata lebih memilih wanita lain dibandingkan diriku yang tidak berarti dimatanya. Apa salahku sampai harus menerima kenyataan pahit ini? Beginikah rasanya cinta yang bertepuk sebelah tangan itu? Percuma saja menangis, toh Jimin tetap akan memilih Yura daripada aku. Namun bisakah Jimin mengerti dengan perasaanku untuk yang terakhir kalinya?

Aku memang gadis bodoh, yang terlalu percaya dan terlalu berharap akan cinta. Andai saja aku bukan terlahir sebagai gadis Ottawa, andai aku tidak pernah mengenal Jimin mungkin hatiku akan baik-baik saja. Namun apa yang harus kulakukan jika semuanya telah terjadi? Apa aku harus menangis untuk seumur hidup? Aku adalah gadis yang tidak bisa melupakan cinta pertamaku. Jimin adalah pria yang kupilih untuk hidup dan ragaku. Jimin satu-satunya pria yang aku sukai. Tapi apakah aku harus bersikap egois?

Author’s POV

Di saat jalanan yang mulai lengang dengan kendaraan, tiba-tiba

CIIIIT

Jonghwan mendadak menghentikan laju motornya.  Tampak sebuah motor berwarna merah berhenti di depan motor Jonghwan yang dikendarai oleh seorang pria berseragam SMA. Pria itu juga membawa seorang gadis sebagai penumpangnya. Mereka adalah Jimin dan Yura. Jonghwan menaikan kaca helmnya lalu menatap Yura dan Jimin bergantian begitu pula dengan Tia yang juga ikut terkejut dengan kehadiran mereka yang tiba-tiba.

Yura dengan segera turun dari motor lalu menghampiri Jonghwan dan Tia yang masih terkejut. “ma..maaf…Tia bisakah kau turun dari sana?” tanya Yura pada Tia.

“wae? Bukankah kau sudah punya Jimin eoh?” tanya Tia dengan sedikit menahan emosinya. Saat ini perasaan Tia benar-benar sedih,apalagi jika melihat Yura dihadapannya itu akan membuat emosinya bertambah dua kali lipat.

“Tia mianhae…hiks…tapi Jonghwan itu milikku…cintaku hanyalah Jonghwan…bisakah kau turun sekarang?” pinta Yura dengan berlinang air mata. Ucapan Yura itu berhasil menggetarkan hati Jonghwan. Tia spontan memandangi Jonghwan lalu beberapa detik kemudian ia turun dari motor.

Perlahan posisi Tia yang tadinya duduk di belakang Jonghwan kini berganti menjadi Yura. Spontan Yura memeluk pinggang Jonghwan dan menyenderkan kepalanya di punggung pria itu. Jonghwan memutar kepalanya menatap Yura yang tiba-tiba memberikan reaksi yang tidak pernah terpikirkan oleh Jonghwan.

“ya!” teriak Jimin seraya melepas helm. Jimin turun dari motor lalu menghampiri Yura dan Jonghwan. “ya!” ucap Jimin lagi, lalu dengan pelan memukul helm yang dipakai Jonghwan. “babo eoh!” sambung Jimin seraya tersenyum. Jonghwan memandangi pria itu dengan bingung.

“baboya…aku dan Yura tidak berpacaran, dan soal ciuman itu, kami tidak pernah melakukannya, aku hanya mencoba merasakan hidungnya, itu saja…” jelas Jimin tanpa merasa bersalah.

“ya! Brengsek kau Jimin!” teriak Jonghwan.

“haha….” Tawa Jimin lalu memukul helm Jonghwan sebanyak dua kali “kau sungguh pria yang beruntung…” ucap Jimin lagi seraya menyentuh lengan Jonghwan. Kemudian Jimin menarik Tia dan berjalan menuju motornya.

“Jonghwan-ah…mau kah kau membawaku ke tepi sungai han?” pinta Yura, wanita yang sangat Jonghwan cintai itu. Jonghwan tersenyum lalu berkata “as your wish…” balas Jonghwan lalu melajukan motornya.

-O-

Tia’s POV

Jimin menarik tanganku, aku sedikit terkejut lalu menunduk sesegukan. Aku memang gadis cengeng yang tidak bisa disandingkan dengan Jimin. Aku terlalu lemah untuknya. Kami berhenti di depan motor Jimin. Tapi Jimin malah memandangiku yang sedang menangis.

“ya! Kenapa kau menangis? Hah…” ucap Jimin lalu menarik tubuhku ke dalam pelukannya. “kalau kau terus menangis, aku akan meninggalkanmu di sini…kau mau eoh?”

“tinggalkan saja aku, aku bukanlah siapa-siapamu…”balasku. Jimin terdiam sesaat. “babo! siapa bilang kau bukanlah siapa-siapaku? Kau itu malaikat kecilku,apa kau tahu?”

Aku membalas dengan gelengan pelan “simpan saja kata-kata bualanmu itu aku tidak akan pernah percaya lagi….hiks…” ujarku dengan jujur ditambah dengan air mata yang tidak berhenti mengalir. Seolah air mata itu adalah cara bagiku untuk meluapkan segala perasaan sedih yang ku miliki.

“mianhae…tapi aku akan mencoba untuk memilihmu…” ungkap Jimin dengan memelukku lebih erat.

“Jimin-ah aku akan tetap menunggu balasan hatimu…”ujarku seraya menatap Jimin. Jimin balas menatapku seraya tersenyum dan menghapus air mataku.

-O-

Jonghwan’s POV

Apakah ini mimpi? Aku benar-benar merasa senang dan aku berjanji akan membuat Yura bahagia. Ku hentikan motor tepat di samping sungai han. Pemandangan malam ini sangatlah indah. Ku lirik Yura yang berada di belakangku, ternyata Yura juga melakukan hal yang sama, balas menatapku seraya tersenyum manis. Senyumannya itu sampai-sampai membuat jantungku berdetak dengan cepat. Aku turun dari motor seraya melepas helm. Sementara itu Yura tetap duduk di atas motor.

“kenapa kau melihatku seperti itu heh?” tanyaku karena melihat Yura yang terus senyum ke arahku.

“karena aku merasa senang…” jawab Yura. Aku memencet hidungnya dengan pelan. “haha…bukannya kau tidak suka dengan tempat yang seperti ini?” tanyaku lalu disambut dengan wajah Yura yang kelihatan cemberut.

“siapa bilang, aku sangat suka tempat ini…”

“apa lagi jika bersamaku?” sambungku. Yura malah mencubit pipiku dengan gemas. “ya!” teriakku

Yura malah tertawa dan menguatkan cubitannya di pipiku. Aku pun menarik leher Yura hingga wajahnya mendekat ke wajahku. Spontan Yura melepas cubitannya dan malah terdiam. Ku tatap kedua bola mata Yura yang berwarna hitam pekat. “waeyo? Kenapa kau tidak mencubitku lagi heh?” tanyaku yang semakin membuat Yura gelagapan. Jujur aku suka sekali membuat Yura membisu. Dia akan terlihat sangat lucu.

Ku tarik wajah Yura agar lebih mendekat. Ku tatap lagi matanya, selang detik kemudian ku tutup mataku dan…

——

——

“hah…” ku buka mataku seraya menyentuh leher. Ku lirik wajah Yura yang merona merah. Ku cubit pipinya itu. “sebaiknya kita melakukannya saat upacara pernikahan nanti, kau mau menunggunya kan?”

Yura tersenyum dengan wajah yang tersipu malu. Aku pun melepas kalung yang melingkar di leherku. Kalung ini adalah hadiah yang ingin ku berikan pada Yura delapan tahun yang lalu. Ku raih cincin yang menjadi mainan kalung ini. Lalu meraih tangan kanan Yura. Ku pasang cincin itu di jari tengahnya. “Yura-ya dengan ini, aku melamarmu, mau kah kau menjadi pasangan hidupku?”

Yura menatapku lalu mengangguk “aku akan menjadi istri yang baik untukmu…”

Ku raih tubuh Yura, memeluknya dan kuberikan ciuman tulus di keningnya. Yura, aku Jonghwan juga akan menjadi  suami yang baik untukmu.

Di saat yang bersamaan, terdengar kembang api dari arah sungai han, menambah suasana hangat diantara kami.

Closing Song > Teen Top – Going Crazy ( piano version )

-END-

Comment Yo ^O^ gimana ceritanya? Bikin greget karena Yuranya ga jadi kissing sama Jonghwan? >< aniyaaaa~~ hahaha

Author :hey Yura, Jonghwan itu punyaku, hey Tia, Jimin juga punya ku *authorpun ditabok*

Jongwan+Jimin : ogah sama author ababil -___-

Jajang: authoooor, AI LOP YUUUU MUAH MUAH :*

Author: Jajaaaaaaang muah muah :*

Jonghwan+Jimin : ababil -____-

Commentnya ditunggu readers ^^

Advertisements

5 thoughts on “LOLLYPOP LOVE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s