THE PARALYZED part 16

the-pralyzed

Sub Title : Why Do You Love Me?

Author : J. Linn aka me aka @llingllin09

Cast :

LJoe (Teen Top)

Kim Jia Yoo (imagination/readers)

Hwang Min Gi (author)

Jo Jonghwan (100%)

Genre : romance

Rating : PG16

Cover by : chioneartposter.wordpress.com

Note : Makasih banyak yang buat nungguin fanfic ini, maaf kalau ada sesuatu yang janggal di ffnya ^^ Oya author mo ngucapin selamat berpuasa bagi readers yang menjalankan ^^

-Happy Reading-

opening song > Agnez Monica – paralyzed

————

Last Episode-

Dari kejauhan aku melihat seorang pria berjas putih tengah memandangi kami. Bola mataku membesar dan memperhatikan pria itu. Di sana, aku melihat LJoe yang terus memperhatikan kami.

Last Episode End-

————

Author’s POV

Jonghwan melepas pelukan mereka. Tapi berbeda dengan Jia yang masih terdiam di posisinya. Dia sungguh tidak bisa menghadapi situasi yang sulit seperti ini. Jia merasa bahwa perasaannya terkekang dengan keadaan. Ia sulit membedakan antara perasaan cinta dengan perasaan ingin memiliki.

Wajah polos Jonghwan menatap Jia yang sedang kalut. Jonghwanpun menggenggam tangan Jia yang lembut dengan erat.

“Jia? Ku tanya apakah kau bersedia?” ujar Jonghwan meminta kepastian. Jia balas menatap Jonghwan dengan tatapan menyerah. Ia masih bingung dengan perasaanya sendiri. Jia merasa dirinya belum bisa menjawab pertanyaan serius itu. Lagi pula,dia dan Jonghwan baru kenal beberapa hari tapi Jonghwan sangat yakin dengan ucapan yang mewakili perasaannya itu. Tapi bagi Jia, Jonghwan hanya ingin mempermainkan perasaannya.

Dengan pelan Jia melepas genggaman tangan Jonghwan. “ma..maaf…” ucap Jia dengan perasaan hati-hati. Ia takut kalau ucapannya ini menyakiti hati Jonghwan. Tapi bukankah cinta tidak boleh dipaksakan?

Jonghwan menyentuh wajah Jia yang sedang menunduk. Pria itu dapat melihat dengan jelas bahwa wanita yang ia cintai itu memendam sesuatu. Jonghwan mengangkat dagu Jia agar wanita itu dapat melihat ke arahnya. Jonghwan tersenyum lalu berkata lagi “tidak perlu terburu-buru…aku akan menunggu jawabanmu…”

“tapi…” Jia kembali bersuara. “bisakah kau…memberikan alasan kenapa aku harus memilihmu?” Tanya Jia dengan tatapan polosnya. Jonghwan kaget lalu mengacak rambut Jia pelan. “babo…kenapa kau bertanya seperti itu?” Tanya Jonghwan dan mengacak rambut Jia berkali-kali. “haha…kau sungguh gadis yang lucu…” sambung Jonghwan yang sekaligus membuat wajah Jia merona. Apakah wanita itu sudah bisa memberikan hatinya untuk Jonghwan?

Jia tersenyum sesaat. Namun sangat berbeda dengan yang dirasakan oleh hatinya. Dia butuh jawaban dari Jonghwan. Dia sangat butuh itu. Jia harus memastikan perkataan Jonghwan  bukanlah sekedar pelepas nafsunya saja. Yang Jia perlukan jawaban Jonghwan yang akan membuat hatinya berpaling. Itu saja. Tapi Jonghwan malah menjawab dengan kata-kata yang tidak Jia harapkan.

“ya!” Jonghwan menyentuh kepala Jia. “kau harus tahu kalau aku tidak bisa bermain-main dengan perasaan…aku mulai tertarik padamu semenjak pertama kali melihatmu…” ungkap Jonghwan. Jia yang tadinya diam kini balik bertanya “pertama kali?”

Jonghwan memasukkan tangannya ke dalam saku celana. “ya…saat kau…terjatuh…hahaha…” ungkap Jonghwan disambung dengan tawa. Wajah Jia tampak kesal saat mendengar tawa Jonghwan.

“ya! Kenapa kau menertawakanku heh?” Tanya Jia seraya memukul lengan atas Jonghwan. “wae…? Hahaha…aku lebih suka melihat wajah kesalmu daripada wajah yang serius…” komentar Jonghwan dan membuat Jia mengakhiri aktivitasnya memukuli Jonghwan.

“Jia-ya…mau kah kau menemaniku sebentar? Jebal…!” pinta Jonghwan dengan wajah yang memelas. Jia kembali memandangi Jonghwan dengan tatapan kesalnya itu. Hingga akhirnya Jia tersenyum lalu mengangguk “kemana kita akan pergi oppa?” Tanya Jia.

“o-oppa?” Jonghwan tersenyum mendengar kata itu. Jia jalan mendekat. “ne…kita akan kemana?”

“ke tempat yang kau suka…”jawab Jonghwan. Lalu merekapun berjalan ke arah mobil Jonghwan yang terparkir.

Sementara itu dari kejauhan terlihat LJoe yang masih memperhatikan Jonghwan dan Jia. Selama beberapa menit pria itu mampu bertahan memandangi objek yang mungkin bisa saja membuat hatinya merasa sakit. Namun rasa penasarannya tidak bisa untuk membuat dirinya beranjak dari sana. LJoe ingin tahu seberapa dekat Jia dengan Jonghwan. Dan ia sudah mendapatkan jawabannya. LJoepun telihat mengepalkan tangannya. Ia seperti menahan rasa perih dan cemas disaat yang bersamaan.

Jonghwan’s POV

“pertama kali?”

Tiba-tiba jantungku berdetak keras. Aku merasakan ada sengatan listrik yang mengalir cepat di dalam tubuhku. Jia menatapku, menunggu jawaban dari pertanyaannya. Aku berusaha tenang, lalu memasukkan tanganku ke dalam saku. “ya…saat kau…terjatuh…hahaha…”

Bukan…saat pertama kali kau duduk di taman kampus, mengikat rambutmu yang terurai dan saat itu aku merasakan desiran hangat di hatiku. Kau, perempuan yang berhasil membuatku gila.

Beberapa detik kemudian, wajah Jia tampak kesal lalu memukul lenganku dengan brutal. Dia, sangat lucu.  “wae…? Hahaha…aku lebih suka melihat wajahmu yang konyol seperti ini daripada wajah yang serius…” kataku yang berhasil membuat Jia berhenti memukulku. “Jia-ya…mau kah kau menemaniku sebentar? Jebal…!”

Aku sangat berharap Jia mengatakan iya setelahnya. Entah kenapa, Jia tersenyum padaku lalu mengangguk. “kemana kita akan pergi oppa?”

“o-oppa?” kataku kaget lalu tersenyum setelahnya. Jia mendekat lalu berkata “ne…kita akan kemana?”

“ke tempat yang kau suka…”

————

LJoe’s POV

Entah kenapa, beberapa hari ini pikiranku hanya terfokus dengan kedekatan Jia dan Jonghwan. Pikiran itu membuat virus di dalam otakku. Aku merasakan perasaan sakit itu lagi. Padahal kenyataannya, aku sudah punya orang lain dan sebentar lagi orang itu sah menjadi istriku. Tapi Jia membuat magnet besar di sekitar hatiku, seakan aku harus memilih dia. Hatiku terlalu mudah untuk dikepung oleh cinta seorang Jia.

Drt… Drt…Drt…

Ku lihat ponselku yang bergetar  di atas ranjang. Ku sambar ponsel itu dan menatap layarnya.

-Min Gi is Calling-

Ku angkat panggilan dari Min Gi “ne…” jawabku singkat.

“kau tidak lupakan janji hari ini?”

“heh?”

“ya! Bukankah kita akan mempersiapkan baju pernikahan?”

“eoh…ne…aku akan menjemputmu…10 menit lagi aku akan tiba disana…”ucapku lalu mematikan ponsel. Aku bergegas mengganti pakaian dan menjemput Min Gi.

Jonghwan’s POV

Sejak tadi aku terus memperhatikan Jia. Dengan wajah yang manis dia melahap makanan yang ada di hadapannya. Wanita ini terlalu membuat diriku bersikap bodoh. Jia bisa membuat jantungku berdetak dengan cepat. Membuat wajahku memanas atau terkadang bisa membuatku stress. Dan aku mendapatkan itu semua hanya dengan melihatnya saja. Bukankah dia terlalu berbahaya?

“eoh…oppa…” Jia menyadari tatapanku. Akupun spontan memalingkan wajah menatap hidangan makananku.

“oppa…kau tidak suka dengan makanannya?”Tanya Jia dengan makanan yang penuh di dalam mulutnya.

“hahaha…”aku membalas dengan tawa yang sedikit ku paksa. Aku harus menormalkan detak jantungku bukan?

“kalau kau tidak suka…biar aku yang menghabiskannya…sini…”kata Jia seraya menatap makananku yang masih rapih.

“ah…andwe…kau tidak boleh makan terlalu banyak…pasti menyenangkan memanggilmu badut jika kau gendut kan? Hahaha…”tawaku seraya membayangkan Jia yang berbadan gendut.

“ya! apa yang kau bilang? Sini tanganmu…” kesal Jia lalu mencubit tanganku.

Meskipun cubitan itu terasa sakit tapi jika melihat Jia tersenyum ataupun kesal, hatiku akan merasa senang. Jia adalah salah satunya obat bagi hatiku. Apapun yang dia lakukan, itu semua akan membuat perasaanku tenang. Jia adalah perempuan yang sangat pandai mengambil hati seorang pria seperti Jo Jonghwan. Tapi sampai kapan aku harus menunggu jawaban darinya?

“Jonghwan-ssi…Jia-ya…” kami dikejutkan dengan teriakan seorang wanita. Dari arah pintu masuk restaurant, aku melihat LJoe dan Min Gi yang sedang berpegangan tangan. Lalu aku beralih menatap Jia yang wajahnya berubah seketika. Jia menduduk, terdiam dan tidak lagi menghabiskan makanannya. Kenapa tiba-tiba sikapnya berubah?. Apakah dugaanku benar kalau Jia mempunyai hubungan dengan…. LJoe?

“ya…” sautku seraya memanggil LJoe dan Min Gi untuk ikut gabung bersama kami. Kebetulan tempat yang kami duduki cukup untuk empat orang. Aku merubah posisi duduk di samping Jia, lalu Min Gi duduk dihadapanku sedangkan LJoe duduk di sampingnya.

“jadi…kalian…apakah benar-benar…?” Min Gi menatapku dan Jia bergantian. Ku lihat LJoe juga ikut menatap kami.

“eoh…itu…hahaha…”aku merespon dengan tawa. Siapa saja mengerti akan pertanyaan Min Gi itu, jika melihat seorang laki-laki dan seorang perempuan duduk berhadapan, makan di restaurant mahal. Kalau bukan untuk berkencan kan?. AKu melirik Jia yang masih terdiam di tempatnya.

“kami…kami baru saja memulainya…” Jia yang tadinya diam,mulai angkat bicara. Ucapannya ini membuatku senang sekaligus heran. Akhirnya Jonghwan, kau bisa mendapatkan hati seorang Jia. Tidak! Aku sangat tahu sikap Jia saat dia berpura-pura. Sangat jelas kalau dia berbohong.

“benarkah? Kalian tidak membohongi kami lagi kan? Kalau begitu…chukkae…” ungkap Min Gi senang.

“tapi…apakah kami tidak mengganggu kalian?”

Aku dan Jia tertawa sebentar. “tidak kok eonnie…” balas Jia. Tapi lagi-lagi aku merasakan sesuatu yang aneh terjadi padanya.

“sepertinya kalian baru saja dari suatu tempat…”kataku menebak. Min Gi yang duduk di hadapanku melirik LJoe yang duduk di sebelahnya. Lalu wanita itu menggenggam tangan LJoe di hadapan kami “eoh… kami baru saja membeli baju pernikahan…”ujar Min Gi lalu melirik LJoe yang balas menatapnya.

“be-benarkah? Eoh, jeongmal aku ingin secepatnya melihatmu memakainya…”

Jia, ku mohon jangan berbohong, itu sama saja menyakiti hatimu sendiri. 

Min Gi tertawa sebentar lalu saat ia hendak mengucapkan sesuatu  tiba-tiba LJoe bangkit dari duduknya dan menarik tangan Min Gi, hendak membawa wanita itu. Min Gi menatap LJoe dengan ekspresi heran. “maaf, jika ini membuat kalian tidak nyaman…” ujar LJoe lalu merekapun meninggalkan restaurant tanpa memesan makanan.

Aku bingung dengan sikap LJoe yang berubah dingin di hadapanku dan sikap Jia yang terlalu membohongi hatinya. Aku memperhatikan LJoe dan Min Gi yang berjalan ke luar restaurant, lalu balik memperhatikan Jia yang dari tadi menunduk tanpa menjamahi pesanannya lagi. Jia terdiam dan seperti ada sesuatu yang dia pikirkan. Ku tepuk bahu Jia pelan. “kau tidak menghabiskan makananmu?”

Jia tersadar lalu menoleh ke arahku “eoh…ani…aku akan memakannya…”jawab Jia seraya tersenyum tipis ke arahku.

LJoe’s POV

Aku benar-benar cemburu dengan kedakatan Jonghwan dan Jia. Sungguh, mereka membuat hatiku sakit. Aku memang masih bingung dengan perasaanku sendiri. Disatu sisi aku ingin selalu melindungi Min Gi dan disisi lain hatiku masih memilih Jia. Apakah aku harus terperangkap di dua perasaan yang membingungkan ini?

”be-benarkah? Eoh, jeongmal aku ingin secepatnya melihatmu memakainya…”

Ku tatap Jia yang tengah tersenyum kea rah Min Gi.Aku tidak dapat menterjamahkan tatapannya itu. Min Gi menyambut senyuman Jia. Lalu entah kenapa jantungku terasa sakit lagi dengan senyuman Jia. Aku merasakan bahwa dia tidak menyetujui pernikahan kami.

Spontan, aku berdiri lalu menarik tangan Min Gi. Semoga tindakanku ini bukanlah hal bodoh yang harus kulakukan. “maaf, jika ini tidak membuat kalian nyaman…” Aku membungkuk lalu berjalan meninggalkan Jia dan Jonghwan seraya menarik Min Gi ke luar restaurant.

Langkah kami berhenti tepat di depan pintu masuk. Min Gi melepas tarikanku. “baboya!” Itulah kata pertama yang Min Gi ucapkan. Min Gi menarik wajahku lalu berkata lagi “Ya! Ada apa dengan dirimu eoh?”

Akupun membalas tatapan Min Gi dan menyentuh pergelangan tangannya. “Kkajja…” Aku tidak menjawab pertanyaan itu tapi malah menarik Min Gi menuju mobilku.

“Ya! Kenapa dengan sikapmu yang tiba-tiba berubah? Apa terjadi sesuatu eoh? Beberapa hari ini sikapmu sangat aneh…kau menyembunyikan sesuatu dariku eoh?”bertubi-tubi pertanyaan dari Min Gi terlontar. Aku hanya diam dan memaksa Min Gi untuk masuk ke dalam mobil.

“Ya! Kenapa kau diam? Kau tidak mau menjawab pertanyaanku? Berarti memang ada sesuatu yang kau sembunyikan…” celoteh Min Gi. Akupun masuk ke dalam mobil dan siap untuk melajukannya.

“Chagiya…” Aku diam dan tetap focus mengendarai mobil.

“ya! Chagiya…” Aku masih tetap diam.

“LJoe…!”

“Ya! Bisakah kau diam eoh?” teriakku pada Min Gi seraya membanting stir. Ku hentikan mobil secara mendadak. Ini adalah teriakan pertama yang kulontarkan pada Min Gi selama hubungan kami. Ku tatap Min Gi yang ternyata juga menatapku. Dan kulihat setumpuk air yang tertahan di bola matanya.

“ah…mianhae…” ucapku seraya mengacak rambutku. “mianhae…”

Aku menoleh menghadap Min Gi. Wanita itu menunduk seraya menangis. “ya! Mianhae…” ujarku seraya memeluk Min Gi. “aku memang pria bodoh yang bisanya hanya menyakiti hatimu…mianhae…”

Jia’s POV

“kau tidak menghabiskan makananmu?”

Aku terhenyak lalu memandangi makanan yang ada di hadapanku. Aku mencoba untuk tersenyum lalu menjawab pertanyaan Jonghwan oppa “eoh…ani…aku akan memakannya…” Ku santap makanan itu dengan sejuta perasaan bingung yang terpikirkan. Aku merasakan keanehan yang terjadi pada Ljoe. Sikapnya itu terlalu membuatku bingung, seolah mengundang pikiranku untuk memikirkannya.

Tiga puluh menit berlalu sejak kepergian Min Gi eonnie dan LJoe yang secara tiba-tiba. Dan selama itu pula aku dan Jonghwan oppa diam satu sama lain. Kami sibuk dengan menyantap hidangan dan mungkin saja pikiran masing-masing.

“lalu…kemana kita akan pergi setelah ini?” tanya Jonghwan oppa seraya menatapku yang duduk di sampingnya. “hmm…sebaiknya kau beristirahat…kita akan bertemu lagi besok, bagaimana?” saranku.

Jonghwan oppa tersenyum lalu mengangguk. “hmm…baiklah…” Jonghwan oppa menarik napas lalu berkata lagi “kkajja, aku akan mengantarkanmu ke apartment…”Oppa berjalan mendahuluiku. Dan tanpa sengaja aku melihat sebuah kotak putih besar yang terletak di bawah kursi. Ku lihat kotak itu dan pikiranku langsung tertuju ke Min Gi eonnie. Bukankah ini baju pernikahannya?

Aku menyusul Jonghwan oppa seraya membawa kotak besar itu. Jonghwan melirik benda yang kubawa “apa itu?”

“eoh…sepertinya eonnie meninggalkan ini…bisakah kita mengantarnya?” tanyaku seraya mengangkat kotak itu.

Jonghwan oppa tersenyum tipis lalu mengangguk “sini biar ku bawa…” kamipun berjalan menuju tempat parkir.

————

Akhirnya kami sampai di depan apartement Min Gi eonnie. “oppa…tunggu sebentar ya…aku akan cepat kembali…” ucapku terburu-buru turun dari mobil dengan membawa kotak itu. Aku berlari menuju apartment eonnie.

Aku mengatur napas sebentar setelah sampai di depan pintu apartementnya, lalu membuka pintu dan melangkah pelan memasuki apartemennya. “eonnie…” aku berteriak memanggilnya. “eonnie…” ku ulangi lagi namun yang ku dengar adalah suara deras dari air di kamar mandi. Aku melangkah mendekati kamar mandi dan mengetuk pintunya. “eonnie…ini aku…aku membawakan sesuatu untukmu…eonnie…” saat hendak mengetuk untuk kedua kalinya terlihatlah seseorang ke luar dari kamar mandi dengan rambut yang basah.

Mendadak jantungku berdetak kuat saat menatap orang yang ke luar dari kamar mandi tersebut. Dia Ljoe. “a…aku…” kataku terbata. “eonnie…meninggalkan ini di restaurant, eonnie pasti mencemaskan barang penting ini jadi aku mengembalikannya…”ujarku menaruh kotak itu di atas kursi lalu hendak melangkah pergi dari sana.

“tunggu…” ucap LJoe lalu menarik tanganku. “kau mencemaskannya? Benarkah begitu? Atau…mencemaskan dirimu?”

Deg Deg Deg

LJoelagi-lagi membuat jantungku berdetak dengan keras. Aku kehilangan akal untuk beberapa saat. Aku benar-benar tidak focus. Aku kehilangan kata untuk berucap. Aku menoleh ke arah LJoe yang ternyata menatapku dengan ekspresi ingin tau semua pikiran yang ada di benakku.

Ljoe menghela napas berat dan berkata lagi seraya menatap kedua bola mataku “tahukah kau, betapa sakitnya hatiku menunggu dan kehilanganmu?aku benar-benar gila memikirkanmu selama bertahun-tahun…”

Deg Deg Deg

Min Gi’s POV

Aku melihat sebuah mobil yang berhenti di depan apartement. Saat aku melewatinya seseorang berteriak memanggil namaku dan dia adalah Jonghwan. Jonghwan menampakan diri dari kaca mobilnya lalu melambai padaku.

“Jonghwan-ssi, hmm…apa yang kau lakukan di sana? Apa kau menunggu seseorang?” tanyaku ingin tahu. Jonghwan tersenyum padaku lalu menjawab “ne…aku menunggu adikmu…”

“adikku? Eoh Jia? Jia ada di apartementku?”

“kau meninggalkan baju pernikahanmu di restaurant dan Jia mengembalikannya padamu…”

“eoh…? Jinja? Aish…baboya…eoh ya maaf dengan kejadian di restaurant…hmm…bagaimana kalau kita makan malam bersama? Aku akan masak banyak makanan…kkajja…”ucapku seraya memperlihatkan beberapa bungkus belanjaan yang baru saja ku beli. Jonghwan tersenyum “hmm…karena kau memaksa…baiklah…” lalu iapun turun dari mobil.

LJoe’s POV

“maaf…karena aku kau menderita, karena aku kau menangis tapi tahukah kau, betapa sakitnya hatiku menunggu dan kehilanganmu?aku benar-benar gila memikirkanmu selama bertahun-tahun…aku bingung dengan perasaanku ini…aku tidak tahu apakah pernikahan ini akan membuatku bahagia..tapi jujur aku selalu memikirkanmu Jia, kau sangat terpampang jelas di hatiku…aku benar-benar merindukanmu…” ucapku panjang lebar mengeluarkan semua perasaan yang tertanam lama di hatiku. Ku tatap Jia seolah memaksanya untuk menjawab perasaanku itu.

“apa kau tahu, selama setahun aku menunggumu di taman itu, aku terus menunggumu di sana, tapi kau tidak kembali…dan saat aku tahu semua kebenaran itu, kau meninggalkanku lagi dan tidak pernah kembali….”

Jia tampak bingung dengan ungkapan yang kukatakan. Gadis itu memalingkan wajahnya dari hadapanku dan melepas genggamanku.

“ya…kau mau kemana?jangan tinggalkan aku…jebal!” kataku lalu menyusul Jia yang sudah berada di depan pintu masuk. Jia masih diam, entahlah mungkin dia tidak mau berbicara padaku.

Ku tarik tangannya lagi saat Jia hendak membuka pintu. “kau benar-benar akan meninggalkanku eoh?kau akan meninggalkanku? Jia tolong jawab aku…” Ku tatap Jia seraya menggenggam kedua bahunya.

Butuh beberapa detik membuat Jia menatapku. “untuk apa kau menungguku? Aku bukanlah siapa-siapamu…” Jia memalingkan wajah lagi hendak meninggalkanku.

“andwe! tatap aku dan katakan kalau kau juga merindukan dan memikirkanku…kau hanya perlu jawab iya…”

Jia menatapku lagi “ani…aku sama sekali tidak merindukan dan memikirkanmu…jadi tolong jangan merindukan dan memikirkanku lagi…”

Ku raih wajah Jia agar dia menatapku lagi “bohong…aku dapat melihat dari matamu kalau kau bohong…Jia-ya…kau…mencintaiku kan?” kataku dengan nada sedikit merendah.

Jia memaksaku untuk melepaskan genggaman itu. Tapi aku tetap keras untuk mendapatkan jawaban darinya. “Jia…Jia…jawab aku…” Jia tetap berusaha melepas genggaman itu. Ku perhatikan kedua bola matanya. Tampak air mata yang menumpuk. Mungkin sebentar lagi air bening itu akan jatuh dan mengalir ke pipinya. “Jia…Jia…” Ku sebut namanya berkali-kali, namun Jia malah menunduk dan enggan untuk menjawab semua ungkapanku.

Ku raih wajah Jia agar dia menatapku lagi. “kalau begitu biarkan aku mengetahui jawabannya…”

CUP~

Kami bertahan dengan posisi itu untuk beberapa detik. Lalu Jia melepas ciuman kami yang singkat itu.

“Jia…kau tidak bisa membohongiku…” ku peluk Jia “aku…sangat mencintaimu….aku benar-benar mencintaimu Jia…” Ku raih dagunya. Tampak air mata mengalir ke pipinya. Ku usap air mata itu. Jiapun menatapku dengan tangis “a…aku…aku juga mencintaimu…” ungkapnya dengan suara yang bergetar. Akhirnya Jia mengatakan kalimat yang kutunggu-tunggu. Kami tersenyum lalu ku cium kening Jia dan memeluk tubuhnya.

Brak!

Aku dan Jia melepas pelukan itu karena mendengar benda yang terhempas ke lantai. Kami melihat Min Gi dan Jonghwan yang berdiri di ambang pintu.

Author’s POV

“LJoe….!” Teriak Min Gi. “ya! Keluar…” Min Gi melangkah menghampiri Jia.

PLAK

Min Gi menampar Jia dan menarik tangan gadis itu. “ya! Keluar kau!” teriak Min Gi seraya menatap Jia marah.

“Min Gi-ya!” LJoe menarik tangan Min Gi dan membuat gadis itu berpaling padanya. “lepaskan aku!” teriak gadis itu lagi.

Jonghwan melangkah pelan memasuki ruangan itu. Dengan perasaan bimbang pria itu meraih tangan Jia dan membawa gadis itu pergi dari sana.

“LJoe-ya…kau…”teriak Min Gi dengan napas tersengal-sengal.

“Ya! Kenapa kau menampar dan berteriak padanya?” teriak LJoe tak kalah.

“Kenapa? Kenapa katamu? Eoh….ini adalah teriakan mu yang kedua kalinya LJoe!” ujar Min Gi dengan berlinang air mata. “Kau…kau adalah tunanganku dan…dan sebentar lagi resmi menjadi suamiku…tapi yang baru saja kau lakukan…yang baru saja kau lakukan….hiks…”

LJoe mengacak kasar rambutnya yang masih basah. “mianhae…mianhae…”

“aku benci kata itu! aku benci…!” teriak Min Gi lalu terduduk di lantai sambil menangis terisak. Ljoe menghampiri gadis itu lalu mencoba untuk memeluknya.

“tinggalkan aku…biarkan aku sendiri…”ujar Min Gi disela-sela tangisnya. Sementara itu LJoe masih berusaha untuk menenangkan Min Gi namun usahanya sia-sia karena Min Gi yang berusaha untuk menepis tangan Ljoe.

LJoe menyerah lalu ikut duduk di samping tunangannya itu. “ya! beberapa minggu lagi kita akan menikah, tapi kau sudah menghancurkan semuanya…hiks…bisakah kau merasakan hatiku yang hancur ini…bisakah kau?”

Ljoe meraih tangan Min Gi namun gadis itu menepis tangannya lagi. “jangan sentuh aku…aku sudah tak layak untuk kau sentuh…” ucap Min Gi datar seraya mengusap air matanya lalu bangkit berdiri, berjalan menuju pintu dan meraih jaketnya yang tersampir di sandaran sofa.

LJoe bangkit berdiri lalu mengejar Min Gi. “ya! Kau mau kemana?”

“bukan urusanmu lagi…”

“Ya!” LJoe menarik tangan Min Gi membuatnya menghentikan langkah “aku benar-benar menyesal…aku tahu dengan sikapku ini… ku mohon jangan bersikap naïf…memang aku sudah membuatmu marah…tapi aku akan menjelaskan semuanya…aku mohon dengarkan penjelasanku dulu Min Gi…”

Min Gi melepas genggaman itu lalu berbalik. “Aku ingin menenangkan diri…” Min Gi berbalik lagi dan membuka pintu apartemennya.

“Ya!” teriak LJoe. Min Gi berhenti seraya menoleh dan kata-kata yang akan dia ucapkan ini membuat LJoe terdiam. “Aku tidak marah LJoe…aku hanya cemburu…”  Min Gi menghela napas lalu tersenyum dengan air mata yang berlinang. Iapun berjalan ke luar apartemen dengan perasaan sakit yang amat mendalam.

Sementara itu LJoe menyenderkan tubuhnya ke dinding lalu tertunduk. Beberapa detik kemudian, LJoe memukul kepalanya berkali-kali seraya berteriak “Babo…babo….babo babo BABO!”

Pria itu meneteskan air matanya lalu terduduk di lantai seraya bergumam “tidak seharusnya aku melukai perasaannya…aku memang pria bodoh…aku memang bodoh…Tuhan tolong hukum aku…”

LJoe memukul kepalanya lagi. Tetesan air mata mengalir dari kedua bola matanya. Dia menyesali perbuatannya itu.

“aku sudah menyakiti perasaannya…aku pria brengsek…BRENGSEK!” teriaknya lagi. LJoe bangkit dan berjalan menuju sofa. Iapun mengusap air matanya lalu berbaring. Memejamkan matanya untuk beberapa saat. Diapun bergumam lagi “andai saja, aku tidak melakukannya…andai saja…”

Beberapa Jam Kemudian-

LJoe terus berjalan mondar-mandir . Dari raut wajahnya dapat dilihat kalau pria itu mencemaskan sesuatu. Berkali-kali ia mencoba untuk menghubungi Min Gi namun yang menjawab selalu operator. Ljoe mencoba untuk mengirim pesan namun Min Gi tidak membalasnya. Ia sangat mencemaskan wanita itu. LJoe tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa Min Gi. Dia terlalu mencemaskan wanita itu sampai-sampai tidak memikirkan perasaan sendiri. Perasaannya terhadap Jia.

LJoe tampak tak tenang. Beberapa kali ia melirik jam dinding yang saat ini sudah menunjukkan pukul 11 malam. Namun Min Gi belum menelfon atau membalas pesannya.

Drrtt—

Tiba-tiba ponselnya berdering.

-Min Gi is Calling-

LJoe tampak lega lalu menjawab panggilan itu “Ya…kenapa tidak menjawab telfonku dan membalas pesanku eoh? Kau sekarang dimana? Aku sangat mencemaskanmu tahu! Ya…Min Gi…Min Gi-ya…” LJoe mendengar sesuatu yang aneh di seberang sana. “maaf…apa aku berbicara dengan Min Gi?”

“ini dengan LJoe-ssi?”

“ne…” Ekspresi LJoe tampak berubah.

“…………………………………..”

“BO?”

LJoe tampak panik dan segera menuju rumah sakit.

Tuhan, tolong selamatkan Min Gi…Ku mohon….

————

LJoe berlari memasuki rumah sakit dengan napas tersengal-sengal. Iapun berlari menuju lantai atas, dimana Min Gi dirawat. Wanita itu baru saja mengalami kecelakaan mobil karena mabuk saat mengendarainya. LJoepun berhenti di depan kamar rawat Min Gi seraya memperhatikan sepasang suami istri yang tampak khawatir terhadap sipenghuni kamar tersebut.

“eomma…appa…”ucap LJoe seraya menghampiri mereka. Sepasang suami istri yang tak lain adalah orangtua Min Gi itupun menoleh, menatap LJoe dengan tatapan pasrah. Bersamaan dengan itu seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.

“dokter, bagaimana keadaannya?Dia baik-baik saja kan?” tanya LJoe bertubi-tubi, ia merasa tak sabar untuk melihat kondisi Min Gi.

“pasien beruntung karena benturan di kepalanya tidak beresiko, untuk saat ini pasien masih belum sadarkan diri….eoh ngomong-ngomong anda LJoe-ssi?”

LJoe mengangguk pelan “ne…memangnya kenapa dokter?”

“pasien selalu menyebut nama anda…sepertinya dia akan membaik jika anda berada di dekatnya….saya permisi…”pamit dokter itu seraya membungkuk lalu beranjak pergi.

“LJoe-ya…” Eomma Min Gi meraih tangan LJoe perlahan, wanita itu menatap LJoe dengan berlinang air mata. Ia sangat mencemaskan anak semata wayangnya itu. “Min Gi membutuhkanmu….”lanjut Eomma Min Gi disambut anggukan dari LJoe.

Dengan perlahan LJoe memasuki ruangan itu. Tampak Min Gi terbaring lemah di ranjang dengan balutan infuse. Kepalanya diperban, dan Min Gi tampak tak sadarkan diri. Seolah,tubuhnya terbaring kaku disana. Wajahnya terlihat sangat pucat. LJoe menghampiri Min Gi dan meraih tangannya yang melemah. Mengusap tangan itu dengan pelan seraya memperhatikan wajah Min Gi lagi. LJoe tertunduk, menyesal dengan segala perbuatan yang dia lakukan. Pikirannya kini hanya terfokus pada wanita itu. Setetes air bening jatuh lagi dari pelupuk matanya.

————

Dua Hari Berlalu-

LJoe terbangun dari tidurnya. Ia sadar dengan posisi duduk di samping ranjang. Pria itu masih menggenggam erat tangan Min Gi. Ia merasa takut jika kehilangan wanita yang ingin dia lindungi seumur hidup itu. Dia benar-benar takut kehilangan seorang Min Gi.

Lalu LJoe merasakan sesuatu bergerak dalam genggamannya. Perlahan Min Gi membuka mata. Pandangan pertama yang ia lihat adalah LJoe yang tampak menanti kesadarannya. LJoe tersenyum pada Min Gi lalu mencium tangan wanita itu.

“kau sudah sadar?syukurlah….” ucap LJoe seraya mengelus rambut Min Gi dengan perasaan lega.

“L…LJoe…” ucap Min Gi sedikit terbata.

“ma..maafkan…aku…aku…su…dah…mem…buatmu…kha…watir…”

“babo! yang seharusnya minta maaf adalah aku…”

“LJoe…”

“hmmm…?”

“a…aku…aku takut….”

LJoe menggenggam tangan Min Gi lebih erat “aku di sini…kau tak perlu takut…”kata Ljoe menenangkan.

“a…a…ku…ta..ta…kut…ke…hi…lang…anmu…”

LJoe tersenyum “aku tidak akan pergi kemana-mana…aku akan di sini menemanimu…”

“bu…bukan…aku takut…ke…hi…langanmu….se…lama….nya…”

LJoe terdiam sesaat lalu berkata “aku…tidak akan pernah meninggalkanmu… aku janji…”

“aku….sangat….men…cintaimu…aku tidak bi…sa…hi..dup tan…pamu…ra…sanya…aku..ingin mati saja…ji…ka…ke…hilangan…mu LJoe…”

LJoe tersenyum lagi “sssttt…..jangan pernah mengatakan mati di depanku…itu sama saja akan membuatku sedih…”

“be…be..narkah…?”

LJoe meraih tangan Min Gi lalu mendekatkan tangan itu ke pipinya. LJoe mengangguk.

“lalu…apa…kah…kita…akan….membatalkan…per….nikahan itu?”

LJoe terdiam. Pertanyaan ini terasa sulit untuk dijawab. “tidak…tidak akan pernah…” jawabnya.

“bi…sakah…kita me..nikah…se…cepatnya? ji…ka…terlalu lama, aku takut…perasaan…diantara…kita…ter…sa..kiti…lagi…” ujar Min Gi seraya mengeratkan genggaman tangannya pada LJoe. Min Gi berharap LJoe menyetujuinya.

LJoe tersenyum lagi. “baiklah…kita akan menikah secepatnya…untuk itu kau harus sembuh demi diriku…”

Min Gi tersenyum lega “a…aku…senang…men..dengar…nya…” LJoepun mencium kening Min Gi.

Aku akan membuatmu bahagia meskipun hatiku terluka.

Jia…maafkan aku…

 ————

 Closing Song >> EXO – Baby Don’t Cry

 -To Be Continued-

Bagaimana kisah cinta mereka selanjutnya? Next Part ;3

Advertisements

One thought on “THE PARALYZED part 16

  1. aduuhh.. aku salah link buat komen part ini,, malah di komen yang part 2..
    mainhae.. T_T ada sedikit kesalahan teknis..

    ceritanya baguss.. !! pake BGT
    aku bingung benar2 bingung ama LJoe,, dia suka ma siapa sih ??
    katanya cinta sama jia , tpi pengen lindungi min gi..
    pokoknya daebak bgt dehh !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s