TIME AFTER THIRTY MINUTES

Time After Thirty Minutes

present by Jey Linn (@llingllin)

casts : Choi Yura, Kim Jongin (EXO)

Genre : sad, romance

Rating : pg13

NB:  cerita ini sebenernya aku kirim buat lomba, dan ada beberapa yg aku edit lagi…

so enjoy ^^

-Happy Reading ^^-

-Satu menit –

Jalan setapak ku telusuri dengan kaki tanpa beralas. Jalan tersebut sedikit berbatu dan terdapat tanaman perdu di sekitarnya. Aura kematian langsung menyambut, saat aku memasuki gerbang tua yang kira-kira setinggi dua meter. Hamparan hijau dengan beberapa batu nisan berbentuk salib menjadi pemandangan yang langsung tertangkap oleh kedua mataku. Di sinilah tempat peristirahatan terakhir itu. Tempat yang mereka sebut sebagai pemakaman.

Hawa mistis seperti menghantui, tetapi langkahku enggan untuk berhenti bahkan kakikupun tidak merasakan sakit karena menginjak banyaknya kerikil. Di tempat ini hanya ada aku, bayangan semu diriku dengan di temani kicauan burung gereja yang terdengar semakin keras.

Semakin lama berjalan, kakikupun beralih menginjak rumput hijau yang tertata rapi. Penglihatanku langsung tertuju ke sebuah makam. Di samping nisannya terletak sebuket tulip yang mungkin tidak akan lagi terjamahi oleh genggamanku.

Aku menjaga jarak dan bersembunyi di balik pohon besar dengan terus memperhatikan daerah di sekitar makam itu. Ternyata tidak seperti yang ku kira. Seorang pria ber-tuxedo hitam tengah duduk di tanah, seakan menyita perhatianku. Sebenarnya dialah objek yang menjadi tumpuanku untuk berkunjung kemari. Bodoh, dia malah duduk di sana, lari dari masa depan yang seharusnya ia nantikan. Sekuat apapun, takdir tetap tidak dapat ia singkirkan. Bahkan aku juga harus menelan pahitnya nasibku sendiri bahwa kita tidak ditakdirkan untuk bersama.

Penglihatanku tidak lepas darinya. Setiap inci gerakan tubuhnya selalu ku perhatikan. Dari gerak-geriknya itu, aku tahu dia pasti sangat tertekan dengan kemalangan yang menimpanya. Aku juga mendengar isakan pelan. Dan dapat ku simpulkan bahwa dia benar-benar merasa terpukul. Dan apakah mungkin aku penyebabnya?

Melihat kenyataan itu, tatapanku seketika menjadi nanar. Aku tertegun sesaat, teringat kenangan-kenangan yang selama ini terukir. Memori indah yang sampai saat ini masih menggilai benakku. Untaian kata romantis yang setiap hari menghampiri, telah menjadi santapan manis yang kuterima. Namun semua itu bagaikan harapan palsu yang sudah diakhiri.

Aku tertegun, sangat lama hingga akhirnya air bening berkumpul di pelupuk mataku seakan siap untuk jatuh. Dan benar, tanpa ku komandoipun air mataku mengalir deras, mengotori wajah coklatku. Tangankupun ikut bergetar, merasa tidak sanggup untuk menghapus air mata kepedihan itu. Apa ini hukumanmu Tuhan?

Aku berusaha untuk menahan tangisan bodoh yang tidak seharusnya kulakukan. Namun,munafik jika aku membohongi perasaanku sendiri. Ku biarkan tetesan Tuhan itu membanjiri pipiku. Aku semakin terisak, karena inilah cara yang bisa meluapkan segala perih yang tertahan.

Kenangan itu kembali terputar. Berpusat di memoriku dan terpaksa aku harus mengingatnya lagi, lagi dan lagi. Percintaan semu yang dilalui. Perjanjian yang selalu terucap. Lalu itu semua untuk apa? Aku mulai menyalahkan Tuhan dengan ketidakadilan yang mengepung hidupku. Aku benci dengan situasi yang membekap diriku seolah aku ini tertipu. Tapi Tuhan selalu membuatnya begitu. Aku benci!

“apa semuanya benar?” aku bergumam seraya memperhatikan kedua telapak tanganku yang seakan transparan. Kepalaku semakin pusing dan kakiku merasa tidak kuat lagi untuk menompang tubuh ini. Bahkan aku terlalu bodoh untuk melakukan hal itu.

“apa semuanya benar? Lalu kenapa?” gumamku lagi, berharap mendapat jawaban pasti dari-Nya.

Tatapanku beralih memandangi langit biru tanpa guratan putih itu seperti menentang keagungan-Nya. Sendu dan pahit. “kenapa kau lakukan ini padaku Tuhan? Kenapa?” aku semakin memberontak. Dan meskipun ku tahu, pendengaranku tidak kan tersentuh oleh jawaban-Nya kecuali jika aku benar-benar berada di hadapan-Nya. Atau sebentar lagi, mungkin kita akan bertemu di tempat kekal itu.

Tatapanku kembali berpusat menghadap pria yang tadinya tertunduk di depan nisan. Pancaran wajahnya masih sama seperti beberapa menit yang lalu. Tangannya perlahan menyentuh batu nisan yang mungkin menancapkan pedang pahit baginya. Sedangkan aku tetap bertahan dengan posisi ini. Memperhatikan tubuhnya yang semakin lemah menangisi orang yang menempati makam itu. Dan aku tahu siapa yang dia tangisi. Mungkinkah?

Aku menggeleng pelan lalu kuberanikan diri untuk menemuinya. Namun langkahku terhenti. Aku merasakan seseorang menyentuh bahuku dan seketika membuatku berpaling. Kedua bola mataku membesar saat melihat siapa yang berada di hadapanku saat ini. Seorang pria dengan tubuh disinari oleh cahaya putih. Mungkinkah?

Wajahnya terlihat jelas di kedua bola mataku. Iapun tersenyum seperti memberikan isyarat yang sayangnya tidak ku mengerti. Sentuhan yang dia berikan terasa nyata dan berbekas. Lalu semakin lama cahaya putih itu menghilang dari pandanganku. Bagaikan sebuah hipnotis panjang, aku kembali tersadar. Dan benar pria itu lenyap dari hadapanku.

Mungkin ini yang membuatku merasa diawasi semenjak semalam. Bahkan itu yang membuat pikiranku terganggu dan aku belum sempat memejamkan mata untuk beristirahat. Siluet yang tidak pasti, berusaha untuk mengungkapkan kebenaran itu. Dan aku tidak dapat memastikan kapan dia akan datang lagi menemuiku.

Bersamaan dengan menghilangnya bayangan itu. Wajahku berpaling lagi memperhatikan pria yang berada di makam. Namun sosok itu tidak ada lagi di sana. Batinkupun berkata untuk mengejar pria itu dan aku benar-benar melakukannya.

-Lima belas menit yang tersisa-

Aku berlari dengan tergesa-gesa menghampiri makam yang sebelumnya dihampiri oleh calon suamiku. Rasa penasaran itu akhirnya terungkap saat ku baca nama yang tertera di batu nisan. Nama dengan inisial ‘O.S.’ terukir jelas. Bola mataku lagi-lagi membesar. Sayatan tajam seperti menghujam jantungku. Hatiku benar-benar hancur dan akupun rela untuk membakar perasaanku sendiri. Karena sekarang ku tahu kalau Tuhan memang tidak pernah menjodohkan kami. Tidak kan pernah.

Aku kembali terisak, terduduk di depan makam itu. Dress putih yang ku kenakanpun terlihat semakin lusuh akibat lumpur yang mengotori di bagian bawahnya. Tidak seharusnya aku mengunjungi pemakaman dengan pakaian pengantin seperti ini. Dan aku semakin bodoh untuk membuang-buang air mata yang seharusnya ku simpan untuk hal yang sepatutnya ku tangisi.

-Dua puluh menit berlalu-

Waktuku terasa berjalan begitu cepat. Tidak ingin membuang-buang kesempatan yang tersisa, ku langkahkan kaki menemui pria itu. Tidak butuh waktu yang lama untuk mencarinya. Ku lihat dia tengah duduk di kursi yang tersedia di pemakaman itu. Di depannya terdapat pancuran dengan dua buah patung malaikat sebagai hiasannya.

Ia duduk dengan kepala tertunduk. Pria itu membiarkan rambut coklatnya menutupi separuh wajahnya. Langkahku berhenti lagi. Tangis perih terdengar lagi merasuk ke dalam jiwaku. Hatiku tersentil, tercengang dengan perasaan bodoh yang terus ku simpan. Aku memang wanita bodoh yang hingga saat ini masih memendam perasaan yang sama padanya. Padahal seharusnya perasaan ini ku kubur bersamaan dengan mayat yang menempati makam itu.

Aku berjalan cukup cepat. Hingga langkahku membuatnya terusik. Tatapan heran dengan wajah yang masih berlinang air mata langsung tertuju padaku. Pria itu mengubah posisi duduknya hingga tegap. Lalu menghapus genangan air yang tersisa di kedua bola matanya. Ekspresinya seakan terkejut melihat ragaku yang terpampang nyata di penglihatannya.

“ka..kau?” ucapnya terbata. Ia bangkit berdiri dan mencoba untuk menyentuhku.

Aku mundur beberapa langkah. Aku tidak ingin tangannya terkotori oleh tubuhku. “maafkan aku…” dua kata itu akhirnya terucapkan oleh bibirku. Meski kenyataannya, hatiku akan semakin terpukul.

“kau tidak seharusnya…”

Ucapannya langsung ku sela “Tidak seharusnya apa? Minta maaf? Mencampuri hidupmu? Begitu?”

“Bu..bukan…” bantahnya.

“Lalu? Kenapa kamu menghancurkan semua harapanku hah?” setetes air mata jatuh lagi di bola mataku.

“Begini…” pria itu menarik tanganku. Namun dengan cepat ku tangkis.

“Dia bahkan menemuiku!” teriakku pilu. “Dia mungkin saja memperhatikan kita saat ini!”ujarku seraya memperhatikan sekeliling. Semilir angin terasa dingin di sekitar kami.

Babo! Apa yang kau katakan Yura? Aku tidak mengerti..”ujarnya diiringi dengan tatapan heran.

“Kau jangan pura-pura tidak tahu Jongin, beberapa menit lagi adalah upacara pernikahan kita tapi kau malah menghabiskan waktumu di sini, menangisi dia yang sudah tidak ada. Kau mencintai dia kan?” mataku kembali berkaca-kaca.

Tatapan Jongin seketika berubah saat dia mendengar kata ‘dia’ di kalimatku. Dia pasti tahu siapa yang kumaksud.“Bu-bukan begitu…”

“Kau tidak pernah mencintai aku kan?” tanyaku to the point dengan perasaan kesal bercampur sedih. “Atau… mungkin tidak akan pernah mencintai wanita selain aku!” sambungku lagi.

“Aku merasa…jika ini diteruskan kamu tidak akan bahagia bersamaku…semua sudah cukup dan memang aku bukanlah takdir yang baik untukmu…” ujarku getir seraya menaruh cincin pernikahan kami di atas kursi yang dia duduki. Kemudian berjalan meninggalkan segala perasaan pahit yang kupendam.

Tiga puluh menitpun berlalu. Ini saatnya bagiku untuk menghapus semua masa lalu ku dan dia. Tiga puluh menit waktu yang kuhabiskan hanya untuk memastikan kalau dia benar-benar mencintaiku atau tidak. Hanya memastikan.

-FIN-

Note : O.S >> Oh Sehun

Comment ya ^^ thanks

Advertisements

3 thoughts on “TIME AFTER THIRTY MINUTES

  1. Akhirnya ada post baru lg di blog ini. Ahhaha. Senangnya xD author. Lanjutin dong yg the paralyzed 😦 penasaraan beudhh ._. Oke? Jebal O:) semangka ! Semangat kakak! Hehehe xD

  2. Apa ini maksudnya si Jong In … Gay?
    Astaga><! Tapi, overall storynya bagus(y)
    meski pas awalnya rada nggak paham, aku pikir waktu Jong In nangis dimakam, makam yg dia tangisin itu makamnya si Yura itu tadi, kk ternyata bukan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s