No Es El Mismo

Author : Jey Lin aka Choi Mina ( me )

Main Cast :

Cho Jia (readers) Kai, Kim Jongin (EXO k)

Support Cast :

Xi Luhan (EXO m) , Kim Ji Kyung (other), Maria Shin (other), Oh Sehun (EXO k)

Genre : romance

Rating : PG17

NB : ff ini author ikutin lomba, and ada sedikit perubahan ^^ maaf jika ceritanya ga sesuai selera reader u.u

dan selamat tahun baru 2013 ( -‘u’- )

hope this year can be better than before :3

-Happy Reading-

***

Cinta? Bagiku itu adalah sebuah kata yang tidak akan pernah kudapatkan dengan sepenuhnya. Cinta? Hanya lah bualan kata yang tak patut untuk ku ucapkan. Karena itu adalah kata yang sangat menyakitkan bagiku, bagi hidupku dan bagi hatiku. Tapi….aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan Cinta.

***


“oppa….” Seorang gadis menghampiri seorang pria gagah yang duduk di bawah pohon pinus yang rindang. Pria itu tampak mengenakan jas hitam seraya tersenyum simpul kearahnya. Entahlah mungkin gadis itu menganggap senyuman itu hanya diuntuk kan kepadanya. Dengan riang dan setengah berlari gadis itu menghampiri pria itu lalu duduk di sebelahnya. Tak lupa ia sampirkan rambutnya yang lurus dan panjang kebelakang telinganya. Tampak begitu manis.

Saat gadis itu duduk di sampingnya, senyuman yang mulanya pria itu paparkan semakin lama memudar, bukan karena ia tidak suka tersenyum. Tapi karena orang yang berada di dekatnya ini bukanlah gadis special di matanya.

“Ya! Apa yang kau lakukan di sini? pulanglah….” Ujarnya dengan raut wajah yang suram

Itu memang kalimat yang menyakitkan baginya. Tapi ia sangat yakin kalau oppanya itu sangat menyayanginya dengan setulus hati. “aniya…aku ingin berada di dekatmu untuk waktu yang cukup lama…” ujar gadis itu seraya tersenyum manis dan menyenderkan kepalanya di bahu pria itu dengan manja

“aish..jauhkan kepalamu dari pundak ku!” bentak pria itu kesal seraya menggeser duduknya agar menjauh dari gadis itu.

“oppa…aniya….kau ini! Bilang saja suka…” kata gadis itu dengan pedenya “oppa…kau mau permen? Ayo buka mulutmu….” ujar gadis itu lagi sambil mengeluarkan dua buah lollipop dari dalam saku dressnya.

“aku tidak mau!” tolak pria itu. Ia tampak memendam kekesalannya.

“ini enak kok…bukannya kau suka? Ayo buka mulutmu…aaa…..” paksa gadis itu dengan ekspresi manja.

“aish….hentikan Jia!! Aku tak suka….” Ujar pria itu geram lalu berdiri dan hendak meninggalkan Jia,gadis itu seorang diri di sana.

“Luhan oppa….” Terdengar teriakan dari arah yang berlawanan. Seorang gadis mengenakan topi jerami dengan membawa sekeranjang strawberry tengah tersenyum ke arah pria yang bernama Luhan itu.

Dengan perasaan senang, Luhan berlari kecil menghampiri gadis itu lalu meraih keranjang yang ia bawa “pasti berat kan?” tanyanya.

“ani…” jawab gadis itu lalu berusaha untuk merebut keranjangnya dari genggaman Luhan.

“andwe…nanti tanganmu bisa lelah kalau membawa strawberry sebanyak ini…kajja…” ujar Luhan seraya menggenggam tangan gadis itu dan mengajaknya pergi.

Sementara itu Jia merasa perasaannya tersakiti. Dengan menahan rasa kesal ia berlari kencang meninggalkan tempat yang tadinya ia hampiri. Tak sengaja di tengah perjalanan ia melihat Luhan dan gadis yang juga adalah sepupunya sedang bergandengan tangan seraya melantunkan sebuah lagu romantic.

Jia kelihatan sangat sedih. Lalu dengan sengaja ia menabrak Luhan dari belakang dan alhasil semua buah strawberry yang berada di dalam keranjang yang Luhan bawa jatuh dan berserakan. Tanpa merasa menyesal Jia lari dari sana dengan terisak.

“aishh…anak itu…biarkan saja dia…ayo kita bereskan….” Ujar Luhan dengan kesalnya.

***

Jia’s POV

Aku menangis seperti ingin mengeluarkan semua perasaan sakit itu. Menyeka airmata dengan kasar,meluapkan semua perasaan kesal yang sedari tadi tersimpan di dalam hati kecilku. Sungguh malang dengan hatiku yang harus tersakiti dikala usiaku yang menginjak 16 tahun.

Kenapa orang itu harus Luhan oppa? Kenapa?

Seberapa besar energi yang ku keluarkan untuk menghapus semua air mata menyedihkan itu,namun ia tetap tak mau berkompromi untuk berhenti.

Apakah perasaanku ini terlalu tersakiti?

Disela-sela tangisku, tak sengaja bola mataku yang basah menangkap sosok yang mengintip dari balik pintu kamar, aku pura-pura tidak peduli dan kembali dengan rutinitasku. Menangis.

“Jia-ya….” Suara lembut itu terdengar di kedua telingaku. Setelah menyadari keberadaannya di sampingku,aku semakin tidak peduli. Aku pura-pura tidak mendengar.

“oppa tidak bermaksud menyakitimu kok,mungkin suasana hatinya saat ini sedang tidak baik…”

Kata-katanya ini sungguh membuatku menjadi kesal. Aku berpaling menatapnya dengan masih bercucuran air mata. Aku menatap gadis ini lama sampai-sampai membuatnya tertegun.

“keluarlah! Sebelum aku meneriakimu….” Kataku dingin.

Akupun kembali menenggelamkan kepalaku di bawah bantal dan terisak lagi. Aku tidak peduli seberapa liter air mata yang ku teteskan. Namun sesaat, aku merasakan sentuhan tangan hangat di lenganku. Akupun berhenti menangis dan secara spontan berteriak “SUDAH KUBILANG KELUAR!!!” Nafasku turun naik dan lihat siapa yang kuteriaki. Dia Kim Jongin. Adik laki-laki dari perempuan itu.

“berhentilah menangis,kau tampak seperti orang gila!” ujar Jongin lalu merapikan rambutku yang berantakan. Ku pukul tangannya dengan kuat hingga memerah. Aku tau perbuatanku ini sungguh keterlaluan. Tidak berterimakasih tapi malah membuat Jongin juga ikut tersakiti. Memangnya peduli apa dia tentang perasaanku hah?

“hentikan! Aku tidak suka….” aku berteriak lagi masih memukul tangannya . Jongin meraih tubuhku dan memeluknya dengan paksa mencoba untuk menenangkanku. Aku tidak bisa berkutik lagi dan kemudian terdiam.

“hus…apa kau juga akan membenciku?” Tanya Jongin lalu mengelus kepalaku dengan lembut “maafkan kakak ku, dia tidak tahu apa-apa tentang perasaanmu terhadap Luhan hyung”

Setelah kalimat itu terlontar, aku kembali memberontak, memukul Jongin lagi. “kau tidak pernah tau seberapa besar perasaanku yang tersakiti oleh kakakmu eoh? Dia merebut oppa dariku! Kakakmu jahat! Dia gadis yang jahat!!”

Jongin menggenggam tanganku dengan erat. Menatap ke dalam kedua bola mataku. Matanya memancarkan suatu perasaan yang tidak bisa kuterjemahkan. “jangan bersikap seperti anak kecil Jia! Kau….!” Seketika Jongin memelukku lagi “aku akan selalu ada untukmu….”

Semenjak kejadian itu, Jongin lah orang yang selalu dekat denganku. Menghiburku bahkan menjadikan aku orang yang terpenting dalam hidupnya. Aku sungguh beruntung memiliki seorang sahabat seperti Jongin.

***

Kisah cintaku terus berlanjut sampai aku menjadi seorang mahasiswi. Aku,Jongin,Luhan oppa bahkan gadis yang merebut oppa dariku, Kim Ji Kyung seuniversitas. Mungkinkah ini Tuhan yang menakdirkan?

Setelah selesai dengan menjalankan rutinitas yang sangat padat, aku segera bergegas pulang karena malam ini keluarga besar akan merayakan Natal di rumahku. Tentu Luhan oppa akan datang malam ini. Dan aku ingin memasakan makanan special untuknya di malam Natal.

Kumasukkan kedua tanganku ke dalam saku blazer yang kukenakan. Aku terlalu ceroboh untuk lupa memakai sarung tangan,padahal di luar sana salju turun dengan deras,jika aku lupa untuk memakai syal mungkin saja aku bisa mati kedinginan.

Pandanganku tidak sengaja menangkap sosok Luhan oppa yang berjalan menuju gedung seni. Aku heran,lalu dengan diam-diam membututinya hingga sampai di depan sebuah ruangan tari. Aku melihat Luhan oppa memasuki ruangan itu dengan membawa sebuket mawar di balik tubuhnya. Lalu siapa yang akan ia temui?

Perasaanku memang benar, Luhan oppa menemui Ji Kyung unnie. Aku mengintip dari luar. Perasaanku semakin was-was. Karena hanya mereka berdua yang berada di dalam ruangan itu. Aku melihat ekspresi kaget Ji Kyung unnie akan kehadiran Luhan oppa yang tiba-tiba. Aku baru ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahun unnie.

Kemudian aku mendengar tawa renyah keduanya. Luhan oppa memeluk Ji Kyung unnie yang membuat pipiku memanas. Hatiku terasa sakit. Dan sedikit gejolak kemarahan muncul di dalam hatiku. Tanganku mengepal erat dan pelupuk mataku mulai memanas. Aku ingin berteriak.

Lalu yang kulihat selanjutnya. Luhan oppa berlutut di depan unnie seraya memberikan buket mawar itu kepadanya. Mataku semakin memanas. Sedangkan nafasku turun naik.

“Ji Kyung-ah mau kah kau menjadi yeojachingu ku?”

Ji Kyung unnie tampak menimbang-nimbang sejenak seperti memberi harapan. Lalu sedetik kemudian dia mengangguk dan tersenyum.

Bagus! Air mata itu dengan mulusnya bercucuran di pipiku.

Luhan oppa memeluk Ji Kyung unnie dengan erat dan mengecup keningnya pelan. Dan yang semakin membuat hatiku menangis adalah mereka berdua saling mendekatkan wajah dan kalian pasti tau apa yang terjadi setelah itu.

Unnie…kau wanita yang beruntung mendapatkan ciuman pertama dari Luhan oppa.

“jangan lihat…” seseorang membalikan tubuhku ke arahnya

“Jongin-ah…”

“aku di sini…”ujarnya lalu mengeratkan pelukannya padaku. Aku terisak dan memukul dada Jongin “hey…tenanglah….!” Ucap Jongin lalu meraih wajahku. Dengan gerakan cepat,aku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh keningku.

“ayo pergi….” Jongin mengelus kepalaku dan menarikku dari sana namun…

“andwe!” teriak ku padanya. Dengan rasa kesal ku dorong tubuh Jongin agar menjauh dariku. Pria ini pasti tau apa yang akan kulakukan.

“Jia-ya! Kau jangan keras kepala!” Jongin menarik tanganku namun usahanya itu tetap tak akan menghentikan langkahku. Sedikit tergesa-gesa kuraih ganggang pintu yang ada di hadapanku ini lalu menariknya dan menghempaskannya dengan kuat,membuat suara dentuman yang amat keras. Luhan oppa dan Ji Kyung unnie spontan menoleh ke arahku yang sudah berlinang air mata.

“oppa….andwe! kau adalah milik ku! Ji Kyung unnie tidak pantas untuk kau jadikan pacar! Yang pantas hanya lah aku!!” suaraku terdengar sangat lantang. Kuusap air mataku kasar dan berjalan mendekati mereka berdua. Tanganku dengan gerakan cepat meraih lengan Luhan oppa dan hendak menariknya ke luar dari ruangan itu.

“Ya! Kau tidak berhak menarikku!” teriak Luhan oppa marah seraya menarik tangannya dari genggamanku. Aku terkejut dan terdiam sejenak.

“heh….apa yang bisa dia berikan padamu? Tak ada!” teriak ku lagi. Kini giliran ubun-ubunku yang memanas. Kemarahanku benar-benar bergejolak. Ingin rasanya aku membakar ruangan ini sekarang juga. Kedua bola mataku melirik tajam ke arah wanita yang berdiri di belakang Luhan oppa. Ia terlihat menunduk dan cemas.

“Cinta! Dia memberikan cinta padaku, sedangkan kau…sifat egoismu itu yang selalu kau tunjukan padaku! Aku tidak akan pernah mencintai wanita seperti dirimu!”

BRAK

Hatiku terasa hancur berkeping-keping. Kedua kakiku terasa lemas,namun aku harus tetap terlihat kuat. Ku sentuh dadaku yang menimbulkan rasa sakit di sana. Ji Kyung unnie juga terkejut mendengar kalimat yang Luhan oppa tuturkan.

“oppa…kenapa kau berkata seperti itu?” suaraku melemah dan air bening itu siap untuk jatuh dari kedua bola mataku.

“aku tidak mencintaimu Jia!” Luhan oppa menarik Ji Kyung unnie mendekat ke arahnya “hanya dia wanita yang bisa kucintai,tak ada yang lain….” ujarnya.

Selesai sudah. Perasaan cintaku kandas dengan akhir yang menyedihkan. Setetes demi setetes air mata jatuh dari pelupuk mataku “oppa….kau jahat!kau jahat!!” teriakku seraya terisak dan berlari meninggalkan mereka. Jongin menantiku di depan pintu, tapi aku malah mendorongnya dengan kuat dan membuatnya terjatuh ke lantai.

“Jia-ya!” terdengar suara Ji Kyung unnie memanggilku. Tak kusangka wanita itu malah mengejarku di tengah suhu yang dingin sore itu.

Grep!

Dia berhasil menarik tanganku dan menghentikan langkahku “mianhae…” ujarnya yang membuat hatiku semakin sakit. Aku mencoba untuk mengatur nafasku yang abnormal. Tanpa mengatakan apa-apa, kutepis tangannya dari tanganku “Jia-ya mianhae….” Dia semakin mengeratkan genggamannya di lenganku.

“UNNIE!!!” aku berteriak lalu mendorong tubuhnya hingga terjatuh di balutan salju.

Aku berlari lagi dan melintasi jalan raya yang ramai dengan kendaraan.

“Jia! Jia!” Aku berusaha untuk tidak peduli dengan teriakan itu.

“Jia-ya!!”

CIIIIIIIITTTTTT.

BRUUUUUUKK.

Langkahku terhenti. Suara teriakan bercampur dengan bunyi klakson kendaraan. Aku menoleh ke belakang dan seketika kedua mataku terbuka lebar. Kakiku dengan segera melangkah ke tengah jalan raya yang mulai ramai dengan orang-orang. Jantungku rasanya ingin meledak saat melihat orang yang tergeletak tak berdaya di aspal. Darahnya tak kunjungi berhenti mengalir, membuat warna salju yang putih menjadi merah.

“JONGIIIIINN!! TOLONG SELAMATKAN DIA!!” teriak ku tak karuan. Ku peluk Jongin dengan sangat erat. Lumuran darah ikut berbekas di pakaianku. Aku semakin terisak.

Mulai saat itu, malaikat penolongku pergi untuk selamanya dan tak akan pernah kembali lagi. Dia pergi meninggalkanku di saat perasaan cintaku yang hancur. Tak ada lagi yang menghibur dan menyemangatiku. Hidupku terasa hampa dan semakin suram. Satu hal yang baru kusadari bahwa selama ini hatiku telah memilih KIM JONGIN. Apakah aku terlambat?

***

9 years later

Sembilan tahun waktu yang cukup lama untuk melupakan Jongin dari hidupku. Semua kebaikan yang dia berikan, semangat dan….

Ketulusan?

Spontan tanganku bergerak menyentuh dadaku. Aku terdiam sejenak. Lalu seseorang membuyarkan lamunanku.“Ya…jadi kau akan bekerja sama dengan designer terkenal LA itu? Baguslah…chukkaeyo…kau jadi designer muda terkenal Korea sekarang….adik ku memang pintar…” Ji Kyung unnie terlalu berlebihan memujiku. Aku tersenyum simpul. Dia beruntung mendapatkan Luhan oppa dan kini mereka mempunyai anak kembar yang berusia 2 tahun “jadi jam berapa kau akan berangkat?”

“eoh? Ya ampun unnie aku hampir terlambat…” ku lirik arloji yang melingkar di pergelangan tanganku.

“Ya ampun…selalu saja terlambat….” Ujar Ji Kyung unnie seraya memukul jidatnya pelan “sini ku bantu….”

Unnie membantuku mengangkat barang-barang ke dalam bagasi mobil.

“Ya! Aku pasti akan merindukanmu…”

Aku tersenyum dan memeluk unnie dengan erat. Ku lirik pria yang berdiri di sebelahnya yang sedang menggendong si kembar. “kau tidak akan merindukanku eoh?”

“heh…berhati-hati lah….” Ujarnya.

“hmm…nde….bibi pergi ya…annyeong…” kataku seraya mengecup si kembar.

“jangan lupa telpon aku jika kau sudah sampai di sana…!!”

“nde unnie….” Sautku lalu masuk ke dalam mobil. Sopir sudah menungguku dari tadi. Dia yang akan mengantarkanku ke bandara.

LA I’m Coming   

***

“Hei…apa kau tidak tertarik untuk mengelilingi LA hah? Sudah tingga minggu kau di sini, tapi masih berkutat dengan pekerjaanmu…apa kau tidak bosan?” celoteh Maria, dia adalah designer terkenal LA sekaligus partner kerjaku, gadis keturunan Jepang,Canada. Kami seumuran dan dia anak yang sangat baik dan easy going.

“aku harus menyelesaikan pekerjaanku Maria…” jawabku sekenanya, masih sibuk menggores kertas putih yang ada di hadapanku ini.

“hey…hey…ayolah…kita ke club, bagaimana? Kau pasti tertarik…pemuda-pemuda di LA juga tidak kalah keren dari pemuda-pemuda di Korea…” ujarnya panjang lebar yang membuatku sedikit terkekeh.

“aku ke sini bukan untuk itu Maria…aku ke sini untuk belajar dan berkarir….” Jawabku yang membuatnya terkesiap.

“hey…ini sudah pertengahan September dan….” Maria tampak tak melanjutkan ucapannya.

“dan…?” aku menunggu lanjutan kata-katanya.

“lupakan….” Ujar Maria lalu meninggalkanku sendirian di ruangan kerjaku.

“kenapa dengan bulan September?” ucapku bertanya pada diri sendiri. Ku tatap kalender yang berdiri di atas meja kerjaku. Lalu mataku menangkap lingkaran merah yang tertoreh di salah satu tanggal. “aissshhh…bodohnya diriku….” Makiku pada diri sendiri.

***

“yuhuuuuuuuuu………….” Teriak Maria kegirangan karena dia berhasil membujuk ku untuk ke club malam ini. Terserah lah yang penting dia senang di hari yang sangat special. “dari mana kau tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahunku?”

Aku tersenyum simpul “kau ingin tahu hah? Haha…” jawabku seraya terkekeh.

“thank you darla….” Ujar Maria seraya memeluk ku dengan satu tangan.

“hey…perhatikan jalan…kau tidak ingin ada yang tertabrak kan? Haha…” peringatku tanpa menoleh ke arahnya. Aku terlalu sibuk memperhatikan jalan yang terlihat mewah di malam hari. Benar yang dikatakan Maria, kalau aku butuh refreshing.

“Ok Ok….yuhuuuuuuuy….” teriak Maria seraya menjulurkan tangan kirinya ke luar jendela. Anak ini benar-benar kegirangan. Aku tahu dia juga suntuk dengan pekerjaan yang menumpuk.

“Hey Jia….”

“hem….?” Aku masih focus memperhatikan deretan gedung-gedung tinggi menjulang di tambah lampu yang kerlap-kerlip disekitarnya. Sangat modern. Itulah LA.

“nanti…aku akan memperkenalkan kau dengan teman-temanku…dan juga photographer yang akan bekerja sama dengan kita….”

“hmm….” Ku dengar penjelasan Maria dengan saksama.

“dia adalah teman dekatku sejak kecil…dia Kai…..kau pasti suka dengannya….yey…kita sampai…”

Maria memberhentikan mobilnya di depan gedung yang tak kalah mewah. Banyak pemuda-pemudi yang lalu lalang di sekitarnya. Ini kah yang dinamakan Club LA? “ayo masuk….” Maria menarik ku yang masih tercengang ke dalam Club. Baru pertama kali aku melihat Club yang sangat mewah dan besar. Sesampainya di dalam, pengunjung terlihat ramai sekali dan music DJ mengalun dengan keras. Semua terlihat asik dan menikmati alunan itu. Aku yang masih canggung dengan dunia perclub-an hanya bisa memperhatikan mereka tanpa melakukan apa-apa.

“Jia…kau tunggu di sini sebentar ya…” Maria berjalan meninggalkanku, sepertinya dia ada urusan dengan photographer itu.

Aku duduk di depan bar seraya memperhatikan minuman keras yang berderet di atas nya. Lalu dari arah kanan terlihat seorang pria setengah mabuk menghampiriku. Di lihat dari tampangnya pria itu tampak seperti orang Korea. Dia berbadan tinggi mengenakan kemeja coklat. Pria itu duduk di sampingku memesan segelas bir dan tanpa kuduga dia membasahi bagian atas pakaianku dengan bir itu sehingga pakaian dalam yang kukenakan terlihat. Aku melonjak kaget dan hampir menamparnya kalau saja dia tidak menahan tanganku.

“hey nona…kenapa tidak bersenang-senang hah?haha…..” dia menarik ku mendekat kearahnya, mengecup punggung tanganku.

Seseorang tolong aku!

Malaikatku!

“hey….dia bukan kekasihmu Sehun!” seseorang menarik tanganku dari genggaman pria yang bernama Sehun itu. Benarkan dugaanku kalau dia ini adalah orang Korea. Tapi siapa pria yang menolongku ini?

Jika aku bermimpi tolong jangan pernah membangunkanku dari mimpi ini. Karena pria yang ku lihat, wajahnya mengingatkanku pada seseorang. Tidak! Jongin tidak akan pernah kembali ke dalam hidupmu Jia!

Pria itu menoleh kearahku lalu memperhatikan pakaianku yang basah. “pakailah….” Ia melepaskan jaket kulitnya dan memberikannya kepadaku.

“Jia…kau tidak apa-apa? Hey…kau ini…” Maria memukul kepala pria yang dengan sangat beraninya mengecup tanganku “Dia Sehun….kalau mabuk memang seperti itu….ah….Jia ini Kai…dia yang akan bekerjasama dengan kita….”

Pria yang bernama Kai itu tersenyum dingin ke arahku lalu menjulurkan tangannya “hey Aku Kai…semoga kita dapat bekerjasama….”

Tanganku seketika terasa kaku. Bahkan untuk mengucapkan kata ‘Hai’ sungguh terasa berat untuk ku lontarkan. Aku tidak yakin dengan yang ku lihat ini. Adakah di dunia ini orang yang berwajah sama? Dan kenapa harus Jongin?

“Jia…” Maria menyikut lenganku,mengembalikan ke alam sadar. Aku terkesiap dan memperhatikan tangan Kai yang masih menjulur di depanku, menunggu ku untuk membalasnya.

“Maria….kepalaku sedikit pusing….bisakah kita pulang sekarang?” Babo! Kenapa itu yang ku katakan?

Dengan cepat ku langkahkan kakiku ke luar dari club itu. Sungguh kepalaku terasa sangat pusing. Namun seseorang menarik lenganku. “Maria…aku ingin…pu…lang….”

Jongin? Bukan dia Kai. Pria itu yang menarik lenganku dan mendorong tubuhku merapat ke dinding. Kemudian berbisik di telingaku “kau…. adalah wanita pertama yang menolak untuk berkenalan denganku…” ujarnya dingin. Tangan kanannya beralih menyentuh ujung rambutku yang terurai sepinggang. Sementara itu tangannya yang satu lagi memblok tubuhku agar tidak bisa berkutik. Aku hanya bisa menelan ludah dan menunggu Maria untuk membawaku ke apartement.

“why? Kau tidak akan pulang dengan Maria….aku yang akan mengantarkanmu pulang….” Kedua bola mataku membulat sempurna. Ya Tuhan sebenarnya apa yang terjadi?

Kai menarik tanganku hingga kami berada di dalam mobil hitamnya yang elegan,sama seperti pemiliknya yang arrogant. “hey nona, aku bukanlah pria arrogant seperti yang kau pikirkan” kata-katanya ini membuat jantungku berdetak semakin kencang. Apakah dia bisa membaca pikiran orang?

“aku hanya bisa membaca perasaanmu….” Ujarnya lagi yang membuat mataku semakin membulat. Meski wajah mereka sangat mirip tapi sikapnya sangatlah berbeda jauh dengan Jongin. Jongin dan Kai bukanlah orang yang sama. Jongin pria yang selalu melindungi wanita yang berada di sekitarnya berbeda dengan Kai yang suka menakuti wanita.

“apartmentmu di mana?” Lagi-lagi aku hanya diam, focus dengan pikiranku sendiri. “hey nona…aku bertanya padamu….”

Kupalingkan wajahku ke luar jendela. Menatap gedung-gedung megah itu lagi. “hah….sepertinya aku harus menelfon Maria…” ujar Kai yang menyerah menunggu jawaban dariku.

***

“nona…kita sudah sampai….” Kai memberhentikan mobilnya tepat di depan apartment. Aku langsung membuka pintu mobil namun Kai menarik ku, memaksakan tubuhku untuk duduk lagi.

Apa lagi sekarang?

Kai menarik daguku ke arahnya,memperhatikan wajahku dengan leluasa “nona…tak ada kata yang ingin kau katakan? Seperti… berterimakasih?” Aku diam sebentar. Ku dorong tubuhnya agar menjauh dariku.

“hey nona….kau tidak lupa dengan jaketku kan?”

Ku lirik jaket yang tersampir di bahuku. Lalu meletakkannya di atas tempat duduk. Akupun keluar dari dalam mobilnya sebelum dia menarik ku untuk yang kedua kalinya.

***

Ku tutup pintu kamarku dengan rapat. Kakiku melangkah menuju lemari baju yang terletak di sudut kamar. Kubuka lemari itu dan menarik sebuah kotak kecil yang sengaja ku taruh di dalamnya. Perlahan ku buka kotak itu dan memperhatikan benda yang ada di dalamnya. Sebuah frame fotoku dan Jongin. Tak terasa air mataku menetes. Aku sangat merindukan Jongin. Ku taruh frame itu di dadaku. Tuhan kenapa kau mempertemukanku dengan orang yang mirip dengannya? Pelupuk mataku semakin banjir dengan air bening itu. Aku sangat lelah menahan perasaan ini yang membuatku semakin linglung. Tuhan apa maksud semua ini?

***

 “Jiaaaaaa……bangun……!!” suara Maria mengganggu tidurku. Ku paksa mataku terbuka lebar. Meski keduanya masih enggan untuk menikmati sinaran mentari pagi. Maria menarik selimut yang membaluti tubuhku. “aku masih mengantuk…..” kataku malas dan menarik selimut lagi.

“hey…kau ini…bukankah kita akan membicarakan masalah proyek baru dengan Kai?”

Mendengar nama Kai, mataku langsung terbuka lebar “hey Jia…semalam kenapa kau bersikap dingin pada Kai? Dia memang anak yang seperti itu…kesan pertama kau bertemu dengannya pasti sangat menjengkelkan tapi jika kau dekat dengannya Kai itu anak yang sangat baik…tapi dilihat dari ekspresinya menatapmu… dia kelihatan tertarik…ku beri tahu ya..Kai itu tidaklah mudah akrab dengan seorang wanita…ya memang banyak wanita yang tergila-gila padanya,dia pintar,tampan dan kaya…tapi…hanya kau wanita yang berhasil membuatnya tertarik…ku rasa dia menyukaimu….haha…” Celotehan Maria ini terasa membosankan bagiku.

“hey sampai kapan aku harus mendengar celotehanmu itu heh?” Aku tersenyum jenaka ke arahnya. Sedetik kemudian Maria melempar sebuah bantal ke arahku seraya tertawa.

“oh…itu apa?” Tanya Maria seraya menunjuk benda yang masih kugenggam. Heh ternyata dari semalam aku masih memeluk frame ini?

“ini…tidaklah penting bagimu….”

“ya sudah…cepat mandi sana…aku tidak ingin terlambat….”

***

Aku merasa sedikit resah dengan tatapan Kai yang ia berikan padaku. Sulit bagiku untuk memalingkan wajah karena tatapannya itu sungguh membuatku terganggu. Aku harus menahannya sampai rapat usai atau apa aku harus keluar saja? Tidak! Itu bukanlah tindakan yang professional.

Sedikit ku akui bahwa pria itu memang handal di bidangnya sebagai seorang photographer. Namanya melenjit lima tahun terakhir ini. Dia juga tergolong photographer muda yang sangat berbakat, dengan bukti segala event-event besar sukses ia jalani. Dan dari sanalah karirnya dimulai.

***

“hem…lalu bagaimana dengan model?” seorang karyawan mengajukan pertanyaannya

“tidak perlu membuang waktu….kita sudah memilikinya…” Kai tersenyum evil ke arahku. Perasaanku sungguh tidak enak.

“siapa?” seluruh staf yang berada di ruangan ini tak terkecuali Maria dan asisten Kai,Sehun bertanya dengan serentak. Kai tersenyum sebentar lalu dengan santainya berkata “aku pilih dia….” Jari telunjuknya mengarah ke wajahku. Aku terkejut dan langsung memprotes “hey…kau tidak bisa memutuskan sendiri  dengan seenak jidatmu!” kataku lantang seraya berdiri dari duduk ku. Semua orang yang berada di ruangan ini spontan melirik ku.

“ma…maksudku…aku tidak pernah menjadi model sebelumnya…dan aku tidak bisa melakukan ini….jadi ku rasa kau harus mempertimbangkannya lagi….” Protesku dengan memberikan alasan yang cukup jelas. Ya memang aku bukanlah model professional, lagi pula aku tidak ingin setiap hari bertemu dengan Kai yang menyebalkan.

“aku sudah mempertimbangkan sebelumnya dan aku memilihmu menjadi modelnya…”

“tapi…”

“ku rasa yang lain tidak keberatan…” Kai memotong pembicaraanku.

“benar yang Kai katakan….ku rasa kau bisa melakukannya Jia…” kini Maria yang mulai ikut-ikutan membela pria itu.

Oh Tuhan kenapa harus begini?  

“ok deal….” Ujar Kai kemudian “hey tunggu…..” aku mencoba memprotes lagi.

“itu bukanlah masalah….” Sehun,asistennyapun ikut setuju dan diikuti oleh semua staf.

Apa-apaan ini?

“ok…pemotretan akan kita mulai besok…” Kai kembali bersuara. Dia benar-benar membuatku kesal dan tidak berkutik. Menyebalkan!

***

“ok satu dua tiga…”

JEPRET.

“hey….kenapa ekspresimu seperti itu heh?”

“sudah kubilang kan kalau aku sama sekali tidak berbakat menjadi seorang model…” ujarku sedikit ketus.

Kai tersenyum ke arahku. Tapi ini senyuman yang lain dari biasanya. “bisakah kalian semua keluar? Ku rasa dia akan bisa berekspresi jika hanya kami berdua di ruangan ini…”

“baiklah….” Saut semua staf lalu meninggalkan kami.

“hey apa-apaan ini heh?” tanyaku kesal.

Kai meletakan kameranya di atas meja. Lalu berjalan mendekat ke arahku seraya tersenyum lagi. “kau mau apa?” tanyaku to the point.

Kai tersenyum lagi lalu berdiri di sebelahku “coba kau yang menjadi photographer dan aku yang menjadi modelnya…”

Aku segera mengikuti perintah Kai. Ku sambar kameranya dan mulai memotret.

Jepret! Jepret! Jepret!

Dan hasilnya sempurna!

“kau mengertikan bagaimana berekspresi yang baik? Kau tidak perlu memikirkan apakah hasil pemotretannya akan bagus atau tidak, tapi pikirkan perasaanmu…tuangkan semua perasaanmu dengan ekspresi…maka hasilnya akan natural…”papar Kai memberi penjelasan.

Aku mengangguk mengerti.

“ok kita mulai….”

Jepret! Jepret! Jepret!

***

Author’s POV

“woaaaa….akhirnya proyek berjalan dengan lancar dan sukses…”ujar Maria seraya beristirahat di atas sofa, karena selama sebulan ini mereka bekerja terlalu keras.

“akan ku buatkan kau teh hangat…tunggu sebentar…” ujar Jia seraya berlari kecil ke arah dapur.

Maria mengangguk lalu menunggu minumannya datang. Tak sengaja Maria melihat frame foto yang terletak di atas meja. Ia meraih frame itu. Lalu terkejut dengan apa yang dia lihat. Tak lama kemudian Jia datang menghampirinya sambil membawa dua cangkir teh hijau hangat.

“ini….” Maria menunjukan frame itu pada Jia.

Jia terdiam sebentar.

“dia bukanlah Kai kan?”

Jia menggeleng pelan “dia Jongin, teman dekatku…tapi dia sudah meninggal 9 tahun yang lalu….” jelas Jia

“oh…maaf aku tidak tahu…kalian berdua sangat dekat?”

Jia mengangguk “sangat dekat bahkan dia pria yang berhasil merebut hatiku…”

“jadi kau bersikap dingin pada Kai itu karena dia sangat mirip dengan Jongin? Lalu hatimu tidak bisa menerima kenyataan ini? Oh Tuhan…Jia kemarilah….” Maria memeluk rekannya itu seraya mengelus punggungnya dengan lembut “ini sungguh berat….tapi…tidak bisakah kau berpaling kepada pria selain Jongin?”

“aku rasa….belum….”

“tapi bagaimana dengan Kai?”

“ya mereka sangat mirip, tapi sikap mereka sungguh berbeda…” tutur Jia yang membuat Maria mengangguk mengerti “ah tunggu sebentar….ponselku berbunyi…” Maria meraih ponsel yang berada di dalam saku jeansnya.

“hallo? Ya? Malam ini? Ok baiklah kami akan ke sana….”

“siapa?” Tanya Jia penasaran dengan orang yang menelfon Maria, dari raut wajah Maria terlihat sangat jelas bahwa gadis itu sangat senang.

“Sehun…dia bilang Kai akan mengadakan pesta kesuksesan proyek kita malam ini…kyaaaaaa…..aku tidak sabar….ayo bersiap-siap….” ujar Maria riang.

“kau…pergilah….aku akan bersenang-senang sendirian di sini…” saut Jia malas, ia sungguh tidak berminat untuk mengunjungi pesta Kai.

“hey…hah…baiklah…aku tidak memaksamu….tapi ku harap kau berubah pikiran….” Ujar Maria lalu. berjalan ke arah pintu keluar “ok aku pergi….”

Maria berjalan tanpa melihat ke belakang dan secara tidak sengaja tubuhnya menabrak seseorang “ah maaf…” ujarnya.

“tidak apa-apa nona…apakah ini apartement no 149 atas nama nyonya Jia?” Tanya orang itu yang ternyata pengantar barang.

“ya memang benar….kenapa?”

“ini ada paket untuknya….” Ujar pria itu.

“oh…biar aku yang mengurus ini….dimana aku harus tanda tangan?”

“di sini…”

“ok thank you….”

“sama-sama nona….”Dengan tampang heran Maria memperhatikan kotak yang berada di atas tangannya. Dengan hati-hati Maria membawa kotak itu ke dalam apartment Jia.

“Jia…lihatlah….baru saja seseorang mengantarkan paket untukmu….aku lupa menanyakan dari siapa….” Maria meletakkan kotak itu di atas meja. Lalu menunggu respon dari Jia.

“apa itu?”

Maria tampak antusias “coba saja kau buka….kira-kira isinya apa ya?” Maria tidak sabar untuk mengetahui benda yang berada di dalam kotak berwarna coklat itu. Perlahan Jia membukanya dan terlihatlah sebuah lipatan dress berwarna pink muda yang elegan. Sampai-sampai benda itu mampu membuat Maria terpukau.

“wow…ini adalah dress yang sangat cantik dan ku yakin harganya sangat mahal….hmm siapa yang mengirimnya padamu…? Ah lihat di dalamnya ada surat….ayo baca….” Ujar Maria tak sabaran.

Jia meraih surat kecil itu dan membacanya dengan pelan “datanglah ke pesta malam ini, kalau tidak aku akan membunuhmu!”

“wow wow wow….mungkinkah…dia yang memberikan dress ini untuk mu hah?haha…” ujar Maria tertawa jenaka yang sepertinya mengenal pengirim paket itu.

Jia hanya bisa menghela nafas panjang sambil memperhatikan kalimat ancaman yang tertulis di surat itu. Kalimat itu terus saja menghantui pikirannya. Mau apa pria itu hah?

Maria menyentuh pundak Jia pelan “hey….aku sangat mengenal Kai,dia bukanlah pria yang suka bermain-main dengan perasaan…aku yakin dia serius terhadapmu….” Ucap Maria seraya tersenyum simpul “baiklah….ayo bersiap-siap…aku akan berdandan cantik malam ini….”teriak Maria yang semakin tidak sabar untuk menghadiri pesta.

***

Jia’s POV

Aku melangkah memasuki gedung tinggi yang berada di depanku ini. Menatap satu persatu hadirin yang datang. Matakupun menangkap sosok Jongin yang sedang berbincang dengan rekan-rekan kerjanya yang sangatlah berbeda jauh dari usianya. Wajahnya terlihat serius, tidak seperti tampang playboy yang sering ia tunjukan di hadapanku. Entah kenapa mataku masih enggan untuk tidak berpaling menatapnya dari kejauhan. Ada suatu perasaan yang menarik ku untuk tetap memperhatikannya. Ia terlihat dewasa dan santun saat berbincang dengan orang-orang asing itu. Apakah Kai juga bisa bersikap seperti itu?

Tak sengaja mata kami bertemu. Kai balas menatapku namun aku segera memalingkan wajah dan pura-pura tidak melihat ke arahnya. Aku akan malu besar kalau Kai menyadari bahwa dari tadi aku memperhatikannya. Tuhan semoga Kai tidak tahu!

Hanya untuk sekedar mengecek, matakupun bergerak melihat ke arahnya. Sial. Dia masih menatapku. Aku sedikit resah dan berjalan meninggalkan pesta menuju atap yang sangat sepi. Dan aku mulai berdoa semoga Kai tidak membututiku kemari.

Angin malam yang dingin merasuki tubuhku. Ku usap lenganku untuk menghangatkannya. Aku terlalu bodoh untuk memakai dress mini pemberian dari Kai ini. Dan kenapa aku mau melakukannya?

“gadis cantik seperti mu tidak boleh sendirian di sini….” suara berat Kai mengagetiku. Aku menoleh ke arahnya yang berjalan mendekatiku. Tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku kembali memperhatikan pemandangan menawan yang berada di hadapanku. Dari sini semua gedung-gedung kota yang berjejeran dapat terlihat dengan jelas.

“hey…kau mendengarku hah?” Tanya Kai yang sedikit kesal karena aku tidak memberinya respon.

Aku menghela nafas sejenak, menghirup oksigen di sekitarku “kenapa kau memberiku pakaian seperti ini heh?” tanyaku pada Kai yang sudah berdiri tapat di sampingku.

“karena aku akan menghangatkanmu….” ucap Kai sambil melingkarkan tangannya di pinggangku. Aku terkejut dan menoleh ke belakang. Lagi-lagi mata kami bertemu. Matanya yang berwarna coklat seakan menghipnotisku. Tak ingin terbuay dengan tatapannya, kupalingkan wajahku. Aku dapat merasakan pipiku yang memanas.

“apa kau masih kedinginan?” tanya Kai lalu mengeratkan pelukannya. Aku mendorong Kai ke belakang dengan kuat membuatnya melepaskan pelukan itu. Lalu berjalan menjauhinya.

“aku harus menemui yang lain….” kataku namun Kai meraih tanganku sebelum aku berhasil meloloskan diri darinya “kenapa terburu-buru?” tanyanya kemudian “tetaplah di sini….”

“ani….” Jawabku cepat. Aku takut kalau pria keturunan Korea ini bertindak macam-macam terhadapku.

“aku ingin tanya sesuatu…apakah kau mencintaiku….?” Kai menatap lurus ke dalam bola mataku. Aku membalas tatapan itu meski sebentar.

“aku harus pergi….” Kataku seraya mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Kai yang semakin kuat di pergelangan tanganku.

“jakkaman….” Untuk pertama kalinya aku mendengar Kai menggunakan bahasa Korea. Dia menarik dan meraih wajahku lalu sedetik kemudian sebuah sentuhan lembut mendarat di keningku. Aku terkesiap dan mendorong tubuh Kai dengan kuat. Tanpa ku sadari tanganku bergerak menampar pipi Kai. Meninggalkan bekas merah di sana. Aku juga merasakan mataku memanas menandakan aku akan menangis. Ku tatap Kai dengan rasa kesal.

Karena perasaan itu mengingatkanku kepada Jongin.

Tak kuat menahan tangis, aku berlari meninggalkannya di sana. Berlari tanpa tahu tujuan. Pikiranku selalu terbayang akan wajah Jongin. Aku merindukannya. Sangat-sangat merindukannya. Aku mencintai Jongin.

Ku seka air mataku dengan kedua tangan. Aku lelah berlari dan tidak tahu dengan tempat yang ku tuju ini. Akupun melihat halte yang tak jauh dari tempatku berdiri. Kakiku melangkah mendekati tempat itu yang sangat sepi. Aku duduk di sana seraya melepas high-heels yang ku kenakan. Ku usap tumitku yang mulai kesakitan.

Tiba-tiba dari arah timur muncul segerombolan gangs motor yang mendekat ke arahku. Mereka terlihat sangat menakutkan dan bertubuh kekar.

“hey lihat, ada gadis seksi di sini….” ujar salah seorang dari mereka yang memiliki banyak tindik di kedua telinganya.

“ayo kita ganggu dia…”ujar pria yang lain yang memiliki jambang. Mereka turun dari motor dan berjalan mendekatiku.

“hey kalian jauhi dia….” Aku menoleh ke sumber suara. Aku melihat Kai berdiri tak jauh dari halte.

“hey hey ayo pergi…..” perintah pria yang berjambang tadi,tanpa melakukan perlawanan terhadap Kai. Mereka melajukan motornya lalu meninggalkan tempat itu. Sedangkan aku masih berusaha untuk membersihkan sisa-sisa air mata yang menggenang di pelupuk mataku.

Kai menarik lenganku agar berdiri “aku akan mengantarkanmu pulang….” Kata Kai seraya menyampirkan jasnya di bahuku. Dia juga memperhatikan kakiku yang sedikit terluka akibat berlari tadi. “apa kau bisa berjalan?”

Aku menggeleng pelan. Entah kenapa sifat manjaku muncul di saat seperti ini.

“naiklah….” Ujarnya seraya jongkok di depanku. Tanpa mengatakan apa-apa aku langsung menerima tawarannya. Kai menggendongku dan berjalan menjauhi halte itu.

“kau tahu kenapa mereka tidak berani melawanku hah? Karena wajahku yang seram mungkin…haha….” Ujar Kai seraya terkekeh yang tidak berhasil membuatku ikut tertawa. Karena terlalu letih,akupun mengantuk dan menyenderkan kepalaku di pundaknya.

Author’s POV

“hey….” Kai menunduk sebentar “maaf…..aku sudah melakukan hal yang membuatmu kesal…tiba-tiba saja sesuatu menarikku untuk melakukan itu terhadapmu….maaf karena aku sudah lancang….” ucap Kai namun wanita yang digendongnya ini hanya diam dan tidak merespon. Kai berhenti sejenak dan melirik wanita yang ternyata sudah terlelap di pundaknya. “dia..sangat manis…” gumam Kai seraya tersenyum kecil.

***

Kai menggendong wanita itu lalu meletakkannya di atas tempat tidur. Menyelimuti wanita itu dan menatapnya sekilas. Terlintas di benaknya untuk mengecup kening wanita itu, namun dengan cepat Kai menangkisnya. Tak lupa Kai menghidupkan lampu tidur yang berada di dekatnya. Dan tak sengaja ia meliha sebuah frame yang terletak di samping lampu itu. Merasa ingin tahu Kai meraihnya sekedar untuk melihat.

Matanya membulat seketika saat melihat pria yang berada di dalam foto itu. Duduk berdekatan bersama Jia dan tersenyum kegirangan ke arah kamera. Kai mengerjapkan matanya dan memperhatikan lagi pria itu.

“dia…sangat mirip denganku….” gumamnya pelan.

***

Jia’s POV

“Hey bangunlah..kenapa akhir-akhir ini kau malas sekali heh….” Tegur Maria seraya menarik selimut. Aku membuka mata sebentar lalu menarik selimut itu lagi menutupi seluruh tubuhku. Ya tiga minggu semenjak kejadian di pesta aku selalu bermalas-malasan. Yang ku lakukan hanyalah nonton,makan dan tidur. Semangatku seakan luntur dan menghilang. Aku bingung dengan perasaanku yang semakin memenjaraiku. Kai? Jongin?  Arghh…

“oya….Kai tadi kemari dan membawakanmu sebuket tulip….dia juga menulis surat untukmu….” Kata-kata Maria ini berhasil membawaku ke alam sadar. Aku terkesiap lalu segera turun dari ranjang “sejak kapan dia kemari?”

“dua jam yang lalu….” Jawab Maria “aku menaruh suratnya di atas meja…”

Akupun berlari kecil menuju ruang tengah. Benar,di sana terletak sebuket tulip yang cantik dan sepucuk surat terselip di beberapa tulip. Aku segera meraih dan membacanya “Aku menunggumu pukul 9 malam ini di taman dekat apartment

***

Ku lirik benda yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah 20 menit berlalu,namun orang yang membuat janji tak kunjung hadir. Udara dingin seraya ingin membekukan tubuhku. Jelas saja ini sudah awal Desember dan sebentar lagi Natal. Aku duduk di atas ayunan dan menggerakannya sekedar melepas rasa bosan. Ku lirik jalanan yang tak jauh dari taman. Sedari tadi kuperhatikan yang lewat hanyalah ibu-ibu dan bapak-bapak yang sedang bernostalgia. Apakah dia akan datang? Ku tundukan wajahku seraya memperhatikan kedua sepatuku. Aku benar-benar merasa bosan.

CKLEK.

Seketika taman ini dipenuhi oleh lampu-lampu kerlap-kerlip yang sangat indah dan salah satu rangkaiannya bertuliskan I LOVE YOU bersinar terang di depanku. Aku terkejut dan memperhatikan keadaan di sekelilingku. Benar saja, Kai tepat berdiri beberapa meter di belakangku. Aku ikut berdiri dan menatap Kai dari kejauhan. Kai berjalan pelan lalu berhenti kira-kira satu meter di depanku. Kami diam sebentar lalu Kai mulai angkat bicara “aku… tidak pernah membohongi tentang perasaanku sendiri…awalnya aku tidak pernah peduli dengan cinta…aku selalu menutup rapat, menjauh darinya…lalu…kau datang di kehidupanku dan membuka gembok cintaku…kau…wanita yang berhasil merebut hatiku…” Kai berhenti sebentar, ia mengatur nafas lalu melanjutkan “kau…mau kah kau menjadi…pendamping hidupku?”

Aku terdiam lama. Benarkah yang dia ucapkan?

“lupakan Jongin….” Ujarnya yang sekaligus membuatku terkejut. Dari mana Kai tahu tentang Jongin? Aku tidak pernah menceritakan masalah Jongin padanya.

“Maria yang menceritakan semuanya….aku tahu Jongin pria yang sangat berarti bagimu…tapi apakah kau tetap memendam perasaan dengan orang yang sudah meninggal?”

Deg Deg Deg

“jaga omonganmu Kai!” teriak ku marah padanya.

“Bukankah aku dan Jongin memiliki wajah yang sama?”

Ku rasakan mataku mulai memanas “tidak! Kalian berbeda!” teriak ku lagi.

Kai berjalan mendekatiku “bisakah kau memberikan perasaanmu kepadaku?” tanyanya seraya meraih tanganku dan menggenggamnya erat

“aku….”

Kai meraih kepalaku “Jia tatap aku dan katakan kalau kau juga mencintaiku!”

“aku….”

“lihat aku sebagai Kai bukan Jongin…” ujarnya pelan dan memeluk ku.

“aku….aku akan kembali ke Korea besok….terimakasih atas semua yang kau berikan padaku….terimakasih karena kau telah menjadi teman yang baik untuk ku…selamat tinggal…Kai…” kataku seraya melepas tangannya dari wajahku. Aku berjalan pelan hendak meninggalkan Kai di taman itu.

“Jia…tunggu…kau belum menjawab pertanyaanku…kau hanya mengatakan ya atau tidak…!”

“tidak semudah itu Kai….” Teriak ku lalu berlari melintasi jalan yang mulai ramai dengan kendaraan

“Jia! Jia!”

Aku terus berlari tidak mempedulikan teriakan itu. Kai selamat tinggal!

“Jia!”

“ Jia!”

”Jiaaaaaaaaa!”

CIIIIIIIIIITTTT.

BRUUUUUUUUUUKK.

Langkahku terhenti. Jantungku berdetak dengan keras. Terdengar klakson dan teriakan dimana-mana. Aku menoleh kebelakang dan orang-orang terlihat memenuhi jalan raya. Memoriku kembali teringat akan kejadian Sembilan tahun yang lalu itu. Perasaanku tidak enak. Dan air mata selalu siap untuk jatuh kapan saja. Aku berlari ke arah kerumunan itu dengan tergesa-gesa. Tuhan kenapa kau melakukan hal yang sama?

“KAAIIII!!”

“KAAAIIII!!” teriak ku tak karuan.

Air mataku tak terbendung lagi. Semua perasaan sedih meluap hingga ke ubun-ubunku. Aku berusaha masuk ke dalam kerumunan itu.

“KAAAIII!!” Aku semakin sesegukan.

“Jiaaa!”

Aku berhenti berteriak dan menoleh ke samping kiriku. Aku melihat Kai berdiri beberapa meter menjauhi kerumunan. Aku langsung berlari ke arahnya dan memeluknya dengan erat “jangan pernah meninggalkanku….aku…aku mencintaimu Kai….” ujarku seraya semakin terisak.

Kai tersenyum simpul dan mengelus kepalaku dengan lembut “gomawo….”

Terimakasih Tuhan kau telah mengirimkan malaikat untuk ku – Jia

END

-O-O-O-

Dont Forget to RCL ne ^^

Advertisements

17 thoughts on “No Es El Mismo

  1. Keren bgt thor terharu banget aku’a :’) , good job buat author (y)
    hampir nangis ngeliat jia’a 🙂

    oya numpang promosi ya thor,Gamsa^^*bow
    Yg ingin main RP join yuk ke @IAMagency_indo^^ agency baru jd butuh byk member,Gamsa*bow

  2. Uwwaaa.. Nice story 🙂
    Awal”nya kasian sama Jia karena ditolak Luhan 😦
    Akhirnya Jia bisa bersatu lagi dengan Jongin yg lain, hehe :p
    Good job thor!! 😉

  3. oalaaaa thor kirain Kai nasibnya sama kaya Jong In (?) ternyata gakkk whahaha..keren nih ffnya thorrr{.} good job!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s