THE PARALYZED part 13

Sub Title : Is It He?

Author : Choi Mina aka me aka Jey Linn

Cast :

LJoe (Teen Top) Kim Jay/Kim Jia (imagination/readers) Ahn Daniel/Niel (Teen Top) IU (Singer)

Support Cast : Teen Top, Ryu Hwa Young (ex–T ara), Kim Seyu (OC)

Genre : action,romance

Rating : PG16

NB : Mian lama post nya hehehe ^^ semoga readers ga bosen sama ceritanya ya ^^

-Happy Reading-

opening song – agnes monica- paralyze

-Last Episode-

Gadis itu tersenyum lalu melangkah pergi meninggalkan kami. Seketika aku mengingat kejadian dua tahun lalu itu

“Aku LJoe dan namamu?”

Gadis itu dengan malu menjawab “aku Jia….”

Dua tahun aku menunggunya dan untuk selamanya dia akan pergi dari hidup dan juga perasaanku. Ini adalah ending yang menyedihkan.

-Last Episode End-

<><><> 

 Jia/Jay POV

-Flashback, 2 years ago-

“Jia-ya kau tak pulang bersamaku?” Tanya Hwayoung setelah ia membereskan segala perlengkapan belajarnya ke dalam tas.

Aku tersenyum saja tanpa menjawab pertanyaannya itu. Hwayoung menatapku heran dan seolah tau apa yang sedang kupikirkan.

“latihan karate atau….aahh… pasti kau ada janji dengan oppamu itu kan?apa tak apa-apa kau keluar asrama?”

Aku terkekeh lalu menepuk kedua bahu Hwayoung, teman dekatku ini “tenang saja, seongsenim tak kan tau…hehehe….” Kataku seraya mengedipkan sebelah mata. Hwayoung yang ku tau sangat sensitive dengan tindakanku itu langsung saja memukul bahuku

“ya!! Jangan pernah mengedipkan matamu padaku arra?”  ia terlihat kesal namun sesaat kemudian dia tersenyum padaku.

“tenang saja perasaanmu pada oppa akan ku sampaikan…” ujarku geli memikirkan pernyataan cinta yang ia paparkan padaku kemarin. Ku rasa Hwayoung benar-benar menyukai oppaku.

“aku pergi….” Kataku setelah yakin peralatan sekolah lengkap kumasukan kedalam tas.

“ya jakkaman….” Hwayoung meraih tanganku “hmm….bagaimana hubungan oppamu dengan perempuan itu?apa mereka…..”

“maksudmu Min Gi unnie? Mereka tetap begitu…selalu bertengkar…dan..”

“bukan itu maksudku…apa mereka masih….berpacaran?” potong Hwayoung sebelum aku menyelesaikan kalimatku.

“oh….ya….begitulah…”ujarku seraya menaikan kedua bahuku.

“hmm…begitu…” Hwayoung menunduk seraya melepaskan genggaman tangannya dariku.

“Hwayoung-ah…kau adalah perempuan yang pintar,baik dan manis…siapa yang tak ingin jadi pacarmu…”

Hwayoungpun tersenyum padaku “sudah sana…temui oppamu….”

“haha….aku akan kembali secepat mungkin….da….” kataku lalu berjalan keluar kelas.

<><><> 

Aku berjalan mengitari sekolah secara diam-diam. Memang tindakanku ini sangat berbahaya. Keluar asrma tanpa ijin dan jika penjaga sekolah atau seongsenim tahu,mungkin saja aku akan di DO dan tidak akan bisa menjadi murid Byorin High School lagi.

Tapi bagaimanapun kondisinya aku akan tetap menemui oppaku yang tersayang, di adalah oppa yang tidak ada duanya di dunia ini. Dia adalah Hero ku dan aku akan selalu menyayanginya. Dia adalah kembaranku Jae.

Meski usia kami hanya berselang sepuluh detik. Tapi aku tetap akan memanggilnya oppa. Dan dia tetap akan menjadi pria yang lebuh tua dariku. Appa dan umma dulunya menyekolahkanku dan oppa setingkat tapi aku menolaknya dengan alasan aku menginginkan oppa setahun lebih tua bukan sepuluh detik lebih tua dariku. Oleh sebab itu, Jae oppa saat ini berada di kelas satu SMA sedangkan aku berada di kelas tiga SMP.

Aku berencana menunggu oppa di taman yang terletak tidak jauh dari sekolah. Tak banyak pengunjung yang datang, hanya penjual eskrim yang sedang menunggu pembeli di dekat jalan raya. Terlintas dipikiranku untuk meghadiahkan oppa dengan membeli eskrim itu. Dengan rasa yakin, akupun berlari ke arah penjual eskrim. Namun kakiku tersandung sesuatu.

BRUK

“aww…”erangku kesakitan. Ternyata saat berlari tadi kakiku menyandung batu besar yang berada di depan ayunan. Alhasil lututku lecet dan menampakkan noda merah di sekitarnya. Rasanya sangat perih.

“aishh…paboya!” makiku pada diri sendiri. Ku tumpukan badanku dengan kedua tangan mencoba untuk berdiri. Berhasil. Kini aku duduk di atas ayunan seraya memperhatikan lutut dan kakiku yang lecet. Ku edarkan pandanganku ke segala arah, namun orang yang ku nanti belum juga menampakkan diri.

“oppa…cepatlah…”gumamku kesakitan.

Lalu aku mendengar langkah kaki mendekat ke arahku. Sebuah uluran tangan mengarah tepat di depan wajahku. Akupun mendongak dan ku tatap orang yang berdiri di depanku ini.

“sepertinya kau perlu bantuan…”katanya ramah.

Tiba-tiba saja jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Apa yang terjadi?

Aku diam dan sedikit heran. Pria itu juga diam dan menatapku lama. Akupun jadi salah tingkah.

“kalau lukamu dibiarkan bisa-bisa kau terkena infeksi…” katanya yang membuatku terhenyak.

“akan ku antarkan kau ke apotik…kajja…”

Pria itu membantuku berdiri. Karena kondisiku yang tidak memungkinkan untuk berjalan dia pun menggendongku. Pria yang tampan dan juga baik ^^.

Namun baru saja beberapa langkah ku rasakan setetes air membasahi kepalaku. Kami serentak menoleh menatap langit. Benar saja saat itu langit terlihat sangat kelam dan sebentar lagi akan turun hujan lebat.

Tes Tes Tes

Hujan tak mau berkompromi, terpaksa kami berteduh sebentar di dalam telephone box. Aku berdiri dengan menyandarkan tubuhku ke salah satu sisi.

“kau tak keberatan untuk menunggu sebentar? Hujannya sangat lebat…”ujar pria itu lembut seraya menatapku. Aku menjawab dengan mengangguk sekaligus tersenyum. Aku terlalu gugup berada di dekatnya. Bahkan rasa sakit itu tak terasa lagi saat aku bertemu dengannya.

Kami memperhatikan setetes demi setetes air hujan yang turun. Tak sengaja mata kami bertemu, spontan aku tersenyum padanya dan diapun balas tersenyum. Kuharap wajahku tidak memerah >///<.

Tiba-tiba saja dia mengulurkan tangannya di depanku “aku LJoe dan namamu?” tanyanya yang sekaligus membuat jantungku berdegup kencang.

Dengan sedikit malu ku katakan padanya “aku Jia…”

Pria yang bernama LJoe ini melirik luka di kakiku “pasti rasanya sangat sakit…hmm..aku akan ke apotik untuk membeli obat dan perban..aku akan cepat kembali…” ujarnya sebelum aku mencegatnya pergi. Ljoe lari dengan tergesa-gesa menerobos ke dalam hujan.

Tak lama kemudian aku melihat seseorang berlari ke arah telephone box sambil membawa payung. Tapi yang datang bukanlah LJoe melainkan oppaku. Dia tampak kelelahan dan khawatir karena melihat kakiku yang terluka.

“aishh…apa yang kau lakukan di sini Jia? Lihat kakimu…kemarilah..aku akan membawamu ke apotik…”

Aku yang masih terkejut dengan kedatangan oppa, tak tahu ingin berbuat apa. Oppa memberikan payung itu kepadaku dan menggendong tubuhku di punggungnya.

“oppa….” Kataku lembut. Aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi aku tidak bisa mengucapkannya.

“diamlah…lukamu harus diobati….” Dia berjalan cepat menuju arah utara dari taman. Aku terdiam dan berpaling menatap telephone box yang semakin lama menghilang dari pandanganku. Apa yang harus kulakukan?

<><><> 

“kyaaaaaaaa…..omona…dia tampan sekaliiiii…………” teriak teman-temanku di kelas yang kebetulan saat itu tidak ada guru yang mengajar. Mereka terlihat asik dengan memperhatikan foto-foto yang berjejeran di salah satu meja yang terletak di tengah-tengah kelas. Mereka berdiri mengelilingi meja itu seraya berebutan memegang foto itu dan berteriak-teriak histeris,seperti melihat para artis.

Aku dan Hwayoung hanya bisa mengehela nafas mendengar celotehan dan teriakan mereka dan melanjutkan mengerjakan tugas jam itu.

“dia adalah pangeranku………” teriak salah satu murid,dia adalah ketua kelas kami.

“aniya…dia pangeranku….kau Chunji saja….aku maunya dia…..” bantah murid yang lain.

“kalau begitu aku CAP!! Tidak ada yang boleh mendekatinya…dia milikku!!” teriak murid yang lain.

“andwe! Tidak bisa begitu…CAP juga milikku!”

“aniya….!! Ketiga-tiganya milik ku!”

“hey bisakah kalian diam sebentar! Kalian menggangguku tau!!” teriak Hwayoung yang membuat murid-murid di kelas terdiam. Bahkan ketua kelas kamipun patuh,tidak berkutik, menunggu reaksi Hwayoung selanjutnya. Memang tidak ada yang berani membantah Hwayoung jika dia sedang kesal.

Hwayoung berjalan ke tengah kerumunan itu dan memperhatikan sekelilingnya. Murid-murid juga ikut memperhatikannya. “berikan padaku…aku juga ingin lihat….” Kata Hwayoung akhirnya di sambut dengan teriakan teman-teman. Hwayoung tampak memperhatikan orang-orang yang berada di dalam foto-foto itu. Seketika aku melihat bola matanya berbinar “omonaaa…ini siapa?? Mereka keren sekali…. sangat tampaaaannn……” Dan akhirnya Hwayoung ikut-ikutan berteriak histeris.

“kau juga suka kan??” antusias ketua kelas,Seyu. Hwayoung mengangguk setuju.

“mereka adalah murid Gyungju High School, terkenal dengan ketampanan dan kepintaran yang mereka miliki….asalakan kau tahu ya…mereka di idolakan oleh seluruh siswi di Seoul, bayangkan!! Dan juga mereka bertiga adalah anak orang kaya….kyaaaaaaa…..” papar Seyu disambut teriakan teman-teman tak terkecuali Hwayoung.

Gyungju High School? Bukankah itu sekolah oppa ku?

“tampan,pintar dan kaya…siapa juga yang tidak ingin berkencan sekaligus menjadi pacar mereka?” lanjut Seyu.

“aku….!!” Teriak mereka bersamaan. Aku hanya bisa mengerlingkan kedua bola mataku. Masih berkonsentrasi dengan tugas-tugas yang berada di hadapanku ini.

“lalu yang mana Chunji dan yang mana CAP?” Tanya Hwayoung.

“ini CAP dan itu Chunji…kalau kau mau fotonya…ambil saja….aku memilki banyak sekaliiiii foto mereka…..” jelas Seyu, meski aku tidak tahu persis foto yang mana dia tunjukan untuk CAP dan yang mana untuk Chunji karena mataku tertuju ke arah buku.

“lalu….yang paling di gilai adalah…LJoe…..dia ketuanya…sama seperti aku…ketua di kelas….”

Siapa tadi? LJoe? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu? Ah…apakah pria itu?

“huuuuu….mana pantas kau dengan LJoe!!” bantah teman-temanku.

Waktu terasa berhenti. Aku tidak melanjutkan membuat tugas. Konsentrasiku buyar, hanya karena ucapan terakhir Seyu.

Ting Tong

Bel pertanda pelajaran ke empat usai. Ini waktunya kami beristirahat. Teman-temanku sudah berhamburan ke luar kelas, menuju kantin, sedangkan aku dan Hwayoung masih membereskan buku-buku yang berantakan di atas meja. Hwayoung melirik ku sebentar “tugasmu sudah selesai?” tanyanya.

“belum…” jawabku.

“hmmm….ku pikir tidak ada salahnya mereka berteriak-teriak seperti itu karena yang mereka lihat sangat pantas untuk diteriaki…huwaaaaaaa….Chunjiiiii………datanglah padaku……….” Ujar Hwayoung girang seraya memperhatikan foto yang ada di genggamannya.

“hei…kau tidak tertarik pada mereka?hmmm….ku rasa kau sangat cocok dengannya….” Ujar Hwayoung lagi seraya meletakkan foto yang lain di atas mejaku. Mataku membulat sempurna. Ternyata memang benar, pria yang menolongku kemarin dan pria yang berada di dalam foto itu adalah orang yang sama.

“ya Tuhan….aku harus bertemu dengan pria itu…aku belum berterimakasih padanya sekaligus aku harus minta maaf karena menghilang darinya….ku mohon pertemukanlah kami….” Batinku.

<><><> 

Aku berlari tergesa-gesa menuju taman yang sama ku kunjungi kemarin. Berencana untuk bertemu dengan pria itu meski kecil kemungkinan. Akupun berhenti di trotoar, menunggu jalan sunyi dari kendaraan. Wajar saja, saat ini banyak kendaraan yang melintas karena ini adalah waktunya para karyawan beristirahat mencari makan siang. Mataku mencuri pandang ke arah taman itu, banyak dipenuhi oleh para pengunjung tidak seperti kemarin.

Sesaat mataku menangkap sosok yang duduk di atas ayunan. Seketika senyuman lebar terukir di wajahku yang tirus. Pria itu duduk di sana, seperti memikirkan dan menunggu sesuatu. Mataku beralih menatap kendaraan yang sedari tadi masih berkeliaran terlintas di depanku.

“ayolah…berhenti….” Batinku lalu mencuri pandang lagi ke arah pria itu. Dia masih di sana.

Jalan semakin lama semakin ramai kendaraan. Aku mulai bosan menunggu kendaraan yang tidak juga berhenti. Setelah sekian lama menunggu akhirnya, mereka memberikan ku kesempatan untuk menyeberang.Kakiku langsung berlari menuju ayunan itu. Dan yang ku temukan adalah dua bocah laki-laki dan perempuan yang sedang bermain ayunan. Sial. Aku kehilangan dia.

“adik kecil…apakah tadi kalian melihat pria memakai seragam duduk di sini?” tanyaku pada bocah-bocah itu, mereka serempak menggeleng dan melanjutkan permainan mereka.

“hmm…sudahlah…mungkin besok aku akan bertemu dengannya….semoga….” batinku.

Dua hari,tiga hari, seminggu, sebulan dan hampir setahun aku tetap menunggunya di sana. Namun usahaku tidak terbalaskan. Selama itu aku menanti kehadirannya,tapi Tuhan tidak pernah mempertemukan kami.

Tuhan, pertemuan seperti apa yang Kau inginkan?

Berselang beberapa hari, aku dan oppaku, Jae pergi merayakan ulang tahunnya ke taman hiburan. Namun di sana kami dapat bencana. Oppaku berurusan dengan salah satu ‘berandalan’di sekolahnya. Oppa dibawa pergi sedangkan aku berusaha untuk melarikan diri dari mereka. Memanggil bantuan,untuk menolong oppaku.

Dan buruknya, Tuhan mempertemukan kami lagi, setelah hampir setahun aku menunggunya. Naas,dengan mata kepalaku sendiri,aku menyaksikan oppa yang kusayang dihajar oleh pria yang kuidolakan,LJoe. Dia juga pria yang ku duga telah membunuh oppaku yang jatuh dari gedung dengan keadaan yang mengenaskan.

Semenjak kejadian itu, kebencian mulai merasuk ke dalam jiwaku. Aku merubah statusku sebagai seorang pria hanya untuk membalas dendam atas kematian oppaku. Aku berpura-pura menjadi siswa Gyungju dengan mengandalkan kepintaranku. Saat itulah pertarunganku dan LJoe dimulai. Aku berhasil mematahkan keegoisan dan kekuasaannya. Tidak kusangka selama ini aku mengidolakan orang yang salah pikirku, namun seiring waktu berlalu. Aku menyadari bahwa yang membunuh oppaku bukanlah Ljoe dan teman-temannya, melainkan oppaku sendiri yang menginginkannya. Aku salah paham. Karena itu aku berniat untuk meninggalkan Gyungju dan melanjutkan sekolahku ke Amerika.

Lalu soal perasaanku terhadap pria itu? Molla….

-Flashback End- 

<><><> 

“Ya…kau melamun?” Tanya seseorang yang berada di sebelahku,sedang mengendarai mobil.

Aku terkesiap,membersihkan kedua bola mataku yang berlinang air mata karena mengingat masa lalu itu. “aniya….”jawabku bohong.

“sekitar 45 menit lagi,pesawatmu akan berangkat…hmm apakah aku boleh bertanya?” ujar Min Gi unnie,kekasih oppaku yang statusnya akan bertunangan dengan pria itu,Ljoe. Unnie masih berkonsentrasi mengendarai mobil,mengantarku ke bandara.

“hmm…” sautku.

“kau tidak pernah menceritakan alasan kenapa kau merubah penampilanmu dan bersekolah di sekolah pria….kenapa?” Tanya unnie to the pont.

Aku terkesiap lalu menatap unnie sebentar. “kenapa kau ingin tahu?ku rasa tidak ada gunanya memberi tahumu….”jawabku dengan ekspresi datar. Ku lempar pandanganku ke luar jendela,tampak bangunan besar tak jauh beberapa meter di depan sana.  Bandara itu seakan mendekat ke arah kami.

“sudahlah…tidak apa-apa,jika kau tidak ingin cerita….” Ujarnya sambil menghela nafas. Unnie memberhentikan mobilnya lalu seorang petugas mengangkat barang-barangku dari bagasi mobil. Aku turun sedangkan unnie memakirkan mobilnya.

Beberapa menit kemudian unnie menghampiriku di ruang tunggu. Ku lirik arlojiku. “sepuluh menit lagi…” batinku.

Unnie memelukku erat “berhati-hatilah…aku akan merindukanmu selalu….chu…” unnie mencium pipi kiriku. Matanya berkaca-kaca.

“Ya…. janganlah menangis….” Ujarku seraya mengusap kedua air mata itu dari bola matanya.

“kau terlihat sama seperti oppamu…” katanya. Tangisnya meledak,meski tidak mengeluarkan suara terlalu keras.

“Ya ya…berhentilah…aku tidak ingin melihatmu begini unnie….” Ku eratkan pelukanku padanya. Mencoba untuk menenangkan pikirannya yang semakin buruk.

“dulu oppamu yang meninggalkanku…sekarang kau…aku membencimu….!!” Katanya seraya memukulku.

“unnie!! Aku disana hanya lima atau enam tahun…aku akan kembali…percayalah…”jawabku memberi penjelasan.

“kembali saat aku akan bertunangan?”

Deg

Terlintas dipikiranku wajah pria itu. LJoe.

Aku diam sebentar.

“benarkan?” ulangnya

“aa…mungkin….”jawabku seraya melepas pelukannya.

“kembali lah secepatnya….” Ucapnya seraya mendorongku ke arah pintu bandara. Aku mengangguk kecil seraya berjalan menuju pintu itu.

Unnie aku akan kembali….

<><><> 

Kini hidup yang baru tengah menantiku. Aku menjadi siswi baru di sekolah ternama Manhatan,USA Maria Senior High School. Menjadi siswi taladan,meraih beberapa penghargaan dan mendapatkan banyak teman. Prestasi itu terus berlanjut hingga aku menjadi seorang mahasiswi.

Memoriku tak lepas dari ingatan keluargaku yang berada di Korea, appa,eomma, Min Gi unnie dan teman-teman lamaku. Ricky,Changjo dan Niel. Aku tersenyum sendiri mengingat masa-masa lucu bersama mereka. Lalu tentang perasaan Niel terhadapku, aku tidak begitu yakin, namun Niel tetap teman terbaikku.

BRUK

“aww…” erangku kesakitan. Karena terlalu sibuk melamun, aku tidak melihat jalan dan malah tersandung batu. Mataku langsung tertuju ke arah lututku karena tadi aku sempat merasakan sakit di sana. Dan benar saja, lututku berdarah. “asihh…sial…” batinku kesal. Aku mencoba untuk bangkit berdiri namun tetap tidak membuahkan hasil. Tiba-tiba saja sebuah tangan menjulur di hadapan wajahku.

Deg Deg Deg

Ingatanku bergerak mundur. Kejadian ini persis ku alami saat bertemu dengan pria itu. Mungkinkah…

Aku mendongak dan….

<><><>

To Be Continued

Penasaran sama lanjutannya?? kekeke ^^

Dont Forget To RCL ^^

Advertisements

2 thoughts on “THE PARALYZED part 13

  1. saolohhh thorr thor, -_- aye dah nunggu lama lanjutan ni ep ep malah TBC lagi. makin TBC dah XD
    haduhhhh kurang panjanggg thor, tapi over all makin daebak deh ceritanya, ampe udah jadi mahasiswa gt ><
    aduhhh tenang aja jodoh ga kemana
    *pukpuk l.joe
    keep writing & hwaiting!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s