THE PARALYZED part 12

Sub Title : Last Farewell

Author : Choi Mina aka me

Cast :

LJoe (Teen Top) Kim Jae/Kim Jia (imagination/readers) Ahn Daniel/Niel (Teen Top) IU (Singer)

Support Cast : Teen Top

Genre : action,romance

Rating : PG16

NB : Mian author baru bisa post part nya sekarang *deep bow* u.u abis author bener-bener sibuk, mau UAS lagi doakan UAS author lancar ya readers >< gomawo ^^

o iya pas baca harus dengerin lagunya ya kkkk ^^

Happy Reading ^^~

opening song >> Big Bang – Last Farewell

<><><> 

~ Last Episode ~

“sepertinya aku harus menelfon seseorang….”

“tidak perlu….” Katanya masih dalam keadaan mata yang terpejam, iapun menyenderkan lagi kepalaku ke dadanya. Aku dapat mendengar debaran jantungnya yang bisa dikatakan….abnormal?

“tapi….kau sangat kedinginan….jantungmu juga berdetak dengan cepat…kau harus ke rumah sakit”

“babo! kau sudah memberikan kehangatan untuk ku…” katanya lalu menatapku dan kemudian tangannya bergerak menyentuh pipiku “aku sungguh beruntung, kau ternyata memang seorang perempuan….”

Kedua bola mata LJoe menatap lurus ke dalam bola mataku “ku rasa….aku mencintaimu…” ujarnya

DEG

~ Last Episode End ~ 

<><><>

Seketika jantungku berdesir hebat. Debarannya terasa begitu cepat. Bahkan aku merasa kehilangan nafas untuk beberapa saat. Dulu aku memang fans LJoe, tapi semenjak kematian oppaku, rasa menyukai hilang dari relung hatiku.

Benarkah?

Mungkin dia hanya bercanda, atau lebih tepatnya berterimakasih?

Tangan dingin LJoe melemah di pipiku. Nafasnya semakin lama terdengar semakin pelan. Kedua matanyapun terpejam. Kusentuh pipinya.

“YA…” kataku seraya menepuk pelan kedua pipinya

Ini buruk!

Langsung kusambar ponsel yang ada di dalam saku celanaku. Kutekan beberapa digit angka yang sudah kuhafal di luar kepala.

Niel kumohon angkat telfon nya!

“hmmm yeoboseyo?” terdengar suara Niel di seberang sana. Terdengar agak pelan dan malas. Kurasa aku mengganggu waktu tidurnya

“Niel-ah bisakah kau membantu ku?”

“kau dimana?” pertanyaan ituterdengar cepat keluar dari bibir Niel

<><><> 

Niel kenapa kau lama sekali?

Wajah LJoe semakin pucat, bibirnya membiru dan kedua tangannya pun terasa sangat dingin. Ku raih tangannya dan menggenggamnya erat. Aku juga memasang  blazer  di tubuhnya yang semakin gemetaran.

“eomma….” Gumamnya pelan

“tenanglah….sebentar lagi Niel akan datang….”

Saat kalimat itu selesai kuucapkan, Nielpun muncul di dekatku

“lepaskan….” Katanya datar seraya melepas tangan LJoe dari genggaman tanganku “aku tidak suka gadis yang kucintai menggenggam tangan seorang pria….dan itu bukanlah diriku…”

“Niel-ah…”

“YA! Kenapa dengan bajumu?” Niel memperhatikan kondisiku, iapun melepas jaket nya dan memasangkan ke tubuhku

“cepat bawa dia ke rumah sakit….” Kataku

“kau mencemaskannya? Apa kau….suka padanya?”

DEG

Aku diam sebentar “cepatlah bawa dia, aku akan ke asrama naik bis…” kataku mengalihkan pembicaraan

“apa tidak apa-apa jika kau kembali seorang diri?”

“jangan khawatirkan aku….”

Niel menghela nafas berat “baiklah… hati-hati….” Katanya setelah ia sudah berada di atas motor. LJoepun sudah berada di belakangnya, menyender ke punggung Niel

Aku mengangguk lalu Nielpun melajukan motornya, menghilang dari pandanganku.

<><><> 

LJoe POV

“oppa….” Suara yang tidak asing lagi berteriak memanggilku, spontan ku tutup buku yang sempat ku baca untuk menghilangkan rasa suntuk setelah seharian berada di rumah sakit.

Pemilik suara itupun langsung berlari memelukku dengan erat. Seberkas kekhawatiran terpampang jelas di wajahnya. Aku memang butuh dia sekarang.

“kau tidak apa-apa eoh?” tanyanya “aku sangat mencemaskan mu tau! Kau berkelahi lagi? Untuk apa? Ingin jadi jagoan? Iya? Lihat wajahmu babak belur begini! Apa kau lupa dengan penyakitmu heh? Kau ini…aisshh…” ujarnya panjang lebar tanpa memberiku sedikit celah untuk membantah

“kenapa kau selalu membuatku cemas eoh? Aku tidak ingin kehilanganmu tau” tambahnya dengan berlinang air mata

“YA! Dari tadi kau berceloteh terus, kapan kesempatanku untuk bicara?”

“hiks sudahlah…..” jawabnya seraya mengusap air mata itu

Ku peluk adik kesayanganku ini dengan sangat erat. Benar yang ia katakan, aku selalu membuat dirinya cemas dengan tindakanku yang tidaklah penting. Tapi untuk kali ini, tindakan yang ku lakukan amatlah penting.

“setelah makan malam itu, kenapa tidak langsung pulang ke asrama? Tapi malah berurusan dengan gangster-gangster yang tidak berpendidikan itu eoh?” aissshh dia semakin menyudutkanku.

IU, bahkan oppa mu ini sangat lah tidak berpendidikan dari mereka

Aku menghela nafas sesaat “bukan…malam itu aku menolong…. seorang gadis…” ujarku datar

Lalu ingatanku kembali mengingat kejadian malam itu

Berkelahi hanya untuk menyelamatkannya, entahlah perasaanku saat itu ingin melindunginya. Aku benar-benar ingin melindunginya.

“seorang gadis? Beruntung sekali dia…” katanya seraya mengerucutkan bibirnya yang mungil “oppa tidak pernah menjadi pahlawan untuk ku….”

“kalau kau ingin begitu..berharaplah seseorang mengganggumu dan saat itu aku datang sebagai Hero…” kataku seraya terkekeh

“andwe!” teriak nya “aku tidak ingin itu terjadi….” Ujarnya seraya menggeleng kencang “hmm…bagaimana dengan Jay oppa? Apa dia juga berkelahi? Apa dia juga menolong gadis itu? Apa dia juga babak belur seperti oppa? Atau jangan-jangan dia kabur duluan sebelum melawan gangster itu?”

Ku cubit kedua pipinya “bukan…malam itu dia ada urusan sebentar dan kami berpisah setelah kau pergi duluan dari kami….”

“benarkah? Ku kira dia penakut..ternyata tidak… tak salah selama ini aku menyukainya….upss…aku keceplosan…” ujar IU dengan tampang polosnya

Aku bergidik tak percaya, adik ku menyukai seorang perempuan? Jika itu Jae, wajar karena IU tidak mengetahui apa-apa tentang penyamaran wanita itu. “kau…menyukainya? Hah…apa yang kau tau tentang cinta?”

“cinta akan memberikan segalanya…pengorbanan…” jawabnya seolah paham dengan kata-kata yang baru saja ia lontarkan “hmm ah…kenapa aku jadi aneh begini….hem aku belikan oppa bubur yah, pasti kau tidak menghabiskan makanan rumah sakit kan? Aku akan kembali 10 menit….” Katanya lalu mengecup pipiku

Ku acak rambutnya pelan “cepatlah…aku menunggumu…”

Ia tersenyum manis lalu berlari ke luar ruangan

Cinta? Pengorbanan? Heh…

Aku mengingatnya lagi. Kejadian itu berputar lagi di dalam pikiranku. Saat aku menatap lurus ke dalam ke dua bola matanya. Entah kenapa perasaan damai saat berada di sampingnya muncul dan membuat perasaanku menjadi gila. Sudah seberapa besar dosa yang kuperbuat selama ini padanya? Berkelahi dengan seorang gadis? Kau pengecut LJoe! Kau tak pantas disebut sebagai seorang lelaki. Tapi kenapa baru sekarang aku mengetahui bahwa dia adalah seorang perempuan? Kenapa perasaan yang dulu itu tak pernah membuatku sadar? Keanehan yang kurasakan jika berada di samping Jay, bahwa aku selalu merasakan berada di samping seorang perempuan? Aisshh…dan saat itu juga aku mengatakan

“Aku rasa…aku mencintaimu….”

Jantungku berdegup kencang lagi. Aku tertawa malu dan mengacak rambutku kasar.

Benarkah begitu? Aku memendam perasaan padanya?

She make you paralyze LJoe!

Lalu bagaimana dengan masa lalu itu?

<><><> 

Aku menghabiskan waktu berjalan-jalan di sekitar taman di rumah sakit ini. Taman ini mengingatkanku akan sesuatu. Perasaankupun terhipnotis sesaat dengan tempat yang sudah setahun ini tidak pernah lagi ku kunjungi. Kakiku pun melangkah ke tempat itu. Taman kota yang sangat indah. Tersimpan dalam memoriku yang cukup lama.

Ku edarkan pandanganku kesegala arah. Suasananya masih sama, ayunan dan telephone box itu tetap tak berubah. Ya memang setahun aku tidak pernah berkunjung kemari. Tapi selama dua tahun aku menunggunya di sini semenjak pertemuan tak disengaja itu. Dan seketika sosok itu terbayang di wajahku.

Di saat dia terjatuh, duduk di ayunan menahan rasa sakit dan menunggu pertolongan. Aku menghampirinya dan menawarkan bantuan. Ku lihat luka di lututnya cukup parah bahkan luka itu pun menggores di kedua kakinya. Ku tatap wajahnya sebentar dan gadis berambut panjang itu berhasil membuat ku menyadari akan suatu perasaan yang selama ini kita sebut sebagai cinta.

Ku gendong dia di punggungku,karena ku yakin dia tidak bisa berjalan. Lagi pula dia tidak keberatan dengan yang kulakukan terhadapnya.

Namun baru saja beberapa langkah ku rasakan setetes air membasahi kepalaku. Kami serentak menoleh menatap langit. Benar saja saat itu langit terlihat sangat kelam dan sebentar lagi akan turun hujan lebat.

Tes Tes Tes

Hujan tak mau berkompromi, terpaksa ku bawa gadis ini berteduh sebentar di dalam telephone box. Ku katakan padanya untuk menunggu hujan agar berhenti. Gadis itu tersenyum padaku, yang lagi-lagi membuat hatiku berdesir tak karuan. Arghh..dia berhasil membuatku salah tingkah.

Kami berada di dalam telephone box itu cukup lama, namun yang hanya ku ketahui darinya adalah nama.

Aku tersenyum padanya lalu dengan sedikit canggung ku katakan “aku LJoe dan namamu?”

“masih menunggunya?” sebuah suara mengagetkanku dari ingatan masa lalu

Ajumma itu tersenyum ramah kearahku. Dia adalah penjual eskrim yang berada di sekitar sini. Semenjak hari dimana aku menunggu gadis itu di taman ini, bibi itu yang selalu memperhatikanku. Dan hingga akhirnya kami lumayan akrab. Terlihat seperti saat ini.

Aku hanya tertawa malu

“tak pernah lagi menemuinya setelah hari itu?”

Aku menggeleng “tidak…mungkin memang tidak akan pernah….”

Ajumma itu duduk di sampingku dan mengelus kepalaku lembut “jika dia adalah takdirmu, maka Tuhan pasti akan mempertemukan kalian lagi…”

Ajumma itu meletakkan tanganku di dadaku “percayalah nak akan takdir Tuhan….” Aku mengangguk yakin “gomawo…” kataku lalu diapun membalas dengan senyuman

<><><> 

 Aku berjalan memasuki kelas. Sudah empat hari aku tidak merasakan suasana sekolah yang saat ini masih tergolong sepi, mungkin murid-murid yang lain masih di asrama. Tiba-tiba seseorang menyentuh pundak ku. Mau tak mau ku tolehkan kepalaku menghadap ke belakang. Chunji, lama tak berjumpa.

“hai…”sapaku . Chunji menarik ku menjauhi kelas “ya! Kau mau membawaku kemana?”tanyaku heran

“aku ingin bicara sebentar…”

Dia membawaku hingga kami berada di atap sekolah. Kami diam beberapa saat menatap pemandangan dari atas sini.

“aku ingin menyelesaikan masalah Jay….”

Ku angkat kepalaku menatap wajahnya

“aku sungguh berdosa, mengorbankan sahabat sendiri…apa kau mau begini terus heh?”

“maksudmu aku tak mengerti…” kualihkan wajahku darinya

“ya LJoe-ya!” Chunji merebut krah bajuku dan menariknya ke atas “ini adalah perbuatanku dan aku yang harus bertanggung jawab sedangkan kau diamlah! Jangan membantah ucapanku!”

“ani….itu adalah kesalahanku!” ujarku menatap kedua bola matanya

“jangan keras kepala LJoe-ya!!”

BUK

Dia memukul wajahku dengan satu kepalan tangan. Rasanya sangat sakit. Beginikah yang dirasakan wanita itu saat aku memukulnya?

Ku sentuh wajahku yang terkena pukulan. Chunji tampak mengambil nafas. Keningnya mengerut, ia seperti mengambil ancang-ancang untuk memukul ku lagi.

BUK

Dan benar, dia memukul wajahku lagi. Tidak satu kali tapi berkali-kali.

“berhentilah bersikap seperti ini, aku akan menemui Jay dan meminta maaf padanya…”

“tak akan ku biarkan!” jawabku masih tetap keras kepala. Chunji salah apa? Ini semua salahku, yang membawa Jae malam itu adalah aku, yang melakukan perkelahian adalah aku. Dan yang jahat adalah aku. Semua salahku!

“Keras kepala!” Chunji memukulku lagi, tapi kali ini membuatku tersungkur. Dapat kurasakan setetes darah mengalir dari dalam hidungku

“untuk apa kau menemui wanita itu heh? Kau tidak ada urusan dengannya!” ku yakin kata-kataku ini membuat Chunji kaget

“kau…” suaranya melemah “wanita? Maksudmu?”

“Jay adalah seorang wanita kan?”

“Ya, dia memang seorang wanita…..” namun kali ini dia yang membuatku kaget

“kau? Sejak kapan?”

“aku sudah lama mengetahui ini, maafkan aku, aku tidak pernah mengatakan padamu….” Chunji menunduk lama

Mataku membulat sempurna “hah? Wae?”

“YA!” teriakan seseorang membuat ku dan Chunji terhenyak dari pikiran kami masing-masing lalu menoleh ke arah pemilik teriakan itu dan siapa yang kulihat? Jay ah ani..wanita yang tidak ku ketahui namanya

“Jia-ya…” ucapan Chunji itu membuatku terhenyak sekaligus membuatku merasa heran

Jia? Nama yang tidak asing bagiku

“tak perlu….kalian tak perlu meminta maaf….semua bukanlah salah kalian….” Ujar gadis itu lalu pergi begitu saja dari hadapan kami

“Ya!” aku berteriak memanggilnya. Dia tetap tak menghiraukan dan terus berjalan meninggalkan kami. Aku dan Chunji saling pandang.

“jakkaman!” Aku berteriak lagi memanggilnya. Dan kali ini aku berhasil membuatnya berhenti

“mianhae….” Chunji angkat bicara. Ucapannya sangat terdengar lantang

Gadis itu tersenyum, tapi senyumannya itu tak dapat ku artikan “heh…buat apa? Aku sudah mengetahui semuanya dan itu sudah cukup bagiku, semua yang terjadi adalah salah paham… ku pastikan kalian tidak bersalah….lagi pula aku terlalu bodoh jika masih menyimpan rasa dendam itu di dalam diriku…”

Aku dan Chunji saling pandang lagi “tapi….aku sangat merasa bersalah…” ujar Chunji, suaranya terdengar melemah

“sudahlah Chunji….masalah ini sudah selesai…lupakan…” Gadis itu menarik nafas lagi “dan…sampai jumpa….” Ujarnya yang membuatku terhenyak

“sa sampai jumpa?”

Gadis itu menatap Chunji sesaat “semua urusan yang kulakukan di sini telah usai…lagi pula untuk apa seorang gadis berada di sekolah pria eoh?”

“Jia-ya!!” teriak Chunji

Gadis itu mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan “goodbye…” dia tersenyum kearah kami dan kemudian berlari meninggalkan kami yang masih terdiam

Jia? Mungkinkah dia gadis yang selama ini ku cari?

Gadis yang selalu ku tunggu di taman itu?

Dan apakah dia gadis yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama?

Spontan kaki ku bergerak mengejarnya. Terus mengerjanya sampai ku temukan sosoknya yang berjalan keluar perkarangan sekolah. Sebuah mobil berwarna hitam tengah menantinya di sana. Ku percepat langkah kaki ku dan saat diriku sudah berada tepat di belakangnya langsung saja kutarik tangannya.

“kau pergi?” tanyaku spontan yang membuatnya sedikit kaget

Dia melepas genggaman tanganku dan entah kenapa dia membungkuk “annyeonghijumuseyo….”

Jangan katakan itu…

“Ya!” kami sontak menoleh ke arah yang berteriak barusan

“Niel-ah….”

Pria itu berjalan tegap mendekat ke arah kami. Lebih tepatnya mendekat ke arah gadis itu dan memeluknya.

“benar kau akan pergi? Kemana? Apa kah jauh?” Tanya pria itu bertubi-tubi

“iya, Amerika…aku akan melanjutkan sekolahku di sana…mungkin untuk waktu yang cukup lama…”

Amerika? Itu tempat yang sangat jauh

“sampai kapan?”

“hmm mungkin sampai kau akan menikah….”

Menikah?

“wae…? Apa kau akan melupakanku?”

“ani…”

“aku akan menunggumu Jia…selalu menunggumu untuk menjadi istriku….”

Jadi Niel juga sudah tahu kalau Jay adalah seorang wanita?

“aku tidak bisa berlama-lama Niel…aku harus pergi…”

“jakkaman…Saranghaeyo Jia-ya….”

Sa Saranghae?

Gadis itu tersenyum lalu melangkah pergi meninggalkan kami. Seketika aku mengingat kejadian dua tahun lalu itu

“Aku LJoe dan namamu?”

Gadis itu dengan malu menjawab “aku…. Jia….”

Dua tahun aku menunggunya dan untuk selamanya dia akan pergi dari hidup dan juga perasaanku. Ini adalah ending yang menyedihkan.

<><><> 

TBC

Penasaran sama lanjutannya? Kekekeke ><

Don’t forget to RCL ne? ^^

Advertisements

2 thoughts on “THE PARALYZED part 12

  1. saolohhh hhh malahTBC, bikin aye TBC beneran (tekanan batin cinta*plakk)
    miapa ni FF makin manteb aja udah kaya nonton drama, hadehhh lanjutannya jangan lama-lama ya thor. saya sebagai readers hanya bisa mendoakan semoga authornya diberi kelancaran dan kemudahan dalam melanjutkan cerita ini.

    masih ada yg ngeganjel di ceritanya, apa penyebab sebenarnya kematian si jae??? apa hubungannya dengan Chunji? apa hubungan ljoe dan Jia di masa lalu? huahhh

    Good job!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s