SCHATTEN ( Vampire’s story )

Author : Choi Mina aka me

Cast :

Wu Fan (EXO M)

Lee Jun Hee (OC/readers)

Genre : horror, romance

Rating : PG16

NB : Mian yak author bisanya ngepost ff baru sekarang u.u coz banyak tugas huhuhu *derita pelajar* T^T *nangis bareng readers* mian juga ff chapternya belum bisa author lanjutin huhuhuhuhuhu *nangis di pojokan*

Oya ini ff special buat kak kris yang ultah kemarin ini *telat* ini juga special buat kak @endhita_lee yang cinta banget sama Kris…setiap hari mikirin Kris gege mulu wkwkwkwk

Mian juga ini ff jelek banget trus banyak typonya coz bikinnya waktu otak lagi buntu *?*

Gomawo yang udah mampir di wp gaje ini yah…aku tidak bias hidup tanpa komen dari kalian readers ku tercintah muah muah muah *author bangkit lebaynya*

NO PLAGIATOR! FF ASLI DARI OTAK AUTHOR, JANGAN LUPA KOMEN YAH ^^

OK HAPPY READING ALL ^^

>><< 

Seorang pria dengan mengenakan jubah berwarna hitam tengah duduk di pinggir jendela kamar yang hanya diterangi oleh sinaran lampu tidur. Matanya yang berwarna biru shappire bergerak memperhatikan wanita yang terlelap di atas ranjang. Tak banyak ekspresi yang ia perlihatkan dikala kedua matanya memperhatikan wanita itu.

Iapun beralih melompati jendela besar yang ada di hadapannya lalu masuk ke dalam ruangan dengan tinggi lebih lima jengkal dari tubuh jangkungnya. Dapat dikatakan ruangan ini adalah ruangan yang sangat kecil bagi pria yang bertubuh tinggi seperti dirinya.

Ia membiarkan jendela terbuka lebar meski di luar sana udara dingin terasa bagaikan butiran-butiran salju melekat di tubuhnya. Perlahan ia mendekat kearah wanita yang membuat dirinya untuk bertindak nekat memasuki dunia yang berbeda 360 derjat dari dunianya.

Iapun melangkah pelan dan duduk di tepi ranjang, jemarinya yang kurus, panjang dan pucat bergerak hampir menyentuh wajah putih wanita yang terlelap di hadapannya. Saat tangannya hendak mendarat di sana, tiba-tiba saja wanita itu menggeliat dan membuka mata.

SRET

Sebuah kilatan cepat melintas menuju ke arah jendela. Wanita itu sama sekali tidak menyadari kilatan itu. Ia sibuk mengucek – ngucek matanya pelan seraya sesekali menguap. Ia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh tubuhnya. Pandangannya yang sedari tadi tertuju kearah selimut beralih menatap jendela kamar yang terbuka lebar, membuat gorden putih yang menggantung di sana bergerak sesuai dengan tiupan angin malam.

Wanita itu segera turun dari ranjang dan berjalan malas kearah jendela. Langkahnya terhenti sesaat  karena mendengar sesuatu. Pandangannya langsung tertuju ke salah satu sudut kamar seraya memegangi pundak. Samar ia melihat sebuah bayangan dari balik lemari yang berdiri kokoh di sana. Ia kemudian mengganti alur,lalu melangkah sangat pelan hingga tepat berdiri di depan lemari kayu yang berwarna toska itu. Mata yang mulanya menyipit kemudian melebar saat ia menemukan sesuatu di sana.

“meong….” terdengar suara yang lembut dari balik lemari. Seekor kucing angora menyender ke dinding lemari itu, ia tampak ketakutan dan berlari ke dalam pelukan majikan.

“kau kenapa Sam?” wanita itu bertanya seraya mengusap lembut kepala kucing kesayangannya.

“meong….” kucing itu merapatkan kepalanya kedalam lengan majikan, tubuhnya bergetar entah karena kedinginan atau ketakutan.

“Baiklah aku akan menutup jendelanya….” wanita itu pun meletakan Sam di atas ranjang dan menutup jendela kamar yang ia rasa sudah mengunci nya sebelum tidur.

Tangannya bergerak hendak menutup jendela itu tapi sesuatu kembali menyita perhatiannya. Di luar sana, di langit yang kelam, bulan purnama tampak bersinar terang. Wanita itu memutuskan untuk melihat sebentar fenomena yang menurutnya tak boleh dilewatkan itu. Ia menompangkan kepalanya di tangan kanan seraya menengadahkan kepala keatas menatap bulan purnama. Ia berhenti melamun saat mendengar aungan seekor anjing yang membuat bulu kuduk nya merinding. Lalu dengan segera ia menutup dan mengunci jendela kemudian setengah berlari naik keatas ranjang. Sam pun sudah berbaring di sebelahnya. Ia melihat sebentar benda yang berada di sebelah lampu tidur. Tepat pukul 12 malam. Wanita itu menarik selimut dan kembali terlelap.

Dia sungguh terlihat manis

>> <<

“Jun-ah….” Sebuah teriakan mengarah ke wanita yang tengah duduk ditemani buku tebal di pangkuannya. Wanita yang dipanggil dengan sapaan Jun itu pun menoleh ke sumber suara. Ia melambai ke arah pria yang memanggilnya barusan. Pria itu setengah berlari menghampiri Jun lalu duduk di samping wanita itu seraya menyender ke pohon besar yang berada di belakang mereka.

Pria itu pun mengeluarkan dua bungkus roti coklat dari dalam tas hitamnya. “kau mau chagi?” Tanya nya seraya menyodorkan salah satu roti. Jun menggeleng heran lalu kembali melanjutkan membaca buku.

“baiklah, aku akan memakannya sendiri…..” pria itu tampak sedikit kesal, bukan karena Jun menolak pemberiannya tapi karena Jun malah memilih membaca buku ketimbang mengobrol dengannya.

“aku sudah kenyang…” ujar Jun seolah tau pikiran pria itu, ia masih menatap buku tebal yang ada di pangkuannya

“fisakah kau…hmmmps fehenti memfaca fuku fialan itu? (bisakah kau berhenti membaca buku sialan itu?)” pria yang berada di sebelah Jun memprotes dengan kalimat yang kurang jelas karena mulutnya yang penuh dengan gigitan roti. Pria itu merebut buku yang Jun baca dan menaruh di sampingnya. Lalu ia tiduran dengan posisi menyender kan kepala ke pangkuan Jun.

“Ya! Apa yang kau lakukan heh?” kini gilaran Jun yang protes

“YA!waeyo chagi?” bantah pria itu yang bernama Wu Fan

“hey berhenti mengatakan chagi kepadaku!aku bukan pacarmu Wu Fan!” Jun balas berteriak, memasang tampang cemberut. Tangan Wu Fan yang besar itu bergerak melepas kacamata Jun

“memangnya kenapa? Apa aku salah?” Ujar Wu Fan yang membuat Jun merubah ekpresi wajahnya datar.

“tentu saja! Semua orang berfikir kalau aku dan kau memiliki hubungan yang special, padahal kau hanyalah teman dekat ku, arra? Lagi pula banyak yeoja yang mengejarmu kan?” Jun meniup poninya terbang karena kesalnya

“benarkah? Tapi kau satu-satunya yeoja yang berhasil merebut hatiku” Pria keturunan Cantonese-China itupun tersenyum jenaka seraya menatap bola mata Jun yang bulat. Perlahan tangannya bergerak menyentuh ujung rambut Jun yang tergerai lembut yang hampir menyentuh wajahnya. Melihat tatapan kedua bola mata Wu Fan, wanita bertubuh mungil itu tak dapat menahan debaran jantungnya yang bisa dikatakan abnormal itu. Iapun memaksakan tubuhnya untuk berdiri.

BRAK

“YA!! Kepalaku…..” teriak Wu Fan kesakitan karena kepalanya yang terhempas di atas rumput hijau “kenapa kau tiba-tiba berdiri heh?”

“berhenti untuk menghiburku karena statusku yang masih single!!” Jun yang tidak merasa bersalah memasang tampang cemberut. Ada dua alasan mengapa Jun terlihat kesal,pertama karena Wu Fan tidak pernah berhenti memanggilnya ‘Chagiya’ yang notebane adalah panggilan sepasang kekasih dan yang kedua karena Wu Fan tidak pernah menyadari perasaan yang ia pendam selama ini.

“YA Chagiya, kau mau kemana?”

Jun berhenti melangkah dan berbalik. Ia mendapati Wu Fan yang sedang menatap dirinya dengan wajah polos. Kembali Jun mengerucutkan bibirnya.

“tentu saja ke kelas, apa kau tidak ada mata kuliah hari ini? Aku pergi….annyeong….” Jun melambai malas meninggalkan Wu Fan

“Ya…setelah selesai, tunggu aku disini ara?”Wu Fan setengah berteriak agar Jun mendengar ucapannya

“Ya! Berhenti menungguku! Aku tidak ingin pulang bersama mu!”

Wu Fan segera berlari menghampiri Jun, langsung saja ia mencubit pipi cabi Jun “tapi aku ingin,hehe…”

“aishhh….please stop it Wu Fan!!” Jun berjalan malas mendahului Wu Fan

Wu Fan hanya terkekeh seraya memandangi Jun yang semakin hilang dari kerumunan mahasiswa yang lalu lalang di sekitarnya

Jun,aku tidak pernah membohongi perasaanku, aku benar-benar ingin memanggilmu dengan sebutan ‘Chagi’

>> <<

BRAK

Tumpukan buku tebal yang mulanya tersusun di atas meja bundar seketika jatuh berserakan di lantai perpusatakaan. Semua siswa yang tadinya focus membaca setiap rangkaian kata yang rapih di dalam buku spontan mengalihkan pandangan mereka ke arah pria yang tengah memegangi kakinya kesakitan.

“hehehe….akan ku bereskan ini….” Ucap pria itu kikuk seraya membereskan buku-buku yang sempat menghimpit kakinya. Wu Yi Fan, pria ceroboh yang selalu mengganggu aktifitas murid lain akibat tindakan yang sejak lahir melekat di dalam dirinya itu. Entah kenapa ia selalu ketiban sial dimana dan kapanpun itu. Bukan hal yang asing lagi jika semua kejadian buruk terjadi padanya. Pria berambut hitam pekat itu dengan cepat menyusun buku-buku di tempat semula dan berjalan keluar perpustakaan dengan mengandalkan satu kakinya saja, mengingat kaki kirinya perlu diberi peregangan.

“aissssshhhh….kenapa selalu begini heh?dasar pria bodoh!!” umpat Wu Fan pada dirinya sendiri,merasa kesal pada kenyataan dirinya yang di cap sebagai orang sial. Namun anehnya, kebanyakan yeoja di kampus merasa tertarik padanya.

Ia berangsur berjalan dan duduk di salah satu kursi di depan perpustakaan lalu meregangkan kakinya yang sakit. Memukul-mukul betisnya pelan agar otot-otot kakinya tak lagi menegang. Ia berhasil melakukan itu. Namun ia mendapati segulum permen karet mengotori tapak sepatu putihnya.

“aish….apa-apaan ini?” ia kembali kesal lalu menempelkan telapak sepatunya ke tanah dan menggerakannya keatas dan kebawah secara bergantian

“argh….jorok sekali….” Ekpresi wajahnya terlihat sangat-tak-rela saat melakukannya. Sial. Meskipun bable gum –nista- itu terlepas dari telapak sepatunya, tangannya yang besar idan kekar secara tidak sengaja menyentuh sesuatu.

“YA! Kenapa ada kotoran burung di sini heh??? Aishhh….aku harus membersihkan ini…”

Perlahan ia berjalan menuju toilet kampus berniat membersihkan jemarinya yang ternoda.  Dan tentunya dengan kedua kaki yang sudah dapat ia gunakan lagi.

>> <<

Wu Fan membersihkan tangannya di washtafel seraya melihat pantulan bayangan di depannya

“yah…ternyata aku tampan juga….hahaha…” tawanya jenaka ketika memperhatikan bayangan yang tak lain adalah pantulan dirinya di dalam cermin. Ia tersenyum puas melihat dirinya yang tampak sempurna di matanya itu.

Namun dia bergumam lagi “meski kelihatan tampan, tapi sifat ceroboh yang ku miliki ini merusak semuanya….huh…” iapun menghela napas berat lalu mematikan kran

Saat ia akan melangkah keluar dari dalam toilet tiba-tiba saja sebuah suara misterius memanggilnya

“Ya…Kau….!”

Suara itu sangat terdengar jelas di kedua telinga Wu Fan, ia berhenti melangkah dan membalikkan badan

“aku?” sautnya seraya menggerakan jari telunjuk menghadap ke arah wajahnya. Namun yang ia temukan hanyalah bayangannya di dalam cermin

“hah…lagi-lagi aku berhalusinasi…” Wu fan pun membalikan badannya lagi dan terhenti saat ia merasakan sesuatu menyentuh pundaknya. Iapun menoleh dan melihat sebuah tangan pucat diatas pundaknya, membuat dirinya terperanjat. Iapun mengibaskan tangan itu dari pundak dan melihat kearah belakang. Lagi-lagi yang ia lihat di cermin hanyalah dirinya,tak ada orang lain di sana

“huh…aku terlalu banyak menonton film horror…” ujarnya menghilangkan pikiran takut

Ketika hendak melangkah lagi, sesuatu yang aneh merogoti pikirannya. Diapun berbalik lagi melihat bayangannya di cermin, tiba-tiba saja kedua bola matanya membulat melihat bayangannya sendiri. Di dalam cermin itu berdiri seseorang yang sangat mirip dengannya hanya saja berbeda warna rambut dan kulit. Wu Fan menggelengkan kepalanya seraya bergumam.

“tidak mungkin…tidak mungkin….aku hanya berhalusinasi…” ujarnya santai lalu menghidupkan kran dan membasuh wajahnya

“Ya! Babo!!”

Lagi-lagi suara misterius terngiang di telinganya, entah dari mana asal suara misterius itu tapi Wu Fan dapat mendengarnya dengan jelas

Di lihatnya lagi dirinya di cermin, tampak jelas di situ seorang pria berwajah polos mengenakan kacamata, berambut hitam pekat berdiri layaknya orang bodoh

“lihat…aku hanya berhalusinasi…” batinnya lalu segera meninggalkan toilet itu

>> <<

Angin malam kembali berhembus menggelitik tengkuk Jun, masih dalam keadaan menutup mata, Jun menarik selimut hingga menutup seluruh tubuhnya. Samar terdengar suara dentuman dari arah jendela. Mau tak mau Jun membuka mata untuk sekedar mencek suara dentuman itu. Kejadian ini terulang lagi persis semenjak empat hari yang lalu. Sam kucing angora kesayangan Jun kembali bersembunyi di balik lemari baju yang terletak di sudut kamarnya.

“pusy….” Dalam keadaan malas Jun memanggil Sam, seketika kucingnya berlari melompat ke atas ranjang dan bersembunyi ke dalam selimut

“kenapa lagi Sama?” Jun menarik Sam agar keluar dari dalam selimut dan mengelus lembut leher kucing itu

Jun memutar kepalanya menghadap jendela, keningnya mengerut saat melihat jendela kamarnya terbuka lebar. Iapun menghela nafas seraya bangkit dari atas ranjang “bukan kah tadi aku sudah menguncinya?”

Dengan segera Jun mengunci jendela kamarnya dan berbaring di atas ranjang bersama Sam

“hai Jun…..”

Jun terbangun dan menjerit saat menyadari seorang pria tidur di sebelahnya “kyaaaaaaaaaaaaa…….”

Tangan kurus itu langsung membungkam mulut Jun “bisakah kau tidak berteriak Junnie?”

“hmmmmmpsssss……” Jun memberontak, hingga akhirnya ia menggigit telapak tangan pria yang tadi siang membuatnya kesal, Wu Fan

“kau ingin aku mati karena kehilangan nafas heh?” teriak Jun

“hushhh………..jangan teriak! Nanti eomma dan appamu mendengarnya…….” Wu Fan mendekatkan telunjuknya ke bibir Jun yang mungil

“eommma……..appaaaaaaaaaaa………..”teriak Jun lagi

“YA!!” Wu Fan kembali membungkam mulut Jun dengan tangannya, sementara itu Jun berusaha untuk melepas tangan Wu Fan

“apa yang kau lakukan di sini heh?” Tanya Jun seraya memukul pundak pria itu

“jendela kamarmu terbuka, karena itu aku iseng masuk ke dalam dan ternyata kau sedang tertidur karena aku juga mengantuk yah apa salahnya aku nompang sebentar tidur di ranjangmu hehe”

“kau hampir saja membuatku pingsan tau…” Jun menyentil dahi Wu Fan “ku kira kau hantu atau……. Vampire”

Hemm vampire?

“kalau aku memang vampire bagaimana?

“vampire seperti dirimu? Kau bercanda heh?” Jun menghembus poninya terbang lalu berjalan mendekati jendela “keluar lah sebelum aku berteriak lagi…”

“oke oke….” Wu Fan berjalan mendekati Jun dan sebuah ciuman hangat mendarat di pipi Jun “byeee Junnie…” Wu Fan mengacak rambut yeoja itu lalu dengan gerakan cepat ia meloncat ke luar jendela “bye Jun, have a nice dream………” sambung Wu Fan seraya tersenyum lebar

Jun hanya melongo memperhatikan kepergian si pria ceroboh itu

>><< 

Wu Fan menghempaskan badannya ke atas ranjang. Tubuhnya benar-benar terasa berat dan lelah. Ia pun berjalan menuju kamar mandi hendak membersihkan badan. Wu Fan berdiri menatap cermin yang berada di depannya.

“apa aku harus mengatakannya sekarang juga? Junnie…aku sangat mencintaimu…aishhhhhhhh…….” Wu Fan mengacak rambutnya

“kau tidak akan bisa melakukannya……”  Wu Fan mendongak dan menatap ke dalam cermin

Sebuah bayangan muncul dari dalam cermin itu yang membuat Wu Fan terperanjat kaget “si…siapa kau?” Tanya Wu Fan gugup

“aku…? Heh….” Bayangan itu menatap tajam ke arah Wu Fan

Wu Fan memberanikan dirinya untuk tidak terlihat lemah “apa yang kau ingin kan heh?”

“berikan Jun padaku!” suara bayangan itu terdengar mengancam

“ani….Jun adalah milik ku…..” Wu Fan mengepal tangannya erat. Ia terlihat kuat tapi badannya bergetar hebat.

“kau……arghhhh……” tanpa diduga dengan gerakan cepat bayangan itu ke luar dari dalam cermin dan mencengkram leher Wu Fan dengan kuat membuat urat nadi leher Wu Fan terlihat

Wu Fan merasakan dinginnya tangan pria itu yang hampir saja membuat nyawanya melayang, perlahan bola matanya bergerak menatap benda yang melingkar di leher pria itu, sebuah kalung dengan batu hitam yang bertuliskan Kris

“Jadi pria yang memiliki wajah persis sepertiku ini bernama Kris? Makhluk seperti apa dia?” batin Wu Fan

“kau tidak akan pernah mendapatkan Jun! karena sebentar lagi dia akan menjadi milikku!!” pria yang bernama Kris itu melepas cengkramannya kasar dan mendorong tubuh Wu Fan hingga membentur dinding.

Brakkk. Dinding itu bergetar dan sebagian retak. Sedangkan Wu Fan terlihat tak berdaya tersandar di bawahnya.   Cairan merahpun keluar dari dalam hidungnya, Wu Fan tergeletak lemah di lantai kamar mandi seraya mencoba untuk bangkit berdiri.

“kau manusia lemah Wu fan!” ucap Kris dingin seraya memperlihatkan taringnya yang tajam. Perlahan bayangan Kris menghilang dari pandangan Wu Fan. Bak hembusan angin hitam menggumpal, lalu dalam hitungan detik gumpalan itu lenyap tak berbekas.

“Jun…aku harus melindunginya…….” Batin Wu Fan dengan nafas turun naik.

>><< 

“hello world….siang Wu Fan …” terdengar sapaan khas Jun menusuk kedalam telinga Wu Fan,karena baru saja yeoja itu berteriak tepat di telinga namja itu

Wu Fan menjauhkan telinganya dari teriakan yang kalau dibiarkan bisa-bisa gendang telinganya pecah “aishhhhhhh, bisakah kau tidak berteriak tepat di telingaku heh?sakit tauuu!!” Wu Fan mencubit kedua pipi chabi Jun, Jun menahan nafas sesaat, lalu memukul-mukul tangan Wu Fan

“hahaha…kau lucu sekali chagi…..” Wu Fan terkekeh kecil melihat ekspresi Jun, yang membuat jantungnya berdebar kencang

“Cukup Wu Fan!!! Aku tidak suka dengan kata itu!!” Jun mendorong meja kecil yang berada di hadapannya dengan kesal, lalu melipat tangannya di dada

“waeyo eoh?” Wu Fan mendekatkan wajahnya di hadapan wajah Jun, tidak ditanyapun Wu Fan pasti tau kalau wajah yeoja yang berada di hadapannya ini seperti kepiting rebus, sangat merah. Dari raut wajahnya itu Wu Fan juga tau kalau Jun menyukainya.

Spontan, Jun berdiri dan hendak meninggalkan Wu Fan sendirian di dalam kelas. Dia akan benar-benar pergi kalau saja Wu Fan tidak mencengkram pergelangan tangan Jun.

Wu Fan berdehem sebentar “ aku mencintaimu Junnie……” suaranya terdengar pelan,tapi masih mampu untuk di dengar oleh Jun. Jun menoleh kebelakang dengan ekspresi kaget

“aku hanya bercanda…hahahaha…wajahmu lucu sekali hahahahaha…..” kekeh Wu Fan lebar, semakin lama tawanya semakin terdengar keras

“Ya! Siapa juga yang menganggapnya serius eoh? Aishhh…” Dia bohong! Lebih tepatnya membohongi perasaannya sendiri, harapannya terasa hancur dan yang ia yakini adalah Wu Fan memang tidak menyukainya. Dengan kasar Jun melepas tangannya dari genggaman tangan Wu Fan, berjalan dengan cepat keluar dari ruangan itu, ingin sekali dia berteriak marah di atas namsan tower saat ini. Rasa kesalnya sungguh memuncak.

Wu Fan berhenti tertawa setelah yakin Jun benar-benar telah menghilang dari balik pintu kelas itu. Ia berdiri kaku di tempatnya. Nafasnya turun naik, sedangkan debaran jantungnya terasa sakit. Ia merasakan sesuatu menusuk ke dalam rongga jantungnya. Tangannya bergerak menyentuh dada bidangnya. Seolah tau, ia menoleh kesamping dan bergumam pelan

“jauhkan tanganmu dari tengkuk ku!” kalimat itu terdengar datar,tapi penuh dengan tekanan

Perlahan tangan yang ia maksud bergerak menuruni tengkuk nya. Jika Wu Fan tidak cepat-cepat menarik kata-kata yang baru saja ia ucapkan pada Jun, mungkin saja jasad tubuhnya akan tergeletak kaku di lantai ruangan itu.

“sudah kubilang kan, Jun hanya milik ku! Kau tidak berhak untuk mendapatkan cintanya!!”

“apa yang sebenarnya kau inginkan heh?” Wu Fan berbalik, dan ia butuh waktu untuk menyesuaikan pandangannya terhadap namja yang berdiri di hadapannya, yang sangat tidak masuk akal karena namja itu sangat mirip dengannya hanya saja memiliki penampilan rambut, warna kulit dan mata yang berbeda

“aku ingin Jun dan aku ingin kau…mati!”

Seperti tusukan ratusan pedang menancap kedalam hati kecilnya. Wu Fan terdiam sesaat. Namja yang ada di hadapannya ini tidak main-main.

“Ani!” kata itu keluar begitu saja dari bibir Wu Fan

Seketika aura yang berada di sekitarnya terasa dingin, terlihat asap hitam bersatu dan menggumpal memenuhi ruangan itu. Sebuah kursi bergerak,melayang ke atas siap untuk menerjang tubuh Wu Fan.

Sekilas namja itu melihat warna mata Kris berubah yang tadinya berwarna biru shappire menjadi merah. Wu Fan tau kalau makhluk itu ingin membunuhnya saat ini juga. Makhluk mitos dari negeri seberang. Yang saat ini benar-benar nyata di kedua matanya. Makhluk bertaring yang sangat menakutkan -Vampire

Tanpa membuang-buang waktu Wu Fan berlari sekencang-kencangnya menghindar dari serangan Kris. Berlari hingga menerobos ke dalam kerumunan mahasiswa yang hendak keluar dari gerbang kampus.

Ia berhenti sejenak di depan telphone box untuk mengatur nafasnya pelan

“larimu terlalu lamban payah!”

“eoh?”

>><< 

 Jun’s POV

“kenapa dia memanggilku malam-malam begini sih? Huh menyebalkan!!!” ku langkahkan kaki menuju rumah Wu Fan yang tak terlalu jauh dari rumahku, hanya perlu melewati dua gang kecil yang diterangi oleh lampu jalan di seberang rumahku.

Ku buka pagar kayu itu dan berjalan ke arah teras rumah. Ku bunyikan bel yang terletak di pinggir pintu. Lalu seorang nenek-nenek menampakan wajahnya dari balik pintu, ia tersenyum kearahku dan mempersilahkanku masuk. Dia adalah nenek Wu Fan. Wu Fan memang tidak tinggal bersama keluarga dan saudara-saudaranya. Setauku keluarga Wu Fan yang tinggal di Korea hanyalah neneknya. Orangtua Wu Fan tinggal di Canada. Sedangkan dia lahir di Canada tetapi dibesarkan di Korea.

“pasti kau ingin menemui Wu Fan kan?? Apa dia menyusahkanmu lagi Jun-ah??”

“aniyo….dia tidak menyusahkanku kok nek, Wu Fan anak yang baik….hehe…” apanya yang baik?? Dia menyebalkan!!

“apa dia sudah mengetahui perasaanmu Jun-ah?”

DEG

Perasaanku???

“ma-maksud nenek?? Maksud nenek, aku menyukai Wu Fan?? Apa terlihat seperti itu?” tanyaku kaget, aku tidak pernah menceritakan perasaanku ini pada siapapun,termasuk nenek

Nenek perlahan mengelus rambut panjangku “sangat terlihat dari ekspresimu sayang…” ujar nenek yang sekaligus berhasil membuat pipiku merona merah lagi

“kau mencintainya kan?” Tanya nenek lagi

Aku mengangguk pelan dan tersenyum malu

Nenek balas tersenyum padaku “ tampaknya dia sudah menunggumu dari tadi, naiklah ke atas…”

“ne…”

Akupun bergegas menuju lantai dua rumah ini. Hingga berhenti di depan sebuah kamar yang pintunya tertutup. Akupun mengetuk pintu yang terbuat dari kayu itu

“Wu Fan…ini aku….”

Tak ada sahutan. Ku ketuk sekali lagi “Wu Fan….kau di dalam?”

Tetap tak ada sahutan. Langsung saja ku buka pintu kamarnya yang ternyata tidak terkunci, ku edarkan pandanganku ke segala arah. Kamarnya sangat gelap tak ada secuil cahaya yang menerangi ruangan itu.

“Ya!! Kenapa lampunya tidak dihidupkan eoh?”

Aku berjalan meraba-raba dinding dan menemukan saklarnya

CKLEK

Pandangan yang ku lihat pertama kali adalah pantulan bayanganku di cermin. Aku sontak kaget, lalu segera mengalihkan pandanganku dari sana. Bola mataku menangkap sosok Wu Fan yang sedang berada di atas ranjang dengan posisi menyandar ke sandaran ranjangnya. Ku dekati dia dan duduk di atas kasur. Dia terlihat tidak mengenakan pakaian bagian atas.

“YA! Pakai bajumu, kau ingin masuk angin heh??” ujarku dengan nada memerintah. Wu Fan tetap tak merubah posisinya. Dia masih enakan dengan posisi kepala tertekuk.

“YA Wu Fan-ah!!” ku goyangkan bahunya pelan

Diapun mengangkat wajahnya perlahan

“YA! Kau pucat sekali! Apa kau sakit??” ku gerakan tanganku menyentuh dahinya, anehnya yang kurasakan adalah dahinya yang dingin, sedingin es di kutub mungkin

“tunggu ya, akan ku ambilkan kompres hangat untukmu…!”

“Junnie….” Wu Fan menggenggam tanganku

“soal yang tadi siang, kau marah padaku?”

“hmmm….tidak….aku bahkan sudah melupakannya….hehehe….”

“baguslah….” Ujarnya lalu menarik ku ke dalam pelukannya

“aku mencintaimu Junnie….sangat sangat mencintaimu….aku serius….”

Heh? Deg Deg Deg

“apa kau mencintaiku?”

Deg Deg Deg

“sepertinya aku harus segera mengambil kompres dan obat untukmu….” Kataku kikuk

Wu Fan menguatkan pelukannya “jawablah…apa kau mencintaiku?”

“a…aku….aku…” aku gelagapan, ku yakin Wu Fan dapat mendengar debaran jantungku

“katakan….”

“aku…..aku juga mencintaimu Wu Fan….” Suaraku melemah, aku sungguh malu mengungkapkannya

Wu Fan menatapku. Aku dapat melihat wajahnya yang pucat dengan sangat jelas. Bahkan keringat membasahi pelipisnya. Lalu kedua bola mata kami bertemu. Dan yang membuatku terkejut adalah bola mata Wu Fan yang berwarna orange. Ku kerjap mataku sesaat dan menatap bola matanya lagi. Coklat. Seperti biasa. Apa aku salah lihat? Apa itu hanya pikiranku saja?

Wu Fan mengecup keningku pelan

“gomawo….” Lalu dia memeluk ku lagi “jangan tinggalkan aku Junnie, berjanjilah….”

Aku menggangguk dan membalas memeluknya

>><< 

Seberkas cahaya menerangiku, ku buka mataku pelan dan aku sadar kalau aku tertidur di dalam kamar Wu Fan. Aku menguap. Dan memperhatikan namja yang masih tertidur dengan kompres yang ada di atas dahinya. Ku rasa dia sudah baikan sekarang karena wajahnya tak lagi pucat seperti semalam.

Aku bangkit berdiri hendak berjalan keluar kamar, tapi suara Wu Fan mengagetkan ku

“YA Junnie! Kenapa kau ada di kamarku?” tanyanya heran

Aku berbalik “bukankah semalam kau yang menyuruhku kemari? Dasar pelupa!!”

Aku terus berjalan dengan mengabaikan teriakan Wu Fan

Wu Fan’s POV

Aku yang memanggilnya?

Ani! Bukan aku! Itu bukan aku!

Bersumpahlah kalau aku benar-benar memanggilmu kemari Junnie!

>><< 

Ku edarkan pandanganku mencari Jun di ruangan ini. Saat mataku menangkap sosok itu, langsung saja ku hampiri dia. Ku raih pergelangan tangannya dan menariknya keluar. Kami berjalan di koridor dengan terburu-buru. Dan berhenti di taman yang biasa kami tempati. Ku katakan pada Jun untuk duduk di bangku taman yang berada tepat di bawah pohon pinus besar. Sedangkan aku tetap berdiri dengan kedua tangan kumasukkan ke dalam saku celana.

“apa benar aku yang memanggilmu semalam?”

“heh? Ya! Siapa lagi kalau bukan kau!”

“serius?”

“YA! Kau pikir aku bohong eoh?”

“lalu, apa yang kau lakukan di kamarku?”

“YA! Pertanyaan macam apa ini heh?aku tidak melakukan hal – hal aneh seperti yang kau pikirkan!” jawab Jun lalu meniup poninya

“jawab saja!”kataku memaksa

“hah….kau sakit semalam, lalu aku yang mengobatimu, mengompres dan meminumkanmu obat demam”jelas Jun panjang lebar

“selain itu?”

“o…tidak ada….” Ujarnya seraya menggeleng pelan

“kau yakin?” tanyaku lagi memastikan

“a…YAKIN!” jawabnya seraya berteriak tegas. Aku mengangguk paham tetapi rasa penasaran dan kekhawatiran terlalu menyelimuti pikiranku

“Jun-ah….tetaplah bersamaku dan jangan pernah keluyuran! Mengerti?”

“YA! Apa maksudmu eoh?kau kan tau aku akan keluyuran jika itu bersamamu, karena hanya kau lah teman dekatku…yang dapat melindungiku tau….!”

“baguslah…aku mencemaskanmu Jun-ah…” ku peluk Jun dengan erat,seolah tak ingin dia tersakiti oleh siapapun, aku ingin melindunginya dari apapun termasuk dari vampire itu, Kris.

>><< 

Jun’s POV

Hari ini ada sesuatu yang berbeda dari diri Wu Fan, dia terlalu memprotect diriku. Kemanapun, pasti selalu ada Wu Fan di sampingku, dimanapun dan kapanpun, dia selalu ada, seperti seorang bodyguard yang selalu melindungi nyonyanya. Bahkan Wu Fan mengantarku sampai rumah dan berpesan untuk tetap berhati- hati dan mengunci jendela dan kamarku dengan rapat. Dia sungguh terlihat aneh. Dan masalah semalam, apa dia ingat dengan kata-kata yang ia ucapkan padaku?

>><<

Aku berlari menghampiri Wu Fan yang sedang duduk di bawah kursi taman yang sering kami tempati. Ku tutup matanya dengan kedua tanganku

“hello world…pagi wu fan!” ujarku padanya seperti biasa

“tumben kau tidak berteriak di telingaku….”katanya seraya melepas tanganku di depan matanya

Ku naikan pundakku “aku sedang tidak berminat mungkin…” kataku sekenanya. Lalu pandanganku melihat setangkai mawar merah yang kembang. Ketika hendak memetik mawar itu seketika durinya menusuk telunjukku dan rasanya sangat perih.

“arghh…” rintihku kesakitan, tak sedikit darah yang menetes dari jemariku itu

Wu Fan sontak menoleh ke arahku karena mendengar aku merintih. Ia lalu berdiri dan meraih jemariku yang terluka. Mengecupnya agar darahnya berhenti.

“ah…aku harus ke ruang kesehatan…kau masuklah dulu ke kelasmu….” Aku berjalan meninggalkan Wu Fan

Normal POV

Pria itu berdiri termangu, ia menjilati darah yang berbekas di ujung bibirnya. Lalu ia memetik mawar yang tadinya ingin dipetik Jun, ia bergumam pelan “kau ingin mawar ini Junnie ku? Aku akan memberikan seribu mawar padamu dan jangan berharap kalau Wu Fan dapat memberimu seribu mawar!”

Dia bukanlah Wu Fan! Dia Kris! Vampire yang sangat tergila-gila pada Jun

Diapun menghilang begitu saja bersama gumpalan asap hitam. Mawar merah yang tadinya ia genggam, jatuh di atas rumput hijau dan seketika warnanya berubah menjadi hitam pekat.

>><< 

Jun berlari kegirangan menuju sebuah bangunan tua yang terletak di sudut kampus. Bangunan kokoh bekas jajahan Jepang yang saat ini dijadikan sebagai fakultas hukum. Sebuah senyuman merekah di wajahnya. Sesekali matanya yang bulat sempurna menatap dua buah karcis yang tergenggam di tangannya. Malam ini dia berencana untuk mengajak Wu Fan nonton. Ribuan harapan terlalu meracuni pikirannya. Ia ingin malam ini menjadi malam terindah baginya, meski bukan kencan, tapi setidaknya dia dapat bersama dengan Wu Fan hanya sekedar menemaninya di malam minggu ini.

Dari tadi senyuman manis itu enggan untuk beranjak dari wajahnya. Debaran jantungnya pun berdetak dengan sangat kencang saat langkahnya hampir memasuki fakultas itu. Tak terlihat lagi mahasiswa di sekitar bangunan. Jun merasa yakin kalau pria ceroboh itu ketiduran di dalam kelas dan tak ada seorangpun yang membangunkannya. Itu merupakan hal yang biasa bagi Jun.

Langkah Jun bergerak semakin pelan saat ia sudah benar-benar berada tepat di depan kelas Wu Fan. Langkahnya terhenti sesaat karena mendengar sebuah percakapan singkat. Karena terlalu penasaran dan tidak ingin di cap sebagai yeoja yang tukang nguping. Jun lebih memilih untuk masuk saja ke dalam ruangan itu.

“permisi…..” katanya sebelum masuk ke dalam “loh? Wu Fan-ah…. Kau tadi bicara dengan siapa?” Tanya Jun setelah ia berada di dalam kelas. Dilihatnya tak ada seorangpun di dalam kelas melainkan hanya Wu Fan seorang.

Wu Fan menoleh kea rah Jun lalu tersenyum kaku “bicara? Maksudmu?” Tanya Wu Fan lalu tangannya bergerak menyampirkan rambut lurus Jun ke belakang telinganya. Perlakuannya ini membuat Jun salah tingkah

“ah….lupakan saja…ini aku ingin mengajakmu menonton, ku tunggu jam 7 malam ini ya…” ujar Jun gugup

“nonton? Baiklah…” jawab Wu Fan datar

“Ya! Kenapa responmu hanya begitu? Biasanya kau kan yang lebih tertarik….” Jun menunduk kesal

Wu Fan mendekatkan bibirnya ke telinga Jun “Ya….memangnya kenapa?” ujarnya pelan,membuat bulu kuduk Jun merinding sesaat

“a…tidak apa-apa….” Jun semakin salah tingkah, sesuatu kembali menyita pikirannya. Ia merasa bahwa pria jangkung yang berdiri di hadapannya ini seperti bukan Wu Fan,teman semasa kecilnya

“oo….mana kacamatamu?”

Wu Fan menyentuh wajahnya “aku tidak memakainya untuk hari ini….” Jawab Wu Fan dengan ekspresi datarnya lagi

“hmm baguslah kau terlihat keren….” Jun duduk di salah satu kursi lalu menyender “kau seperti tidak bersemangat sekali….aaa…aku tau kau masih mengantuk kan? Aishh…babo…!”

Wu Fan ikut duduk di samping Jun “aku tertidur? Begitukah?”

“ya!! Jangan pura-pura tidak tau ya, kan memang itu kebiasaanmu di kelas…hah…aku takut jika kau di Drop out”

“kau mencemaskanku?”

“ya…bisakah kau berekspresi sedikit hah? Kenapa kau terlihat terlalu suram sih? Kau sakit ya?” Jun meraba dahi Wu Fan “hmm badanmu tidak panas,tapi wajahmu terlihat pucat…”

Wu Fan meraih tangan Jun lalu menggenggamnya dengan erat “sudahlah jangan kau cemaskan aku, aku baik-baik saja….”

“tapi aku tidak yakin….kalau kau sakit, kita batalkan saja rencana nonton nanti malam….”

“tidak usah…kita tetap akan pergi….” Wu Fan tersenyum menatap kedua bola mata Jun, tatapannya begitu menghangatkan hati Jun

>><< 

Wu Fan melihat arloji yang melingkar di tangannya, selama satu jam dirinya duduk di halte bis yang berada di depan kampus, menunggu Jun yang katanya akan pulang bersamanya hari ini.

“aishhh…..kemana sih anak itu?” gumam Wu Fan cemas “hah…seharusnya tadi aku ke kelasnya bukan menunggunya di halte ini….aishhh babo…” Wu Fan mengacak rambutnya

Seketika terlintas bayangan Kris di benaknya “arghhh….tidak-tidak….mana ada vampire siang-siang begini….ah..tapi…hari itu dia kan menemui ku….arghhhh….”

Wu Fan segera berlari mencari Jun di kampus

“Wu Fan…..” seseorang memanggilnya, dia Yixing, teman sejurusan yang berasal dari China. Mau tak mau Wu Fan berhenti sejenak “ah…ya…”

“kau terlihat terburu-buru sekali….” Komentar Yixing karena melihat temannya itu panik

“ah ya…aku sedang mencari Jun…kau tau di mana dia?”

“yak…bukankah tadi kalian pulang bersama?”

Seketika debaran jantung Wu Fan bergerak tidak seperti biasanya. Pikiran aneh merasukinya. Ia mulai kelihatan sangat panik “pulang bersama?”

“ya…yang bersama Jun tadi bukannya dirimu? Atau aku mungkin salah liat hehe….”

“yak kapan kau melihat Jun?”

“hmmm kira-kira…..sejam yang lalu….”

“ah….baiklah xiexie….” Ujar Wu Fan seraya menepuk kedua bahu Yixing lalu diapun berlari menuju halte. Pria berkacamata itu berharap Jun sudah berada di rumahnya dalam keadaan selamat. Dua puluh lima menit waktu yang diperlukannya untuk sampai di rumah Jun.

Selama di dalam bis, Wu Fan tak berhenti mencek arlojinya yang sekarang sudah menunjukan pukul setengah tujuh. Raut wajahnya terlihat sangat khawatir. Ia terlalu takut jika Kris menyakiti wanita yang ia cintai. Ia takut jika Jun tidak mengenalnya lagi. Ia takut jika Jun pergi dari kehidupannya untuk selamanya. Ia takut jika Kris membawanya pergi ke tempat yang sangat jauh, yang tidak dapat di jangkau oleh seorang manusia sepertinya. Ia takut kehilangan wanita itu. Dan pada intinya Wu Fan sangat takut kehilangan cinta dari Jun.

>><< 

“enaakkk….” Teriak Jun kegirangan menjilati lollipop nya “kau tidak mau eoh?” Jun bertanya pada pria yang berdiri di sebelahnya. Pria itu terlihat lebih tertarik melihat daging sapi panggang daripada melihat jajanan permen  yang berada tepat di sebelah kaki lima penjual daging sapi panggang tersebut.

“kau lapar ya…baiklah aku akan mentraktirmu makan daging sapi itu…..”

“benarkah?”

Jun mengangguk “paman….aku pesan dua tusuk….” Ujar Jun berkata kepada penjual daging sapi itu

“aku mau lima tusuk….” Sela pria itu cepat

“aishh…kau benar-benar lapar ya Wu Fan….hahaha….” Jun kemudian mengacak rambut pria yang dia kira adalah Wu Fan

“kalian sepasang kekasih ya?” Tanya paman penjual daging sapi panggang yang sedang menyiapkan pesanannya

“eoh? Kami? Ani ani…..hahaha….” bantah Jun malu

“benar….kami sepasang kekasih….” Ujar pria itu yang ternyata adalah Kris

Jun membelalakkan kedua matanya lalu menyikut siku Kris “apa yang kau katakan sih?” bisik Jun. Kris menatap ke dalam bola mata Jun, tatapannya kali ini membuat Jun terdiam sesaat. Kris lalu menunduk sejenak.

“kau malu ya…ah itu hal yang biasa hahaha….ini pesanannya….”ujar paman itu yang berhasil membuat Jun salah tingkah

“ah hehehe terimakasih paman…” saut Jun lalu memberikan sejumlah uang untuk membayar pesanannya

>><< 

Jun’s POV

Saat ini Wu Fan dan aku berjalan menelusuri taman yang ada di pusat kota setelah kami menghabiskan semua jajanan yang kami beli. Kami berencana pulang menaiki bis yang akan berangkat pukul 10 malam. Dan tentunya setelah kami menonton film di bioskop.

Kami terus berjalan menelusuri beberapa deretan toko untuk sampai di halte bis. Tak ada pembicaraan yang terjadi diantara kami. Aku diam begitu pula dengan Wu Fan. Entah kenapa atmosfer yang berada di sekitar kami berubah drastis, sangat canggung bahkan untuk bersenda gurau tak kami lakukan seperti biasa. Aku terlalu gugup jika terus begini. Aku juga tidak tau bagaimana perasaan Wu Fan terhadapku. Aku takut jika dia sama sekali tidak memendam perasaan yang sama.

Ku dengar langkah kaki Wu Fan terhenti. Aku menoleh ke samping begitu pula dengannya, menoleh ke arahku. Wu Fan mengalihkan tatapannya kemudian. Dan melanjutkan berjalan.

“hmm…waeyo?” tanyaku dengan alis mengerut

“kenapa kau suka sekali menonton film horror?apa kau tidak merasa takut?” tanyanya dengan nada yang datar

“hmm….ani…aku tidak punya alasan untuk menyukainya…memangnya kenapa eoh?”

“benarkah? apa kau tidak takut dengan…..vampire?”

“vampire? Untuk apa aku takut dengan hantu setampan dan sekeren mereka eoh? Dasar kau ini….”kataku cekikikan seraya menyikut siku Wu Fan

“apa kau yakin?”tanyanya lalu berhenti melangkah lagi

Aku mengangguk meyakinkannya “jika harus memilih…aku akan menikah dengan seorang vampire daripada dengan seorang manusia hahahaha….” Kataku seraya terkekeh lalu memperhatikan ekspresi Wu Fan yang sangat kaget

“ya! Waeyo? Kau terlalu serius…mana ada vampire di zaman modern begini….haha….” jawabku seraya menarik Wu Fan berjalan lebih cepat agar kami tiba lebih awal di halte. Aku tidak ingin kami terlambat menaiki bis dan mengharuskan kami untuk menggunakan taksi yang harganya dua kali lipat lebih mahal

“Junnie-ya….aku ingin mengatakan sesuatu padamu…..” Wu Fan bersuara lagi saat kami sampai di depan sebuah zebra cross

“hmm?”

“aku mencintaimu…. aku benar-benar mencintaimu Jun-ah…..”

Seketika jantungku berdesir. Aku berusaha untuk tidak termakan oleh bualannya “eoh? Kau pintar sekali membohongi orang yah hahaha….” Ujarku lalu menepuk pundaknya dengan kasar

Wu Fan lalu menggenggam tanganku dengan erat lalu menarik tubuh mungilku ke dalam pelukannya “aku benar-benar mencintaimu Jun-ah….” Katanya seraya mengecup keningku. Ku lepas pelukannya dengan paksa.Samar ku lihat warna matanya berwarna oren. Ah…aku pasti salah lihat lagi!

“jangan lakukan ini padaku!” selaku membuatnya terhenyak

“aku serius Junnie…aku sangat mencintaimu….maukah kau pergi bersamaku? Ke tempat yang sangat jauh…di sana kita akan menikah dan membesarkan anak-anak kita….”

Wu Fan menatap ke dalam kedua bola mataku “tempat yang jauh? Kemana?”

“ke dunia yang tidak bisa kau bayangkan…tempat yang jauh lebih baik…berjanjilah untuk ikut denganku…..” ujarnya meyakinkan seraya menggenggam tanganku dengan hangat. Tatapannya yang teduh seakan menghipnotisku.

“kapan?” tanyaku memastikan

“sekarang!” jawabnya tegas. Akupun mengangguk pelan. Wu Fan mendekat dan meraih wajahku mendekatkan ke wajahnya yang tirus dan…..

Bruk

Kedua mataku langsung tertutup rapat, saat sesuatu yang besar menghimpit tubuh kami. Lebih tepatnya menghimpit tubuh Wu Fan. Kami terbaring di atas trotoar yang sangat sepi. Nafasku turun naik. Aku sangat terkejut dengan kejadian yang baru saja ku alami. Sebuah benda jatuh dan menghimpit tubuh Wu Fan yang berusaha untuk melindungiku.

Kedua mataku terbuka lebar seketika. Penglihatanku menangkap wajah Wu Fan yang berada tepat di depan wajahku, hanya beberapa centi

“kau tak papa?” tanyanya cemas seraya memperhatikan keadaanku

Aku mengangguk pelan “seharusnya yang bilang begitu aku…bukan kau….” Kataku cepat

“aku lebih mengkhawatirkan dirimu Junnie….” Katanya yang sekaligus membuat jantungku berdesir lagi.

Wu Fanpun membantuku berdiri. Lalu menarik ku menuju halte. Saat kami melangkah,ku perhatikan benda itu dan ternyata berukuran sangat besar dan terbuat dari besi. Dan anehnya Wu Fan sama sekali tidak merasakan sakit. Ku akui, dia memang pria yang kuat.

>><< 

Normal POV

Seorang pria tengah berdiri di depan pintu kekediaman keluarga Lee. Ekspresi khawatir terpancar sangat jelas dari wajahnya. Ia terus berjalan mondar mandir di depan pintu itu, menunggu seseorang tetapi enggan untuk masuk ke dalam. Ia lebih memilih menunggu orang yang ia cemaskan di sana. Ia hanya ingin memastikan kalau wanita itu dalam keadaan baik-baik saja.

“eoh…Wu Fan?” Tanya wanita itu kaget seraya memperhatikannya. Wu Fan langsung memeluk wanita itu dengan erat. Mengeluarkan segala perasaan khawatir yang sedari tadi ia pendam. Ia benar-benar tidak mau kehilangan wanita itu sekarang.

“kenapa kau ada disini eoh? Bukankah tadi kita berpisah di depan gang? Lalu kenapa kau bisa berada di sini?” begitu pertanyaan yang terlontar dari wanita itu yang sangat membuat dirinya merasa heran dan curiga

“kau dari mana?” Wu Fan malah bertanya pada wanita itu

“lelucon apa lagi ini heh? Bukankah tadi aku pergi bersamamu eoh? Apa kau lupa ingatan hah?” ujar wanita itu seraya membentak Wu Fan

Wu Fan meraih wajah wanita itu “jangan bilang kalau kau pergi dengan pria itu Junnie….”

“kau gila! Jelas-jelas aku pergi bersama mu!” jelas Jun seraya berteriak di hadapan Wu Fan “jangan buat aku bingung Wu Fan!!”

“kau salah orang itu bukan aku!”

“lalu? Memangnya kau punya kembaran eoh? Kau gila! Kau gila!” pekik Jun kesal

“dia Kris! Dia mirip denganku dan dia adalah seorang vampire!”

Seketika aura di sekitar mereka menjadi kelam dan terasa dingin “begitu mudah kah aku percaya padamu eoh? Aku muak mendengar bualanmu itu!” elak Jun marah seraya mendorong tubuh Wu Fan menjauh darinya. Namun dengan cepat Wu Fan meraih pergelangan tangan Jun dan menggenggamnya dengan erat, seolah tak ingin membiarkan Jun pergi jauh darinya.

“ku mohon percayalah padaku! Ini memang tidak masuk akal! Tapi Dia sangat menginginkanmu Jun….dan aku…tidak akan membiarkan itu terjadi…karena aku akan melindungimu…..neol saranghae….” Kata-kata itu meluncur dengan mulus dari mulut Wu Fan membuat Jun kaget.

“ku mohon dengarkan aku!” Wu Fan menatap bola mata Jun dalam “aku tidak tau kenapa dia ada di dunia ini…dan mengincar wanita yang ku cintai….apakah kau tidak menyadari hal yang janggal saat kau bersamanya?apakah kau tidak menyadari itu eoh?”

Jun hanya terdiam mendengar penjelasan dari Wu Fan “tidak pernahkah kau membedakan pandangan seorang manusia dengan seorang vampire?”

Suhu di sekitar mereka bertambah dingin dan angin berhembus dengan kencang

“itu bukanlah aku Junnie…dia Kris….ku mohon tetaplah bersamaku….!” Wu Fan memeluk Jun lagi dengan erat.

“tapi….aku sudah berjanji  untuk meninggalkan dunia ini dan pergi bersamanya….lalu apa yang harus ku lakukan Wu Fan?”

“tenanglah….aku akan melindungimu….”

“aku takut Wu Fan….aku takut….” Ujar Jun cemas seraya mengeratkan pelukannya di tubuh Wu Fan.

Namun seketika gumpalan asap hitam muncul di hadapan mereka. Semakin lama gumpalan itu membentuk sosok pria yang menyeramkan. Mengenakan jubah hitam, berwajah pucat dan mempunyai kuku yang tajam serta memiliki wajah yang sangat persis dengan Wu Fan.

Wu Fan dan Jun sangat terkejut dengan kedatangan tamu itu. Jun merasa takut dan menggenggam tangan Wu Fan dengan erat. Wu Fan menarik Jun ke belakang tubuhnya.

“hahaha….untuk apa kau melakukannya Wu Fan? Kau tidak akan bisa melindunginya!” ujar Vampire itu, Kris

Jun benar-benar sangat takut dan memeluk Wu Fan dari belakang

“jangan takut honey…berikan hatimu untukku…” dengan kilatan yang sangat cepat Kris berada di belakang wanita itu, menarik tubuh Jun hingga berada di dalam dekapannya.

“Wu Faaaann!!!” teriak Jun panic. Debaran jantungnya bergerak semakin cepat. Vampire tidak seperti yang ia bayangkan. Makhluk yang sangat menakutkan baginya. “Wu Faaaaannnnn!!!” ia berteriak lagi, meronta-ronta di dalam dekapan Kris. Setetes air bening jatuh di pipinya. Menandakan bahwa ia tidak ingin di bawa pergi oleh Kris.

“bahkan kau tidak bisa melindungi wanita yang kau cintai Wu Fan! Kau memang manusia bodoh…..haha….” ujar Kris seraya mengecup kening Jun mesra. Perlahan Kris menghilang bersamaan dengan gumpalan asap hitam dengan membawa Jun bersamanya.

“Wu Faaaaaaannnnnnnn……..” teriakan Jun hilang bersamaan gumpalan asap itu. Wu Fan terduduk di atas tanah seraya meratapi kepergian Jun. Memang benar yang di katakan Kris, tak ada yang bisa ia lakukan untuk melindungi Jun. Batinnya sangat terguncang. Ia menangis, menyesali kebodohannya. Kris seperti memberikan sugesti pada dirinya untuk tidak melawan vampire itu. Kaki dan tangannya terasa lemah untuk memberikan perlawanan. Dan kini apa yang harus ia lakukan? Mengejar Kris? Tapi kemana? Apa kah itu ke suatu tempat yang sangat jauh di jangkau oleh seorang manusia sepertinya?

>><< 

Wu Fan’s POV

Aku berjalan gontai menuju kamar. Aku menyesal, bingung dan kesal. Kenapa aku tidak bisa melindungi Jun? Kenapa? Kenapa?

“kenapa eoh?” sebuah suara mengangetkanku. Aku pun menoleh dan melihat nenek yang tengah menatapku dengan sebuah senyuman terkembang di wajahnya

Aku memeluk nenek dan menangis “aku telah kehilangan Jun….” kataku seraya terisak “lalu sekarang kemana aku harus mencarinya….”

“kau tau di mana dia Wu….”

“tidak! Sama sekali tidak!”

Nenek menuntunku duduk di atas ranjang “apa kah kau tidak menyadari sesuatu yang terjadi pada dirimu eoh?”

Dahiku mengerut “maksud nenek?”

“sepertinya ini adalah waktu yang sangat tepat untuk mengungkapkannya….”

>><< 

Normal POV

Lilin lilin kecil menghiasi di setiap sudut ruangan itu. Hanya sinaran lilin yang menerangi ruangan yang kelam ini. Seorang wanita dengan memakai gaun pengantin terbaring di dalam sebuah peti besar. Di hadapan peti itu berdiri makhluk bertaring yang biasa di sebut sebagai vampire.

Kris mengucapkan beberapa mantra sebelum berjalan mendekat ke arah peti itu. Ia tersenyum dikala menatap yeoja yang dicintainya yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Kris mengelus pipi Jun lembut dan tak sengaja membuat yeoja itu terbangun.

Jun membuka kedua mata dan menatap seorang pria dengan wajah pucat berdiri di hadapannya. Ia kaget dan terbangun.

“Wu Fan?”

“berhenti menyebut namanya!” balas Kris dengan wajah yang dingin, menampakkan taringnya yang tajam

Jun tersadar kalau pria yang berada di hadapannya ini bukan lah Wu Fan, atau lebih tepatnya bukan lah seorang manusia

Jun bangkit dari tidurnya lalu berusaha untuk melompat dari dalam peti

“tak kan ku biarkan kau lari dariku honey…” Kris menggenggam tangan Jun erat,seakan-akan tak ingin melepaskan Jun

“lepaskan aku!!!”

Kris tersenyum lebar seraya memperlihatkan taringnya yang tajam. Jun meneriaki nama Wu Fan dan menarik kuat tangannya dari genggaman Kris. Gadis itu benar-benar merasa takut melihat makhluk yang berada di hadapannya itu.

“lepaskan dia!”                                                                        

Terdengar suaraWu Fan memasuki ruangan yang kelam dan berbau mistis itu. Kris menyeringai lebar ke arah Wu Fan. Jun merasa lega dan kembali berteriak memanggil Wu Fan seraya berusaha untuk lari menemui namja yang di cintainya. Namun usahanya itu tetap sia-sia karena Kris mencegatnya untuk menemui Wu Fan.

“kau menginginkannya eoh?” ejek Kris  lalu mendekap Jun di dalam pelukannya. Ia tidak akan pernah membiarkan Jun pergi bersama Wu Fan.

“Lepaskan dia!” teiakan Wu Fan tak berhasil membuat Kris jera. Vampire itu mengeluarkan kekuatannya. Segumpalan asap mengepung tubuh Wu Fan. Lalu asap itu membanting Wu Fan hingga tubuhnya tak berdaya. Tenaganya terasa menghilang. Tubuhnyapun terasa kaku. Namun ia tetap tidak akan menyerah. Dia harus menghancurkan Kris.

“heh…hanya segitu kekuatanmu Kris?” ejek Wu Fan tak merasa takut

Sementara itu Jun berteriak menyebut nama Wu Fan berkali-kali. Kris terhenyak lalu dengan gerakan cepat ia sudah berada di depan Wu Fan, mencengkram leher pria itu ganas lalu mengangkat Wu Fan tinggi dan menghempaskan tubuhnya ke lantai.

Jun berteriak lagi, wanita itu tidak tahan melihat Wu Fan diperlakukan seperti itu.

Kris lalu menghampiri Jun yang ketakutan dan menggendong wanita itu dengan paksa kearah peti mati. Jun meronta namun usahanya tetap sia-sia. Kris lalu mengecup sebuah lingkaran hitam di kening Jun, seketika tubuh wanita itu melemah. Krispun meletakkan tubuh Jun yang tak sadarkan diri ke dalam peti mati.

Di kesempatan yang cemerlang ini Wu Fanpun mengeluarkan sebilah pedang emas dari balik tubuhnya. Pedang itu bersinar terang membuat Kris untuk tidak dapat melihat sesaat. Setelah sinar itu redup. Dengan gerakan cepat Wu Fan berlari ke arah Kris dan mengarahkan pedang sakti itu tepat mengenai bagian jantung Kris. Seketika ruangan itu bersinar terang. Wu Fan terpelenting jauh membentur tembok yang berada di belakangnya. Pedang itu lenyap bersamaan dengan kehancuran Kris sekaligus mampu menghancurkan ruangan itu dengan sekejap. Debu bertebaran di mana-mana. Ruangan itu sudah tidak berbentuk lagi. Hanya bongkahan batu bata yang bersisa.

Wu Fan kehilangan tenaganya untuk sesaat. Nafasnya tak beraturan. Dan dadanya terasa sesak. Ia pun menyadari sebuah benda melingkar di lehernya. Ia tersenyum puas akan keberhasilannya itu. Wu Fanpun mengedarkan pandangannya. Lalu menghampiri Jun yang berada di dalam peti. Ia juga melihat tak ada lagi lingkaran hitam yang melingkar di kening Jun. Wu Fanpun menggendongnya dan membawa Jun pergi dari ruangan yang hancur itu.

>><< 

“buka mulut mu!”

Jun menggeleng menolak perintah Wu Fan. Bukan karena tidak patuh, tetapi karena ia tidak ingin memakan masakan rumah sakit, yang sangat tidak diterima oleh lidahnya.

“waeyo? Ini suapan terakhirmu Junnie…buka…” ujar Wu Fan dengan paksa “kau mau demam terus heh?”

Jun menggeleng lagi

“kalau begitu…..dengarkan kata-kataku!”

“memangnya kau siapa eoh?”

“aishhh….wanita ini….kau pacarku dan sebentar lagi akan menjadi istriku!” ungkap Wu Fan dengan jelas. Jun tersipu malu. Pipinya merona merah seketika.

“huh….baiklah….” kata Jun patuh lalu membuka mulutnya dengan lebar

“tunggu sebentar …aku akan membelikanmu lollipop yang sangat besar…..”

“jinja?”

Wu Fan mengangguk mantap

“gomawo…..” ujar Jun seraya tersenyum riang. Wu Fan memang tau yang ia suka.

Wu Fanpun meninggalkan Jun sendirian di ruang inap itu. Berjalan di sepanjang koridor rumah sakit. Saat berjalan, sesuatu menyita perhatiannya. Seorang bocah yang sedang kewalahan mencari sesuatu. Wu Fan tersenyum lalu bertanya pada bocah itu “apa yang sedang kau lakukan di sini adik kecil? Mana ibumu?”

“hyung…..aku kehilangan sesuatu….” Ujar bocah yang kira-kira berumur 10 tahun itu dengan wajah sedih

“apa ? Mana tau aku bisa membantumu…” tawar Wu Fan dengan ramah

“aku kehilangan mobil yang tadinya ku mainkan….”

“oh…ah….bukan kah itu?” ujar Wu Fan seraya menunjuk sesuatu yang terselip di belakang sebuah tanaman hias

“ah…itu dia….” Teriak bocah itu senang . Wu Fan mengambil mobil-mobilan itu dan memberikannya kepada bocah itu.Wu Fan berjongkok di hadapannya seraya mengacak rambut bocah itu dengan kasar.

“aishhh….hyung! rambutku kusut….hah….gamsahamnida….”

Wu Fan tersenyum  dan bertanya “siapa namamu?”

“aku Jong Dae….senang berkenalan denganmu hyung….hehehe….oh namamu?” Tanya bocah yang bernama Jong Dae itu seraya menatap benda hitam yang melingkar di leher Wu Fan. Pria itupun mengikuti arah pandang Jong Dae “ah…namamu….Kris yah?” Tanya Jong Dae seraya menyentuh kalung itu. Membalik kannya dengan penuh penasaran. Karena menurutnya kalung itu sangatlah langka.

“oh…kenapa disini tertulis Wu Fan? Tetapi di sisi yang satunya tertulis Kris?hmmm membingungkan!!”

Pria yang berada di hadapan Jong Dae tersenyum lagi “Wu Fan? Kris? Kalau menurutmu siapa mereka eoh?

“oh…hyung ingin main tebak-tebakan? Baiklah….hmmm menurutku mereka orang yang sama….”

Pria itu mengacak lagi rambut Jong Dae “kau benar…hahaha…”

“ah…hyung ini ada-ada saja….kalau begitu aku permisi….sekali lagi terimakasih ya…semoga kita bertemu lain kali….annyeong….” ujar Jong Dae seraya meninggalkan pria itu di sana

Wu Fan? Kris? Ya mereka memang orang yang sama.

>><< 

Epilog

Wu Fan adalah seorang pria yang terlahir sebagai origin, manusia vampire. Namun ia akan mengetahui dirinya sebagai vampire saat berusia 20 tahun. Di masa itu Wu Fan akan menemukan jati diri yang sesungguhnya. Dimana Wu Fan harus bertarung melawan bayangannya sendiri, Kris. Dan pada akhirnya ia berhasil memasukkan bayangannya ke dalam tubuhnya sendiri. Dan kini Wu Fan telah menjadi vampire yang sesungguhnya.

>><<

Don’t forget to RCL thanks ^^ and sorry for the late post mianhae T^T

Advertisements

13 thoughts on “SCHATTEN ( Vampire’s story )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s