YOU ARE NOT MY DESTINY

Author : Choi Mina aka me

Cast :

Oh Sehun (EXO K)

So Jin (imagination/readers)

Xi Luhan (EXO M)

Genre : romance, sad

Rating : PG17

NB : ff ini author ikutin lomba tapi ga menang (lagi) hahaha *author payah* tapi dengan judul yang berbeda dan dengan sedikit perubahan 😀 , so enjoy with this fanfic ^O^

Summary :  Aku berharap bisa memilikimu selamanya

-O-

Sehun’s side

Bentangan karpet panjang berwarna merah marun itu seolah menanti kedatanganku. Aku berjalan tegap diatasnya seraya sesekali melihat keadaan disekitar. Aku berjalan melewati puluhan bahkan ratusan manusia, siapa lagi kalau bukan kerabat dekat ataupun rekan kerja appa. Dengan senyuman yang sedikit terpaksa ku sapa mereka. Akupun memasuki sebuah gedung besar dan megah lalu menuju ke sebuah kursi yang belum diduduki. Penglihatanku tak lepas dari sepasang insan yang tengah berdiri di depan altar. Mereka sangat terlihatserasi, pembelai wanita mengenakan dress putih panjang sedangkan pembelai pria mengenakan tuxedo hitam yang elegan. Kedua insan itu mengucapkan janji ikatan cinta mereka dan disaksikan oleh ratusan pasang mata. Bunyi lonceng gereja menggema menggetarkan jiwa dan ragaku. Semua tertawa bahagia namun bagiku itu hanya akan menambah rasa kekecewaanku.

Kalau bukan karena paksaan dari orangtua, aku tidak akan mengunjungi upacara pernikahan ini. Aku lebih memilih untuk mengurung diri di kamar daripada menyaksikan orang yang sangat kucintai berbahagia dengan pria lain. Memang terdengar egois, hanya mementingkan perasaan sendiri, tapi haruskah aku merelakannya begitu saja?

~Desember 1998 ~ Saat malam Natal ~

Seorang gadis kecil bertubuh mungil berlari menghampiriku yang sedang duduk di ruang tamu menyaksikan indahnya pohon natal . Dia berjalan terengah-engah seraya membawa boneka teddy bear yang berukuran separuh tubuhnya  lalu berdiri di hadapanku. Terlihat sebuah senyuman terukir di wajahnya dan jelas terbentuk lesung pipi yang menawan,menghiasi di kedua pipinya. Seperti biasa, dia selalu terlihat manis dengan pita merah yang menghias di atas kepalanya. Tak ingin terbuai dengan pesonanya, langsung saja aku mencari kesibukan yang lain, memandangi pohon natal yang berdiri indah di sudut ruang tamu, meski sebenarnya pikiranku tak tertuju kesana.

“ya…Sehunnieee kau tidak ingin bermain salju bersama kami?” ujarnya memprotes

Aku hanya mendengus tanpa menoleh kearahnya. Aku paling tidak suka dipanggil Sehuni, terdengar panggilan untuk anak – anak cengeng dan manja.

Ia  kembali berteriak menyebut panggilan konyol itu seraya menarik-narik ujung pakaian yang kukenakan. Seberapa besarpun takadnya merayu, aku tetap tak akan terpengaruh olehnya.

Urusi saja oppamu yang baik dan tampan itu! Jangan pedulikan aku!

Aku marah? Tidak, lebih tepatnya aku cemburu. Setiap hari menyaksikan mereka bermain bersama yang sama sekali tidak mempedulikan keberadaanku. Aku hanya diposisikan sebagai orang ketiga atau dengan istilah lain ‘tempat pelarian’. Mereka akan butuh jika perlu dan akan meninggalkanku jika aku tidak diinginkan. Menyedihkan? Aku pernah menuntut Tuhan atas ketidak adilan yang selalu menghampiriku. Namun aku tetap saja berada diposisi yang tidak kuinginkan, merenungi nasib ku sendiri entah sampai kapan itu. Ya hinga akhirnyapun aku menerima ini semua. Toh tidak ada gunanya juga terus-terusan bersikap naïf seperti ini .

Meskipun rasa cemburu itu terus melekat di hatiku, tapi aku tidak pernah memperlihatkan hal itu di hadapan mereka. Senyuman polos  yang setiap hari kulakukan hanyalah tindakan palsu untuk menutupi rasa kecemburuanku.

Karena tak mendapat respon , gadis yang suka menggerai rambutnya itupun menarik ku dengan paksa hingga aku tersungkur ke lantai

“aissssssshhhh….apa-apaan kau ini hah? Menyusahkan saja!” bentaku keras padanya. Alhasil aku membuatnya menangis. Arghhh Dasar Gadis cengeng!

Aku lalu bangkit berdiri dan kembali duduk di kursiku semula tanpa peduli pada isakan gadis cengeng itu. Sebenarnya aku ingin sekali memeluk untuk menghangatkannya. Tapi aku terlalu malu untuk melakukan hal itu.

“huwaaaaaa….” dia berteriak kencang dan itu menambah rasa kekesalanku. Hem mungkin lebih tepatnya rasa kekhawatiranku.

“kau cengeng sekali!” bentakku lalu menariknya agar berdiri. Yah lagi-lagi aku bersikap seperti ini.

“ya Sehun-ah! Kau apakan So Jin? Kenapa dia sampai menangis begitu?” terdengar suara seorang namja berteriak mengarah padaku, dia Luhan hyung yang berumur 4 tahun lebih tua dari kami. Lihat, seberapa besar sayangnya pada So Jin! Hey aku hanya meneriakinya! Tidak memukulnya!

Heh…benar… dia menyukai gadisku!

Aku hanya tertunduk mendengar teriakannya. Lalu melepas genggamanku dari kerah baju So Jin. Luhan hyung berjalan mendekati So Jin tanpa melepas sepatu boots nya yang penuh dengan balutan salju.

“gwenchana?” tanya Luhan hyung lembut pada gadis cengeng itu. So Jin menghentikan tangisannya lalu memeluk pria yang bertubuh tinggi darinya itu.

“aku akan mengantarkanmu pulang, kkajja…” Luhan hyung mengelus puncak kepala So Jin lalu mengecupnya pelan. Dan tindakannya itu membuat telingaku memanas.

Mereka berjalan keluar, meninggalkan diriku sendirian dengan perasaan berapi-api yang memenuhi hatiku.

Argggggghhhh…… berani-beraninya dia merebut kecupan itu!!

-O-

“kalian berjanji untuk selalu hidup bersama baik suka maupun duka?” suara tegas dari seorang pastor menggema, menggaung di kedua telingaku.

“ya kami berjanji……”

Begitu ikatan janji itu terucapkan, entah kenapa kedua bahuku bergetar hebat. Perlahan air bening itu menetes dari kedua bola mataku. Aku tertunduk lemas dan menyandarkan pungguku ke kursi. Ku hapus kedua air mata itu dengan kasar. Tak seharusnya aku bertindak bodoh seperti ini bukan?

~Saat liburan musim semi tahun 2005  

“oppaaaa aku ingin ice cream….” So Jin berteriak memanggil Luhan hyung yang berjalan di belakangnya. Aku hanya menghela napas melihat tingkah nya yang manja itu

“kau mau itu? baiklah akan ku belikan…Sehun-ah kau mau juga?” tawar Luhan hyung  padaku

“aku tak berminat” jawabku datar. Heh tumben dia memperhatikanku

“oh baiklah…” Luhan hyung pun menghampiri mobil penjual ice cream yang berada tak jauh dari taman. Sedangkan So Jin dan aku memilih untuk duduk di ayunan sambil menunggu pesanan ice cream datang.

“Sehunnieeee….” Lagi-lagi pendengaranku terganggu gara-gara suara cempreng So Jin

“hemmm…” sautku malas seraya mengayunkan sedikit tubuhku di ayunan

“kau tau tidak,aku ingin sekali punya ibu peri yang bisa mengabulkan semua permohonanku….” Tuturnya yang membuat diriku bertanya-tanya akan maksud ucapannya

“heh…di dunia ini mana ada ibu peri, kau terlalu kekanak-kanakan!” ketusku

So Jin menghela napas panjang dan ikut mengayunkan tubuhnya di atas ayunan. Beberapa saat kemudian dia tersenyum padaku.

“kau tau tidak apa permohonanku pada ibu peri?” tanyanya seperti menuntut ku untuk mengatakan –tidak-

Aku menatapnya sekilas lalu berpaling “heh…bukan urusanku….” Memang sebenarnya aku ingin tahu apa itu

“ya sudahlah kalau begitu….” Ujar So Jin akhirnya. Aku hanya terkekeh melihat ekpresi wajahnya yang mulai kelihatan kesal akan jawabanku barusan.

“apa permohonanmu itu? aku ingin tau…” tiba-tiba saja, tanpa kami sadari Luhan hyung sudah berada di antara kami

“ini pesananmu tuan putri…” Luhan hyung menyodorkan sebatang ice cream vanilla ke tangan So Jin. Gadis itu tampak kegirangan dan melahap ice cream nya dengan cepat

“hahaha….jangan terburu-buru nanti kau tersedak…” ujar Luhan hyung memperingatkan

“oppa, ice cream mu mana?” tanya So Jin polos

Luhan hyungpun berjongkok di hadapan So Jin “aku tidak membelinya, tapi bolehkah aku mencicipi sedikit punyamu?”

Sesaat pertanyaan itu terlontar ku lihat pipi So Jin merona merah, dia langsung terdiam membiarkan ice cream meleleh ke tangannya. Heh…kau mulai lagi So Jin!

“hahaha kau terlalu polos….” Luhan hyung terkekeh melihat ekspresi wajah So Jin

“sudah sore, ayo kita pulang…!” ujarku memecahkan suasana,berusaha untuk menghancurkan pembicaran mereka . Disambut anggukan dari Luhan hyung, akhirnya kamipun beranjak dari taman

“So Ji…” saat aku mencoba untuk memanggil So Jin, Luhan hyung buru-buru berteriak memanggil gadis itu

“So Jin-ah…… kau…naiklah ke punggungku….” Tawar Luhan hyung sedangkan So Jin memasang tampang heran

“kkajja! kau pasti kelelahan setelah berjalan seharian…”

Tanpa menunggu jawaban dari orang yang ditawar,Luhan hyung langsung menggendong gadis itu di punggungnya. Pemandangan ini lagi-lagi membuat telinga bahkan pipiku memanas

Arghhhhhh! Kenapa dia selalu merebut posisiku???

-O-

Aku berjalan cepat melewati ratusan orang di depanku.  Tak peduli dengan tatapan aneh yang tertuju padaku, yang harus kulakukan adalah menghapus air mata yang terus mengalir dari tadi seusai persepsi pernikahan So Jin dan Luhan hyung. Aku segera bergegas menaiki taxi yang terparkir di tepi jalan.

Ponselku berdering, tampak nama yang tak sing lagi bagiku tertera di layarnya

~So Jin Call~

Langsung kuangkat panggilan itu

“yobo..seyo…” sautku terputus-putus

“Sehuniee…. Kenapa kau pergi?” terdengar suara yang begitu lembut dari seberang telpon

Aku ingin sekali menjawab, tapi lidahku terasa kaku untuk mengatakannya. Aku hanya bisa menahan tangis dengan menutupi mulutku agar So Jin tidak mendengarnya

“Sehuniee???”

Ku putuskan panggilan. Maafkan aku So Jin…

Air mataku kembali menetes tepat mengenai layar ponsel. Ku tutup mulutku dengan kedua tanganku berusaha untuk tegar.

Aku memang terlalu bodoh untuk menangisi semua ini!

~Upacara kelulusan SMA tahun 2006

Aku duduk di taman sekolah seorang diri seraya memandangi piagam kelulusanku. Aku memutar-mutar toga memandang dengan tatapan kosong kearahnya. Memang semua murid berbahagia di dalam aula tapi tidak denganku. Dari semalam aku terus memikirkan tentang perasaanku ini. Lalu aku di kejutkan oleh suara seorang yeoja yangselalu berputar di benak ku. So Jin. Dia tersenyum lebar kearahku dan kemudian duduk manis di sebelahku. Aku hanya memandangi dia dengan tatapan heran. Namun aku tersadar akan sesuatu, pertanyaan yang selalu ingin ku tuturkan padanya

“So Jin-ah…” panggilku

So Jin menatapku lalu tersenyum lagi “nde….” Sautnya

“kau pernah bilang padaku kalau kau punya permohonan pada ibu peri kan?”

Dia tersentak lalu mengangguk pelan “nde…waeyo?”

“kalau kau tak keberatan, bolehkah aku mengetahui apa permohonanmu?”

So Jin tampak menghela napas panjang “ku pikir kau tidak tertarik…”

“hehehe….ya sudahlah kalau kau tidak ingin cerita…”

“hahaha…” So Jin tertawa lalu mencubit kedua pipiku

“awww…” erangku lalu mengelus-ngelus pipi yang mendapat cubitan si tangan mungil. Aku kesal? Tidak, seandainya jika aku tidak terlalu menjaga image, aku ingin di cubit lagi.

“permohonanku….” So Jin tampak berpikir sebentar “ahh…tidak jadi…” ujarnya yang membuat diriku semakin penasaran

“ahh…ayolah katakan, jebal” ku satukan kedua telapak tanganku

So Jin tersenyum lalu berkata lagi “nanti kau juga akan tau…”

-O-

~Pesawat Korean Air  boing 6612E tujuan Paris akan segera berangkat

Ku lirik tiket pesawat yang tergenggam di tanganku. Air matakupun jatuh menetes di atasnya. Akupun menaiki escalator menuju gate tempat pesawat tujuan Paris yang akan lepas landas.

“So Jin berbahagialah…..” gumamku tegar lalu melangkah menuju gate

~Februari 2012 Empat bulan yang lalu

Setelah menamatkan S1 di Kongduk University, kini aku  menjabat sebagai seorang manager di sebuah perusahaan automotive yang dikelola appa. Seorang sekretaris muda masuk kedalam ruang kerjaku setelah mengetuk pintu dan ku persilahkan masuk. Ia menaruh sebuah undangan pernikahan di atas meja kerjaku lalu berjalan keluar. Kupandangi undangan yang berwarna silver itu dan melihat isinya perlahan.

Saat itu juga waktu terasa berhenti ketika mataku menangkap dua buah nama di dalam undangan itu. Mereka akan menikah empat bulan lagi? Secepat itu kah? Kenapa tak ada yang bilang padaku?

 “Wae??” aku berteriak seperti memprotes, memprotes akan takdirku

Ku buang undangan itu kesembarang tempat. Akupun tak dapat menahan emosi lalu berteriak kencang. Tak tau apa yang kupikirkan, kedua tanganku bergerak menjatuhkan seluruh benda-benda yang berada di atas meja. Aku berteriak lagi dan lagi. Mengacak – ngacak rambutku frustasi. Akupun menghempaskan tubuh ke kursi dan tertunduk lemas seraya menepuk dadaku yang sesak.

So Jin-ah kini ku tau apa permohonanmu itu..

-O-

~Perhatian, pesawat akan segera lepas landas, dimohon kepada seluruh penumpang agar mengencangkan tali sabuk pengaman

Aku menoleh keluar jendela pesawat memandangi Gimpo airport seraya mengingat kenangan kebersamaan kami, aku, eomma, appa dan mereka yang selalu membuatku tersenyum, ah tidak-tidak mereka yang selalu membuatku menangis.

Melanjutkan study ku ke Paris bukanlah jalan yang salah untuk melupakan semuanya, melupakan kenangan – kenangan itu dan melupakan cinta pertamaku. Cinta yang tak seharusnya kupendam selama 16 tahun lamanya.

Kembali air mata itu mengalir di pipi . Aku mencoba untuk semakin tegar. Kurasa inilah jalan terbaik untuk ku, untuk So Jin dan untuk Luhan hyung.

“ku harap kau membaca suratnya.…”

-O-

Author’s side

So Jin menyadari sesuatu tergeletak manis di atas piano kesayangannya. Sebuah amplop berwarna coklat yang dihiasi sebuah pita berwarna merah yang membalut di sekelilingnya. Perlahan ia membuka amplop itu dan mendapati sebuah surat yang penuh oleh ukiran tangan yang dikenalnya. Ukiran tangan Sehun

“jagiya… sampai kapan kau berlama-lama disitu?” terdengar teriakan dari seorang namja dari arah kamar, namja yang telah sah menjadi suaminya, Luhan

“kau tidurlah dulu oppa….”

“ne….”

Kembali pikiran So Jin terfokus pada surat itu, ia membacanya pelan

~

So Jin-ah,Luhan hyung chukkae atas pernikahan kalian, ku harap kalian bahagia selama-lamanya. Dan semoga aku menjadi seorang ahjussi secepatnya haha ^^

So Jin-ah, Luhan hyung, maaf aku harus pergi secepat ini. Kalian tau kan kalau aku harus melanjutkan S2 ku ke Paris. Aku yakin dengan kemampuan dan kepintaran Luhan hyung untuk mengurusi perusahaan appa.

So Jin-ah kau dan Luhan hyung benar-benar pasangan yang serasi…. Baguslah kalau akhirnya kalian dapat bersama selamanya. Aku bahagia.

Chukkaeyo~~

So Jin tersenyum membaca surat itu, ia pun melipat nya lagi seperti sedia kala dan memasukkannya kedalam amplop. Namun saat ia memasukan surat itu, ia menyadari bahwa ada sesuatu yang lain di  dalamnya, ternyata bukan hanya satu surat tapi dua surat. Yang satu berwana biru dan yang satunya lagi berwarna hijau.

Iapun penasaran dengan surat yang berwarna hijau dan membukanya perlahan. Lalu membacanya

So Jin-ah….

 Mianhae….. mianhae….

Mianhae……

Mianhae mianhae mianhae mianhae mianhae mianhae mianhae mianhae mianhae mianhae mianhae mianhae mianhae mianhae mianhae mianhae mianhae mianhae mianhae mianhae

Puluhan bahkan ratusan kata maaf tertulis disitu. Kerut-kerutan kecil memenuhi dahinya. Ia pun terus melanjutkan membaca namun  hanya menemukan kata-kata yang sama hingga baris terakhir.

Ia pun membalik-balikan surat yang terdiri dari tiga helai itu hingga terhenti di halaman terakhir

So Jin-ah….

Ada suatu hal yang Ingin ku katakan padamu…

Dan ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkannya…

Sebenarnya aku..…

Mencintaimu….bahkan sangat sangat sangat mencintaimu…lebih dari apapun

Maaf karena aku selalu bersikap kasar padamu…selalu membuatmu menangis, kecewa ataupun marah…maaf…

Aku memang pria bodoh, bodoh dan sangat bodoh…tak tau bagaimana cara untuk menghibur gadis baik sepertimu…

Apa kau tau, kenapa selama ini aku tidak pernah memberikan hatiku untuk gadis lain?

Itu karena…. dirimu….

So Jin-ah…

Aku harap kau selalu hidup bahagia bersama Luhan hyung

Ku akui Luhan hyung adalah pria yang sangat tepat untuk mu…

Entah kenapa setiap kalian bersama, aku selalu resah dan dadaku selalu sesak…

Apa kau tau,  aku selalu menangis, melihat kecocokan di antara kalian

Kau memang benar, Sehuniee panggilan yang sangat pantas untuk pria cengeng sepertiku…

Maaf, selama 16 tahun aku selalu menyimpan perasaan ini…

Karena itu Paris adalah tempat yang tepat untuk melupakan semuanya

Beberapa tahun lagi mungkin aku akan kembali dengan perasaan yang berbeda

10 tahun 15 tahun atau mungkin saja tidak akan pernah kembali lagi

Aku sangat bahagia ketika mengetahui kau akan menikah dengan Luhan hyung, karena dengan itu mungkin saja aku bisa menghapus rasa ini

Aku tau, kau pasti akan marah besar padaku

Dan kau pasti akan membenci ku

Kau berhak membenciku, kau berhak

Tapi kau jangan pernah membenci Luhan hyung,  cintailah dia, seperti aku mencintaimu…

So Jin-ah….

Maaf Maaf Maaf

Maaf karena aku memendam perasaan yang murka

Ku mohon, Maafkanlah aku….

Dari

Saudara kembarmu yang sangat bodoh

Oh Sehun

 

Gadis itu kini terduduk di depan pianonya, menggigit bibir menahan tangis. Hingga akhirnya rasa itu tak dapat ia bendung lagi. Ia menangis dalam kesunyian malam. Setetes air bening jatuh membasahi surat itu. Semakin lama, surat itu semakin basah oleh air mata So Jin.

“Babo! babo babo babo….. maaf mu itu tak ada gunanya…..aku membencimu Oh Sehun aku benci padamu!! Babo! kau benar-benar bodoh OH SEHUN!!” ia bergumam dengan suara yang parau.

So Jin menarik nafas dan bergumam lagi

“aku benci padamu! Hiks…bahkan…. membenci diriku sendiri….!!”

~Upacara kelulusan SMA tahun 2006

“kau pernah bilang padaku kalau kau ingin permohonanmu di kabulkan oleh ibu peri kan?”

So Jin tersentak lalu mengangguk pelan “nde…waeyo?”

“kalau kau tak keberatan, bolehkah aku mengetahui apa permohonanmu?”

“ku pikir kau tidak tertarik…”

“hehehe….ya sudahlah kalau kau tidak ingin cerita…”

“hahaha…” So Jin tertawa lalu mencubit kedua pipi kembarannya

“awww…” erang Sehun lalu mengelus-ngelus pipi yang mendapat cubitan tangan mungilnya

“permohonanku….” So Jin tampak berpikir sebentar “ahh…tidak jadi…” ujarnya yang membuat Sehun semakin penasaran

“ahh…ayolah katakan, jebal” Sehun menyatukan kedua telapak tangannya

So Jin tersenyum lalu berkata lagi “nanti kau juga akan tau…”

“Sehun-ah….” segerombolan namja bersorak memanggil Sehun, mereka adalah teman sekelas Sehun yang juga merayakan hari kelulusan SMA. Pria  jangkung itupun  beranjak dari duduknya lalu menghampiri teman-temannya, meninggalkan So Jin sendirian di taman itu.

So Jin duduk termenung di bawah sinaran mentari. Angin siang menerpa wajahnya yang putih dan menerbangkan helaian-helaian rambut coklatnya. Ia menutup mata pelan merasakan terpaan angin yang menghujam tubuhnya. Perlahan, ia kembali membuka mata dan menangkap sosok pria berdiri nun jauh disana. Pria yang membuat dirinya merasakan apa itu cinta.Ia bergumam pelan

“ibu peri, bisakah seseorang  menggantikan posisiku? Kenapa Tuhan menciptakan kami sebagai saudara kembar? Ibu peri kapan permohonanku dikabulkan? aku sungguh tak sanggup memendam perasaan ini….ibu peri aku benar-benar mencintainya……bukan sebagai saudaraku  tapi sebagai Cinta Pertama bagiku….Sehun oppa I love you”

-O-

When you feel that something wrong in your heart then its called LOVE

-O-

Don’t forget to RCL Thanks ^O^

Advertisements

11 thoughts on “YOU ARE NOT MY DESTINY

  1. Bagus bgt deh chingu critanya.. Mskipun bias exoku itu Luhan, aku kyk merasakan bagaimana perasaan sehun… Jadi pengen baca FF karya chingu yang laen! Good! Daebak!! Keren critanya 🙂 ehehehe….

  2. huuaaaa!!! daebakk!!! ff ini bner2 nyentuh hati aku… aku sampek nangis2 sendiri. apalagi sehun oppa bias aku. jdi pngen meluk sehun oppa!!! hhuuuaaa!!!! oppa… saranghae… jebaaaaalll…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s