THANKS GOD

Author : Choi Mina aka me

Main Cast :

Luhan (EXO M)

Cho Hyo Jin (YOU/readers)

Cameo :

Oh Sehun (EXO K)

Park Hani (imagination)

Yoo Geun (participate in Hello Baby SHINee)

Genre : romance

Rating : PG16

NB : FF ini author ikutin lomba,tapi ga menang,hahahaha ^^7 ceritanya agak gaje dan tidak memuaskan, trus ceritanya ga keren sama sekali, tapi author sangat membutuhkan dukungan dari para readers sekalian berupa komen ^^

Mian yak ff the paralyzed sama tell me what is love nya belum author lanjutin,coz yang komen cuman dikit,hehehe yang mau lanjutan ceritanya komen yak biar author semangat buat nulis wkwwkwk

It’s just fanfic, no bushing and no siders ^^

Happy Reading ^^

*** Thanks God***

Opening Song >> Thank God I found You

Normal pov

Angin yang sejuk menerbangkan helai-helaian rambut panjang wanita itu. Bibir pinknya tak berhenti melengkung membentuk senyuman tipis yang menawan. Ia tengah memainkan piano sesuai dengan partitur lagu yang berdiri tegak di atasnya. Di sebelah partitur itu terletak sebuket bunga tulip yang sangat indah.

Jemarinya yang kurus terlihat lincah bergerak di atas tuts – tuts piano. Menandakan keahlian yang patut diacungi jempol. Betapa tidak, wanita itu sangat menyukai bermain piano dan sangat mahir memainkannya. Tak heran jika melihat senyuman anak-anak selalu merekah disetiap alunan nada pianonya. Mereka menggerakan kepala kekiri – kekanan bergantian menikmati alunan musik sambil melantunkan  bait demi bait Twinkle Twinkle Little Star – Johann Sebastian Bach yang menjadi lagu favorite mereka.

Anak-anak berdiri melingkari wanita itu. Semakin lama, ia menekan tuts piano dengan tempo cepat. Anak-anakpun terlihat semangat bernyanyi dengan menyesuaikan setiap dentingan bunyi piano.

Twinkle, Twinkle, Little star How I wonder what you are Up above the world so high Like a diamond in the sky Twinkle, Twinkle, Little star How I wonder what you are

Semua bertepuk tangan riang diiringi canda tawa menyudahi bait syair itu.

“Cho seongsenim, bolehkah kami datang lagi besok?” seorang bocah berlari ke arah wanita itu. Ia terlihat lucu saat menarik dres panjang yang wanita itu kenakan

Wanita yang dipanggil dengan sapaan ‘Cho seongsenim’ itupun tersenyum simpul “yah…tentu saja sayang, datanglah kapanpun kau mau…”

Bocah itu ikut tersenyum dan memeluk Cho Seongsenim, ia pun berkata disela-sela  pelukan mereka “bolehkah aku mencium mu?” tanyanya yang kemudian membuat Cho seongsenim kembali memberikan senyuman terindahnya

“sangat ku bolehkan Yoogeun-ah…” Cho Seongsenimpun merendahkan sedikit badannya. Sedetik setelah itu, ciuman lembut mendarat di pipinya yang merona merah ~CHU~

“saranghae Cho Seongsenim…” ujar Yoogeun sebelum pergi meninggalkan Cho seongsenim sendirian di sana.

Wanita itu berpikir, hidupnya akan selalu sebahagia ini jika bersama mereka. Anak-anak desa yang selalu menemani hari-harinya. Iapun kembali bernyanyi dengan diiringi dentingan piano tanpa menyadari seseorang tengah memperhatikannya dari jarak yang cukup jauh

***Thanks God***

Ruangan yang dulunya berdinding putih itu kini terlihat sedikit berbeda dengan puluhan bingkai lukisan yang menggantung di sana. Karya seni yang sangat cemerlang dan tergolong luar biasa itu seakan menghipnotis semua orang-orang yang melihatnya, terlebih lagi sebuah lukisan besar yang tepat menggantung di bagian tengah dinding. Lukisan seorang wanita yang sangat indah. Tampak aura ketulusan yang terlukis di dalamnya.

Di salah satu sudut ruangan itu, terlihat seorang pria berumur 26 tahun sedang melakukan rutinitas yang biasa ia lakukan. Tangannya dengan cekatan menggerakan pencil ,menggambar sebuah sketsa wajah. Lagi-lagi dia akan melukis wanita itu. Wanita hayalan yang entah mengapa selalu ada di dalam pikirannya.

“Luhan hyung….” Terdengar teriakan di ambang pintu ruang kerjanya

Pria yang bernama Luhan itu pun membalik posisi duduk mengarah ke belakang. Seperti biasa dia akan selalu memberikan tatapan kosong ke semua orang yang berbicara padanya.

Derap langkah yang terdengar setengah berlari itu perlahan mendekat kearahnya. “waeyo? Kau mengagetkanku saja…” ujarnya datar lalu meraba-raba objek gambar yang akan dia lukis. Setelah ia merasa menemukan titik yang tepat, kembali Luhan menggoreskan ujung pencilnya disana. Sedikit demi sedikit terbentuk sketsa wajah seorang wanita.

Sementara itu pria yang barusan berteriak memanggilnya hanya memandang heran sekaligus takjub. Pria itu menautkan kedua alisnya. Tampak jelas di wajahnya kalau ia kelihatan sangat bingung. Iapun menarik kursi kayu yang berada di samping Luhan lalu duduk di atasnya.

“hyung…? Kenapa kau selalu melukisnya?” ia memberanikan diri untuk bertanya

Luhan berhenti sejenak dari rutinitasnya lalu menarik napas “entahlah Sehun-ah…hatiku yang ingin melakukannya…”

“hyung….percaya atau tidak, aku baru saja melihat wanita yang ada di dalam lukisanmu…” nada  bicara Sehun  terdengar datar  tapi ucapannya membuat Luhan merasa tertarik dan menghentikan pekerjaannya

“benarkah?kau tidak membohongiku kan?”

“hahaha….” Sehun terkekeh mendengar ucapan hyungnya itu “aku tidak pernah membohongimu hyung, hmm aku sudah tidak tahu berapa kali aku melihatnya…maaf jika aku baru mengatakannya sekarang….”

“Maksudmu?”

“dia sering mengunjungi toko bunga,tepat di depan dimana kau menjual lukisanmu hyung, dan tadi aku melihatnya di taman… bersama anak-anak…“

“Sehun-ah, bisakah kau membawaku kesana? Aku ingin sekali melihat wajahnya…” Luhan memperlihatkan ekspresi senang setelah sekian lama ekspresi datar itu selalu memancar dari wajah tirusnya

“hah?kau se-ri-us?” tanya Sehun dengan nada tak yakin

“ayolah, aku yakin hatiku bisa melihatnya….”

Melihat Luhan yang bersemangat, Sehun tak tega untuk menolak ajakan hyung nya itu

“baiklah…”

***Thanks God***

Sehun dan Luhan berjalan menelusuri taman luas yang dihiasi bunga yang bermekaran. Pohon-pohon pinus menjulang tinggi memberikan keteduhan bagi mereka dari teriknya sinar mentari. Taman itu di lengkapi sebuah danau kecil yang sangat bersih. Luhan berhenti  melangkah dan merentangkan tangannya seolah – olah merasakan kenyamanan berada di taman ini.

“tidak kah kau merasakan kedamaian?”  Luhan bertanya pada Sehun yang berdiri di depannya

“yah…aku bisa merasakannya…tapi, sepertinya saat ini kau belum beruntung hyung, gadis itu sudah tidak ada…tapi aku bisa mengantarmu besok siang kesini…”

Luhan terlihat sedih namun beberapa saat kemudian ia kembali tersenyum “apa yang dia lakukan disini?” tanyanya

“aku tidak tau pasti, tapi dia sering terlihat bermain piano dan bernyanyi bersama anak-anak, hmm disana…” Sehun menunjuk suatu tempat yang terletak di tengah danau, meski ia tau Luhan tidak akan bisa melihat tempat itu. Ruangan berbentuk lingkaran dengan dominan berwarna putih yang tidak memiliki jendela di bagian sisinya.

“bisakah kau membawaku kesana…?”

Sehun membantu Luhan munuju ke tempat itu. Mereka berjalan pelan melewati jembatan yang menghubungkan taman ke tempat yang Sehun maksud. Setelah beberapa menit, merekapun sampai disana. Sehun membantu Luhan duduk di salah satu kursi batu yang berdiri kokoh menghadap ke arah danau.

“hmm hyung, apa kau haus? aku akan membelikan air minum untukmu…”

“sudahlah, aku baik-baik saja….”

“YA! Kita berjalan cukup jauh, dan kau bilang baik-baik saja? Heh jangan bercanda, pokoknya kau tunggu disini,aku akan kembali beberapa menit…”

“terserah kau sajalah…” Sehunpun berlari meninggalkan Luhan sendirian di sana.

Hening untuk beberapa saat, hembusan angin yang menerpa wajah Luhan serasa mendamaikan hatinya. Iapun mencium aroma pinus semerbak menghantam indra penciumannya. Ia sangat terlihat nyaman berada di tempat ini. Deraian riak danau menghempas lembut kebagian bawahnya.Luhanpun melangkah menuju sisi tengah ruangan beratap itu. Ia pun menggerakan tongkat panjang yang selalu membantunya berjalan. Tangannya menggerakan tongkat itu meraba-raba lantai yang ia lewati hingga tak sengaja tongkatnya membentur sesuatu yang besar. Ia berjalan mendekati benda itu. Dan ia meraba sebuah bangku dengan sandaran di belakangnya.

Ia duduk di depan piano besar yang berwarna putih itu. Luhan meraba-raba bagian atas piano dan ia menemukan beberapa helai kertas yang berisikan nada-nada syair lagu.

“hmm…mungkinkah dia yang mengajarkan anak-anak itu bernyanyi?” Luhan bergumam layaknya bicara pada diri sendiri

Pikiran Luhan tidak bisa untuk tidak menolak memainkan piano itu. Jemarinya perlahan bergerak menekan tuts-tuts piano. Ia terlihat sangat menikmati permainannya tanpa sadar adanya keberadaan seseorang di sebelahnya.

“hmm…maaf…apa yang kau lakukan disini?” Tanya orang itu yang sepatutnya ia tidak mengatakan  sebuah pertanyaan yang sangat jelas ia tahu kalau pria yang di hadapannya ini sedang memainkan piano. Hanya saja itu pertanyaan basa-basi untuk menutupi kegugupannya.

Suara itu mengagetkan Luhan, ia berhenti bermain dan mencari-cari asal suara itu.

“siapa?” tanyanya dan memutar badan menghadap ke kiri. Tepat dihadapan seorang wanita. Namun sayang, karena keterbatasannya ia tak dapat melihat wanita itu.

***Thanks God***

“hyung…maafkan aku, kau pasti lama menunggu….” Sehun berlari menghampiri Luhan yang duduk di depan piano dengan ekspresi datarnya

“hyung…? Kau baik-baik saja?”  Sehun kembali bertanya karena melihat Luhan yang tidak merespon ucapannya barusan

“hyung….?”

“Sehun-ah…aku baru saja bernyanyi dan bermain piano dengannya….”

“dengannya? Siapa?”

“Cho Hyo Jin…gadis yang ada di dalam lukisanku…” ujar Luhan dengan senyuman yang tak dapat diartikan

***Thanks God***

Cho Hyo Jin’s POV

Aku meraih bingkai foto yang terletak di atas meja bundar di sebelah ranjang. Aku menatap appa dan eomma bergantian yang berdiri tersenyum di dalam foto itu. Ditemani oleh anak perempuan semata wayang mereka yaitu aku saat berumur 3 tahun. Aku tau persis bahwa mereka sangat menyayangiku. Tapi semua kasih sayang itu sirna saat Tuhan memanggil mereka. Appa dan eomma meninggal karena kecelakaan yang menimpa kami 15 tahun yang lalu. Mereka meninggalkan ku untuk selama-lamanya dan aku selamat meski harus kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagiku. Akupun tinggal bersama paman,bibi dan anak mereka, Hani. Meski kecelakaan itu membuatku trauma tapi mereka selalu hadir untuk menghiburku.

Ku taruh bingkai foto itu di depan dada. Aku terlalu merindukan mereka hingga air bening tak berasa jatuh dari kedua bola mataku. Ku seka air itu dengan punggung tangan. Aku tersenyum memandangi lagi foto itu lalu bergumam, hendak mencurahkan segala isi hatiku pada mereka. Aku sangat yakin, appa dan eomma mendengarku dari surga sana.

“appa…eomma…seperti biasa aku bermain piano dan bernyanyi bersama anak-anak,aku mengajari mereka bernyanyi, musik,dan bermain teka teki…kami saling bersenda gurau,tertawa bersama…hah hari yang sangat melelahkan…hmmm…appa, eomma, aku juga bertemu dengan pria itu….hmm…, pria  yang selalu ku pikirkan…ternyata dia memang pria yang baik dan ramah… aku tidak menyangka, dia juga pintar bernyanyi dan bermain piano, kami bersama-sama menyanyikan lagu kesukaanku, When you tell me that you love me..…eomma appa, kalian tau siapa dia…”

“Siapa? Pria yang kau suka ya?” Tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara seseorang, dia sepupuku Hani. Aku menoleh kearah pintu kamar yang terbuka lebar, menatap Hani yang memasang tampang jenaka kearahku. Apa dia ingin menertawaiku? Atau?

“Hani, Kau mengagetkanku…kenapa tidak ketuk pintu dulu sih?” ujarku gugup, merasa takut kalau nanti Hani menanyai hal yang tidak-tidak tentang perasaanku pada pria yang selalu kutemui secara diam-diam

“pintumu tidak tertutup,yah langsung saja aku masuk…tidak masalah kan? Hehe..hmm siapa dia? Ayo jawab pertanyaanku! Siapa pria itu? ” ujar Hani dengan nada mengancam. Ia berjalan kearah meja di samping ranjang, menaruh nampan berisi makanan siang. Lalu duduk di sebelahku dengan tatapan introgasinya

“ah…bukan siapa-siapa…” jawabku salah tingkah

“ayo lah, cerita padaku…” Hani merengek menggenggam tanganku, sepertinya ia sangat antusias dengan pria yang bernama Luhan itu

“hmm…baiklah aku akan cerita….” Hani memposisikan tubuhnya menghadap kearahku siap-siap mendengarkan “hmmm pertemuan kami cukup dibilang sangat kebetulan, aku meninggalkan syair lagu di atas pianoku, aku kembali ke taman surga hendak mengambil nya lalu kulihat dia…”

“sudah kebagian intinya saja…dia itu orangnya bagaimana?” ujar Hani memotong pembicaraanku

“kau tampaknya tidak sabaran ya…” ucapku disambut tawaan konyol Hani “hmmm, pria yang sangat baik, aku bisa merasakan ketulusannya dalam bermain piano…suaranya yang merdu, membuat hatiku merasa nyaman…..kau tau siapa dia….”

“omoo….siapa? aku rasa aku tidak mengenalnya…apa dia tampan?” Aku mengangguk “kau beruntung sekali bertemu dengannya, dia pasti pria yang sangat perfect benarkan?” Aku mengangguk lagi seraya tersenyum “benar dia sangat sempurna…..aku berharap dia kembali mengunjungiku…hahaha…tapi kurasa itu tidak mungkin…”

“waeyo?”

“Ya! sampai kapan kau mengajak Hyo Jin ngobrol? Dia belum makan siang Hani..” kami di kagetkan oleh bibi yang tiba-tiba berdiri di depan pintu

Hani tertawa konyol lagi lalu meninggalkanku sebelumnya berkata “selamat makan…”

***Thanks God***

Aku duduk menghadap kearah danau, menikmati pemandangan yang begitu sejuk dan indah, lima belas menit yang lalu jam mengajarku usai dan kini tinggal aku seorang diri di taman surga. Yah itu adalah sebutan bagiku untuk tempat ini. Karena disini, kenyamanan itu selalu menghampiri. Entah kenapa aku selalu merasa tenang dan bahagia.

Tuk Tuk Tuk

Aku mendengar sesuatu di lantai, aku menoleh kebelakang dan yang ku lihat adalah pria itu, Luhan. Aku sedikit terkejut dengan kehadirannya di sini. Ia pergi seorang diri dan tongkat itu yang menuntunnya kemari. Tangannya bergerak di udara berusaha untuk menggapai sesuatu. Ia berjalan pelan hingga akhirnya dapat meraih kursi piano. Ia duduk disitu lalu menghadapkan tubuhnya kearah danau, yang sekaligus sejajar mengarah keposisiku saat ini.

Ku rasakan jantungku berdegup kencang. Entah mengapa aku menjadi salah tingkah, padahal aku tau Luhan sama sekali tidak bisa melihatku. Tunggu, sepertinya tatapannya tidak mengarah ke danau tapi melainkan ke arah bola mataku. Aku semakin gelagapan dan berusaha untuk memalingkan wajah. Namun tatapannya yang kosong itu tak lepas menatap kedua bola mataku.

“Hyo Jin-ssi….?”

Deg Deg Deg

Jantungku berdetak tak normal. Aku dapat merasakan getarannya yang cepat di dalam rongga dadaku. Aku menghembuskan napas pelan. Aneh, Luhan tidak bisa melihat tapi dia mengetahui keberadaanku.

“annyeonghaseyo….Hyo Jin-ssi…” sapanya. Aku terlalu gugup untuk menjawab

“hemm..bagaimana…kau..”

“haha…aku bisa menebakmu di sini karena aroma kenzo flower yang kau pakai….”

Deg Aroma Kenzo Flower? Ya aku memakainya

“apakah kau mau bermain piano denganku?” Luhan memainan jemarinya diatas tuts piano.

“kau sendiri?”

Luhan mengarahkan tatapannya kepadaku. Pancaran matanya yang kosong membuatku merasa teduh. Bola matanya yang sayu seakan menghipnotis diriku untuk menatapnya lebih lama.

“ya…ada saatnya kan dimana aku tidak membutuhkan pertolongan orang lain?”

Aku mengangguk mengerti lalu mendekat kearah Luhan yang tengah bersiap-siap menekan tuts piano

“kau siap?”tanyanya

“yah…aku siap…”

Luhan menekan tuts – tuts piano memainkan sebuah nada lagu romance. Aku tau lagu itu.

I would give up everything Before I’d separate my self from you After so much suffering I’ve finally found a man that’s true I was all by my self for the longest tim So cold inside An the hurt from the heart it would not subside I feel like dying Until you save my life

Aku menyanyikan bait lagu itu ditengah Luhan memainkan pianonya. Aku merasakan chemistry yang terpancar diantara kami. Entahlah, saat ini aku merasa sangat dekat dengannya

Thanks god I found you I was lost without you My every wish and every dream Somehow became reality You brought the sunlight Completed my whole life And overwheld with gratitude Cause baby i’m so thankfull I found you

 Kami sama-sama menyanyikan reff dari lagu itu. Aku terpesona akan suaranya yang merdu mampu menyentuh perasaanku. Disaat lantunan suaranya hatiku bergetar, jujur aku menyanyikan lagu ini khusus dari hatiku untuk Luhan. Aku tak dapat membohongi diriku sendiri kalau aku benar-benar mencintainya.

***Thanks God***

Seperti yang biasa kulakukan sepulang mengejar anak-anak bermain music aku akan duduk di balkon kamar memandangi bunga matahari yang menghias halaman belakang rumah. Ditemani segelas cappuccino hangat buatan bibi dan beberapa potong roti.

“Hyo Jin-ah…”teriak Hani yang berlari menghampiriku. Aku menoleh menatap Hani kesal,karena hampir saja membuat jantungku copot akibat teriakannya itu. “kenapa berteriak heh?”

“ku dengar kau bertemu dengan pria itu lagi ya?”

“siapa?”tanyaku pura-pura tak tahu

“aisshh,jangan berpura-pura… Yoogeun,murid didikmu yang bilang padaku,katanya sudah beberapa minggu ini dia melihat kalian bernyanyi bersama,apa itu benar?”

Aku hanya diam menahan malu, Hani menyikut lenganku minta penjelasan. “hmm…ya memang benar…” aku ku

Spontan Hani melompat dan duduk di kursi yang berada di sampingku. “ceritakan! Ceritakan!” teriaknya semangat “ceritakan apa?” aku berpura-pura bodoh “aishh…” Hani mencubiit kedua pipiku  “ceritakan padaku bagaimana ia bernyanyi dan bermain piano bersamamu…”

“hmm tetap sama saat pertama kali kami bermain piano dan bernyanyi bersama, suaranya yang merdu, tulus dan membuatku merasa nyaman…”

“hmmm siapa nama pria itu?”

“dia….Luhan….”

“Luhan? Pria yang membuatmu jatuh cinta? apa kau benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama?”

“pandangan pertama?”

“hmm..yah…love at first sight…”

Aku tersenyum tipis “hmmm…lebih tepatnya bukan pada pandangan pertama…”

“maksudmu? Kau sudah bertemu dengan pria itu sebelumnya?”

“hmm…yah…kau tau kenapa aku selalu mengunjungi Beauty Roze?”

“ani…apa ada hubungannya dengan pria itu?” jawab Hani dengan kalimat ingin taunya

“dia menjual lukisan di depan toko bunga itu bersama adiknya….”

“ah..aku tau…Sehun? Tapi aku tidak pernah melihat Sehun bersama pria itu….”

“ya…tentu saja…Luhan di sana di waktu pagi dan Sehun yang akan menggantikannya di siang hari….”

“benarkah…?kenapa aku tidak menyadarinya?” Hani membulatkan kedua bola matanya. Aku menutup mulut menahan tawa karena melihat ekspresi Hani yang sangat lucu “jadi selama ini aku menemanimu mengunjungi toko bunga itu,hanya sekedar untuk melihatnya?”

“hmmm menurutmu?” aku malah balik bertanya seraya tertawa malu

“apa dia sama sekali tidak menyadari keberadaanmu disana?”

“hmm….tidak…” jawabku singkat

“aishhh….pria yang tidak sangat peka….” Ujar Hani dengan ekspresi tampak kesal

“ya! Kau tidak boleh berkata seperti itu Hani…”

“waeyo? Aku memang benar kan?”

Aku menggeleng “dia bukan pria yang tidak peka, hanya saja Tuhan sendiri yang menakdirkannya seperti itu….dia buta Hani….”

“bu…ta?” Hani mengulangi satu kata yang membuat hatiku bergetar. Nada bicaranya terdengar melemah saat mengucapkan itu. Aku mengangguk pelan “dan minggu depan dia akan ke Seoul untuk operasi matanya.. dia berhasil mengumpulkan uang dari lukisan yang ia jual…”

“baguslah, berarti dia akan bisa melihatmu Hyo Jin…”

“ya benar, tapi aku takut mengecewakannya Hani….”

“waeyo? kau tidak boleh berpikir akan mengecewakannya…aku yakin dia bukanlah pria yang seperti itu….”

“kau benar….dia bukan pria yang seperti itu…”

***Thanks God***

Hari ini adalah hari terakhirku bersama Luhan. Kami berjanji bertemu di taman surga setelah aku selesai mengajar anak-anak. Aku duduk di depan pianoku seraya menyender ke kursi. Ku tunggu Luhan beberapa menit hingga ku lihat ia berjalan di jembatan bersama tongkat panjangnya. Aku tidak tau pasti berapa lama dia akan dirawat di Seoul,aku hanya berharap Luhan dapat melihat betapa indahnya kehidupan. Dan entah sejak kapan butiran kristal bening itu mengalir di pipiku. Aku merasa bahagia dan sekaligus sedih, sedih karena aku tak tau pasti akankah Luhan kembali untuk mengunjungiku. Dan aku berharap  ia pergi untuk melupakanku selama-lamanya.

Aku memandangnya getir yang sudah berdiri di hadapanku. Kutahan suara isak tangisku agar Luhan tak mendengar kalau aku sedang bersedih. Aku tidak ingin membuat dia mengkhawatirkanku. Ku tatap kedua bola matanya. Di situ aku melihat tanda-tanda awal kehidupannya nanti. Aku yakin, Luhan akan berhasil menjalani operasi dan dapat menggunakan matanya seperti layaknya manusia normal.

“Hyo Jin-ah…aku mempunyai suatu permintaan padamu”

“heh?”

“bolehkah aku menyentuh wajahmu? Maaf kalau aku lancang…tapi aku benar-benar ingin melakukannya sebelum aku pergi…boleh kah?”

Ku hapus air mata yang baru saja mengalir. Lalu kuraih tangannya dan kubiarkan tangan kasar itu menyentuh pipiku.

“kau menangis?”

Aku sedikit terkejut akan ucapannya. Ku geleng kepalaku dan dia pun berucap kembali “kau jangan membohongiku…aku juga merasakan apa yang kau rasakan…” Luhan sedikit membungkuk dan satu kecupan hangat mendarat di keningku. Selintas terbesit di pikiranku apa maksudnya?

“bisakah kau menunggu ku untuk waktu yang tak pasti?”

Aku bingung untuk berucap

“Hyo Jin-ah, Tuhan telah menakdirkan seseorang untuk ku, dan itu adalah dirimu…..saranghae….”

Luhan melingkarkan tangannya di leherku dan menyandarkan kepalaku di atas bahunya. Kami berpelukan untuk waktu yang cukup lama “Aku akan kembali untuk mendengar jawaban dari mu…jadi ku mohon, tunggulah aku….”

Aku diam di dalam dekapannya yang hangat

***Thanks God***

One Year Letter

“Hyo Jin-ah…hyo Jin-ah…” teriakan Hani tak berhenti dari ruang tamu hingga ke kamarku. Aku dapat menebak kalau saat ini dia sangat senang.

“kenapa kau berteriak heh?kelihatannya sedang senang, ada apa?” tanyaku antusias

“Luhan…dia kembali….Sehun yang mengatakannya padaku….”

Deg Deg Deg Seketika debaran itu berdetak 100 kali lipat dari biasanya. Membuat nafasku menjadi tak beraturan. Aku hanya memberikan ekspresi kaget pada Hani.

“dia kembali dan besok akan menunggumu di taman surga….temuilah dia…”

“be…narkah? Tapi kenapa? Kenapa dia harus kembali?” ujarku seraya tertunduk

“kenapa kau berkata seperti itu? Bukankah itu yang kau inginkan?”

“ani….aku tidak akan menemuinya….” Ujarku seraya mengelak dari tatapan Hani memandang ke luar jendela kamarku.  Lalu Hani mendekat dan duduk di lantai menghadap kearahku

“waeyo? Kau tidak boleh begini…setahun lamanya kau menunggunya dan dia kembali untukmu Hyo Jin, untukmu…” Hani menekankan kalimatnya di kata yang terakhir

“mianhae…aku tidak bisa…mianhae….” Ujarku seraya terisak

“baiklah…kalau begitu aku sendiri yang akan membawanya kemari…”

Aku berhenti menangis dan memandang Hani yang akan melangkah keluar dari kamarku “ANDWEEE!!!” aku berteriak kencang “ANDWEEE Hani-ya….ANDWEEE….!!!!”

Hani berhenti di depan pintu kamarku “Hyo Jin-ah kau juga harus mementingkan perasaan Luhan padamu….” Ujarnya tanpa menoleh ke arahku dan melangkah pergi

“HANI-YA ANDWEEEEEEEEE……….ARGHHHHHHH….” Aku berteriak hingga terjatuh dari ranjang. Aku tertelungkup di lantai seraya menahan rasa sakit. Aku begitu bodoh karena berusaha untuk mengejar Hani yang meninggalkanku. Sedetik kemudian aku mendengar langkah Hani yang terburu-buru di lantai kamar.

“Hyo Jin-ah….Hyo Jin-ah….kau tidak apa-apa?” Hani berteriak histeris seraya memandangku khawatir.

Aku menggeleng seraya terisak “ku mohon jangan lakukan itu…ku mohon Hani….”

Hani terduduk di lantai dan memelukku erat “waeyo? Kau tidak boleh melakukan ini…kalian sama-sama mencintai….ku mohon jangan bersikap egois…”

“Aku tidak siap untuk bertemu dengannya Hani, aku takut mengecewakannya….aku takut dia akan meninggalkanku….hiks….aku tidak ingin dia melihatku dengan keadaan seperti ini…hiks…hiks…”

Hani mengusap kepalaku pelan, aku dapat merasakan tubuhnya yang bergetar di pelukanku, ia juga menangis sama seperti yang ku lakukan “kau tetaplah dirimu…jika dia benar-benar mencintaimu dia tidak akan meninggalkanmu Hyo Jin….tidak akan…hiks…”

“Hani…hiks…boleh kah aku meminta sesuatu dari mu?”

“apa saja akan ku lakukan…”

“maukah kau menjadi diriku?”

Hani menatapku dengan matanya yang penuh dengan air “maksudmu?”

“besok temui Luhan dan katakan kalau kau adalah diriku….” Hani menatapku heran “ku mohon lakukan ini jika kau benar-benar sayang padaku….”

“tapi…Hyo Jin-ah….besok adalah hari ulang tahunmu…dan kau ingin membuatnya sebagai ulang tahun yang sangat menyakitkan?”

“ku mohon, sekali ini saja….katakan padanya…kalau aku sudah tidak mencintainya lagi…ku mohon…hikss”

“kenapa kau begini Hyo Jin?” Hani melepaskan pelukan kami

“aku memang gila dan bodoh…mengejar cinta pertamaku tapi akhirnya menyia-nyiakannya begitu saja….hiks…Hani-ya…aku sungguh bersyukur saat mengetahui Luhan akan pergi ke Seoul dan itu mungkin saja bisa membuatnya melupakanku…dan ternyata aku salah…dia kembali dan ingin bertemu denganku…tapi…aku tidak bisa….”

“terbukti kalau dia sangat mencintaimu Hyo Jin…”

“mencintaiku? Dengan keadaan seperti ini? Ini akan membuatnya merasa sedih Hani!”

“justru pemikiranmu itu yang membuatnya merasa sedih Hyo Jin!!” bentak Hani

Aku menunduk dan semakin terisak “ku mohon…lakukan saja Hani! Tidak akan ada pria yang ingin mencintai wanita seperti diriku Hani! Tidak akan ada!” Hani hanya menatapku nanar

“maaf kan aku, aku tidak bisa melakukannya..” Hani berdiri namun langsung ku raih pergelangan tangannya

“Hani-ya…. Ku mohon….hiks….”

Hani menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, ia kembali duduk di hadapanku “Luhan tidak akan tahu kalau kau bukanlah diriku Hani….hikss”

Cho Hyo Jin’s pov END

***Thanks God***

Luhan’s pov

Aku berjalan mengitari ruangan ini. Memandang dari sisi ke sisi lain, ku rasa tempat ini sedikit berubah karena piano yang sering ku mainkan bersamanya tak ada lagi di sini. Aku mengetahui tempat ini karena sebelumnya Sehun yang memberitahuku. Aku berdiri menghadap danau menunggu kedatangan seseorang yang sangat kuridukan. Setahun adalah waktu yang sangat lama bagiku untuk tidak bertemu dengannya. Seperti yang kujanjikan, aku akan kembali menemuinya setelah aku melakukan operasi itu. Sungguh,aku ingin melihat senyum dan tawanya yang tulus di kedua bola mataku. Aku tidak ingin melihatnya melalui hati ataupun lukisanku lagi. Aku ingin bertemu dengannya dan akan segera melamarnya.

Tak…. Tak…. Tak….

Aku menoleh ke sumber suara. Seorang wanita berambut pendek dengan mengenakan gaun selutut berjalan hingga berhenti di ujung jembatan. Aku menatapnya lama, lalu berjalan pelan mendekatinya.

“Cho Hyo Jin?” aku bertanya setelah berada di hadapannya. Ia sangat terlihat cantik namun sesuatu yang aneh terjadi di dalam hatiku. Hatiku mengatakan sesuatu yang lain. Aku berjalan beberapa langkah lalu memeluknya “aku sangat merindukanmu Hyo Jin…”

“aku….tidak…” ujarnya datar tapi membuatku terkejut

“hahaha…kau sangat pintar membohongiku Hyo Jin…katakan saja kalau kau juga sangat merindukanku….”

“ani aku tidak merindukanmu….dan maaf karena aku sudah memiliki pria lain, setahun adalah waktu yang sangat lama, dan itu membuatku mudah untuk melupakanmu…maaf aku tidak bisa bersamamu…maaf….”

Hyo Jin tampak tegar dan ia pun berbalik hendak meninggalkanku “Hyo Jin…tunggu….” Ku peluk tubuhnya dari belakang “kau bohongkan? Katakan kalau itu bohong!”

“aku tidak berbohong….maafkan aku….ku mohon carilah wanita yang pantas untukmu….tidak akan ada lagi hubungan apapun diantara kita….” Hyo Jin melepaskan pelukanku dan berjalan pergi namun ku genggam erat tangannya dan menarik tubuhnya ke dalam pelukanku

“kau bohong Hyo Jin…aku selalu merindukanmu…tidak kah kau merindukan ku?”

Wanita yang ada di dalam dekapanku ini hanya menggelengkan kepalanya. Tubuhku bergetar menandakan sesuatu perasaan yang aneh. Perlahan ku lemahkan pelukanku.

“aku baru menyadari kau sangat berbeda dari wanita yang ada di dalam lukisanku….kau bukan lah Hyo Jin…”

Aku dapat melihat dengan jelas ekpresi wajahnya yang terkejut mendengar ucapanku “dimana dia?” aku bertanya

Wanita itu menggerakan mulutnya kaku “a…aku…”

“dimana Hyo Jin?! Ku mohon katakan padaku di mana dia!!”

Luhan’s Pov end

***Thanks God***

Cho Hyo Jin’s pov

Aku memainkan piano seperti biasa yang ku lakukan. Semua anak-anak bernyanyi dengan menyamakan setiap nada yang terdengar dari alunan pianoku. Mereka tampak senang, bahkan sebagian dari mereka menari membentuk sebuah lingkaran kecil. Bibi dan paman juga ikut bernyanyi bersama kami. Ini adalah kado terindah bagiku, bernyanyi bersama anak-anak yatim piatu sudah cukup bagiku. Setelah bernyanyi, bibi membawa sebuah kue coklat besar dari arah dapur. Aku terkejut dengan perasaan senang. Begitu juga dengan anak-anak yang ingin sekali mencicipi kue buatan bibi. Bibi menaruh kue yang berhiaskan lilin berbentuk angka 25 itu di atas meja dan kami bersama-sama menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk ku

“Happy birthday to you…happy birthday to you…..” Kami bernanyi riang di tengah permainan pianoku

“Hyo Jin-ah….apa kah itu dirimu?”

Deg Deg Deg….

Cho Hyo Jin’s pov end

***Thanks God***

Luhan’s Pov

Aku berjalan cepat menuju suatu rumah dengan halaman yang cukup luas, aku berjalan memasuki perkarangannya disusul oleh wanita yang tadinya kuanggap adalah Hyo Jin. Dia berlari mengejarku masih dengan memanggil namaku. Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran Hyo Jin yang menolak untuk menemuiku.

“Luhan-ssi….Luhan-ssi….”

Wanita itu terus memanggilku namun aku tetap berjalan tanpa memperdulikan teriakannya. Pikiranku hanya tertuju pada Hyo Jin, aku butuh penjelasan darinya. Samar – samar aku mendengar sorakan beberapa orang dari dalam rumah. Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Apakah hari ini adalah ulang tahun Hyo Jin? Langsung saja aku memasuki rumah itu dan berjalan menuju suatu ruang yang kelihatannya seperti ruang keluarga.

Aku melihat banyak sekali anak-anak disini dan pandanganku tertuju pada seseorang yang sedang bermain piano, ku tebak dia adalah Hyo Jin

“Hyo Jin-ah….apakah itu dirimu?”

Mereka berhenti bernyanyi. Dan seketika keadaan menjadi hening karena mendengar teriakanku. Semua sorotan mata tertuju padaku.Aku tidak mempedulikan sorotan mata itu. Penglihatanku hanya tertuju pada wanita yang duduk membelakangiku yang tadinya bermain piano. Aku tau dia pasti Hyo Jin.

“aku tau itu dirimu Hyo Jin-ah…aku…aku kembali Hyo Jin…aku kembali untuk mendengar jawabanmu…tapi kenapa kau melakukan ini padaku heh? Apa benar kalau kau tidak merindukanku? Aku masih mencintaimu Hyo Jin…sama seperti perasaanku setahun yang lalu…Saranghae Hyo Jin-ah…Saranghae….”

“mianhae Hyo Jin-ah aku tidak bisa melarangnya…maafkan aku….” Wanita yang mengejarku tadi tiba-tiba saja berdiri di sebelahku

“lalu kenapa kau menyuruh orang lain untuk berpura-pura menjadi dirimu Hyo Jin? Apa maksudmu heh?”

Hyo Jin tidak merespon ucapanku, menoleh kearah ku pun tidak “Hyo Jin-ah….tidak bisakah aku melihat senyumanmu? Ku mohon berbalik lah Hyo Jin…tatap aku dan katakan kalau kau juga merindukanku…kau mencintaiku ataupun tidak tak masalah bagiku…aku hanya ingin melihat wajahmu Hyo Jin…berbaliklah…ku mohon….”

Wanita berambut sepinggang dengan mengenakan dres panjang itu tetap tidak merespon ucapanku

“aku ingin mendengar jawabanmu…jika kau mencintaiku berbaliklah dan datang kedalam pelukanku….jika tidak kau tidak perlu melakukannya…..hana….tul….set…..”

Di hitungan terakhir aku masih melihat Hyo Jin duduk di depan pianonya tak bergeming. Sudahlah, dia memang tidak mencintaiku lagi.

“Hyo Jin-ah…terimakasih karena telah datang mengisi hatiku…aku tidak akan semudah itu melupakanmu Hyo Jin….aku berharap kau bahagia dengan orang yang kau cintai…”

Aku berbalik hendak pergi untuk mengubur cintaku selama-lamanya namun sebuah tangan mungil meraih pergelangan tanganku. Aku berhenti dan melihat ke bawah, seorang bocah setinggi pinggangku menatap dengan mata yang berkaca-kaca. Wajahnya tampak memerah seperti menahan tangis.

“jangan tinggalkan Cho seongenim….hiks…” bocah itu menangis lalu memeluk tubuhku yang dapat ia raih.

“ya….jangan tinggalkan cho seongsenim….” Anak-anak yang lain juga berkata seperti itu. Dan kulihat mereka juga  menangis. Semua orang yang berada di ruangan ini menangis,wanita yang berdiri di sebelahku,seorang pria dan wanita paruh baya yang berdiri di sudut ruanganpun juga ikut meneteskan air mata mereka

“nak…jika kau percaya Hyo Jin juga mencintaimu…kau sendiri yang harus menemuinya…karena dia tidak akan bisa mengejarmu nak…” wanita paruh baya yang tadinya menangis ikut bersuara. Aku semakin heran dengan situasi yang terjadi saat ini.

“ya…cho seongsenim pasti mencintaimu…ku mohon temuilah dia karena seongsenim bukanlah Cinderella yang membutuhkan sepatu kaca….hiks….” bocah yang memeluk ku menengadahkan kepalanya menatapku pilu

Bukanlah Cinderella yang membutuhkan sepatu kaca? Apa kah dia ?

Seketika air bening itu mengalir di pipiku. Aku berjalan pelan mendekati Hyo Jin. Setelah aku sampai di dekatnya mataku memandangi nya yang juga tengah menangis. Wajahnya yang putih dipenuhi oleh tetesan-tetesan air bening yang mulai mengering. Ya dia sangat mirip dengan wanita yang ada di dalam lukisanku. Aku memeluk nya erat dan menangis di dalam pelukannya.

“kenapa heh? Kenapa menghindar dariku?”

“aku tidak ingin membuatmu kecewa…” setelah lama menuggu akhirnya suara lembut itu terngiang ke telingaku

“kecewa? Kau tidak pernah membuatku kecewa Hyo Jin, kau tetaplah seperti dirimu yang selalu kucintai….”

“hiks…apakah kau mau menerimaku dengan ketidaksempurnaan ini…? Apa kau tau kursi roda itu yang selalu membantuku?”  Air matanya jatuh membasahi bahuku

“tidak…bagiku kau adalah wanita yang sempurna Hyo Jin…”

“meskipun aku kehilangan kedua kakiku….?”

“ya…perasaanku selalu sama dan tak akan berubah…saranghae Hyo Jin-ah….”

“nado saranghae oppa….”

Aku tersenyum lalu melepaskan pelukan kami. Ku keluarkan kotak kecil berwarna merah dari kantong celanaku. Ku buka kotak itu perlahan “would you be my wife forever?”

Hyo Jin menutup mulut berusaha untuk menahan isakannya. Ia mengangguk pelan. Aku tersenyum lagi dan memasangkan cincin itu di jari tengahnya. Ia mengambil cincin yang lain dan juga memasangkannya di jariku. Akupun memeluknya lagi dan mengecup keningnya lama. Kudengar tepukan mengarah kepada kami.

“saranghae Hyo Jin….” Aku memeluknya erat dan tak kan membiarkan nya lari dariku. Aku sungguh berterima kasih pada Tuhan karena telah mempertemukanku dengan dirinya.

~Bukan kesempurnaan yang menghadirkan cinta. Tapi cintalah yang membuat semua itu menjadi sempurna~

END

***Thanks God***

Mian ff nya gaje and ga memuaskan, tapi komen and like nya author tunggu loh hehehe ^O^

Advertisements

4 thoughts on “THANKS GOD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s