OBRIGADO MEU AMOR

Author : Choi Mina

Main Casts :

Hyun Yeo Jin (ju/readers)

Xi Luhan (EXO M)

Cameo :

Park Chanyeol (EXO K)

Kristal Jung ( F(X) )

Kim Jongin/Kai (EXO K)

Victorya ( f(X) )

Genre : romance

Rating : PG17

NB : ff ini special buat temen author (JU) yang sangat tergila-gila pada Luhan >.< No bushing yah. Ini hanyalah sebuah fanfic sama sekali tidak nyata ^^

Happy Reading ^^

-O-

Yeo Jin. Gadis berusia 17 tahun itu hanya mampu menatap nanar pria yang berdiri di depannya. Tangannya mencengkram kuat ujung t-shirt yang ia kenakan. Ingin sekali ia menumpahkan rasa kesalnya dengan menangis, hanya saja ia tidak ingin dipandang lemah oleh pria yang berhasil membuatnya patah hati untuk kesekian kalinya. Memang ia selalu sial dalam soal percintaan. Belum beberapa bulan, ia harus menerima kenyataan bahwa Chanyeol –pria jangkung yang berdiri menghadapnya kini- memutuskan hubungan mereka. Hanya karena Chanyeol merasa bosan pada Yeo Jin. Ia menganggap hubungannya selama ini bersama Yeo Jin hanyalah permainan palsu. Chanyeol hanya mempermainkan perasaan Yeo Jin, yang sebenarnya pria itu sudah memiliki kekasih sebelum ia ‘berpacaran’ dengan Yeo Jin

“jadi….” Yeo Jin berucap meski itu membutuhkan tenaga yang besar untuk mengeluarkannya, ia baru saja kehilangan energi saat mendengar Chanyeol mengatakan –Putus- di sela-sela kalimat beberapa menit yang lalu ia ucapkan

“Ya!! kau dan aku tidak memiliki hubungan apa-apa!” ucapan Chanyeol berhasil menusuk hati Yeo Jin yang paling dalam. Pria tampan itu benar-benar membuat hatinya hancur berkeping-keping. Tubuhnya terasa lemas dan matanya mulai berair.

“bukankah kau mencintaiku?” Yeo Jin bersuara lemah,ia hanya butuh kepastian

“heh… kapan aku mengatakan aku cinta padamu? Kau itu yang suka dekat-dekat denganku!”

JJDARRR

Suara berat Chanyeol serasa memberikan sengatan listrik di hati kecil Yeo Jin. Gadis malang itu tertunduk dan keluarlah air bening dari kedua bola matanya yang indah

“good bye Yeo Jin-ah….si gadis cengeng….” Ucap Chanyeol dan menarik gadis manis yang berdiri di sebelahnya. Tak lupa ia mengecup dahi gadis itu mesra untuk memanas-manaskan Yeo Jin. Benar saja, Yeo Jin hampir terjatuh saat melihat perlakuan Chanyeol. Pria itu segera berlalu seraya merangkul gadis yang diciumnya tadi.

“Kau…benar-benar pria b*jingan Park Chanyeol!” runtuk Yeo Jin dalam hati. Kedua kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya yang mulai kehilangan keseimbangan.

Brukk

Ia jatuh tertunduk di lantai yang beraspal ini. Kedua matanya tak mampu lagi membendung genangan air di dalamnya. Perlahan air itu membasahi pipi putihnya. Ia menangis dimana tak ada seorangpun yang mendengar tangisannya.

-O-

“oppa…dengarkan dulu penjelasanku….” Seorang gadis berteriak tak jelas memanggil kekasihnya. Sepertinya ia akan dapat masalah besar. Gadis itu berusaha mengejar pria yang berjalan cepat di depannya. Beberapa kali ia mencoba untuk meraih pergelangan tangan pria itu namun dengan secepat kilat tangannya di tepis oleh pria yang merupakan kekasihnya selama setahun ini

“kau bahagia bersamanya??” kekasihnya malah balik bertanya padanya

Gadis berambut sepinggang itu menunduk menandakan menyesal. Tak seharusnya ia mengecewakan perasaan ‘kekasihnya’  karena berselingkuh dengan pria lain.

“Luhan oppa…..aku…dia…” gadis itu berusaha untuk mencari alasan yang masuk akal

Pria yang bernama Luhan itu menghentikan langkahnya yang sekaligus membuat ‘gadisnya’ ikut berhenti

“sudahlah…jangan mencoba untuk beralasan! Aku sudah mengetahui apa saja yang kau lakukan di belakangku!!”

“oppa….” Gadis itu mencoba lagi merangkul tangan Luhan, tapi tetap saja Luhan menolak perlakuannya

“jangan berpura-pura lagi Kristal !! Tinggalkan aku…tak ada lagi hubungan khusus diantara kita,ku rasa kau akan lebih baik jika bersama Kai!”

Kristal membelalakan kedua matanya. Ucapan Luhan barusan membuat ia merasa sangat bersalah dan telah berdosa membohongi kekasihnya itu. Sungguh, sebenarnya ia juga tidak suka berhubungan ‘gelap’ dengan Kai.

Luhan tak ingin mendengar apa-apa lagi. Langsung saja ia berjalan meninggalkan Kristal. Namun langkahnya terhenti saat tubuhnya terangkul oleh tangan hangat Kristal. Gadis itu memeluk Luhan dari belakang.

“oppa….aku sungguh mencintaimu….jangan tinggalkan aku….” Ujarnya sesal

Luhan tersenyum miris. Hatinya yang mulai hancur itu kembali tersakiti oleh kata-kata bualan Kristal yang tak pernah habisnya. Ia pun membalikan badan dan melepas rangkulan Kristal dari tubuhnya. Gadis ini berhasil membuat dirinya kecewa sekaligus marah “jangan mencoba untuk merayuku lagi!! Pergilah….” Bentaknya keras

“oppa….sungguh aku hanya mencintai dirimu….” Kristal kembali membual dan memeluk Luhan lagi. Gadis ini benar-benar gila. Berani-beraninya dia mengatakan cinta pada Luhan padahal jelas-jelas dia sendiri telah berselingkuh secara terang-terangan di depan Luhan “heh? Mencintaiku katamu? Kalau begitu kenapa kau berciuman dengannya? Sedangkan kau tidak pernah menciumku!!”

Seketika debaran jantung Kristal berdetak 10x lebih cepat. Tak ada yang bisa ia bohongi lagi. Pupus sudah kepura-puraan yang ia lakukan selama ini. Bertindak sok manis di depan Luhan, yang padahal dia hanya memanfaatkan pria itu karena uang.

“oppa….”

“jangan panggil aku dengan sebutan itu! aku bukan oppamu!!” bentak Luhan cukup keras, membuat Kristal menundukan wajahnya. Luhan menatap Kristal yang tertunduk “hope I don’t see your face again! D*mn!!” Akhirnya Kristal hanya diam membisu setelah kepergian Luhan semakin menjauh dari penglihatannya.

-O-

Sedari tadi Yeo Jin menangis di bawah remang-remang lampu taman. Hanya dia yang berada di taman ini. Karena itu, ia menangis, berteriak sekuat-kuatnya memanggil nama pria yang membuat dirinya patah hati. Park Chanyeol. Beberapa kali ia berteriak memaki nama itu. Hingga terhenti saat terdengar langkah kaki seseorang mendekat kearahnya. Orang itu tepat berhenti di hadapannya. Yeo Jin mendongakan kepala untuk melihat siapa yang berdiri di hadapannya kini. Namun lampu yang remang-remang tak cukup untuk melihat secara jelas wajah orang itu. “agashi? Gwenchana?” tanya orang itu

Yeo Jin kembali menunduk menyudahi tangisan yang beberapa menit ini membuatnya seperti orang gila. Ia menyeka air mata itu cepat. Sial. Air bening itu kembali menetes. Orang yang ia tebak adalah seorang pria itu berjongkok di hadapannya. Yeo Jin tetap menunduk karena ia tak mau pria itu melihat wajahnya yang sembab karena menangisi suatu hal yang bodoh. Tak disangka pria itu menyeka air mata Yeo Jin yang mengalir dengan punggung tangannya. Sekilas Yeo Jin melihat luka goresan di tangan pria itu. “kenapa kau menangis di tempat sepi seperti ini? Maaf jika aku lancang bertanya…”

“gomawo….”Entah kenapa Yeo Jin merasa pria itu malaikat utusan Tuhan untuk menghiburnya saat ini.

“dimana rumahmu? Biar ku antar…”

Terbesit di benak Yeo Jin bahwa masih banyak pria baik yang bisa menjadi pacarnya nanti. Seperti pria yang saat ini bersamanya. Untuk apa menangisi seorang playboy seperti Park Chanyeol? Toh diluar sana juga sangat banyak pria tampan dan sangat baik. Hyun Yeo Jin, kau tak perlu bersikap lemah seperti ini!

“tak perlu aku bisa sendiri…” ujar Yeo Jin lalu bangkit berdiri. Masih tanpa menatap wajah pria itu

“benarkah…?”

“ne…rumahku tak jauh dari sini….annyeonghigaseyo…” pamit Yeo Jin

“berhati-hati lah….”

“ne….” Yeo Jin membungkuk dulu sebelum benar-benar pergi

-O-

KRINGGGGG~~

Bunyi alarm itu membuat Yeo Jin menyudahi tidurnya. Ia menguap seraya mematikan alarm itu. Ia duduk dengan malas di atas ranjang masih dalam keadaan mengantuk. Matanya terlihat sembab karena semalam dia masih menangisi Park Chanyeol si pria playboy. Yeo Jin melirik alarm itu sekali lagi untuk memastikan jam brapa sekarang.

“OMOOOOOOOOO………” teriaknya kencang menggetarkan seisi rumah “aku terlambaaaaattttttt………….” Ia pun bergegas loncat dari ranjang, menuju kamar mandi. Sejurus kemudian ia sudah berada di ruang makan. Sekedar untuk meminum susu. Ya hanya itu yang sempat ia lakukan jika tidak ingin terlambat.

-O-

Dengan hanya dibekali segelas susu putih, Yeo Jin berlari sekuat tenaga menuju sekolah yang sebenarnya tak jauh dari rumahnya itu. Hanya membutuhkan lima menit untuk benar-benar sampai di sekolah. Tapi karena tak ada lagi bis yang menuju ke sekolahnya dengan terpaksa ia mengandalkan kemampuan berlarinya yang selalu mendapat nilai bagus dalam pelajaran olahraga.

Ia melihat dari kejauhan satpam menutup gerbang sekolah. Ia pun mengeluarkan jurus tenaga dalamnya sebelum gerbang itu benar-benar tertutup. Namun sayang, saat sampai di depannya. Gerbang sudah tertutup rapat dan satpam tak ada lagi di sana. Dan hanya ada satu jalan. Memanjat pagar.

Yeo Jin bersiap untuk melompati pagar tinggi yang membatasi sekolahnya. Meski ini adalah yang pertama kali, tapi ia tidak dapat diremehkan dalam hal manjat-memanjat. Siapapun termasuk dirinya bisa melakukan hal semudah ini. Ia berhitung untuk bersiap-siap. Hana Tul Set

HUPPPP

BRUKKK

Terdengar bunyi yang cukup keras. Ya Yeo Jin jatuh, tepatnya terjatuh dengan posisi menghimpit tubuh seorang namja. Namja itu kelihatan sulit bernapas. Yeo Jin langsung bangkit dan berdiri seraya membetulkan letak tas punggungnya.

“YA!! kau tidak membantuku berdiri?” teriak namja itu yang sekaligus membuat Yeo Jin terkejut

Namja itu mengulurkan tangannya. Sekilas Yeo Jin melihat luka goresan di tangan pria itu. Mmm mungkinkah dia pria yang semalam? Yeo Jin menarik namja itu hingga berdiri. “mianhae…” ujar Yeo Jin seraya membungkuk. Ia merasa sudah merugikan namja itu. Terlihat dari raut wajahnya yang seperti menahan rasa sakit.Tapi jujur saja Yeo Jin merasakan sesuatu saat ia menatap wajah itu. Kedamaian.

“mianhae…aku harus buru-buru, kalau tidak seongsenim akan menghukumku kalau aku ketahuan terlambat…annyeong….”

“YA!” namja itu mencegat Yeo Jin dengan menahan pergelangan tangannya. Sontak Yeo Jin terkejut untuk kedua kalinya

“kau harus bertanggung jawab!” ujar namja berwajah polos itu

“mwo?” Yeo Jin membulatkan kedua bola matanya.

“kau sudah membuatku sakit begini! Jadi kau harus menuruti apa yang ku minta!”

“mwo? Pria ini! Berwajah polos tapi sikapnya!! Aisssshhhhh….aku kan sudah minta maaf!” batin Yeo Jin kesal

“menuruti apa yang kau minta? Heh…aku sudah minta maaf…apa aku perlu untuk minta maaf untuk kedua kalinya? Okey Mianheyo…mianheyooo….” Ujar Yeo Jin seraya diikuti bungkukan beberapa kali

“hey nona…” namja itu dengan beraninya menyentuh wajah Yeo Jin dan menghadapkan kearah tatapannya  “maaf saja tidak cukup!”

“aisssshhh…” Yeo Jin mulai tidak suka dengan perlakuan namja itu

“ikut aku……” namja itupun menarik Yeo Jin kearah pagar yang tadinya Yeo Jin lompati

“kau mau apa?”

“apa salahnya bermain-main sebentar?”

Dugaan Yeo Jin atas Kedamaian yang terpancar dari wajah pria itu lama-lama memudar. Sikap yang baru saja ia tunjukan sangat berkebalikan dengan wajahnya. Percuma saja memiliki wajah tampan tapi tidak memiliki manner yang baik

“kau mau kita bolos?”

“waeyo?”

“ani….” Yeo Jin berteriak dan berusaha untuk lari. Tapi namja itu dengan cepat mencegatnya dan mendorong tubuh Yeo Jin hingga menyandar ke dinding pagar

“jangan mencoba untuk membuat diriku melakukan hal yang tidak-tidak padamu!” ancam namja itu berbisik di telinga Yeo Jin dan ia pun memperlihatkan tatapan evilnya tepat di depan wajah Yeo Jin. Entah kenapa dia begitu mengerikan bagi Yeo Jin.

“kkajja…”

Namja itu membantu Yeo Jin melompati pagar. Mau tak mau Yeo Jin menurut saja, dia takut jika hal-hal aneh terjadi padanya nanti. Yeo Jin berhasil menuruni pagar. Namun saat namja itu akan meloncat. Tiba-tiba……

“YA!! LUHAN!!! APA YANG KAU LAKUKAN DISANA???? DIAM DITEMPAAATTTT……..”

Yeo Jin dapat mendengar teriakan itu dengan jelas. Disusul oleh bunyi peluit yang diulang beberapa kali. Ya siapa lagi kalau bukan teriakan satpam sekolah yang tadi pagi bertugas menutup gerbang. Hey tunggu…siapa tadi? Luhan? Sepertinya nama itu tidak asing bagi Yeo Jin.

“LUHAAAAAAN………….” Satpam itu berteriak untuk kedua kalinya dan itu menuju kearah namja yang saat ini berada di atas pagar

“Omonaaa…..omonaaaa!!” teriak panik namja itu. Lalu langsung saja dia melompat tanpa berpikir dahulu. Alhasil ia menghimpit tubuh Yeo Jin yang mungil.

“awwww……..” Yeo Jin berteriak kesakitan. Jelas saja, tubuh namja itu lebih berat dari tubuhnya

“YA!! LUHAAAAAANNNNN……….LUHAAAAAAANN…….” Satpam kembali berteriak dengan menyebut nama itu berulang-ulang

“kkajja..!!”

Namja yang bernama Luhan itupun menarik Yeo Jin berlari menjauh dari sekolah. Dan sampailah mereka di sebuah halte bis. Keduanya seperti kehilangan napas karena berlari terlalu kencang

“tak kusangka…..larimu cepat juga….” Ujar Luhan di tengah-tengah penatnya

Yeo Jin tak menggubris dia sibuk mengatur napas dan memikirkan sesuatu.

“jika aku tidak menemukan mereka mungkin saja reputasiku memburuk…hahahaha tak apa-apa aku juga tidak keberatan…yah resiko ini sudah ku pikirkan sangat matang…”

Ya..Tentunya Yeo Jin mengerti akan maksud ucapan namja itu.

Luhan. Namja yang sangat digilai oleh yeoja di sekolah. Karena kepintaran, ketampanan,kekayaan dan kebijaksanaannya sebagai ketua OSIS.  Di samping itu dia juga berhasil meraih banyak medali dalam perlombaan di bidang akademis. Siapa juga yang tidak akan menolak menjadi yeojachingunya?

Hanya saja Yeo Jin tidak pernah melihat Luhan secara langsung. Memang terdengar aneh, selama setahun menjadi siswi dan sekalipun tidak pernah mengetahui seperti apa Luhan itu. Ia hanya tahu nama dan kepopuleran Luhan saja. Sedangkan wajah? Ini pertama kalinya. Lalu Yeo Jin langsung berpikir, pantas semua yeoja di sekolah menyukai Luhan. Tapi pertemuannya kali ini membuat Yeo Jin berpikir dua kali untuk menyukai Luhan. Jujur saja dia pria gila.

Yeo Jin berpikir lagi. Untuk apa seorang ketua OSIS melakukan hal tidak berpendidikan seperti ini? Adakah alasan di baliknya?

Yeo Jin terlalu sibuk dengan pikirannya tanpa menyadari Luhan tengah menatapnya heran.

“YA kurcaci!!”

Yeo Jin tersentak lalu memandang tajam kearah Luhan. Ini pertama kalinya ada orang yang memanggilnya kurcaci. “mwo?” Yeo Jin membesarkan bola matanya

“kau mau menghabiskan waktu kita hanya untuk bermenung di halte ini heh?”

“waktu kita?” pikir Yeo Jin

“kkajja…banyak hal yang harus kita lakukan…”

“banyak hal yang harus dilakukan?” pikir Yeo Jin lagi

Perlu waktu baginya mencerna kalimat itu. Dan akhirnya ia mengambil kesimpulan sendiri saat Luhan mengatakan “untuk hari ini, kau milikku…”

Mmm…mungkin ini semacam ‘kencan buta?’

-O-

Yeo Jin membelalak kan kedua matanya. Ia tampak terkejut dengan hal-hal yang berada di depannya. Alunan music hip hop menggaung di kedua telinga Yeo Jin. Berusaha menghipnotis dirinya untuk menggerakan badan sesuai dengan irama music. Ia sungguh tak mengerti dengan pemikiran pria yang bersamanya ini. Semenjak dari halte pria itu membawa Yeo Jin ke semua tempat hiburan, mulai dari Taman bermain, dimana tidak satupun mereka mencoba wahana permainan, di tempat karaoke itupun hanya sekedar berjalan dari satu ruang ke ruang lain bahkan sampai ke diskotik yang belum jelas tujuannya untuk apa.

“ya…sebenarnya apa yang mau kau lakukan sih?” tanya Yeo Jin sambil memandangi Luhan dengan heran

“YAYAYAYA…!!!!” Luhan bergerak setengah berlari kea rah bartender. Disana di penuhi oleh beberapa orang siswa yang masih mengenakan seragam. Dan tampak sebatang rokok di tangan mereka. Yeo Jin bergidik dan merasa ketakutan melihat pelajar berandalan itu

“YA!! TERNYATA KALIAN DISINI HEH!!BUBAAAARRRRRR….” bentak Luhan. Meski bentakannya itu belum melampaui kerasnya music disko

“KITA SELESAIKAN DI SEKOLAAAAH!!!” Bentak Luhan lagi, sementara itu orang yang di bentak hanya menahan rasa takut. Ya sepengetahuan Yeo Jin, Luhan juga hebat dalam karate dan telah meraih sabuk hitam. Mungkin itu sebabnya pria brandalan itu tidak sanggup untuk membantah maupun melawan Luhan. Lagi pula Luhan merupakan sunbae mereka.

-O-

Kini Yeo Jin tau alasan mengapa Luhan membawanya ke tempat-tempat aneh hari ini. Sudah menjadi tanggung jawab bagi seorang ketua OSIS mendidik teman-teman bahkan hobaenya. Dan hari ini Luhanpun berhasil melaksanakan rutinitasnya itu dan tentu dia mendapat penghargaan atas pekerjaannya.

“jadi…sebenarnya alasan kau bolos hanya untuk ini?”  Yeo Jin bertanya

“aha…” jawab Luhan diikuti anggukan

“ee…aku salut padamu…”

“apa itu pujian?” Luhan mulai merasa ge’er.

“heh…entahlah…” Ujar Yeo Jin lalu berjalan mendahului Luhan. Ia ingin menuju kantin untuk menghilangkan rasa haus setelah setengah hari mengelilingi kota. Namun pria itu, Luhan memegang pundak Yeo Jin sebelum ia benar-benar beranjak ke kantin

“dan untukmu…..hemm…….”  Luhan menatap name tag yang menggantung di seragam Yeo Jin, lalu melanjutkan ucapannya yang terputus “Yeo Jin…mm..Yeo Jin-ssi…ah ani ani kurcaci…karena kau terlambat hari ini dan di tambah lagi dengan sangat berani memanjat pagar sekolah…kau akan diberikan Sangsi! Yaitu membersihkan toilet wanita! Dan aku akan memeriksanya nanti! Tidak ada bantahan, karena itu sudah menjadi peraturan! Ku sarankan kau sebaiknya segera menuju toilet jika kau tidak ingin bermalaman di sekolah yang tergolong……angker ini…..” jelas Luhan panjang lebar

Yeo Jin membulatkan mata seperti bentukan huruf O. Si sial. Dua kata yang patut dijuluki untuknya. Yeo Jin meniup poninya terbang. Terlihat dari raut wajahnya ia kesal. “FYI kau adalah satu-satunya yeoja yang pernah melewati tembok belakang sekolah selama aku menjabat sebagai ketua OSIS…okey good luck…” tambah Luhan. Namja berwajah ‘polos’ itupun berjalan meninggalkan Yeo Jin yang membisu.

Yeo Jin menghembuskan napas berat dan melangkah menuju toilet wanita. Sebenarnya tak ada yang perlu ia lakukan dengan toilet itu. Tak perlu membuang tenaga hanya untuk membersihkan ruangan yang sudah sangat bersih. Agar tidak ketahuan oleh Luhan si pria ‘killer’, Yeo Jin berpikir untuk menunggu selama satu jam di dalam toilet, dengan itu mungkin saja Luhan akan menganggap kalau dia telah benar-benar membersihkan toilet.

Jarum panjang yang bergerak di dalam jam tangan Yeo Jin menunjukan angka 4, itu berarti baru 20 menit ia berada di dalam toilet. Yeo Jin mulai merasa bosan ditambah lagi kedua kakinya yang mulai terasa pegal akibat berdiri terlalu lama. Iapun memutuskan untuk duduk di atas washtafel, yang ia pikir mampu untuk menompangkan tubuhnya yang hanya seberat 40 kg itu. Yeo Jin menyandarkan tubuhya ke cermin dan meluruskan kedua kakinya ke bawah. Dengan pelan ia menepuk-nepukan kakinya yang kesemutan.

Ia melirik jam tangannya lagi. Jarum panjangnya bergerak pelan sekali. Yeo Jin menguap. Kantuk mulai menguasai kedua matanya. Iapun memejamkan mata untuk beberapa detik, namun siapa sangka ia tertidur di sana sampai mentari tak menampakkan sosoknya lagi.

-O-

 BRAK

Terdengar bunyi keras dari hantaman sebuah loker. Luhan memasukan buku-buku pelajaran ke dalamnya. Ia baru saja selesai belajar di perpustakaan hingga jam 8 malam seorang diri. Dia memang sibuk akhir-akhir ini. Kemudian ia berjalan keluar dari gedung menuju tempat parkir. Tadi pagi ia berangkat ke sekolah menggunakan motor. Namun saat ia hampir sampai di mana motornya berada, pikirannya tiba-tiba terhalangi sesuatu. Gadis itu. Yeo Jin. Ia kemudian mencoba untuk tidak peduli, tapi perasaannya mendesak untuk memikirkan gadis itu.

Hingga akhirnya Luhan memutuskan untuk menuruti jalan perasaannya. Ia hanya ingin tahu apakah Yeo Jin benar-benar menjalankan hukumannya. Sekedar mencek apa salahnya kan?

Luhan berhenti di depan toilet yang kelam itu. Ia pun masuk ke dalam lalu menghidupkan saklarnya

CKLEEEKK

“YA…!” Luhan sudah siap dengan segala jurus. Ia  terlalu terkejut dengan pemandangan seorang gadis di atas washtafel. Posisi badannya menyender ke cermin dan rambutnya yang lurus sepinggang tergerai menutupi wajahnya. Dia  terlihat seperti…Hantu. Dan itu membuat Luhan secara reflek mengeluarkan jurus tendangan dalam karate. Luhan berjalan mendekat kearah gadis itu. Ia bisa menebak kalau gadis itu adalah orang yang baru saja ia pikirkan.

“YA!! Apa yang kau lakukan disini? YA! YA!” Luhan berusaha membangunkan Yeo Jin dengan menepuk-nepuk wajahnya.

“YA!” kembali Luhan berteriak membangunkan Yeo Jin, namun tetap saja usahanya sia-sia.

“apa dia terlalu kelelahan?” pikir Luhan

“YA! kurcaci…”

Yeo Jin masih tetap bertahan dengan posisinya itu. Tidurnya tak terusik meski Luhan meneriakinya berkali-kali. Karena merasa enggan untuk membangunkan Yeo Jin dan dia juga tak rela meninggalkan gadis itu sendirian. Luhanpun memutuskan untuk menggendong Yeo Jin di punggungnya. Iapun berjalan keluar dari toilet dengan membawa gadis itu.

“aissshhh….apa aku harus membangunkannya…….??” Pikir Luhan. Ia terus berjalan menuju tempat parkir

“kurcaci?”

Hening

“kurcaci apa kau mendengar ku?”

Hening

“YA…..” saat panggilan untuk ke tiga kali Yeo Jin mengigau

“Chanyeol-ah…..YA park Chanyeol!!”

Chanyeol?  Siapa? Mungkinkah namjachingunya? Pikir Luhan

“kurcaci.. kau sudah bangun? Tunjukan dimana rumahmu? Aku akan mengantarmu…”

Tak ada jawaban

“YA !kurcaci??”

Luhan mulai putus asa dan berhenti menanyai ini itu pada gadis yang sama sekali tidak akan mendengar pertanyaannya. Ia memutuskan untuk meninggalkan motor di sekolah dan memberanikan diri untuk mengantar Yeo Jin dengan keadaan mendesak seperti ini. Luhan tak keberatan dengan pandangan orang-orang yang tertuju padanya nanti. Biarlah orang-orang menganggap dia dan Yeo Jin berpacaran atau apa. Yang terpenting dia harus mengantarkan Yeo Jin pulang ke rumahnya yang tergolong cukup jauh itu. Yah tak apa kan kalau membawa seorang yeoja ke rumah?

-O-

Benar seperti dugaan sebelumnya, tatapan itu satu-persatu tertuju pada Luhan dan Yeo Jin bahkan ia juga mendengar bisikan yeoja-yeoja yang berjalan di dekatnya. Apa semua wanita suka di perlakukan seperti ini? Apa ini terlihat romantis? Begitu pikiran-pikiran yang melayang di dalam benak Luhan. Memang sebenarnya ia belum pernah melakukan ini pada mantannya –Kristal-. Yeo Jinlah gadis pertama yang ia perlakukan seperti ini.

Kristal

Nama itu kembali terngiang di dalam pikirannya. Sudah beratus kali dia berusaha untuk menghapus memori tentang gadis itu, tapi tetap saja ia kembali. Kristal juga yang membuat dirinya melukai tangan sendiri. Semalam Luhan meninju sebuah pohon yang berada di taman kota dan berhasil membuat tangannya tergores. Sampai saat ini ia tetap mersakan sakit di tangannya itu.

Pikirannya melayang sampai-sampai Luhan tak bisa melihat batu besar yang berada di depannya. Kakinyapun tersangkut , ia berhasil menyeimbangi badan agar tidak terjatuh tapi gagal menyeimbangi beban yang berada di atas punggungnya. Alhasil Yeo Jin terlepas dari gendongan Luhan dan terjatuh dengan posisi pantat membentur ke tanah. Sedetik kemudian terdengar teriakan keras berasal dari yeoja yang terduduk di bawah kaki Luhan.

“arghhhh…….” Teriak Yeo Jin, ia terbangun dan segera bangkit berdiri lalu mengusap pantatnya yang sangat terasa sakit

“kurcaci… gwaenchana?” dengan tatapan polos Luhan bertanya. Tangannyapun ikut bergerak mengusap pantat Yeo Jin reflek. Tanpa Luhan sadari pipinya memerah akibat sebuah tamparan hangat mendarat disana. Iapun beralih mengusap pipinya yang juga terasa sakit bukan main.

“YA KAU!!” Yeo Jin menunjuk Luhan dengan jari telunjuk yang berjarak hanya 2 cm dari hidung mancung Luhan

“KAU SATU-SATUNYA PRIA YANG BERANI MENYENTUH SALAH SATU BAGIAN FITAL DARI TUBUHKU!!”

BUK

Satu buah serangan lagi mengarah ke kaki Luhan. Dan itu mengenai tulang keringnya dan pasti sangat terasa sakit. Luhan hanya bisa mengelus kaki dan pipinya bergantian. Sementara itu Yeo Jin terlihat mengatur napas karena selesai berteriak dan ia pun berjalan meninggalkan Luhan

“YA! Kurcaci…kau mau kemana…?”

“tentu saja pulang ke rumah!!” teriak Yeo Jin yang sama sekali tidak memprotes dipanggil kurcaci

“dimana rumahmu akan kuantar….” Luhan mengejar Yeo Jin dan menarik tangan gadis itu agar berhenti

“tak usah rumah ku dekat dari sini, aku bisa sendiri…” ujar Yeo Jin dingin dan menepis tangannya dari genggaman Luhan

Luhan heran akan sikap yang ditunjukan Yeo Jin padanya. Ini pertama kali ada seorang yeoja yang menampar,menendang,berteriak,bersikap kasar bahkan membentaknya dengan keras.

Gadis yang unik pikir Luhan. Sebuah senyuman tipis terukir di wajah tirus nya. Ia terus memperhatikan Yeo Jin hingga yeoja itu benar-benar menghilang di tikungan jalan.

-O-

Yeo Jin memukul boneka rusanya berulang-ulang kali. Seolah-olah benda mati itu menjadi sasaran empuk baginya. Ia menumpahkan segala rasa kesal pada rusa itu. Sedangkan si rusa selalu tersenyum di setiap pukulan. Lama kelamaan pukulan itu melemah dan Yeo Jinpun menghempaskan tubuhnya di kasur karena merasa letih. Ini sungguh hari yang sangat berat baginya. Ia memandangi langit-langit kamarnya dan kembali meraih boneka rusa hadiah ulang tahun ke15 nya itu dan memukulnya lagi, meski pukulan itu tak sekuat pukulan yang pertama. Ia berteriak “YA LUHAAAANNN kau merusak semuanyaaaaaaaa……….arghhhhhhhhhh…..”

“YA Jin-ah…kenapa berteriak heh? Ini sudah larut!! Bukankah kau besok sekolah?”  omel umma Yeo Jin dari lantai bawah. Ternyata teriakannya itu mengganggu orang-orang yang berada di dalam rumah.Yeo Jin bergumam kesal “YA Gara-gara kau aku di omelin!I HATE YOU LUHAN!!” dan satu pukulan mengenai kepala si rusa yang tidak bersalah. Yeo Jin menarik selimut, mematikan lampu kamarnya dan tertidur.

Ya setidaknya pria itu berhasil membuat Yeo Jin sementara waktu melupakan masalah dirinya dengan Park Chanyeol

-O-

Yeo Jin berjalan malas kearah kantin. Sebenarnya ia tak berminat tapi entah kenapa kakinya sendiri yang membawa tubuhnya kesini. Saat ia akan memasuki kantin yang selalu ricuh saat jam istirahat itu, tak sengaja penglihatannya tertuju pada sosok namja yang kemarin membuat dirinya kesal. Namja itu ternyata menyadari Yeo Jin dan membalas tatapan yeoja itu. Yeo Jin merasa terganggu dan mengurungkan niatnya untuk makan di kantin. Ia pun berbalik hendak menuju kelas.

Sebuah cengkraman lembut tertaut di bahu Yeo Jin. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Luhan tengah berdiri tersenyum evil kearahnya. Yeo Jin memasang wajah masam “lepaskan tanganmu…atau aku….”

“atau apa?” Luhan balas bertanya. Yeo Jin diam sesaat. Luhanpun mendorong tubuh mungil Yeo Jin merapat ke dinding yang berada di belakang mereka. Namja itu merapatkan telapak tangannya ke dinding. Sedangkan Yeo Jin terperangkap di dalamnya.

“apa kau tidak akan berterimakasih padaku setelah apa yang ku lakukan padamu kemarin?”

“heh? Berterimakasih pada pria yang menyentuh bokongku??” teriak Yeo Jin, Luhan yang menyadari teriakan itu dengan segera menutup mulut Yeo Jin. Tak sedikit siswa siswi yang mendengar teriakan Yeojin. Orang-orang yang berada di sekitr merekapun menatap dengan tatapan aneh seraya berbisik. Luhan langsung ambil alih “ini…tidak seperti yang kalian pikirkan!” bantahnya seraya membawa Yeo Jin menjauh dari tempat itu. Hingga akhirnya Luhan menemukan tempat yang aman untuk bicara face to face dengan Yeo Jin. Rooftop sekolah.

“ayo katakan kurcaci! Oppa gomawoyo!!” paksa Luhan diikuti tiruan suara wanita

Yeo Jin tetap diam, meski Luhan memaksanya untuk mengatakan itu “YA! kenapa susah sekali mengatakan terimakasih heh?”

“Ya kurcaci! Asalkan kau tau, sungguh berat perjuanganku menolongmu kemarin, kalau bukan aku mungkin saja kau sudah dimakan oleh hantu toilet! Kau tau itu heh?” bentak Luhan keras bermaksud menakut-nakuti Yeo Jin. Yeo Jin hanya menatap Luhan sedih. Matanya mulai berkaca-kaca. Apa dia akan menangis?

“YA! kurcaci…”

Yeo Jin tertunduk dan Luhan tau kalau yeoja itu menangis. Ia terlihat panik dan mencoba mengambil perhatian Yeo Jin.

“kurcaci…aku…aku… Cuma bercanda,jangan kau anggap ini terlalu serius….” Luhan berkali-kali mencoba menghibur Yeo Jin.

“pabo! Aku tidak menangis bodoh!!” ejek Yeo Jin seraya menjulurkan lidahnya. Ia berhasil mengerjai Luhan. Yeo Jin pun berlari sekencang-kencang nya hingga Luhan tak menemukan jejaknya lagi

Fiuh…Ia bernapas lega dan berlari menuju kelas

-O-

Kesialan selalu menimpa Yeo Jin semenjak incident sebulan yang lalu. Entah itu selalu bertemu dengan Luhan sepanjang hari, berkelahi hanya karena masalah sepele. Seluruh warga sekolah juga tau kalau mereka berdua adalah REAL ENEMY. Akhirnya rasa permusuhan itu pelan-pelan memudar saat Luhan menyadari kalau ia mulai memiliki suatu rasa pada Yeo Jin. Yang ia tak mampu mengungkapkan dengan kata-kata perasaan itu. Luhan sudah merencakan akan menyatakan perasaannya. Meski ia harus mencari sebuah alasan agar Yeo Jin bisa bersamanya malam minggu nanti.

“ya kurcaci….kemarin kau mengotori tasku kan? Kau harus bertanggung jawab! Temani aku malam minggu nanti” Luhan sukses mencari alasan. Sungguh banyak sekali kejahatan yang dilakukan Yeo Jin padanya. Begitupun sebaliknya. Tak disangka Yeo Jin hanya menurut patuh. Tak seperti biasa ia membantah dengan memukul atau menendang Luhan bahkan mengerjai namja nakal itu. “aku akan menunggumu di taman kota jam 7, datang tepat waktu jika tidak kau akan mendapat hukumannya…”

“jam 7 kan? Baiklah…”

Kesambet apa dia semalam? Bukannya selalu marah-marah? Pikir Luhan polos

-O-

Tak seperti perkiraannya. Yeo Jin datang tepat waktu. Ia berdandan manis sekali hingga membuat Luhan untuk tidak dapat mengalihkan pandangannya dari Yeo Jin. “waaaa…..ternyata kau pandai sekali berdandan…” Luhan mencoba untuk bersikap santai di depan Yeo Jin. Ia tak mengerti dengan perasaannya kini yang selalu Dag Dig Dug jika bersama Yeo Jin

“tapi sebenarnya kalau ka…” Luhan berhenti karena melihat Yeo Jin yang terdiam. Yeoja itu seperti memperhatikan sesuatu. Luhan mengikuti arah pandangan Yeo Jin. Penglihatannyapun menangkap dua sosok pasangan yang sedang bermesraan di salah satu kursi taman.

“chanyeol-ah…..” Yeo Jin bersuara lemah

Chanyeol? Luhan merasa ia pernah mendengar nama itu. Mungkinkah Yeo Jin memiliki masa lalu dengan namja itu? Ani! Dia hanya boleh memanggil namaku!

Luhan menarik tangan Yeo Jin lembut “aku tau kemana kita harus pergi”

Sungai Han 

Sedari tadi Yeo Jin hanya diam. Luhanpun begitu. Ia sungguh mendapatkan kesulitan dari mana dia harus memulai. Iapun memberanikan diri untuk bertanya

“siapa Chanyeol?”

“dia…..pacarku…”

“pacar?”

“ani…lebih tepatnya mantan….”

“apa kau masih mencintainya….?” Luhan terdengar ragu-ragu menanyai hal itu

“ani…hanya saja aku butuh waktu untuk melupakannya….”

Tangan Luhan bergerak memeluk Yeo Jin. Gadis itu sedikit terkejut dengan tindakannya.

“Aku akan selalu berada di sampingmu…aku akan selalu melindungimu…lupakan dia, berikan ruang untuk diriku di hatimu, Saranghe Yeo Jin-ah….” Luhan mengeratkan pelukannya. Yeo Jin hanya terdiam membisu.

“kau tidak perlu menjawabnya sekarang…aku akan selalu menunggu jawabanmu itu….” Luhan perlahan melepas pelukannya. Namja itu berharap Yeo Jin dapat memberikan cintanya untuk ia seorang.

-O-

Luhan’s side

Aku sungguh menanti hari ini. Dimana Yeo Jin akan menjawab perasaanku waktu itu. Ya setidaknya aku sudah memberanikan diri untuk mengatakan perasaanku. Yang sangat pantas untuk di sebut dengan LOVE.

Aku hendak menuju kelas Yeo Jin untuk menjemputnya. Tapi tiba-tiba saja seorang yeoja mendekat kearahku dan memelukku di depan semua siswa siswi yang berada di sekolah.

Yeo Jin’s side

OMO? Baru saja kemarin dia menyatakan cintanya padaku. Dan sekarang ia berpelukan mesra dengan seorang yeoja yang kelihatan lebih tua darinya. Heh ternyata semua namja sama saja. Hanya suka mempermainkan perasaan wanita. B*engsek!

Kenapa hatiku ini tersakiti untuk kedua kalinya? Apa aku belum mendapatkan namja yang tepat?

Luhan’s side

Ku lihat Yeo Jin dari kejauhan. Saat aku ingin memanggilnya, ia sudah tak ada lagi disana. Hey kemana dia?

OMO! Dia salah paham!

Yeo Jin’s side

Baru saja aku mulai menyukainya, tapi dia malah membuat ku sakit hati begini. Kau sama saja dengan Park Chanyeol! Kalian sama saja!

Aku menangisi hal yang tak patut ku tangisi. Babo yeoja! Aku memaki diriku sendiri

Luhan’s side

Aku mengejar Yeo Jin. Dapat! Kuraih tangannya. Ia memberontak minta di lepas. Akupun melakukannya. Saat aku mencoba untuk menjelaskan ia  membantah untuk tidak mendengarkan. Berulang-ulang kucoba tapi yeoja yang sangat kucintai ini tetap keras kepala

Hingga aku mencoba untuk meyakinkannya “aku akan melakukan apapun untukmu…!” aku bersuara cukup tegas

Tes tes tes

Air hujan turun perlahan membasahi kami

“berdiri di sini hingga hujan reda…”

Dia berucap dan aku menerima tantangan itu. Apapun akan ku lakukan demi orang yang kucintai.

Kurcaciku berjalan menjauh menuju halte bis di dekat taman. Tampak sekilas ia menatapku lalu memasuki bis yang berhenti di depannya. Segitu marahkah dia padaku? Atau dia cemburu? Kalau cemburu berarti dia…?

Hujan turun dengan lebat, tapi aku masih berada di tengah taman ini. Banyak orang yang berteriak memanggilku, tapi aku tidak mempedulikan teriakan mereka. Seluruh badanku bergetar karena kedinginan. Seragam yang kukenakan basah kuyub. Dan setetes cairan merah turun dari hidungku. Apa aku mimisan? kepalakupun terasa pusing. Badanku perlahan terasa lemas dan pandanganku mulai menghitam

Buk

Yang ku ingat saat ini hanyalah wajah Yeo Jin

Yeo Jin’s side

Ku seka mataku berkali-kali. Cukup untuk kedua kalinya aku menangis seperti ini. Aku kesulitan melihat gara-gara terus menangis. Air matakupun mengering karenanya. Aku sangat lelah menahan rasa sakit ini.

“Jin-ah…seseorang ingin bertemu denganmu…” terdengar suara umma dari balik pintu

“nugu?”

“sebaiknya langsung saja kau yang menemuinya….”

Akupun berjalan lunglai menuju lantai bawah. Yeoja itu? bukannya dia yang memeluk Luhan di sekolah tadi? Untuk apa dia datang kemari? Aku berjalan menghampirinya. Ia tersenyum padaku tapi aku tidak membalas senyumannya. Aku terlalu bersikap dingin.

“Kau Yeo Jin?”

Aku mengangguk. Ia berdiri lalu memeluk ku erat. “Luhan memang tak salah memilihmu, kau pasti gadis yang baik…”

Ku kerutkan dahiku “Luhan selalu cerita tentangmu….”

Luhan’s side

Sreeettttt

Terdengar pintu ruang rawatku di buka. Seorang yeoja berdiri tepat di depannya. Aku tersenyum merasa bahagia, Karena ia berada disini tepat dimana aku sangat merindukannya. Ia berjalan pelan kearahku, semakin lama langkahnya semakin cepat bahkan setengah berlari. Dia melompat keatas ranjang dan memeluk ku erat. Aku juga mendengar tangisannya.

“waeyo? Kenapa kau menangis heh?” ku usap puncak kepalanya pelan

“mianhe….” Itu kata pertama yang ia ucapkan

“untuk apa?”

“aku sudah menyakitimu…” ia kembali terisak

“aku lebih sakit jika kau tidak berada di dekatku….” Ia mengeratkan pelukannya di tubuhku “oppa….nado saranghae…..” ujarnya tepat mengarah ke telingaku. Aku mengecup dahinya pelan “gomawo….” ucapku

“lalu kenapa kau bisa tau kalau aku berada di rumah sakit?”

“kakakmu yang bilang padaku….”

“Victoria noona? Dia mengunjungimu?”

Yeo jin mengangguk “dia banyak cerita tentangmu…”

“mwo tentangku??”

“dari hal-hal aneh yang biasa kau lakukan…..”

Aku punya firasat buruk tentang ini

“apa benar kau mengoleksi boxer bermotif hati?”

Aku tau pasti wajahku memerah saat ini

“Ya! kau malu ya…?? hahahahahaha……..” Yeo Jin tertawa mengejekku

“Ya kemari kau….”

Ku tarik Yeo Jin ke dalam pelukanku “oppa….apa yang mau kau lakukan?” ia berusaha melepaskan pelukanku

“tentu saja mencium mu…..”

“andweeeeee…..” Yeo Jin berhasil lepas dari pelukanku, ia berlari ke luar dan akupun mengejarnya “YA! kurcaci! kau tidak akan bisa lolos dariku”

Kami berlari di koridor rumah sakit hingga akhirnya dimarahi oleh seorang suster. Ya itulah kami, selalu membuat kerusuhan. Aku sangat senang memiliki seorang yeoja seperti dirinya. Yeo Jin, yeoja yang akan membesarkan anak-anak ku nantinya

END

-O-

Makasih buat yang udah baca, mian kalau ceritanya kurang memuaskan readers. Gomawo jangan lupa RCL nya… ^^

 

Advertisements

9 thoughts on “OBRIGADO MEU AMOR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s