THE DIED OF HALLUCINATION

Author : Choi Mina

Cast :

Hwang Yoonji (imagination/readers)

Huang Zi Tao (Exo M)

Support Cast :

Park Chaerim

Genre : Romance,Horror

Rating : PG15

NB :  ff ini pernah di post disini >> http://exoindofansblog.wordpress.com semoga reader suka ma ff nya ^^ and mian thor lama ga post ff, abis sibuk ma sekolah, mianhae u,u *bow*

oya ff ini special buat Tao oppa yang ultah mei lalu >.<

Happy reading All ^^

-O-

 Hembusan angin malam nan dingin menyeruak hingga menusuk kedalam tulang. Membuat bulu romaku sedikit merinding. Diluar memang sangat dingin dan petir menggelenggar dengan kilatan singkat yang menghadang. Namun, suasana itu tak berhasil membuatku merasa takut ataupun ngeri. Aku justru berdiri mematung di depan pintu apartment terfokus pada satu arah. Penglihatanku tertuju pada kedua bola mata milik pria itu. Tatapan kosong dan mata yang sedikit sayu dengan bulatan hitam dibagian pinggir, membuat hati kecil nan rapuh ini merasa kasihan padanya. Terlebih lagi ia terlihat letih dengan pakaiannya yang basah kuyub. Sepertinya dia terjebak hujan diluar sana dan berlari kemari mencari apartment untuk berteduh.

“maaf, boleh… masuk aku?” tanyanya sendu dengan masih memperlihatkan tatapan yang sayu. Aku sedikit heran dengan kalimat yang barusan ia ucapkan, sangat tidak relavan.

Aku mengangguk pelan dan membiarkan pintu apartement terbuka lebar. Pria yang sama sekali tidak ku kenal itu perlahan berjalan masuk dengan sedikit terseok-seok. Aku yang semakin merasa iba padanya memberi sedikit bantuan. Ku raih tangan pria itu dan menompangkannya di bahu sebelah kiri. Ku bantu dia berjalan. Sesaat mata kami bertemu. Lagi-lagi tatapan sayu itu ia pancarkan. Seperti ada kesedihan tersembunyi di baliknya.

Aku membopongnya kearah sofa putih yang terletak di ruang tengah. Setelah kupastikan dia benar-benar sudah duduk di sana, aku berlari kecil menuju pintu dan menutupnya rapat. Lalu kuambil handuk dan berlari lagi menghampiri pria itu yang ternyata sedang berbaring diatas sofa dengan kedua mata yang tertutup.

Aku sedikit berdehem agar dia terbangun. Tepat tindakanku. Dia membuka matanya lebar lalu menoleh kearahku dan lagi-lagi dengan tatapan sayunya.

“hangatkan tubuhmu dengan ini…” ujarku sembari memberikan handuk putih itu padanya.

Ia melirik ku dan handuk itu bergantian, kemudian meraihnya dan malah menaruh handuk itu diatas sofa tanpa melakukan apa-apa lagi

“errr….kau bisa menggunakan kamar mandiku…” ku tunjuk pintu kayu yang berada di depan kami. Ia pun berdiri dengan susah payah, hingga akhirnya dapat meraih kedua lengan atasku. Kini kami berdiri sangat dekat. Aku dapat merasakan hembusan napasnya yang menerpa puncak kepalaku. Hembusan tergesa-gesa dan berhawa dingin. Selain itu aku dapat mencium aroma mawar dari tubuhnya.

Mawar? hmm..

“sepertinya kau kesulitan…biar aku yang membantumu mengeringkan badan…” tawarku lalu membantunya duduk kembali di sofa

Tanpa menunggu jawaban, tanganku langsung saja bergerak sigap mengeringkan rambutnya. Dia terus menatapku tanpa berkata apa-apa. Aku yang kurang suka dengan situasi canggung seperti ini mulai mencoba untuk mengenal lebih jauh pria tampan yang baru kali ini bertemu denganku.

“kau belum memberi tahu namamu kan?” tanyaku berbasa basi

“aku…..” berhenti sejenak “Tao….” jawabnya singkat

Aku mengangguk mengerti lalu mengucapkan namaku tanpa ia minta “kenalkan aku….”

“Hwang Yoonji…” belum kusebut, pria yang bernama Tao itu menjawab seolah-olah sudah mengenaliku

Aku bergidik, lalu menghentikan aktifitasku mengeringkan rambutnya “dari mana kau?”

“pintu…” ujarnya singkat sekaligus menjawab pertanyaanku

Ohh..ternyata dia mengetahui namaku dari name tag yang tertempel di pintu apartment. Mmm yah sedikit masuk akal. Pikirku

Beberapa detik kami terdiam, fokus pada pikiran masing-masing, melayang diantara dimensi pikiran kami, namun keheningan itu berlalu saat ponselku berdering dengan ‘nafsunya’ diatas meja makan.

~Careless, Careless, Shoot Anonymous  Anonymous, Heartless, Mindless, No want Who Care about Me~

Akupun menyambar ponselku yang bising itu dan mengangkatnya pelan “yoboseyo?”

“ne…”

Yah, percakapan yang sangat singkat. Ku masukan ponselku kedalam saku celana dan berjalan menuju kedalam kamar yang hanya berjarak empat meter dari ruang tengah, beberapa menit kemudian aku kembali menghampiri Tao dengan membawa selimut tebal.

“aku keluar sebentar, pakailah ini untuk menghangatkan tubuhmu…atau kalau kau sudah merasa kuat, pergilah ke kamarku dan istirahat disana…aku juga sudah membuatkanmu teh hangat….arasseo?” ujarku lembut sembari menyelimuti tubuhnya

“kemana?”

“heh..? ahh… ke rumah sakit…”

“lama….?”

“aku akan pulang secepat mungkin…..” jawabku sekenanya

Akupun tersenyum simpul pada nya dan segera menuju pintu keluar. Ku raih payung yang tergantung disana. Aku berbalik hendak pamit pada pria yang berwajah Chinese itu, namun tiba-tiba saja dia sudah berdiri dibelakang dengan posisi melingkarkan tangannya di leherku, spontan aku menarik napas ketakutan. Udara yang bergerak disekitar membawa suasana yang sedikit menegangkan. Sesaat tekanan darah itu memburu naik hingga kepuncak kepala. Jantungku berdegup kencang menandakan perasaan kaget yang luar biasa. Mungkin karena mendapat respon Tao yang tak terduga atau mungkin…

“cepatlah kembali…..”

Hembusan napas Tao menerpa tengkuk ku. Entah mungkin karena udara yang dingin bulu romaku kembali merinding, menjalar hingga menusuk ke dalam pori-pori kulitku. Atau ini mungkin effect dari pelukan Tao yang menyerang tiba-tiba. Ku tebak Tao mungkin ketakutan bila ditinggal sendiri, apalagi di dalam apartment yang baru pertama kali ia tempati. Atau mungkin lebih tepatnya

Tao tidak ingin sendiri !

“kau sudah kuat? sukurlah….” jawabku lega. Kuusap kening Tao. Suhunya stabil, hanya tubuhnya yang sedikit dingin dengan wajah yang pucat.

“aku tidak akan lama….”jawabku meyakinkannya. Aku tersenyum lagi dan berjalan keluar. Hujan deras sudah menantiku diluar sana bagaikan rintangan panjang yang harus kutempuh. Kilatan berkali-kali memancar di tengah-tengah lebatnya hujan. Suara petir tak henti-hentinya mengganggu pendengaranku. Setelah mengunci pintu apartment, ku langkahkan kaki dengan mantap menelusuri koridor demi koridor, namun sesaat  pikiranku terhalang sesuatu, perasan janggal itu kembali datang, aku berbalik dan menatap lurus kearah pintu apartmentku. Dengan perasaan tak yakin aku kembali ke apartment.

Aku berhenti tepat di depannya. Betapa terkejutnya diriku melihat name tag yang tertera. Tertulis jelas disitu.

Apartment 204 dengan nama Dr. Hwang. Tak ada embel-embel namaku disana. Tapi Tao…

Pikiran – pikiran aneh mulai menghantui otak dan perasaanku. Kemudian aku tersentak karena ponselku kembali berdering menghancurkan prangsangka itu. Ku angkat panggilan dengan tergesa-gesa.

“ne…aku sedang menuju kesana…” jawabku cepat dan memasukan kembali ponselku kedalam saku celana.

Segera kulupakan pikiran yang tidak-tidak dan segera menuju lift terdekat. Mungkin ini hanya kebetulan. Pikirku

-O-

Hujan yang sedari tadi tak kunjung berhenti sedikit menghambat langkahku memasuki Cheongsam, salah satu rumah sakit umum tempatku bekerja. Sudah empat jam berlalu, langit malam tak jua menampakan kilauannya. Ini musim terburuk sepanjang dua tahun belakangan ini. Cuaca yang tidak stabil, terkadang  panas,dingin,semi,gugur silih berganti tidak sesuai dengan lingkaran tahunan musim, tak jarang terjadi kecelakaan setiap harinya. Seperti hari-hari yang lalu, lagi-lagi aku ditugaskan untuk memeriksa mayat korban kecelakaan. Yah itulah tugasku sebagai dokter ahli forensic , bertugas mengevakuasi korban kecelakaan, bunuh diri, yah hal-hal yang berbaur seperti itu.

Sesampainya di depan gedung Rumah Sakit, aku membetulkan pakaian ‘dinas’ yang kukenakan yang sedikit basah akibat terkena hujan. Beberapa petugas yang memakai pakaian yang sama –serba putih- berlalu lalang di hadapanku menjalankan tugas mereka 24 jam nonstop. Berjalan dengan sigap tak kenal lelah. Siap menerima semua panggilan dari pasien.

Seorang dokter  menghampiri dan memberiku beberapa dokumen. Dia adalah orang yang menelponku beberapa waktu yang lalu.

“itu hanya seberapa, kita harus memeriksanya lagi…” ucapnya seraya berjalan mendahuluiku

Ku kejar dia yang sudah melangkah jauh di depan sana “maaf,aku terlambat …” ujarku disambut anggukan dari dokter  yang notebene adalah rekan kerjaku, Chaerim

Kamipun segera menuju kamar mayat yang terletak di bagian belakang rumah sakit. Berdasarkan informasi, sejam yang lalu terjadi kecelakaan hebat antara satu buah truk pengangkut minyak, empat buah mobil dan dua buah motor yang menewaskan delapan orang dan tiga orang terluka parah, tabrakan di jalan tol Myonguk itu mengakibatkan ledakan besar, membuat jalanan macet dan aktifitas pengguna jalan terganggu. Tim rumah sakit beserta pemadam kebakaran segera menuju TKP dan jenazah beserta korban langsung di larikan ke Rumah Sakit terdekat.

-O-

Sejam berlalu setelah proses evakuasi, aku dan beberapa  tim forensic berhasil menemukan identitas lengkap korban. Karena tugasku yang telah selesai, akupun berencana kembali ke apartment. Sesaat terlintas bayangan seseorang di pikiranku. Bayangan pria yang saat ini seorang diri berada di apartment. Ku lirik arloji yang melingkar di tangan kiriku. Tepat pukul 1 dini hari, mungkin dia sudah terlelap. Pikirku.

“Yoonji-ya…” teriak seseorang, spontan aku menghentikan langkah dan berbalik

“kau juga ingin pulang?” tanyaku memastikan

Chaerim mengangguk kecil dan tersenyum “kkajja…”

“ahhh….omooo.. aku meninggalkan ponselku di kantor…” keluhku seraya menepuk jidat

“haishhh…kau ini… selalu saja…hahh” desah Chaerim panjang dan menarikku menuju lantai dua rumah sakit

Aku segera berlari menuju kantor dan mengambil ponselku. Setelah itu barulah kami berbalik menuju lift yang berada di bagian ujung lantai dua ini. Belum beberapa langkah, terdengar derap bunyi sepatu para dokter keluar dari ruangan UGD, pasien yang dirawat di ruangan itu dinyatakan meninggal dan akan segera di bawa ke kamar mayat, terlihat jelas kain putih panjang menutupi seluruh tubuhnya.

Aku menghampiri salah seorang dokter dan bertanya padanya “siapa yang meninggal?”

“korban kecelakaan beberapa jam yang lalu…”jawabnya

“kecelakaan di Myonguk?”

“ne….”

Chaerim menghampiri jenazah itu dan membuka separuh kain putih yang menutupinya. Dia terlihat terkejut dengan posisi kedua tangan menutup mulut.

“Yoonji-ya…bukan kah dia tetanggamu?” tanya Chaerim membelalakan kedua bola matanya. Akupun berjalan menghampiri Chaerim dengan heran.

Tetangga?

Bola mataku beralih menatap orang tak bernyawa yang terbaring di atas hospital bed. Sangat pucat dan bekas luka hampir menutupi seluruh wajahnya. Lingkaran hitam pekat yang menghias di bagian pinggir bola matanya mengingatkanku pada seseorang. Otakku tak mampu berpikir normal lagi setelah mengetahui siapa dia. Garis serta lekukan wajahnya sangat mirip dengan pria itu. Pikiranku berputar mencoba untuk mengulangi kembali rekaman yang berhasil ditangkap oleh otakku. Lidahku terasa kelu untuk berucap saat ini. Badanku terasa kaku tak bisa kugerakan. Tak akan ada orang yang percaya dengan apa yang baru saja kualami. Terlebih lagi ucapan Chaerim yang mengatakan ‘bukankah dia tetanggamu’? Jelas-jelas aku bertemu dengannya baru tujuh jam yang lalu dan orang itu menginap di apartmentku malam ini, Mustahil!

“benar dia tetanggamu…?” Chaerim mengulangi pertanyaan dengan dua kata yang sama.

Aku hanya diam mematung. Aku ingin menjawab tapi haruskah aku mengatakan ‘Iya’? Seingatku, tak ada orang lain yang tinggal di apartement yang memiliki wajah sepertinya.

“kemarin aku melihat dia berdiri di depan apartementmu dengan membawa sebuket mawar merah, saat ku tanya ada perlu apa dia tidak menjawab, dan pergi begitu saja, beberapa minggu yang lalu juga begitu….” Chaerim kembali berucap dan itu membuatku sangat terganggu

Mawar merah?

“HENTIKAN!!!” Aku berteriak cukup keras dan berlari dari sana.

Saat itu pikiranku sangat kacau. Aku berlari menuju pintu keluar dengan perasaan linglung. Pikiran aneh dan tak masuk akal serasa menyerubungi otakku. Yah.. akan ku pastikan sendiri kalau orang yang baru kutemui bukanlah orang yang sama. Bukan tetangga, bukan korban kecelakaan dan bukan pula jenazah yang barusan kulihat.

Aku berlari menuju tempat parkir, naik kedalam mobil dan lansung tancap gas.

-O-

“benar dia tetanggamu…?”

“kemarin aku melihat dia berdiri di depan apartementmu dengan membawa sebuket mawar merah, saat ku tanya ada perlu apa dia tidak menjawab, dan pergi begitu saja, beberapa minggu yang lalu juga begitu….”

Ucapan Chaerim selalu terngiang di dalam benakku. Mengganggu layaknya virus yang tak dapat ku tangkis. Ini sangat tak masuk akal, jelas-jelas dia berada di apartementku dalam keadaan baik-baik saja.

Ku hentikan mobil di luar gedung apartment dan berlari dengan ‘brutalnya’ menuju lantai lima. Kutarik napas perlahan. Koridor demi koridor kutelusuri, namun aku merubah pirikan untuk menuju sebuah apartment yang terletak di sebelah apartementku terlebih dahulu.

Seperti yang tak terduga. Di pintu, disitu tertulis

Apartment 205- dengan pemilik…. Huang Zi Ta-

JLEB !

JLEB !

JLEB !

Satu persatu lampu koridor padam dengan sendirinya. Aku terkejut dan menarik napas ketakutan. Indra penglihatanku tak dapat menangkap apa-apa lagi. Disini sangat gelap dengan suasana yang mulai mencekam. Perasaanku pun mengatakan kalau ini adalah situasi yang sangat buruk. Ku gigit bibir bagian bawah menahan mulutku untuk tidak berteriak. Aku benar-benar takut sekarang. Hawa aneh menerpa tubuhku, seketika satu buah lampu koridor yang berada di ujung menyala dengan otomatis

Cklek!

Dan sangat jelas terdengar di kedua telingaku suara langkah kaki seseorang dari arah tangga.

Tak –        Tak –          Tak –

Tuhan…tolong aku!!! 

Aku berjalan mundur hingga punggungku menyentuh tembok. Ku pejamkan kedua mataku menahan rasa takut. Aku terus berdoa meminta perlindungan.

Tak –       Tak –      Tak–

Langkah kaki itu semakin mendekat.

“apa ada orang disana?”

Ku buka mataku perlahan. Hembusan napas lega mengiringi langkahku. Aku berjalan mendekat kearah suara itu, Kim ahjussi, satpam apartment ini

“ini aku paman…” jawabku lega

“nona,apa yang kau lakukan disana? cepatlah masuk kedalam apartmentmu…!” tegurnya

“ne….” sautku dan meraih kunci apartment. Kim ajussipun kembali menjalankan tugas dan meninggalkan ku sendirian

Kubuka pintu apartment dengan tergesa-gesa dan…..

JLEB !

Lampu itu kembali padam. Aku terkejut dan sekujur tubuhku terasa kaku. Hembusan napas menerpa puncak kepalaku

“kau lama sekali…..”

Suara itu…

“KYAAAAAAAAAAAAA!!!!!”

-O-

Aku terperenjat dari atas sofa. Napasku naik turun tak beraturan. Keringat dingin mencucur dari dahi, bergerak perlahan dan jatuh menetes ke lantai. Tanganku bergerak melap peluh yang membanjir di bagian leher. Ku rasa aku baru saja bermimpi buruk. Mataku bergerak menatap jam dinding yang menunjukkan tepat pukul 7 malam. Hujan lebat 4 jam yang lalu juga belum berhenti dari sepulangnya aku dari rumah sakit. Aku berjalan setengah sadar menuju dapur, mengambil segelas air minum dan meneguknya hingga tak bersisa.

Ting Tong~

Bel apartmentku berbunyi, aku berjalan dengan malas menuju pintu apartement dengan penampilan yang acak-acakan. Ku buka pintu apartment dengan mata yang masih setengah tertutup. “hoaaaammm…..” aku menguap seraya mengucek mataku pelan, membukanya selebar mungkin “siapa??”

“maaf, boleh… masuk aku?”

HHAH? DIA??

“ANDWEEEEEEEE!!”

Spontan ku tutup pintu apartment dengan kasar. Nafasku naik turun tak beraturan, ini sungguh tidak masuk akal, orang itu…orang itu….. Aku semakin gelagapan. Aku berjalan mundur dengan perasaan takut dan cemas. Suasana horror seperti meneror . Aku terus melangkah seraya menatap pintu apartment yang mulai menampakan aura hitam di sekelilingnya. Aku melangkah mundur hingga menabrak sesuatu.

 “Yoonji-ya….kenapa tak kau bolehkan aku masuk?”

Suara itu…

JLEB!

-O-

Jumat,  13 April 2012, ditemukan tewas seorang dokter ahli forensic akibat jatuh dari lantai lima apartement dengan setangkai mawar layu tergenggam erat ditangannya.

-O-

END

Advertisements

8 thoughts on “THE DIED OF HALLUCINATION

  1. itu aku pikir Tao gentayangan karena suka sama dokter itu …..
    soalnya Disitu diceritain klo Tao sering bawa mawar ke rumah’y dokter itu.
    bener ga sih ???

    ff’y baguz lhow ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s